Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Kekejaman Paman Dan Bibi


__ADS_3

Amara yang sudah bersiap pun ke luar dari kamar nya.


Ia melihat kakak nya Stella sedang menonton tv bersama Rani dan juga zeline.


Amara takut, jika kakak nya tidak mengizinkan nya ke luar.


Perlahan, Amara menuruni anak tangga satu persatu.


Stella melihat ke arah adik nya yang sudah berpenampilan sangat cantik.


Stella bertanya kemana adik nya pergi, Amara mengatakan ia akan pergi makan malam bersama teman nya.


"Aku akan pergi makan malam bersama teman ku kak. Aku berharap, kau tidak melarang ku." Amara menekan ucapan itu kepada kakak nya.


Stella tau, jika adik-adik nya sudah bebas saat ia pergi apalagi sejak ke dua orang tua mereka meninggal.


Stella pun percaya, jika adik nya Amara bisa menjaga diri dengan baik..


Jika tidak, pasti ia dan Tanara tidak akan tumbuh seperti ini, Stella pun mengizinkan adik nya.


Ia hanya mengatakan kepada Amara agar tidak pulang terlalu larut.


Amara setuju, ia berjanji tidak akan pulang lama.


Ia pun menyalami tangan kakak nya, berpamitan dengan baik.


Mereka membuka pintu, terlihat Paman dan Bibi yang masih berdiri di luar.


Amara takut, jika Bibi nya akan berbuat nekat kepada nya.


Stella melihat ke luar, ia tidak menyangka jika Paman dan Bibi nya masih ada di luar.


Stella melihat ke seberang sana ada sebuah mobil mewah. Ia bertanya kepada adik nya apakah itu mobil jemputan untuk Amara.


Dengan takut Amara mengangguk, Stella menyuruh adik nya untuk segera bergegas masuk ke dalam mobil teman adik nya itu.


Amara pun mengikuti ucapan kakak nya ,Stella. Ia berlari, dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Amara bernafas dengan lega, namun rasa takut nya tidak bisa di bohong apalagi keringat di dahi nya.


"Hey, darling. Mengapa kamu terlihat sangat takut." ujar Darren yang sedikit menggoda Amara.


"Is apaan sih om!" kesal nya. Namun, Amara tetap menceritakan segala nya.


"Di luar rumah ada paman dan Bibi ku yang jahat. Mereka ingin menguasai rumah dan juga seluruh harta kekayaan ke dua orang tua kami yang telah tiada. Selama ini, Paman dan Bibi memakan hak kami, dan tadi kakak ku melaporkan dan membekukan tabungan mereka. Selama ini kakak ku tidak ada, jadi Paman dan Bibi lah sebagai wali penerimaan tabungan perbulan yang telah mendiang ke dua orang tua ku berikan."


Darren memahami ucapan Amara, ia pun baru tau jika wanita nya itu adalah seorang yatim piatu.


Darren terlihat gusar dan kesal, ia menatap Paman dan Bibi Amara dari dalam mobil. Tatapan nya begitu penuh arti.


"Berani nya kalian menyakiti wanita ku!" batin Darren, ia akan memberikan pelajaran untuk Paman dan juga Bibi nya Amara.


"Apakah mereka pernah menyakiti mu?"


"Sering banget dulu, bahkan hampir setiap saat. Kami di jadikan pembantu, padahal itu rumah ke dua orang tua kami. Mereka semena-mena karena hanya ada aku dan adik ku. Saat itu kakak ku tidak ada."


Raut wajah Amara kembali sedih jika mengingat kenangan menyakitkan itu.


Ia menetes air mata nya, dengan tegas Darren meminta Amara untuk menghapus air mata nya.


Amara pun mengikuti ucapan Darren mungkin pria itu menganggap Amara adalah wanita yang cengeng.


Namun, jika Darren memahami penderitaan nya selama ini. Mungkin pria itu juga tidak akan kuat.


