
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Xiu bertanya kepada menantu kesayangannya itu namun Lee tidak menjawab, membuat Xiu menghela nafas dengan kasar "Sayang, kamu harus terbiasa memahami segalanya. Dan mami tidak ingin karena kecemburuan kamu yang tidak beralasan membuat cucu-cucu mami kenapa-kenapa. Dan satu lagi, saat ini kamu sudah menikah dengan Aska, dan jangan melupakan jika Aska memiliki anak dari wanita lain. Anak itu juga anak kamu, kamu harus sayang dengan anak itu, bahkan di saat kamu nanti sudah punya anak. Kamu harus tetap sayang dan menganggap Zeline seperti anak kamu!"
Xiu memberikan peringatan kepada menantunya, Lee tersenyum dengan terpaksa "Mami jangan khawatir! Lee akan menyayangi Zeline seperti anak Lee sendiri,"
Malas banget aku sayang sama anak yang bukan dari rahim aku, lagipula aku akan menyingkirkan Zeline dari kehidupan kamu saat anak ku lahir! ~batinnya dengan sorotan mata yang penuh arti
******
"Sayang, kamu enggak berpikir untuk merencanakan sesuatu kan?" Lee kaget, mengapa Xiu seakan bisa menebak isi pikirannya "Mami, kenapa bicara seperti itu? Mami tahu jika Lee sangat menyayangi Zeline. Hanya saja Lee merasa kesal dan emosi saat Stella hadir di hidup keluarga!"
Papi Aska yang tidak ingin mendengarkan percakapan istri dan menantunya memilih keluar dan membanting pintu. Tentu saja membuat Xiu mau pun Lee merasa kaget "Sayang, kamu tunggu di sini dahulu! Mami akan menyusul papi kamu!"
Lee mengangguk, lagipula ia tidak membutuhkan kedua mertuanya di rumah sakit. Ia hanya ingin Aska di sampingnya, itu saja!
"Lebih baik kalian pulang saja! Karena kalian bukan orang yang aku butuhkan," gerutunya dengan pelan setelah mertuanya keluar dari ruangan
Xiu duduk di samping suaminya "Papi enggak boleh membanting pintu seperti itu, kasihan menantu kita yang kaget!"
"Sudah lah mami, papi malas berdebat dengan mami! Itu tidak akan ada gunanya, dan tidak ada arti!"
Xiu tidak mengerti dengan suaminya yang mengatakan itu "Papi kenapa sih? Kenapa papi seperti ini dengan mami?"
"Tidak! Papi hanya ingin pulang ke rumah, jika mami ingin ikut dengan papi, mami bisa ikut. Namun jika tidak, tidak masalah! Papi pulang sendirian saja,"
"Papi, mami tidak bisa ikut dengan papi. Kasihan menantu kita, tidak ada yang menemaninya di sini,"
"Baik, papi akan pulang sendirian!"
Xiu menatap suaminya yang berdiri, berjalan ke luar rumah sakit. Bahkan semakin jauh dari pandangannya "Papi ini, lama-lama sama seperti Aska, huft!""
Xiu segera masuk ke dalam ruangan, melihat Lee yang memejamkan matanya. Xiu merasa bosan jika menunggu menantunya yang sedang tidur "Aku harus apa? Bahkan Lee tidur. Aku pasti sangat bosan!"
Xiu berjalan mendekat ke arah Lee, bahkan wanita itu berharap jika Xiu pergi saja.
Sial! Mengapa mami tidak pulang saja, aku tidak ingin dia! Aku hanya ingin Aska ku! ~batinnya
Lee masih berpura-pura tidur, karena ia malas di cerahami oleh ibu mertuanya itu
"Lebih baik aku tidur saja!" Batinnya dengan geram!
*********
Amara yang berniat untuk membeli beberapa cemilan makanan, merasa kaget dengan adanya Darren di depan pintu rumah sakit "K-kau! Kenapa masih di sini? Bukannya mau pulang?"
Amara bertanya dengan Darren, namun lelaki itu tidak menjawab. Ya memang Darren tidak suka jika Amara bertanya atau berbicara dengannya begitu ketus.
Darren ingin Amara menghargainya, "Maafkan aku om, maksudnya mengapa om masih di sini? Bukannya tadi bilang mau pulang?"
