Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Begitu Menggemaskan


__ADS_3

Mendengar ucapan sang anak membuat Stella merasa tersentuh, ia begitu beruntung memiliki anak sebaik dan sepengertian Zeline. Stella jongkok untuk memeluk anak nya, Stella terisak di dalam pelukan sang anak. Stella pun tak tahu bagaimana diri nya jika tidak ada Zeline.


"Terimakasih, Sayang. Zeline memang anak mama yang paling baik. Mama janji, jika mama ada uang mama akan segera mendaftarkan sekolah kamu." ternyata di atas, ada Amara yang mendengar ucapan kakak dan keponakan nya itu. Amara segera masuk ke dalam kamar nya.


Zeline menjauhkan tubuh nya dari sang mama, menghapus air mata Stella dengan tangan nya yang mungil.


"Mama jangan menangis lagi, Zeline tidak apa-apa kok."


Amara datang mendekati Stella, Zeline dan juga Rani. Stella menghapus air mata nya. Berdiri untuk bertanya apakah Amara membutuhkan sesuatu, Amara memberikan beberapa lembar uang kepada Stella.


"Ini, Aku nggak mau punya hutang Budi sama kalian. Biaya rumah sakit aku tadi, aku ganti! Kalau kalian nggak mau, buang aja. Yang penting aku udah ganti dan nggak ngerasa berhutang!" ujar Amara yang memberikan uang itu di tangan Stella secara paksa. Amara berlalu pergi, Stella menatap pergi adik nya yang menaiki tangga, perlahan terlihat senyuman di wajah Stella. Ia tahu, jika Amara memberikan uang itu bukan karena tak mau berhutang Budi, namun karena ia ingin melihat keponakan nya bisa bersekolah.


"Sombong sekali Tante itu, udah untung mama mau bayal." ujar Zeline yang menatap kesal sang Tante. Zeline pun menegur anaknya dengan lembut, ia segera berpamitan kepada Rani dan Zeline untuk pergi sebentar mendaftarkan Zeline ke sekolah TK. Sebelum pergi, Stella menyiapkan berkas-berkas yang ada. Stella pun pergi menggunakan mobil pribadi mereka yang di antar oleh supir.


Di sisi lain, terlihat Tanara yang begitu bahagia karena melihat sikap Amara barusan. Ia tahu, jika kakak nya Amara masih menyayangi kakak pertama mereka, Amara hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hati. Kakak nya memberikan uang itu, karena ingin melihat keponakan mereka bersekolah lagi. Tanara berjalan, menuju kamar Amara dengan perasaan yang begitu bahagia


Cekrek!


Tanara membuka pintu kamar Amara, lalu berjalan masuk ke dalam. Terlihat kakak nya sedang membaca buku, Tanara berlari dan memeluk Amara dengan erat. Amara kaget, lalu tersenyum


"Manja nya kakak pasti menginginkan sesuatu." ujar Amara yang mendongak ke atas melihat sang adik. Tanara menggeleng, lalu semakin mengeratkan pelukan nya.

__ADS_1


"Kenapa sih dek? Kamu mau sesuatu?" Tanara kembali menggeleng, ia terlihat begitu sangat bahagia.


"Tanara begitu senang sekali, apakah Tanara mendapatkan nilai?"


"Lebih dari itu,"


Amara mengerutkan dahi nya dengan bingung, Amara bangkit, ia pun membalikan tubuh nya menatap sang adik.


"Katakan ada apa?"


"Tidak, Tanara hanya ingin memeluk kakak saja."


Ucapan Tanara membuat Amara begitu senang, ia pun tersenyum begitu manis menunjukkan gigi nya yang rapih dan putih. Walau ia tak tahu alasan sang adik begitu bahagia, namun ia sangat senang melihat adiknya sebahagia ini. Amara tanpa bertanya kembali, langsung memeluk Tanara.


