
Xiu memeluk Lee dengan penuh kasih sayang. Namun, Lee merasa risih dengan pelukan xiu
Ingin rasanya ia menolak tubuh Xiu untuk menjauh dari nya.
Sabar lah Lee! Hanya sedikit lagi, kau hanya perlu sabar dalam beberapa hari saja!
Dengan terpaksa Lee membalas pelukan dari Xiu lalu ke dua nya saling melepaskan pelukan satu sama lain.
"Mami sangat senang, memiliki menantu seperti kamu. Sungguh, kamu orang yang sangat baik."
Lee tersenyum kepada Xiu "Mami jangan memuji ku seperti itu, aku tidak sebaik yang mami duga."
Xiu menganggap jika Lee mengatakan itu karena tidak mau di puji dan rendah hati. Namun, kenyataan nya Lee mengatakan nya dengan serius.
Dia tidak sebaik yang Xiu duga. Lee hanya menginginkan Aska dan harta nya tidak membutuh kan yang lain.
Aska tidak ingin berlama ada di sini. Ia mengajak Lee dan mami nya untuk masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah.
"Mami, Lee. Ayo kita pulang. Hari sudah semakin sore, aku akan mengantarkan mu terlebih dahulu Lee."
"Tidak Aska! Sebaik nya kalian antar mami saja. Dan kalian dinner dahulu!"
"Mami, tolong! Jangan sekarang, aku sudah begitu lelah hari ini..Lain kali saja, aku akan mengantarkan mu sekarang Lee."
"Baiklah, sayang. Tidak masalah! Jika kau lelah aku bisa naik taxi."
"Tidak! Kami akan mengantar mu Lee!" ujar Xiu. Lee pun mengangguk.
Siapa juga yang ingin pulang sendiri. Aku hanya ingin Kalian berfikir jika aku wanita yang baik dan pengertian.
"Sayang, kamu benar-benar beruntung jika memiliki isteri seperti Lee. Dia sangat pengertian dengan keluarga kita, tidak ada wanita yang begitu care dengan kita."
Aska tidak menjawab ucapan mami nya, ia pun segera menuju mobil.
Ia berharap jika Lee memang wanita yang baik dan selalu mengerti diri nya dan juga keluarga nya.
Xiu selalu memuji Lee, membanggakan diri nya. Aska khawatir jika mami nya akan kecewa karena Lee tidak sesuai yang di harapkan oleh Mama nya.
Walau Xiu tidak menyukai Stella, namun bagi Aska Stella lah menantu yang memiliki sifat yang benar-benar mami nya inginkan.
Setelah Xiu dan Lee masuk ke dalam mobil, Aska segera melajukan mobil nya.
*******
Kimberly yang sampai rumah pun menangis, ia begitu malu dengan perbuatan Amara yang sudah membuat nya di olok-olok oleh teman sekelas nya. Bahkan, bukan hanya sekelas namun juga satu sekolah.
Senjata Makan Tuan!
Apa yang ia ingin kan untuk Amara malah menimpa terbalik kepada nya.
Kimberly tidak ingin bersekolah di tempat itu lagi, namun orang tua nya yang pelit itu tidak akan memberikan uang kepada nya untuk pindah sekolah.
Terpaksa ia harus memakai tabungan nya, namun bagaimana untuk menutupi ganti rugi yang di perbuat oleh Amara.
Kepala Kimberly terasa ingin pecah, mama nya Kimberly masuk ke dalam kamar.
Kimberly melirik sedikit ke arah mama nya dengan malas.
"Sayang, kamu nggak makan?"
"Ma, aku ingin pindah sekolah."
"Pindah? Memang nya kenapa nak dengan sekolah kamu itu, mama dan papa."
"Kimberly nggak mau tahu! Jika mama dan papa memang menyayangi ku seharus nya kalian memberikan apa yang aku ingin. Bukan malah menyimpan uang dan harta kekayaan kalian. Itu semua nggak di bawa mati ma, jika bukan kita yang menikmati harta papa lalu siapa? Wanita lain? Mama mau seperti itu."
