Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Kesalahan yang sama


__ADS_3

Stella masuk ke dalam kamar Tanara, ia tersenyum senang melihat Tanara yang begitu tekun dalam pelajaran.


Stella berharap, agar adik nya menjadi orang yang sukses, tidak seperti diri nya yang hanya bisa membuat malu dan selalu menyusahkan keluarga saja.


Stella berjalan, mendekati Tanara. Ia memegang bahu adik nya.


Tanara yang merasakan tangan hangat dari kakak nya langsung menoleh kebelakang, Tanara tersenyum ramah kepada Stella.


"Kakak, kenapa kakak di sini? Kakak kan harus istirahat yang total."


"Kakak sudah istirahat, kakak merasa bosan jadi ingin melihat kamu dan juga Amara. Kakak juga ingin meminta maaf kepada Amara, karena tadi sudah begitu kasar dengan nya. Tapi, kakak ngelakuin itu demi kalian. kakak ngga mau melihat Amara berpenampilan yang terbuka seperti itu."


"Iya kak, Tanara juga tahu kok kalau kakak sangat menyayangi kami. Tanara memahami apa yang kakak rasain, kakak pasti ingin yang terbaik untuk kami."


Stella mengangguk, ia merasa sangat terharu.


"Kakak senang sekali, memiliki adik yang sangat baik seperti mu."


"Tanara juga kak, kakak sangat baik dan menyayangi Tanara dengan begitu luar biasa. Tapi, kakak juga harus memikirkan diri kakak sendiri, kakak juga harus bahagia."

__ADS_1


"Melihat kalian bahagia, kakak juga akan sangat bahagia. Karena tidak ada yang lebih bahagia di dunia ini selain melihat adik-adik nya menjadi sukses setelah ibu dan ayah."


Tanara tersenyum, ia berjanji kepada kakak nya akan belajar dengan bersungguh-sungguh, dan akan membanggakan untuk keluarga.


Stella mengingat tentang teman nya Amara yang seperti nya tidak baik. Dia pun bertanya kepada sang adik, siapa Kimberly itu dan dari mana ia berasal.


"Tanara tidak terlalu mengenal kak Kimberly, tapi di sekolah kak Amara sangat dekat dengan nya kak. Mereka juga sebangku, banyak rumor di sekolah mengatakan jika kak Kimmy itu wanita simpanan maka nya ia memiliki banyak uang. Tapi, sebagian juga mengatakan itu hanya lah ucapan orang yang sirik dengan kemewahan yang di miliki oleh kak Kimmy. Lagipula, keluarga kak Kimmy itu sangat kaya raya kak, Papa nya salah satu CEO terbesar di kota ini. Dan kakak nya juga model terkenal di beberapa kota besar, kakak nya juga akan menikah dengan salah satu CEO muda nomer satu paling tersukses." ujar Tanara, ia mengetahui apa yang ia tahu.


"Bagaimana Tanara bisa tahu kakak nya?"


"Siapa sih yang tidak mengenal kakak nya, seorang model cantik dan sangat berprestasi. Hubungan nya dengan seorang CEO muda yang paling terkenal juga membuat nama nya semakin di kenal orang kak. Bahkan, orang lebih banyak mengenal kakak nya dari pada kak Kimmy." ujar Tanara dengan polos nya, ia mengatakan yang sebenarnya tanpa ada yang di kurangi atau di tambahi


Tanara menggeleng. Dia mengatakan jika Kimmy adalah anak yang begitu sombong.


"Kak Kimmy itu sangat sombong, sikap nya juga kurang baik kak. Dia selalu memakai pakaian yang tidak sopan, sebab itu murid-murid di sekolah mengenal nya sebagai simpanan om-om. Tapi, Tanara juga tidak tahu kebenaran nya kak, Tanara hanya mendengar dari omongan anak di sekolah. Tanara juga tidak pernah bertanya kepada kak Amara."


Mendengar penjelasan dari adik nya, Stella menjadi cemas. Ia takut, jika Amara salah memilih teman dan membuat nya terjebak dengan dunia gelap.


