
Stella terdiam, ia tak tahu pasti namun tidak mungkin Aska tidak mengetahui rencana keluarga nya.
Zidan pun mengerti dengan kejadian ini, ia yakin jika ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Jika kau tidak melihat atau mendengar nya langsung tentang Aska, bagaimana bisa kau menyimpulkan dan memutuskan dengan sepihak, Stella? Stella aku mengenal mu sejak kita satu kampus, kau anak yang begitu cerdas dan juga bijaksana. Aku berharap, semoga kau tidak melakukan kesalahan." Stella terdiam, memikirkan ucapan Zidan. Namun, ia mengingat kejadian tadi di saat Aska menggandeng wanita lain. Hati nya terasa sesak
"Benar atau salah, tapi yang pasti nya Aska sudah bersama wanita lain. Jika dia benar dan aku yang salah, pasti ia tidak akan menggandeng wanita lain secepat itu." ujar Stella yang merasa sedih mengingat Aska menggandeng wanita cantik yang seperti nya satu budaya dengan Aska.
"Aku hanya berharap yang terbaik untuk mu, kau teman lama ku."
"Terimakasih, Zidan."
"Oh iya, apakah kau membutuhkan pekerjaan? Kebetulan, di cafe ku memerlukan supervisor di sini. Apakah kau bersedia?" ujar Zidan
"Supervisor? Ta-tapi, aku tidak berpengalaman."
"Tidak masalah, Stella. Aku tahu kau wanita yang sangat mandiri dan pintar. Aku yakin, kau bisa meng-handle semua ini." ujar Zidan kepada Stella. Stella pun bersemangat, setelah bertahun-tahun. Akhirnya, ada yang mempercayai dan mengembalikan semangat nya lagi."
"Kau bisa mulai bekerja saat kau sudah siap, Stella. Aku akan menunggu mu, karena setiap hari aku ke sini walau hanya sebentar-sebentar. Ini cabang ke tiga ku."
"Wah, kau sungguh luar biasa Zidan. Di usia muda seperti ini,kau menjadi pemilik cafe di tiga cabang sekaligus, aku bangga padamu."
"Jangan memuji ku seperti ini, atau telinga ku akan naik nanti."
Haha
Stella dan Zidan pun tertawa dan mengobrol bersama, Stella melupakan segala penat yang ada di dalam benak nya, ia menjadi diri nya sendiri untuk pertama kali nya semenjak enam tahun belakangan ini. Seakan tidak ada beban sama sekali.
"Ohiya, apakah kau sudah menikah?"
__ADS_1
"Aku pernah menikah namun pernikahan kami tidak bertahan lama, dia meninggalkan ku demi pria yang lebih kaya." Stella pun terdiam, ia tak enak hati karena mengungkit kembali kepahitan di dalam hidup Zidan. Stella meminta maaf padanya, namun Zidan tak merasa sakit hati sedikit pun.
"Pasti anak mu sudah besar, dia pasti begitu imut seperti ibu nya."
"Iya, Zeline sudah semakin besar. Aku mencari pekerjaan untuk Zeline bisa bersekolah TK di sini. Apalagi, aku harus menghidupi adik-adikku."
"Aku mengerti apa yang kau alami Stella, kau tenang saja! Masalah gaji, tidak perlu khawatir."
"Eh, Tidak Zidan! Aku tidak bermaksud membahas gaji padamu, aku hanya memberitahu jika Zeline sudah mau masuk sekolah."
"Zeline namanya? Nama yang begitu indah, dia dia begitu sangat cantik seperti mu." Stella terdiam, Zidan memandangi mata Stella, begitu terlihat jelas di dalam mata Stella jika diri nya sedang tidak baik-baik saja. Zidan membayangkan betapa sulit nya Stella selama enam tahun belakang ini hidup dan membesarkan anak sendirian. Apalagi, saat ia tahu jika kedua orang tua nya telah tiada. Zidan begitu sangat simpati dengan Stella.
Mereka pun menghabiskan makanan yang Zidan pesan, ia juga memperkenalkan kepada Stella kepada para karyawan nya jika Stella akan menjadi atasan mereka. Para karyawan menyambut Stella dengan sangat baik.