Mama Kimberly pun memikirkan ucapan anak nya, apa yang di katakan oleh Kimberly memang lah benar. Daripada wanita lain yang mengabiskan uang suami nya mending ia dan anak nya yang menghabiskan uang hasil kerja keras sang suami.
Lagipula, selama ini mereka sudah sangat berhemat sekali. Membuat Kimberly merasa muak dan jenuh dengan kepelitan dari kedua orang tua nya!
Menabung memang lah penting, namun untuk apa kaya raya dan memiliki banyak uang dan properti jika anak-anak mereka tidak bisa merasakan kenikmatan itu.
Rumah kimberly memang lah mewah, Kimberly juga di berikan fasilitas-fasilitas yang begitu layak.
Namun ke dua orang tua nya tidak pernah memberikan nya uang yang banyak. Paling banyak satu hari hanya lima ribu rupiah.
Jika Kimberly ingin membeli sesuatu, ia pasti memakai uang nya sendiri. Dari situ Kimberly selalu memutar otak bagaimana cara nya mendapatkan uang.
"Kim nggak mau tahu mama! Kim ingin pindah sekolah, jika kalian tidak memberikan keinginan Kim. Kim lebih baik tidak akan sekolah lagi."
"Sayang. Jangan begitu! Jika kamu tidak sekolah lagi, bagaimana dengan pendidikan kamu. Dan apa yang akan dikatakan oleh rekan dan family kita?"
"Kim tidak perduli mama! Kim sudah cukup sabar, Kimberly hanya ingin pindah sekolah saja."
"Baiklah, sayang. Mama akan bicara dengan papa kamu, kamu tenang saja ya?" Mama nya membenarkan rambut Kim yang berantakan.
Sebenarnya, Kimberly tidak mau mengancam mama nya namun ia terpaksa melakukan itu agar mama nya mau menuruti keinginan nya.
__ADS_1
Kimberly sudah tidak memiliki harga diri di sekolah nya dan itu semua karena Amara!
Bukan nya menyesali perbuatannya, Kimberly justru menganggap Amara lah yang bertanggung jawab atas ini semua.
Kimberly memang lah manusia yang tidak tahu malu, sama seperti kakak nya Lee.
"Sudah dong sayang jangan cemberut begitu! Mama akan bicara dengan papa. Jika papa tidak mau mengeluarkan uang. Mama akan memakai uang tabungan mama untuk anak tersayang mama. Yang terpenting, anak mama ini nggak boleh cemberut terus. Nanti jelek loh, mau jadi jelek?"
Kimberly menggelengkan kepala nya dan tersenyum, ia pun memeluk ibu nya dengan erat "Kim menyayangi mama."
"Mama juga sangat menyayangi kamu nak, mama ingin kamu menjadi anak yang baik dan sukses tidak seperti kakak mu itu." Kim menjadi malas jika harus membahas tentang Lee "Mama jangan membahas nya, mood ku tidak bagus jika membahas dia."
"Sayang, mama tahu kamu kesal dengan nya. Mama juga begitu, tapi bagaimana pun dia juga anakku, dan berarti dia adalah kakak mu. Kamu nggak boleh seperti itu pada nya."
Kimberly menjauhkan kepala nya dari mama nya. Ia memonyongkan wajah nya "Dia saja tidak pernah menganggap kita, bahkan dia selalu kasar bicara dengan mama. Kim tidak suka itu!"
"Sayang, biarkan dia seperti itu. Memang sifat nya seperti itu, mama juga tidak perduli dengan nya lagi. Tapi bagaimana pun, dia juga anak mama. Walau mama tidak ingin menganggap nya tapi kenyataan tidak bisa berubah.
Kimberly pun mengerti maksud mama nya. "Sudah lah ma, jangan membahas nya lagi."