"Apakah kak Amara dulu pernah bepergian seperti tadi? Maksud kakak dengan pakaian yang sangat terbuka."

__ADS_1


Tanara dengan cepat menggeleng dan menjelaskan jika kakak nya selalu pergi kemana pun menggunakan kerudung atau hijab.


"Tidak Kakak, baru tadi kak Amara seperti itu. Makanya, Tanara sangat kaget. Kakak Amara juga jarang ke luar untuk bermain. Semenjak mama dan papa telah tiada. Kakak Amara mengurus Tanara dengan sangat baik, bahkan ia menghabiskan paru waktu nya untuk bekerja. Memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Jika ada pekerjaan kelompok, kakak selalu mengajak teman-teman nya karena tidak mau Tanara di rumah sendirian."


Stella merasa sangat salut dengan adik nya Amara, walau ia masih sangat kecil namun Amara mengurus adik mereka dengan sangat baik. Tanpa mengeluh atau kekurangan apapun, Amara memberikan apa yang Tanara inginkan.


"Kak,". panggil Tanara, Stella pun menatap mata adik nya.


"Maafin kak Amara ya kak jika kak Amara sering membuat kakak sedih atau terluka karena sikap dan perkataan nya. Kak Amara hanya belum bisa menerima jika mama dan papa telah tiada. Tanara tahu kakak Amara kesal dan marah karena pada saat itu mental kami belum siap kak menghadapi segala nya. Mama dan papa pergi dalam waktu yang berdekatan. Kakak juga tidak ada, kami hanya berdua. Tidak ada siapapun, banhkan paman dan bibi tidak mau menampung kami. Baik itu saudara dari mama atau papa, ada yang mau menampung dan menjaga kami dengan catatan rumah ini di jual. Kami tidak ingin kak, begitu banyak kenangan di rumah ini. Apa kakak tahu? Kak amara pernah mencari barang rongsokan demi kami bertahan hidup. Agar Tanara bisa membeli jajan dan sesuatu mainan yang Tanara sukai."


Stella yang mendengar ucapan adik nya pun meneteskan air mata nya, ia tahu jika adik-adiknya menjalani kehidupan dengan tidak mudah. Sebab itu, Amara marah kepada nya. Stella juga tidak keberatan dengan itu, karena ia tahu jika perbuatan nya sangat buruk dan tidak bisa di maafkan.


Adik-adik nya pada saat itu pasti membutuhkan diri nya. Namun, Stella malah pergi jauh dari kota ini. Stella bertanya, bagaimana selama ini mereka bertahan hidup dan membayar segala biaya sekolah.


"Pulang sekolah, kak Amara bekerja dengan orang. Kadang-kadang menjaga bakso, kadang burger, terkadang juga mencari barang rongsokan. Demi bisa memberikan ku makanan yang layak, dulu kak Amara juga sering sekali di pukul dan di marahi oleh bos nya kak. Jika Tanara mengingat itu, hati Tanara sangat sesak, perjuangan kak Amara untuk merawat Tanara sangat lah besar. Bukan nya Tanara mau membela kak amara, namun terkadang Tanara juga menyadari jika kemarahan kakak itu tidak sepenuh nya salah. Apapun yang kakak alami dulu, kami tidak tahu dan tidak mengerti. Yang kami tahu hanya lah, kakak kami pergi meninggalkan kami berdua saja bahkan tidak datang saat terakhir kali nya mama dan papa di kebumikan."


Stella terdiam dan merasa bersalah. Tanara menenangkan kakak nya, ia mengatakan jika itu bukan lah salah kakak nya, Stella. Itu memang sudah suratan tangan yang di berikan tuhan untuk mereka.


Tanara tidak menyalahkan stella sedikit pun, ia hanya menjadikan masa lalu yang kelam sebagai pelajaran yang sangat berharga.

__ADS_1


Jadi, suatu hari akan menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


__ADS_2