Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Terungkap


__ADS_3

Xiu masuk, dan mendekati anaknya perlahan. Aska masih bersih keras menutup matanya


"Mami, apa yang mami lakukan? Ayo ikut papi!" Xiu pun di tarik tangannya oleh sang suami hingga membuat wanita itu berdiri.


Mereka keluar dari kamar, Xiu menepis tangan suaminya yang mencengkram begitu kuat "Apa yang papi lakukan? Lihat tangan mami memerah seperti ini!"


"Mami yang apa-apaan, mengapa mami mengganggu tidurnya Aska dan cucu kita?"


"Ini bukan maunya mami, namun ini kemauan Lee. Kasihan dia sendirian di rumah sakit papi!"


"Mami jangan keterlaluan! Dan terlalu memanjakan dia, nantinya Lee akan melunjaj jika mami terus begini!"


"Melunjak kata papi? Papi ingat ya, Lee itu wanita yang sangat baik! Bahkan dia rela menunggu Aska anak kita selama bertahun-tahun lamanya, tidak seperti wanita itu!"


"Siapa? Stella maksud mami?"


"Siapa lagi jika bukan dia!" Xiu membuang wajahnya ke sembarang arah, dengan melipatkan kedua tangannya di atas dada.


"Hayeh! Mami lupa? Jika Stella dengan Aska menikah watu itu. Mami juga akan memisahkan mereka! Mami tidak benar-benar menerimanya, dan mami memiliki rencana setelah Stella hamil akan mengambil anaknya saja. Mami lupa? Jadi, kabur atau tidaknya Stella waktu itu juga tidak akan merubah keputusan mami. Mami tetap tidak menyukainya!"


"Iya papi! Mami sangat tidak menyukainya,.papi tahu budaya kita dengan mereka sangat berbeda! Mami tidak mau memiliki menantu sepertinya!"


"Apa? Jadi seperti itu rencana mami selama ini? Atau mungkin Stella pergi karena mendengar rencana mami dengan papi?"


Xiu kaget bukan main saat anaknya menuruni anak tangga, menatapnya dengan serius. Aska mendekat kepada maminya "Mami jawab Aska!"


Bahkan ia menyentak dan meninggikan suaranya kepada Xiu. "Sayang, memang mami ada rencana seperti itu. Tapi mami tidak pernah mengatakan apapun kepadanya, dia pergi karena keputusannya sendiri!"


Aska menggelengkan kepalanya "Tidak mami! Aska mengenal Stella dan saat itu dia mencintai Aska. Dia juga setuju dengan pernikahan kami, dia memutuskan pergi karena mendengar percakapan mami dengan papi. Aska yakin itu semua!"


"Aska, kamu jangan menyalahkan mami dong! Bukan mami yang memintanya pergi! Dia yang memutuskan pergi sendiri,"


Aska tidak mendengarkan ucapan maminya, ia berlalu pergi keluar rumah. Menuju rumah sakit, Aska harus menyelesaikan kesalahpahaman-nya dengan Stella


"Aska, kamu mau kemana?" Xiu berteriak namun Aska tidak menjawab, Xiu menoleh suaminya dengan wajah yang kesal "Ini semua salah papi! Andai papi bisa menjaga ucapan papi! Aska tidak akan mengetahui semuanya!"


"Oma jahat! Opa jahat!"


Zeline berteriak kepada nenek dan kakeknya, Xiu menatap atas melihat Zeline yang berdiri dan ia yakini jika cucunya mendengarkan segalanya.


Xiu berlari menaiki anak tangga satu persatu untuk mendekati cucunya "Sayang, kamu jangan salah paham sama Oma nak?"


Xiu ingin menggendong cucunya itu, namun Zeline menolak "Oma jahat! Zeline enggak mau sama Oma!"


Zeline berlari menuju kamar yang Rani tempati, hatinya sangat kecewa. Xiu yang ia anggap sebagai nenek yang baik ternyata begitu sangat jahat


"Mami bangun! Bangun mami!"


Zeline membangunkan Rani, Rani membuka matanya perlahan "Zeline sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?"