"Iya, Sayang. Jika itu yang kamu mau, mama akan melakukan apapun. Sekarang kamu istirahat saja oke?" Kimberly pun mengangguk. Mama nya mengecup kening Kimberly lalu meninggalkan anak nya di kamar.
Kimberly Masih mengingat perbuatan Amara kepada nya, ia menaruh dendam yang besar pada Amara.
Kau akan membayar segala nya Amara! Segala nya, rasa malu ku dan kerugian ku!
Kimberly membanting barang yang ada di kamar nya. Padahal, Kimberly sendiri yang menyebab kan kehancuran nya namun ia menyalahkan Amara.
Jika saja, Kimberly tidak mengacaukan suasana mungkin itu semua tidak akan terjadi.
Amara tidak akan memberitahu semua orang tentang kebenaran nya dan Kimberly lah dalang dari ini semua.
Menyesal pun kini sudah tiada arti nya lagi, memang pihak sekolah tidak memecat Kimberly namun ia yakin jika masalah ini sampai terdengar di telinga para guru. Kimberly bakan di pecat dengan tidak terhormat, lebih baik dia pindah sekolah saja.
******
Stella yang berada di dalam kamar pun tidak Habis pikir dengan saran dari guru anak nya itu.
"Mengapa mereka tanpa bersalah nya mengatakan hal itu? Apa mereka tidak memikirkan tentang mental Zeline nanti nya."
Stella tidak tahu, jika besok adalah rintangan terbesar nya.
Aska dan keluarga nya akan mengambil Puteri kesayangan nya dari pelukan nya itu.
Entah apa yang Stella rasakan besok, kepahitan dan ketidak Adilan apalagi yang akan menimpa diri nya.
Seakan semesta tidak cukup puas membuat nya menderita.
Ia pun mengurungkan niat nya, Stella memutuskan untuk mengambil Air wudhu dan menenangkan hati nya dengan sholat.
Stella pun menghadap sang pencipta dengan hati yang sangat berantakan. Stella menangis di dalam sujud nya,Setelah selesai sholat, Stella berdoa kepada Allah meminta perlindungan untuk keluarga nya.
Ya Allah, lindungin lah keluarga hamba dari segala mata jahat yang ingin menghancurkan keluarga kami, berikan kami semua kesehatan dan juga akal yang baik agar selalu berada di dalam jalan mu. Pelancarkan lah rezeky hamba ya Allah. Agar hamba bisa memenuhi segala kebutuhan adik-adik hamba. Aamiinnn.
Stella mengambil Al-Qur'an lalu membaca nya. Kini, hati dan pikiran Stella sudah lebih tenang dari sebelum nya.
Stella segera membuka kerudung nya, menyimpan di lemari Gantung.
Stella melihat jam di dinding, pasti saat ini Tanara dan Amara sudah pulang sekolah.
Ia lupa, jika Tanara mengatakan mereka akan telat pulang ke rumah di karenakan ada tugas tambahan."
Stella tidak tahu, jika adik-adik nya sudah pulang dari tadi.
Rani menghampiri Stella, Stella pun meminta Rani untuk duduk di samping nya.
Dengan ragu, perlahan Rani membuka suara.
"K-kak." panggil nya dengan nada yang lemah, Rani tidak pernah melihat wajah kakak nya sekesal tadi.
"Iya, Rani. Ada apa?" kini Stella sudah seperti biasa, ia sudah meredamkan dan mengontrol emosi nya.
"Kak, Zeline sudah menceritakan segala nya kepada ku. Tapi, yang membuat Rani bingung. Kenapa kakak marah? Seharusnya kakak senang jika Zeline anak yang pintar dan mampu menyelesaikan soal yang di berikan."
Stella sebenarnya ingin melupakan kejadian tadi namun pertanyaan Rani membuat nya teringat dengan itu semua.