Amara kini jauh lebih lembut, Darren tersenyum dengan gemas "Begitu dong! Kalau bertanya atau berbicara dengan yang lebih tua harus sopan,"
Amara menaikan satu alisnya ke atas "Iya maaf, tapi jawab dulu dong om!"
Darren hanya menggelengkan kepalanya saja, ia memang tidak bisa menjelaskan segalanya dengan rinci
Amara pun tahu itu, seharusnya dia tidak mengharapkan hal lebih dari lelaki yang ada dihadapannya "Mau kemana?" Bukannya menjawab, Darren justru memberikan pertanyaan balik kepada Amara, namun tetap saja wanita itu menjawab "Mau beli makanan, yang tadi dibeli udah mau habis. Kasihan Tanara, dia suka ngemil dan lapar mendadak,"
"Sama seperti kakaknya yang satu ini?" tanya Darren, tangannya sambil menyelipkan rambut Amara kebelakang telinga.
Rambut Amara memang sedikit berantakan, hal itu yang mendorong Darren untuk memperbaiki rambut Amara. Amara mematung, menatap mata Darren baru pertama kalinya ia diperlakukan sangat istimewa oleh lelaki. Karena memang Amara tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis.
"Ayo, saya antar!"
Amara menurut saja, keduanya pun berjalan keluar rumah sakit. Sesampai di parkiran mobil, Amara dan Darren langsung masuk ke dalam mobil
"Mau beli makanan apa?"
"Beberapa cemilan ringan. Dan juga mie jadi jika Tanara lapar, gampang tinggal di seduh,"
__ADS_1
"Pantes saja tubuh mu sangat gendut, penuh lemak karena makan, makanan yang tidak lezat!"
Ucapan Darren berhasil membuat Amara melototkan matanya "Apa katanya? Aku gendut, dan penuh lemak di mana-mana?"
Darren menggeleng heran "Kalau cari makanan yang sehat! Biar tubuh mu sehat, tidak penuh lemak seperti ini!" Darren menunjukkan beberapa lemak di tubuh Amara tanpa menyentuhnya.
"Berat badan aku memang lima puluh delapan, namun jangan di hina begitu dong om!" Ketusnya kesal, menatap depan dengan serius. Mulutnya juga monyong ke depan, bisa-bisanya Darren mengatakan ia gemuk. Hal itu tentu saja membuat moodnya sangat buruk
"Mie itu kurang sehat, dan enggak bagus jika di makan terlalu sering. Lebih baik beli makanan sehat!"
"Aku juga maunya begitu, tapi uang cuman cukup beli seblak!" Jawabnya asal "Tapi kalau udah sakit, biayanya jauh kali lipat dari beli seblak!" Sambung Darren, namun Amara tidak membantah "I-iya memang sih, tapikan ada BPSj,"
"BPSJ?"
"Sudah lah, orang kaya seperti anda memang tidak tahu! Karena tahunya hanya lah menghina orang-orang kecil seperti ku!"
"Tidak! Buktinya badan mu jauh lebih besar dari tubuh ku,"
Amara hanya bisa menahan nafasnya saja. Ia malas berdebat dengan Darren. Namun Amara terkejut saat Darren memegang tangannya
Terlihat kegugupan Amara dari dahinya yang berkeringat hingga tangannya yang bergetar "Kenapa?" Lelaki itu bertanya tanpa menyadari perbuatannya, ia pun kini tahu jika Amara merasa gugup karena tangannya yang ia pegang
"Dasar Bocil!" Ujarnya sambil menggelengkan kepala, tentu saja membuat Amara merasa tidak terima. Ia langsung menepis tangan Darren "Jangan ngeselin dong om!"
Melihat Darren dengan jengah, membuatnya semakin gemas dengan Amara
"Memang benar kan masih Bocil?"
"Siapa bilang? Bentar lagi aku tamat sekolah kok!"
"Oh!"
Entah mengapa, semenjak pertemuannya dengan Amara membuat Darren kehilangan selera melakukan apapun kecuali bersama dengan gadis itu. Walau Darren tahu jika usia mereka sangat jauh, namun Darren sudah menaruh hati pada wanita itu.
Bahkan, ia tidak pernah menyentuh atau berhubungan dengan wanita lain lagi
"Darren!"