"Mami, Zeline enggak mau di sini! Zeline mau pulang! Ayo mami kita pulang!"


Rani bingung dengan sikap Zeline yang tiba-tiba seperti ini, namun ia tidak mau menolak permintaan Zeline "Baik lah kita akan pulang sekarang!"


Rani bangkit, ingin menyiapkan barang-barang Zeline yang akan di bawa pulang. "Zeline jangan nangis terus dong! Mami enggak mau melihat Zeline kesayangan mami menangis seperti ini!"


Rani menyeka air mata Zeline, walau ia tidak tahu apa yang terjadi namun yang pasti hal itu sudah sangat menyakiti hati Zeline sehingga ia memutuskan untuk pulang.


*******


Stella terkejut saat pintu ruangannya di buka, terlihat Aska yang menghampirinya dengan langkah yang lemah. "Aska?"


Aska mendekati Stella, ia pun bertanya alasan Stella pergi enam tahun lalu "Tolong jawab aku dengan jujur Stella, apa alasan mu pergi enam tahun yang lalu?"

__ADS_1


Stella terdiam, Tanara dan Amara melihat keduanya "Kak Aska tolong jangan membuat keributan di sini!" Pinta Tanara kepada lelaki itu, namun sepertinya Aska tidak mau mendengarkan ucapan Tanara


"Stella apakah kepergian mu karena mendengarkan percakapan mami dan papi? Setelah kamu melahirkan mereka akan menjauhkan mu dengan Zeline?"


Stella terdiam, matanya berkaca-kaca jika mengingat masa lalu hatinya terasa sangat sakit "Sudah lah Aska! Itu sudah menjadi masa lalu dan aku tidak mau membahasnya lagi!"


"Tolong jawab aku Stella! Apakah itu alasan mu?"


"Iya Aska! Iya! Aku pergi karena aku mendengar semua rencana mami mu dan aku tahu kau juga terlibat dengan itu semua, aku benci kau Aska! Aku benci! Kenapa kau ingin merebut anak ku? Jangan ambil Zeline ku!"


Aska menggelengkan kepalanya "Kau salah paham Stella! Aku tidak tahu menahu tentang rencana itu. Tadi mami dan papi ku berdebat dan aku mendengar semuanya. Aku baru mengetahui sekarang, tolong percayalah kepada ku stella!"


Stella terdiam, ia tidak mau menjawab apapun. Mungkin saja ini salah satu rencana Aska dan keluarganya lagi "Sudah lah Aska! Tidak ada yang harus di bahas, lebih baik kau pulang sekarang! Aku tidak mau berdebat apapun lagi!"


"Stella tolong dengar kan aku! Sungguh aku tidak tahu menahu tentang itu semua bahkan aku mengira kau yang dengan sengaja meninggalkan aku, saat itu kau juga,"


"Sudah lah Aska! Lebih baik kau pergi sekarang! Aku tidak mau membahas apapun lagi,"


"Semuanya harus kita bahas agar semuanya jelas Stella! Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi yang terjadi, selama ini kau menganggap aku buruk! Dan aku tidak seburuk yang kau pikirkan!"


Stella tersenyum sinis, ia hanya diam. Meneteskan air matanya. Bagiamana bisa Aska mengatakan jika ia tidak sekejam itu? Sedangkan dengan tega Aska menodai kesucian Stella bahkan di rumahnya sendiri?


Apakah Stella harus percaya dengannya? Tidak! Stella juga kehilangan respect kepada Aska setelah kejadian itu.


"Tanara, Amara. Kakak ingin istirahat dan tidur. Tolong suruh dia pergi dari sini! Atau jika dia tidak mau pergi, panggil saja keamanan di sini!"


Stella meminta adik-adiknya untuk mengusir Aska karena baginya sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan.


Dan jika memang Aska tidak mengetahui masalah itu, lalu apa yang harus mereka lakukan lagi? Semuanya sudah terjadi, dan tidak ada yang bisa di perbaiki


"Stella tolong dengarkan aku, aku tahu jika aku bersalah kepada mu. Bahkan aku sudah menyakiti hati mu, tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua,"


Stella perlahan mencoba untuk duduk, ia menyeka air matanya "Apa yang ingin kau perbaiki Aska? Semuanya sudah terjadi, dan kau sudah mengetahui niat kedua orang tua mu. Dan aku juga sudah tahu, jika kau tidak terlibat. Lalu? Apa yang harus di perbaiki?"


