
Stella yang merasa hancur namun ia pun tak bisa menjelaskan segala nya kepada Tanara. Tanara masih sangat kecil untuk memahami derita yang ia punya.
Setidak nya, Stella bisa merasa sedikit lebih tenang di peluk oleh sang adik.
Beberapa Hari Telah berlalu.
Semenjak kejadian itu, Stella jatuh sakit. Ia pun beberapa hari tidak masuk kerja. Untung nya ada Rani yang membantu Stella untuk menjaga Zeline.
Amara juga tidak pernah lagi membuat masalah beberapa hari ini, ia disibukan oleh Darren.
*********
Seperti biasa Laras pun menjaga cafe seperti yang sudah di amanat kan oleh Zidan. Zidan beberapa hari akan pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis nya yang lain.
Laras merasa khawatir dengan Stella yang sudah beberapa hari tidak masuk. Laras memutuskan untuk menjenguk bos nya itu di rumah.
Betapa kaget nya Laras saat melihat Zidan yang ada di cafe, dia juga sangat merindukan Zidan. Sudah beberapa hari tidak bertemu namun Laras tak pernah berani mengungkapkan perasaannya kepada Zidan.
Zidan memanggil Laras, dengan gugup Laras datang menghampiri nya.
__ADS_1
"Iy-iya, pak?"
"Sudah lama kita tidak bertemu, saya sangat merindukan mu." ucapan Zidan membuat pipi Laras tersipu malu. Namun, ia mencoba untuk mengontrol diri.
"Saya merindukan kamu dan yang lainnya di sini. Bagaimana perkembangan cafe kita?" tanya Zidan kembali, Laras pun menyatakan jika cafe semakin hari semakin ramai. Namun, karena Stella tidak hadir. Catatan keuangan sangat berantakan.
"Mengapa Stella tidak masuk?" tanya Zidan yang tidak mengetahui jika sahabat nya sakit. Bagaimana Zidan bisa tahu jika ponsel nya juga hilang dan ia mengganti ponsel serta nomer nya.
"Bu Stella sakit pak. Sudah beberapa hari ini tidak masuk, bu Stella juga udah meminta izin tidak masuk. Ia sudah mencoba menghubungi bapak namun ponsel bapak tidak bisa di hubungi." ujar Laras yang memberikan pengertian kepada bos nya.
"Ya, ponsel genggam saya hilang. Jadi, saya mengganti ponsel beserta nomer saya. Saya juga ingin menghubungi kalian tidak tahu kontak kalian," ujar Zidan.
Laras pun mengangguk mengerti, terlihat Zidan yang begitu mengkhawatirkan Stella. Zidan mengatakan akan pergi kerumah Stella. Laras pun terdiam, ia juga ingin ikut menjenguk Stella.
"Memang nya boleh pak?"
"Boleh dong, kalau enggak boleh ngapain saya ngajak kamu." ujar Zidan yang dingin, Laras pun tersenyum
"Saya mau pak, saya juga tadi ingin menjenguk bu Stella setelah pulang kerja."
__ADS_1
"Sekarang aja, enggak usah sampai jam pulang. Ayo!" ajak Zidan, namun Laras memikirkan cafe nya.
Zidan mengatakan tidak usah khawatir karena ada karyawan lain di cafe
"Ada yang lain nya, mereka bisa menghandle kok."
"Baik pak."
Laras pun mengikuti Zidan dari belakang, ia ingin naik di belakang mobil namun Zidan terlihat tidak senang.
"Kamu kira saya supir? Duduk di depan!"
Laras merasa canggung dan tak enak jika harus duduk di depan.
"S-saya naik taxi aja kalau enggak pak."
"Kamu menghina saya? Udah masuk!"
Zidan yang kesal melihat Laras masih membisu pun keluar dari mobil, ia segera menghampiri Laras membuka kan pintu mobil untuk Laras.
__ADS_1
Laras gugup apalagi saat Zidan tidak sengaja memegang tangan Laras untuk menyuruh nya masuk ke dalam mobil, hati Laras seakan mau pecah.
Detak jantung nya berdegup kencang. Zidan juga memakaikan seatbelt kepada Laras. Tentu saja membuat jarak ke duanya sangat dekat. Laras memejamkan mata nya, ia sungguh gugup