Stella yang mencari sekolah untuk Zeline yang paling terdekat dan terbaik. Ia ingin, Zeline mendapatkan pendidikan dan fasilitas yang terbaik. Ia akan mencari uang dengan giat demi anak dan adik-adik nya. Sebentar lagi, Amara akan tamat sekolah dan masuk universitas. Tanara juga akan menduduki bangku SMA. Stella juga ingin, Rani bersekolah. Walau Rani tidak ingin di sekolah, setidaknya homeschooling. Stella ingin yang terbaik untuk anak dan adik-adik nya. Apapun akan ia lakukan untuk mereka.


Stella menyuruh supir pribadi untuk berhenti di salah satu sekolah yang menurut nya sangat pas untuk Zeline.


Stella turun dari mobil, ia masuk ke dalam ruangan pendaftaran murid baru. Biaya sekolah nya sedikit mahal perbulan nya, namun Stella tak mengkhawatirkan itu semua. Yang penting, anak nya aman dan nyaman. Pihak sekolah juga memberikan baju, tas, sepatu dan beberapa buku pelajaran.


"Semua nya 4.5jt. Untuk biaya sekolah nya perbulan empat ratus lima puluh ribu," ujar kepala sekolah, Stella memberikan uang tunai tersebut.

__ADS_1


"Kapan anak saya bisa masuk?"


"Besok sudah bisa, masuk jam delapan pagi. Ibu tidak harus memberikan sarapan kepada anak ibu karena setiap pagi guru-guru akan memberikan susu dan roti untuk mereka, tersedia juga cemilan ringan saat jam istirahat. Dan saat jam pulang sekolah, murid akan di jaga oleh masing-masing guru sampai seluruh murid sudah di jemput oleh keluarga nya. Ini ada card pengenal, ketika mengantar dan menjemput harus membawa ini ya Bu. Jika ibu tidak membawa, kita tidak bisa menyerahkan murid kepada keluarga yang menjemput demi keamanan anak-anak." ujar kepala sekolah tersebut, Stella merasa lega. Karena ia tak harus mengkhawatirkan keselamatan anak-anak nya.


"Terimakasih atas penjelasan nya Bu, saya akan merasa lega menitipkan anak saya di sini."


"Sebaiknya daftar kan fingerprint ibu di sini ya?"


"Untuk apa ya Bu?" tanya Stella bingung, kepala sekolah itu pun menjelaskan jika itu untuk tanda pengenal sebagai orang tua murid. Jadi, tidak perlu mengeluarkan Card izin untuk menjemput murid.


"Lalu bagaimana jika saya tidak bisa menjemput nya dan menyuruh adik atau supir?"


"Itulah guna nya card izin, Bu. Hanya menunjukan saja, kami akan menyerahkan murid kepada keluarga nya. Tapi, kita akan mengecek apakah itu asli card sekolah atau duplikat agar tidak ada terjadi nya kecurangan."


Stella semakin yakin dengan keamanan sekolah ini, dia pun mengiyakan permintaan kepala sekolah. Setelah itu, Stella berpamitan untuk pulang kerumah. Kepala sekolah juga meminta nomer Stella untuk memasukkan grup khusus orang tua. Jadi, orang tua yang sedang bekerja atau jauh dari anak langsung mengetahui aktivitas anak di sekolah, apakah ada kegiatan atau pun pekerjaan rumah. Stella meninggalkan nomer nya kepada ibu kepala sekolah itu. Lalu berlalu pergi untuk pulang ke rumah.


Kini, Stella merasa senang dan nyaman. Ia tak perlu khawatir dengan Zeline jika diri nya bekerja nanti.


Sesampai di rumah, Stella menemui sang anak. Ia memberikan pakaian, sepatu dan keperluan lainnya untuk Stella pergi ke sekolah besok.


"Sayang, besok kamu udah bisa pergi ke sekolah. Mama minta, Zeline jangan nakal dan merepotkan guru ya, Sayang. Zeline juga tidak boleh nakal kepada teman ya nak? Ingat ucapan Mama, jangan pernah membuat masalah seperti di rumah kita dulu. Mama mau, Zeline menjadi anak baik. Kamu mengerti, sayang?"

__ADS_1


"Iya, Mama. Zeline janji nggak akan nakal, jika Zeline nakal. Zeline akan janji lagi." Zeline dan Stella pun tertawa, ia menggeleng melihat anak nya yang begitu menggemaskan.


__ADS_2