"Kakak memang senang jika Zeline di nyatakan anak yang jenius. Ibu mana yang tidak senang melihat prestasi yang di miliki oleh anak nya."
Stella mengusap wajah nya dengan gusar.Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana. "Para guru itu ingin membawa Rani ke labolatorium. Akan ada para profesor yang akan mencoba Zeline."
"Maksud kakak mencoba apa?"
Stella membuang nafas nya dengan kasar "Zeline akan di jadikan sebagai bahan percobaan mereka. Karena Zeline anak yang jenius. Mereka ingin mengontrol otak anakku. Tentu saja hal itu membuat kakak kesal, demi kepentingan pribadi mereka mengorbankan seorang anak."
Kini, Rani mengerti dengan kemarahan kakak nya. Jika ia berada di posisi itu, Rani juga pasti akan marah. Bahkan, akan menghancurkan sekolah itu jika perlu.
"Maaf kan Rani kak, Rani akan setuju dengan tindakan kakak. Jika kakak perlu jasa untuk menukuli orang, ada Rani."
__ADS_1
Stella menepuk jidat adik nya dengan pelan. Hanya Rani yang bisa membuat Stella tertawa ceria lagi.
Rani akan melakukan apapun untuk membuat Stella merasa bahagia walau diri nya harus menjadi badut sekali pun. Apapun akan ia lakukan.
"Walau kakak kesal kakak tidak akan membiarkan kekerasan ada di hadapan kakak apalagi kamu. Kakak nggak akan biarkan tangan halus mu ini menghajar orang lain."
Stella tidak mau Rani menjadi wanita bar-bar.
Rani mengatakan ia akan menyimpan tenaga nya dengan baik dan akan mengeluarkan nya jika waktu nya sudah tepat.
Stella hanya menggeleng saja, walau Rani itu wanita tomboi. Namun, ia juga sangat imut dan pintar membuat lelucon.
"Kakak jangan memikirkan hal seperti itu lagi. Kakak harus percaya dengan diri kakak sendiri, kita tidak akan membiarkan Zeline menjadi bahan contoh untuk penelitian mereka semua. Dan Rani setuju dengan kakak, untuk memindahkan Zeline ke sekolah lain.
Karena mereka tahu, pihak sekolah akan terus meneror Mereka dan Zeline sampai Zeline bersedia di bawa ke labolatorium untuk uji coba penelitian.
Zeline yang mendengar ucapan mama nya dari luar jendela pun kini mengerti mengapa mama nya bisa sekesal itu. Lagipula, Zeline memang tidak betah berada di sekolah itu. Sangat menyebalkan terlalu banyak peraturan yang di buat oleh sekolah itu.
Zeline pun akan mengikuti ucapan mama nya mulai sekarang ia akan bersikap bodoh saja di depan orang lain.
Zeline tidak akan menunjukkan kepintaran nya di depan orang-orang jika itu akan menyakiti dan membuat mama nya sedih.
Stella bukan nya tidak suka atau pun bangga dengan kepintaran anak nya, ia hanya tidak ingin anak nya di manfaatkan oleh orang-orang yang egois dan mementingkan kepentingan pribadi.
Sebenarnya, Aska tidak tahu adanya tindak kejahatan di sekolah nya sendiri.
Otak dari ini semua adalah paman nya Aska.
Ia sengaja memanfaatkan anak-anak yang jenius untuk menciptakan produk baru yang akan membuat paman nya menjadi kaya raya.
Jika Aska tau, di tidak akan membiarkan hal itu.
Aksa selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan anak-anak.
Aska tidak akan tega melakukan hal sejahat itu, apalagi kepada anak di bawah umur. Itu adalah tindakan kejatahan, tidak akan mungkin Aska sanggup melakukan itu.
Xiu mami nya Aska mengetahui kelakuan adik nya, yaitu paman nya Aska. Namun, mami nya tidak mau ikut campur dengan urusan sang adik.