******
Amara yang tidak mau menganggu keduanya, perlahan berjalan mundur kebelakang. Namun Darren menyadarinya, ia segera melepaskan pelukannya dengan wanita itu untuk mengejar Amara "Tetap di sini!" Darren kembali memegang tangan Amara dengan lembut, wanita itu melihat Amara dengan sinis
"Siapa wanita kampungan ini Darren?"
"Apa katanya? Aku kampungan? Seenaknya saja dia mengatakan aku kampungan!" Batin Amara, namun jika di lihat-lihat penampilannya memang sangat kampungan. Jauh berbeda dengan wanita elegan itu
"Dia calon istri ku,"
"Apa? Calon istri? Tapi kenapa? Terlihat gayanya sangat kampungan pasti juga tidak selevel dengan kasta kita! Lalu kenapa dia?"
"Karena dia baik dan cantik seperti mu!" Darren tersenyum kepada wanita itu, ternyata wanita itu adalah saudara kembarnya Darren.
Wanita itu pun tersenyum "Bagus jika begitu, tapi ubah penampilannya! Sangat jelek!"
Wanita itu bernama Namira, walau sudah berkepala tiga namun penampilannya seperti wanita belasan tahun. Sangat cantik juga elegan
"Jangan mengatakan itu! Dan untuk apa kau kesini?" Darren bertanya dengan ketus, walau ia sangat dingin namun Darren begitu menyayangi saudara kembarnya itu
"Aku kerumah mu, dan kau tidak ada. Aku melihat maps keberadaan mu ternyata di sini, dan mengapa kau di rumah sakit kumuh seperti ini?"
Amara gemetar, rumah sakit semewah ini di mata saudara kembarnya Darren adalah rumah sakit kumuh? Lalu rumah sakit seperti apa yang ada di pandangannya?
Darren tidak menjawab, memang begitu sifatnya. Paling malas menjawab pertanyaan dari orang lain, termaksud keluarganya sendiri
"Kanjeng menunggu mu di rumah,"
Kanjeng? Siapa itu? ~batin Amara namun ia tidak berani bersuara.
__ADS_1
Namira menatap Amara dengan penuh serius "Siapa nama mu?" Nada dingin dan ketus membuat Amara kaget "Amara,"
"Oh!"
Hanya sesingkat itu, Namira mengajak Darren untuk pulang namun lelaki itu menolak "Kau pulang saja terlebih dahulu, aku harus makan bersamanya,"
"Di rumah saja! Kanjeng sudah memesan banyak makanan untuk kita, dan kenalin lah calon istri mu itu! Tapi, rubah dulu penampilannya, sangat sakit di mata aku melihat penampilannya ini,"
Amara tidak tahu apakah kembaran Darren menyukainya atau hanya untuk menghinanya saja "Maaf tapi aku tidak bisa pergi, keluarga ku jauh lebih penting!"
Amara melepaskan genggaman tangan Darren, ia pun berpamitan untuk pergi "Permisi!"
Amara berjalan meninggalkan saudara kembar itu, walau Namira tidak melakukan apapun namun ucapannya sungguh pedas dan Amara sadar jika orang susah sepertinya tidak pantas bersama Darren.
Ia berusaha untuk tenang dan bahagia, masuk kedalam ruangan kakaknya "Kak, bukannya tadi kakak katakan jika kakak mau membeli makanan?"
Amara kebingungan menjawab, terlihat dari wajahnya, Stella tahu jika adiknya sedang mengalami masalah "Amara, ada apa? Katakan sama kakak!"
Amara menggeleng dengan cepat "Tidak kak! Tidak apa-apa, kakak jangan khawatir!"
Namun Stella tahu jika adiknya itu berbohong "Amara, kemari!"
Amara berjalan mendekati kakaknya, terlihat butiran air mata yang Amara coba tahan sedari tadi, Stella langsung memeluk adiknya "Kalau kamu sedih dan ingin menangis, menangis lah!"
Amara langsung meneteskan air matanya, ia mengatakan kepada kakaknya jika orang sederhananya sepertinya tidak pantas untuk di cintai "Kak, apakah orang sederhana seperti kita tidak pantas mendapatkan kebahagiaan? Apakah hanya orang-orang kaya saja?"
