
Jika mengingat perbuatan bejat Aska kemarin, membuatnya merasa sakit dan sesak. Bahkan traumanya kembali, Stella lupa membawa obatnya
"Aku lupa membawa obat ku, bagaimana ini?" Stella tidak mau jika kesedihannya di lihat oleh Zeline. Ia pun ingin pergi dari rumah, namun Zeline pasti akan mencari dirinya
Namun jika dirinya tetap menetap, pasti Zeline akan melihat keadaannya yang kacau.
Ya semenjak Aska menodai dirinya, Stella begitu trauma bahkan ia pergi konsultasi ke psikiater untuk ketenangan mental dirinya
Ia pun mengkonsumsi obat penenang agar kesedihan dan kemarahannya bisa hilang sejenak. Namun saat semuanya kembali, Stella tidak membawa obatnya.
Ia tahu, jika dirinya pasti akan kehilangan kendali. Daripada Zeline melihat kemarahannya lebih baik ia pergi sekarang tanpa memberitahu Rani dan Zeline terlebih dahulu.
Ia keluar dari rumah Aska, berjalan ke rumahnya dengan perasaan yang tidak menentu
*****
"Mami, di mana mama? Kenapa mama tidak kembali juga? Bukannya mama mengambil minum?" Zeline yang terbangun mencari mamanya, Rani pun menenangkan Zeline
__ADS_1
"Tenang lah Zeline, kamu tidur saja! Mami akan menyusul mama di dapur!"
Zeline mengangguk, ia memejamkan matanya kembali, saat Zeline sudah tidur Rani memberanikan diri untuk turun mencari kakak ya di dapur. Namun ia tidak melihat Stella kakaknya, Rani merasa khawatir namun ia harus bagaimana?
Salah satu pelayan pergi ke dapur, untuk minum
"Mbak maaf, saya mau bertanya kemana orang-orang di rumah ini?" Rani bertanya kepada pelayan itu dengan sopan "Mereka pergi ke rumah sakit, karena nyonya Lee mengalami pendarahan," mendengar itu membuat Rani terkejut
"Sejak kapan?"
"Tadi sore,"
Rani langsung naik ke atas, dia tidak ingin Zeline mencari keberadaannya juga
"Kakak ada di mana? Kenapa tidak mengatakan apapun terlebih dahulu sebelum pergi?" Batin Rani
Rani ingin menghubungi Stella, namun saat sampai di kamar. Ia melihat ponsel Stella yang berada di samping ponselnya
__ADS_1
"Kakak juga tidak membawa ponsel, kemana kakak?"
"Mami, mana mama?" Zeline bertanya keberadaan mamanya walau matanya tertutup "Mama sedang pergi ke luar sebentar Zeline, ada kerjaan yang mendadak. Tapi Zeline jangan khawatir tadi mama di jemput oleh Tante Laras. Mami sudah bertemu dengan mereka, tadinya mama mau izin dulu ke Zeline. Namun mami melarang karena takut Zeline kesayangan mami terganggu tidurnya," Rani pun mengecup kepala Zeline dengan penuh kasih dan sayang..
"Maafkan mami Zeline, mami tidak mempunyai pilihan selain berbohong! Mami tidak bermaksud seperti itu, namun saat ini mami tidak tahu harus mengatakan apa," batinnya kembali.
Untung saja Zeline percaya dengan Rani tanpa keraguan sedikit pun. Zeline kembali tidur dengan nyenyak, Rani pun memeluk Zeline dengan penuh cinta dan sayang. Namun pikirannya berkecamuk memikirkan keberadaan Stella. Rani berharap, jika kakaknya akan baik-baik saja
*****
"Mami, Lee. Aku akan keluar sebentar membeli makanan, mami juga pasti lapar bukan?"
"Iya Aska, mami sangat lapar. Dan kamu jangan membeli makanan di pinggir jalan oke? Mami tidak akan bisa!"
"Mami jangan khawatir! Aska tidak akan membelikan makanan pinggir jalan untuk mami juga papi,"
"Aska! Papi makanan di jalanan juga oke, tidak masalah!"
__ADS_1
"No papi! Jangan! Itu tidak sehat! Lebih baik beli di restauran yang biasa kita makan saja," Xiu tidak membiarkan suaminya makan makanan di pinggir jalan