
"Jangan menyakiti diri mu dan juga anak mu dengan seperti ini Stella! Jika kamu seperti ini, Zeline akan menganggap mu ibu yang jahat karena telah memisahkannya dengan ayah kandungnya. Tenang kan diri mu! Dan biar kan Zeline beradaptasi dengan ayah kandungnya. Setelah itu, Zeline bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jika kamu tidak memberikannya kesempatan untuk dekat dengan ayah kandungnya. Ia akan terus membenci mu, dan menganggap kamu jahat!"
Stella terdiam, memikirkan ucapan Azriel "Kamu harus tenang untuk menyikapi masalah ini! Stella yang aku kenal adalah wanita yang begitu tenang walau di hadapkan badai yang begitu besar! Sungguh, aku tidak mengenal Stella yang dulu pada diri mu yang sekarang!"
Stella pun menatap Azriel dengan mata sendu "Aku takut, Azriel! Aku takut jika anak ku tidak akan kembali hiksh!"
"Percaya dengan ku, Zeline akan kembali ke dalam pelukan kita. Biar kan ia tinggal sebentar bersama ayah kandungnya, Zeline akan yang pintar. Namun saat ini ia hanya ingin mengenal papanya lebih dekat!"
Stella pun lebih tenang sekarang, Rani memberikan segelas air kepada Stella "Kak minum lah dulu!" Stella meneguknya dengan perlahan
"Terimakasih, Rani!"
"Stella, lebih baik kita sholat berjamaah sekarang. Dan meminta petunjuk kepada Allah!"
Azriel mengajak Stella, Rani dan kedua adiknya Stella untuk sholat berjamaah di masjid. Stella terdiam, sudah lama ia tidak menunaikan kewajibannya.
__ADS_1
Hati Stella tersentuh "Ya Allah. Sudah lama sekali hamba mu ini menjauh, dan tidak melaksanakan kewajiban."
Stella menangis, ia menemukan jawabannya mengapa saat ini dirinya sering merasa gelisah dan tidak tenang.
Stella mengangguk, ia pun mengajak adik-adiknya ke masjid untuk sholat berjamaah.
*******
Zeline senang karena bisa bersama papanya.
"Papa juga senang sekali, nak!"
Aska memeluk Zeline dengan penuh kasih dan sayang. Ia merasa sangat bersalah, walau selama ini mereka berdekatan namun Aska tidak menyadari jika Zeline adalah putri kandungnya sendiri.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan mansion yang sangat mewah dan elegan
__ADS_1
Zeline tercengang, untuk pertama kalinya ia melihat rumah yang begitu besar, dan megah. "Papa, ini lumah papa?" Aska mengangguk, respon Zeline sama seperti ibunya saat pertama kali datang ke rumah Aska. Sangat takjub "Sepelti istana!"
Ucapan Zeline mengingatkan Aska kepada Stella yang dulu, sangat polos.
Aska tersenyum tipis "Ini bukan hanya rumah papa, namun ini juga milik Zeline. Zeline akan menjadi tuan putri di istana ini jika Zeline tinggal bersama papa!"
"Apakah mama akan tinggal dengan kita?"
Aska terdiam, ia juga berharap agar Stella kembali kepadanya dan mereka menikah. Membina kehidupan yang baik, namun Stella sangat kerasa kepala. Walau seringkali Aska meminta namun wanita itu menolak.
Aska tidak tahu apa kesalahannya, ia tahu jika dirinya telah berdosa kepada Stella karena sudah dengan bejat menyentuh Stella dengan paksa.
Namun dulu? Mengapa Stella pergi dari hidupnya tanpa alasan yang pasti "Papa, kenapa papa melamun?"
Lamunan Aska memudar, ia pun menggeleng dan tersenyum kepada anaknya "Tidak, Sayang! Papa tidak Kenapa-kenapa. Ya kamu benar, kita akan tinggal bersama mama, tugas Zeline di sini. Harus membujuk mama agar mama mau tinggal bersama kita, oke?"
__ADS_1
Zeline mengangguk dan tersenyum "Iya, Papa! Zeline akan meminta mama untuk tinggal belsama dengan kita,"