
"Jangan sampai kamu melakukan keputusan yang salah, belum tentu dia bersalah. Kita juga tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi kepada nya. Bisa saja dia pergi karena mendengar pembicaraan itu."
Aska menatap papi nya, ia bertanya pembicaraan apa yang di maksud oleh sang papi.
"Pembicaraan apa pi?"
Papi Aska terdiam, dia mengingat enam tahun lalu, saat Diri nya tidak setuju dengan keputusan itu. Dan pembicaraan diri nya dengan sang isteri.
Aska menggoyangkan tubuh papi nya, ia minta jawaban. Ia ingin memberitahu anak nya, namun Xiu sudah membuat nya berjanji untuk tidak mengatakan apapun dengan Aska, jika tidak. Xiu akan melakukan bunuh diri. Ia sangat mencintai Xiu dan gak mau isteri nya melakukan hal yang nekat.
"Tidak, lupakan Saja. Dan mengenai ucapan papi tadi. Semoga kamu bisa berfikir dengan jernih." Aska pun terdiam, ia bingung harus melakukan apa.
*********
Stella yang sedang berfikir bagaimana membuat cafe itu maju pun termenung, diri nya tidak bisa fokus karena memikirkan Aska.
__ADS_1
Stella mencoba untuk memfokuskan dengan pekerjaan, namun upaya nya gagal. Ia tak bisa fokus sama sekali.
Stella mengusap wajah nya dengan kasar, ia pun menghentikan pekerjaan nya.
Stella berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Zeline dan Rani.
Stella membuka pintu kamar nya, ia melihat Zeline dan Rani yang sedang tertawa bersama sambil karaokean. Ruangan itu begitu sangat bising, namun benar yang di katakan oleh Zidan. Jangankan di luar, di ruangan ia bekerja juga tidak merasa terganggu sama sekali.
Stella masuk ke dalam, ia pun mendekati anak dan adik nya tersebut.
Ia memutuskan untuk ke luar dari kamar, menutup pintu itu kembali. Kehadiran Aska yang sebentar mampu membuat diri nya merasa kacau tak terkendali.
Akhirnya, Stella tak mampu membendung kesedihan nya lagi, ia pun menangis sejadi-jadi nya. Walau sudah bertahun tahun berlalu, namun Stella tidak pernah berfikir untuk melupakan Aska.
Namun, ia juga tidak ingin kembali kepada Aska.
__ADS_1
Hati dan pikiran Stella semakin kacau, ia mendengar pintu kamar terbuka. Segera Stella menghapus air mata nya.
"Mama, mengapa mama tidak jadi masuk?" tanya Zeline yang mendekati sang mama, Zeline melihat mata sembab mama nya. Zeline pun menghapus air mata mama nya.
"Jangan menangis mama! Kenapa mama menangis? Apakah Zeline melakukan kesalahan?" tanya Zeline dengan wajah yang polos, Stella menggeleng. Ia memeluk anak nya. Mengatakan jika sang anak tidak melakukan kesalahan sama sekali, namun Zeline tidak percaya.
"Jika bukan kalena Zeline, mengapa mama menangis? Pasti ada sesuatu yang teljadi." ujar Zeline, menyelidik kebenaran dari mata mama nya.
Stella pun kembali meyakinkan anak nya, jika semua nya baik-baik saja.
"Sayang, masalah itu sangat wajar di hadapi oleh orang dewasa, mama hanya sedikit pusing tentang pekerjaan saja. Zeline kembali lah masuk ke kamar, kasihan kakak Rani yang sendirian menunggu Zeline."
Tak ingin mama nya semakin sedih, Zeline pun menuruti perintah sang mama. Sebelum pergi, Zeline mengatakan jika mama tidak boleh menangis. Mama nya harus kuat, Stella mengangguk. Ia tersenyum kepada anak nya, lalu berjanji tidak akan pernah menyerah atau menangis lagi.
"Mama berjanji, sayang. Mama akan menjadi kuat untuk kamu. Sudah sana."
__ADS_1