"Ibu Stella ini yang akan memantau kerja kalian, saya harap kalian bisa menghargai dan membantu nya."
"Ibu Stella juga akan mengurus segala keuangan, pengeluaran masuk dan keluar, masalah gaji atau kerugian yang ada. Jika kalian memerlukan biaya apapun kalian bisa menemui ibu Stella." Stella terkejut mendengar ucapan Zidan. Zidan memberikan nya kepercayaan sebesar ini, ia menoleh ke arah Zidan memberikan penjelasan. Zidan hanya mengangguk, seakan memberikan kode jika semua akan baik-baik saja. Setelah para karyawan masing-masing kembali ke pekerjaan mereka, Stella mempertanyakan keputusan Zidan.
"Zidan, apa-apan ini? Kenapa?"
"Sudah lah, Stella! Aku begitu percaya padamu, lagipula aku tidak selalu di cafe. Aku takut, jika karyawan membutuhkan uang aku tidak ada. Lebih baik kau yang mengambil tanggungjawab ini, aku sangat mempercayai mu. Kau mau kan?" Stella yang tak enak hati menolak permintaan teman lama nya itu pun mengangguk untuk menyetujui nya. Zidan tersenyum bahagia.
"Terimakasih sudah mau membantu ku, jadi aku tidak harus repot mengurus keuangan untuk tiga cafe sekaligus."
"Kapan aku bisa bekerja?"
"Mungkin, lebih baik besok saja. Kasihan juga anak mu di rumah, sekarang kau bisa bersiap-siap untuk mempersiapkan segala nya besok."
"Terimakasih, Zidan. Kau sudah banyak membantu ku"
__ADS_1
"Tidak perlu mengucapkan itu, kita berdua saling menguntungkan dalam hal ini. Aku akan tenang jika ada yang meng-handle cafe ku dan kau tidak akan pusing lagi memikirkan biaya untuk anak dan adik-adikmu." Stella tersenyum kepada Zidan, teman nya itu tidak pernah berubah dari dulu. Walau sudah menjadi orang yang sukses, Zidan tetap bersikap murah hati dan baik.
Stella berjanji kepada diri nya sendiri akan bekerja sebaik mungkin, dan tidak akan pernah mengecewakan teman sekaligus bos nya itu. Stella berpamitan kepada Zidan untuk pulang ke rumah. Zidan ingin mengantar Stella namun Stella menolak dengan lembut
"Tidak usah! Itu akan sangat merepotkan diri mu."
"Tidak, tidak akan ada yang merasa di repotkan, lagipula aku sangat ingin bertemu dengan anak mu, dia kan juga keponakan ku." ujar Zidan, Zidan pun menggeleng dan tersenyum kepada Zidan. Akhirnya, Stella mau di antar oleh teman nya itu.
Sesampai di rumah, Zeline sudah menyambut mama nya di depan pintu, Zeline berlari ke arah Stella, Stella menangkap dan menggendong anak nya itu
"Mama udah pulang? Zeline kangen sama mama, Zeline nggak mau lama-lama Mama pelgi."
"Sayang, mama kan pergi mencari pekerjaan. Ini mama lakukan untuk Zeline." ujar Stella yang memberikan penjelasan kepada anak nya, Zeline menoleh ke arah Zidan. Ia mengerutkan dahi nya, Zidan begitu sangat asing bagi nya.
"Mama, om ini siapa?"
"Ini namanya om Zidan, teman dan sekaligus bos nya mama. Besok, mama akan bekerja di cafe om ini, Sayang."
"Benal kah mama? Telimakasih om baik,"
"Sama-sama anak cantik." Zidan tersenyum ramah kepada Zeline. Benar dugaan nya, Zeline begitu sangat cantik seperti Stella.
"Ayo masuk!" ajak Stella kepada Zidan, Zidan pun menolak dengan lembut.
"Terimakasih, namun maaf aku tidak bisa sekarang. Bagaimana jika lain kali saja? Sungguh, aku harus pergi ke cafe ku yang lain. Hari ini, akan ada barang-barang yang masuk."
"Baik lah, hati-hati ya? Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih padamu,"
"Sama-sama." Zidan pun pamit pergi meninggalkan rumah orang tua Stella
__ADS_1