"Stella, aku mencintai mu!"


****


"Jika kau mencintai ku, kau tidak akan menyakiti dan membuat ku menderita Aska!"


"Stella ini semua hanya salah paham! Aku salah paham kepada mu, namun itu semua karena ucapan mu yang mengatakan kau sudah menikah lagi dengan lelaki lain dan anak yang kau kandung bukan anak ku!"


Stella menatap Aska "Lalu apa yang harus aku katakan dan aku lakukan Aska? Saat mengetahui kedua orang tua mu ingin merebut anak ku, aku hanya bisa pergi dari rumah kalian! Aku hanya bisa pergi, dan menjauh dari mu dan keluarga mu. Karena aku tidak sanggup kehilangan anak ku Zeline! Aku tidak bisa menjauh darinya!"


"Lalu, mengapa kau memisahkan kami?"


Stella pun mengatakan jika lebih baik dia pergi, daripada Stella harus berpisah dari anaknya. Dan nyatanya sekarang Zeline lebih memilih tinggal bersama Aska sekarang


"Aku sangat mencintai mu Stella, mengapa kamu tidak mengerti?" Ujar Aska dengan nada yang memelas "Kau yang tidak mengerti Aska! Aku sudah menikah dengan orang lain, dan sudah memiliki keluarga baru! Buang segala perasaan mu tentang aku!"


"Tapi aku tidak bisa!"


"Kau harus bisa! Dan pasti bisa! Lupakan aku Aska, ingat sebentar lagi istri mu melahirkan! Lupakan aku!"


Stella meminta Aska melupakannya walau dirinya sendiri masih mencintai Aska.


********


"Sayang, cucu kesayangan Oma. Kamu jangan pergi sayang! Oma tidak bisa tanpa kamu! Tolong kamu tetap di sini nak! Oma sayang banget sama kamu,"


Xiu menangis memohon kepada cucunya untuk tidak pergi "Oma sangat jahat sama mama! Kelena Oma, Zeline halus pisah dengan papa Zeline. Zeline tidak memiliki keluarga yang utuh! Zeline enggak mau sama oma, Oma wanita yang sangat buluk!"


"Zeline sayang, kamu jangan mengatakan itu. Itukan Omanya Zeline?"

__ADS_1


Rani mencoba menasehati Zeline, namun Zeline yang sudah kecewa tidak mau mendengarkan.


"Sayang maafin Oma! Oma memang bersalah namun Oma mohon jangan pergi nak! Oma sayang banget sama kamu, Oma enggak bisa pisah sama kamu!"


Namun Zeline tidak mau lagi mendengarkan ucapan neneknya "Ayo mami kita pelgi!"


"Sayang, tunggu! Baik, jika kamu ingin pergi dari rumah ini. Oma tidak akan melarangnya lagi, namun kalian harus di antar supir ya? Oma tidak mau kamu kenapa-kenapa."


Zeline diam sejenak, menatap neneknya dengan penuh rasa kecewa. Sangat terlihat jelas dari sorotan mata Xiu penuh rasa cinta dan khawatir untuk sang cucu. Zeline pun mengiyakan ucapan Omanya "Baik Oma!"


Xiu tersenyum senang "Terimakasih sayang, kamu mau di antar oleh supir,"


Xiu memeluk cucunya, ia menyesali segalanya. Sungguh ia tidak pernah terpikir untuk kehilangan Zeline seperti ini, dia tidak siap dibenci oleh duduknya sendiri


Xiu ingin sekali mengantarkan cucunya pulang, namun ia tahu Zeline pasti akan menolak lebih baik dia mengalah. Dan membiarkan supir yang mengantar cucunya.


Rani dan Zeline pergi di antar oleh supir pribadi Xiu. Xiu hanya bisa menangis menatap kepergian cucunya


"Ini semua salah papi! Andai saja papi tidak mengajak mami ribut pasti ini semua tidak akan terjadi!"