Yang terpenting, media tidak akan tahu masalah ini yang nanti nya akan mencoret nama baik keluarga.
Bagi Xiu, image nya nomer satu. Tidak ada yang lain, bahkan ia lebih menjaga image nya di depan orang lain daripada menjaga anak nya sendiri.
*****
Darren mencoba menghubungi Amara, namun ponsel wanita itu tidak aktif. Dengan konyol nya, Darren meminta kepada Dio untuk membuat ponsel Amara bisa di hubungi.
Dio hanya diam, dia tak habis fikir dengan Darren yang sudah kehabisan akal karena jatuh cinta dengan seorang bocah.
Cinta memang bisa membuat orang menjadi jodoh!
Dio hanya menatap tak percaya dengan sahabat nya itu, begitu banyak wanita yang telah bermalam dengan Darren. Hanya bocah itu yang bisa membuat Darren menjadi orang yang kehilangan akal nya.
"Atau kita ke rumah nya sekarang. Aku sudah membuat nya ketakutan dari."
Dio semakin kaget dengan kegilaan Darren. "Sadarkan kegilaan pria ini Tuhan!"
"Jangan!"
"Kenapa jangan?" Darren menatap kesal Dio. Tatapan nya begitu tajam seakan siap menerkam Dio.
"Kau lihat bagaimana dia begitu marah nya dengan mu saat kau mendatangi nya di sekolah. Dia menampar mu tanpa rasa takut. Jika kau mendatangi nya, mungkin dia akan membenci mu. Apa kau mau?"
Dengan cepat Darren menggeleng. Dio menahan tawa nya, ternyata teman nya memang benar-benar kehilangan akal sehingga ia begitu mudah di tipu.
Lagipula, sejak kapan Darren takut di benci oleh seorang wanita.
Dulu, ia selalu berdoa agar wanita membenci nya dan tidak mengejar diri nya. Namun, ketika Tuhan mengabulkan doa nya. Darren justru terlihat begitu berantakan, ia ingin menemui Amara dan melihat bagaimana kondisi nya. Paling tidak, memberikan kabar dari telepon saja. Itu akan membuat Darren menjadi tenang.
"Dio, cepat perintahkan dia untuk mengaktifkan ponsel nya. Aku tidak perduli bagaimana pun cara nya." Darren menarik kera baju Dio. Dio berusaha untuk menjauh dari Darren dan juga kegilaan Darren.
Jika aku terus-terusan di sini. Aku bisa gila menghadapi nya dan dia bisa saja membayangkan aku sebagai kekasih nya itu.
Dio pun meninggalkan Darren sendirian, ia mengatakan akan ke rumah Amara untuk menyuruh Amara mengaktifkan ponsel nya.
Medengar hal itu tentu saja, membuat Darren merasa senang.
Ia pun tidak jadi frustasi "Sudah pergi sana, cepat! Jangan kembali sebelum dia mengaktifkan ponsel nya. Lima menit kau harua sampai di sana."
Dio membelalakan mata nya, menelan ludah nya dengan kasar. "Gila apa ya? Dia pikir rumah bocah itu dekat."
Namun, jika dio membantah,Darren akan marah pada nya
Dio pun mengiyakan ucapan Darren. "Nanti saat aku sudah pergi dari tempat ini. Aku akan merasa aman." gumam Dio
Dio tidak mungkin melakukan hal itu dengan pergi ke rumah Amara hanya menyuruh Amara menghidupkan ponsel nya.
Namun, Dio terpaksa harus membohongi teman nya itu agar Darren menghentikan hal konyol nya itu.
__ADS_1
"Dio aku ikut!"
Dio rasanya seakan ingin memukul dinding tembok itu, ia merasa geram dengan Darren. Jika Darren itu, tidak ada pilihan lain selain Dio benar-benar mendatangi rumah Amara. Bagaimana ia akan menghadapi keluarga amara.