Stella kaget mendengar pernyataan adiknya "Kak, kenapa kakak mengatakan itu? Apakah tuan Darren menyakiti hati kakak? Sudah Tanara katakan, orang kaya sepertinya pasti akan menginjak-injak harga diri kita!"
Tanara pun meneteskan air matanya, Amara menjauhkan kepalanya di tubuh kakaknya. Ia menoleh ke arah Tanara "Tidak Tanara! Bukan Darren,"
"Lalu siapa kak?"
Amara tidak menjawab, tiba-tiba pintu ruangan Stella terbuka. Segera Amara menghapus air matanya. Darren mendekat ke arah Amara
"Maafkan ucapannya, dia tidak bermaksud seperti itu. Memang, ucapannya sangat pedas namun percaya lah jika hatinya itu sangat baik. Dan dia sangat menyukai mu,"
"Maaf tuan Darren, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa adik saya menangis seperti ini?"
Darren pun menjelaskan segalanya kepada stella, kini Stella mengerti.
Ia juga tidak bisa menyalahkan Darren, atau pun kembaran Darren, Stella justru menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa membuat keluarganya hidup senang
******
"Amara sayang, ini semua bukan kesalahan tuan Darren atau juga kembarannya. Namun ini salah kakak, mungkin kakak tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu dan juga Tanara. Seharusnya kakak bisa membahagiakan kalian seperti yang mama dan papa lakukan dahulu. Selalu memberikan fasilitas yang baik untuk kita,"
Amara memegang tangan kakaknya "Kak, jangan menyalahkan diri kakak sendiri. Ini semua bukan sepenuhnya kesalahan kakak, Amara dan Tanara tahu bagaimana perjuangan kakak untuk membiayai kami semua. Bukan hanya Amara dan tanara namun juga kak Rani juga Zeline, kakak sudah banyak mengorbankan diri kakak demi kami. Amara yang seharusnya minta maaf sama kakak, karena dahulu Amara tidak bisa memahami kasih sayang kakak, Amara marah sama kakak bahkan berlaku tidak sopan dengan kakak!"
Darren melihat kasih sayang yang tulus dari saudara kakak beradik itu, ia pun tersenyum. Namira masuk ke dalam ruangan
Cekrek!
Semuanya terkejut termaksud Darren "Untuk apa kau ke sini?" Darren bertanya kepada saudara kembarnya, ia pun mengatakan jika dirinya menjemput Darren "Jangan bucin sama perempuan, jika dia tidak mau ikut dengan kita tidak masalah! Untuk apa kau mendatangi mereka?"
"Hentikan omong kosong mu!"
Namira menatap Stella, Amara dan juga Tanara secara bergantian "Kalian saudara yang sangat kompak, aku senang karena memiliki calon ipar dari keluarga yang begitu harmonis,"
Namira tersenyum, memang benar apa yang Darren katakan jika Namira tidak seburuk yang dipikirkan, walau ucapannya sangat pedas namun hatinya sangat baik dan tulus
"Kau beruntung Darren, memiliki wanita yang baik sepertinya. Dan Amara, jika ucapan ku menyakiti mu aku menyesal. Namun aku harap kau terbiasa dengan aku, aku mungkin wanita yang tidak bisa bermanis-manis bicaranya. Dan aku yakin, nantinya kau akan terbiasa memiliki ipar seperti ku!"
Amara hanya terdiam, Stella sedikit tenang jika saudara kembarnya Darren bisa menerima adiknya dengan baik "Ayo Darren kita pulang, di sini sangat panas. Dan kau! Pindahkan kakaknya kekasihmu ke rumah sakit yang lebih layak, jangan di sini!"
Setelah mengatakan itu, Namira langsung ke luar dari ruangan yang menurutnya sangat panas.
"VVIP seperti ini kualitasnya? Sangat buruk! Untung saja, aku tidak pernah di rawat di sini!"
__ADS_1
"Maafkan kelakuan Namira, tapi percayalah jika ucapannya tidak bermaksud menyakiti hati kalian." Sekali lagi Darren meminta maaf kepada keluarga Amara, ia merasa sangat tidak enak hati
"Tenang saja tuan Darren! Kami tidak akan tersinggung dengan ucapan saudara kembar anda!"