"Mami salahkan papi? Mau sampai kapan mami sadar, jika ini semua karena keegoisan mami! Mami selalu saja melakukan hal yang menurut mami baik padahal sangat membuat orang lain menderita. Jika Stella ada di posisi mami, pasti mami merasa senang bukan? Mami harus tahu, kita kehilangan anak dan cucu hanya karena keegoisan kamu!"


Xiu terdiam dengan ucapan suaminya, apakah dia egois seperti yang suaminya katakan? "Papi tahu, mami sangat menyayangi keluarga kita. Mami tidak ingin keluarga kita terpecah belah, mami hanya mau kita semua berkumpul bahagia,"


"Iya, papi tahu itu mami! Tetapi, andai saja dahulu mami tidak egois, mungkin saja keluarga kita sudah bahagia sekarang! Mami, papi, Aska, Stella juga Zeline!"


Xiu menatap suaminya dengan sorotan mata tidak suka "Apa yang papi katakan itu benar mami! Kebahagiaan Aska bukan pada Lee, namun pada Stella! Namun mami tidak mau mengerti, mami hanya menuruti semua keegoisan mami saja!"


"Apakah seegois itu mami di mata papi?"


"Iya!"


Setelah mengatakan itu, Xiu ditinggal oleh suaminya "Apakah aku egois seperti yang dikatakan?"


Ia masih mencerna ucapan suaminya, namun dirinya belum mengerti dan memahami segalanya "Mami melakukan ini demi kebahagian keluarga kita,"


"Tidak! Mami melakukan itu bukan untuk kebahagiaan keluarga kita namun untuk gengsi mami saja!"


"Papi salah paham dengan mami! Iya, mungkin itu juga salah satunya namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu demi kebahagiaan keluarga kita,"


"Papi tidak mengerti, mengapa papi bisa menikahi orang yang sangat egois seperti mami!"


********


Xiu mengejar suaminya namun suaminya tidak mau mendengarkan ucapannya lagi "Sudah lah mami! Papi tidak ingin berdebat lagi dengan mami semuanya sudah tidak ada guna,"


Xiu kaget saat suaminya membanting pintu, ia memegang dahinya yang tidak pusing.


"Mengapa semua orang menyalahkan aku? Aska, Zeline dan juga suami ku semuanya menyalahkan aku! Ini semuanya karena wanita itu, dahulu ia sudah merebut anakku dari ku, cucu dan sekarang suami ku! Awas kau Stella!"


********


"Kak, kenapa kakak mengatakan itu kepada kak Aska? Apakah kakak sudah tidak mencintai kak Aska lagi?"


Stella terdiam, jika dikatakan ia sangat mencintai Aska. Namun mengingat beberapa waktu silam membuatnya kembali kesal "Sudah lah! Ini urusan kakak, dan kakak mohon kalian jangan ikut campur! Kakak tidak mau kalian ikut kepikiran dengan masalah kakak! Kalian tenang saja ya? Kakak bisa menyelesaikan segalanya!"


"Tanara, apa yang kak Stella katakan benar. Kita jangan ikut campur masalah hati kak Stella, karena kak Stella yang menjalaninya. Kita sebagai adik hanya bisa mendukungnya saja!"


Tanara mengangguk, ia tahu jika yang dikatakan oleh kakaknya Amara memang ada benarnya


"Iya kak, maafin Tanara hanya saja Tanara ingin kak Stella bahagia,"


Stella tersenyum, memegang bahu adiknya "Berkumpul dan bersama kalian saja sudah membuat kakak sangat bahagia, kakak tidak membutuhkan apapun lagi! Kalian jangan memikirkan apapun, lebih baik kalian fokus dengan sekolah kalian, oke?"

__ADS_1


Tanara dan Amara pun mengangguk, keduanya berjanji akan menyelesaikan sekolah dengan nilai yang baik "Kami akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan kakak, kami tidak akan membuat kakak kecewa."


"Kakak tidak mengharuskan kalian pintar, namun jadilah adik-adik kakak yang bijaksana dan memiliki hati yang lembut,"


__ADS_2