Darren melajukan pegal gas nya. Ia tidak mau jika wanita nya berlarut dalam kesedihan.


"Jangan membahas tentang keluarga mu lagi jika bersama ku!" ujar Darren. Bukan nya ia tidak perduli, namun Darren mau Amara merasa bahagia jika bersama nya.


"Aku juga enggak mau bilang kalau om enggak kepo!" sentak Amara.


Amara khawatir apakah keluarga nya akan baik-baik aja. Ia takut jika Bibi nya melakukan hal yang nekat.


****


Stella menatap jengah Paman dan Bibi nya.

__ADS_1


"Mengapa kalian tidak pergi juga?" bentak Stella.


Ia harus bersikap seperti itu, agar Paman dan Bibi nya mengerti. Mungkin, jika Paman dan Bibi nya menyayangi ke dua adik nya dengan tulus dan menjaga mereka sepenuh hati.


Stella tidak akan keberatan dengan uang itu, bahkan ia akan memberikan segala nya kepada Paman dan bibi nya.


Namun, ketika mengetahui paman dan bibi nya sudah berbuat jahat.


Stella pun tidak mau bersikap baik kepada mereka.


"Stella tolong kami, kasihani kami." pinta Bibi Stella yang menangis.


"Apa bibi dulu kasian kepada ke dua adik ku? Mereka tidak punya siapa-siapa. Mereka hanya memiliki kalian sebagai pengganti kedua orang tua kami. Mereka membutuhkan perlindungan kalian, namun kalian malah dengan tega menyiksa dan memberikan trauma kepada mereka. Aku tidak mempermasalahkan tentang uang, kalian bisa mengambil nya semua asal kalian menjaga dan menyayangi adik ku sepenuh hati seperti kalian menyayangi anak kalian sendiri. Kami ini juga anak kalian Loh, tapi kenapa kalian begitu tega?"


Stella mengungkapkan kekesalan dan kekecewaan nya.


Bibi kembali berlutut, ia memohon dan menangis kepada keponakan nya itu.


"Stella jika kami tidak mendapatkan uang itu kembali, kami akan miskin. Bibi tidak siap nak."


Bibi nya kembali memelas untuk mendapat rasa simpati dari Stella. Ia tau jika keponakan nya memiliki hati yang lembut dan tidak tegaan.


Ia tidak tau, jika stella sudah berubah. Dia bukan Stella yang lemah seperti dulu lagi.


"Kak, jangan percaya dengan Bibi. Dulu, saat kami meminta uang untuk keperluan sekolah. Bibi memperlakukan kami seperti hewan. Menyuruh kami mencuci kaki mereka satu persatu, lalu air nya di suruh kami untuk meminum nya."


Tanara menangis, mengingat kekejaman yang di lakukan oleh paman dan bibi nya.


"Tidak nak, adik mu berbohong, tidak mungkin paman dan bibi melakukan itu." ujar bibi nya dengan gugup.


"Maaf, Bibi. Tapi aku mempercayai adik-adik ku."


Stella kembali menutup pintu rumah nya, ia berkata jika dia tidak akan merubah keputusan nya.


Stella langsung memeluk adik bungsu nya itu. Ia meminta maaf karena diri nya mereka harus melalui hari-hari yang menakutkan.


Kejam sekali paman dan bibi nya memperlakukan ke dua adik nya seperti itu. Meminum air bekas cucian kaki, sungguh tidak punya hati nurani!

__ADS_1


Mata Stella memerah ia ingin membalas perlakuan paman dan Bibi nya namun Tanara melarang.


"Kak jangan kotor kan tangan kakak hanya karena manusia yang tidak punya hati itu. Jika kakak membalas perbuatan mereka, tidak ada beda nya kakak dan mereka. Kendali kan diri dan amarah kakak. Tanara enggak mau kakak seperti mereka yang tidak punya hati."


__ADS_2