Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Meminta Bantuan


__ADS_3

"Ti-tidak kak, kak Stella enggak ada di rumah!"


Amara menepuk jidatnya, jika mengatakan Stella tidak ada di rumah itu akan membuat Rani dan Zeline semakin panik. Ia pun mengambil ponsel adiknya, dan berbicara dengan Rani


"Halo kak Rani, ada apa?"


"Begini, kami rumah kak Aska, dan tadi kak Stella mengatakan untuk mengambil minum saja namun saat aku ke dapur, tidak ada siapapun. Ponsel kak Stella juga di tinggal, aku bingung apalagi Zeline yang terus menangis mencari mamanya"


"Oh kak Stella? Kakak jangan khawatir, tadi kak Stella ke rumah. Dia bersama kak Laras, katanya ada urusan mendadak yang harus mereka selesaikan masalah restauran. Mungkin karena terburu-buru kak Stella tidak membawa ponsel, lebih baik kakak tidur saja. Nanti kak Stella akan kembali, enggak mungkin kak Stella juga meninggalkan anaknya berlama-lama,"


Setelah mengatakan itu, keduanya pun memutuskan panggilan.


Kini, Tanara dan Amara bernafas lega, mereka pun ikut dengan Aska ke rumah sakit "Jika sesuatu terjadi kepada kakak ku, aku tidak akan pernah memaafkan mu kak Aska!" Kecam Amara dengan tatapan yang mengerikan.


Aska pun mengangguk, ia mempersilahkan kedua adik Stella masuk ke dalam mobil..


Di dalam mobil, Tanara terus saja menangis ia takut jika sesuatu terjadi kepada kakaknya "Kak, hubungi kak Laras dan kak Zidan! Mereka harus ada, Tanara lebih tenang jika ada mereka,"


"Tidak dik! Ini sudah terlalu malam, dan enggak enak jika kita merepotkan orang lain. Sudah lah! Ada kakak dan kamu yang akan menjaga kak Stella."


"Tapi Tanara enggak tenang kalau enggak ada lelaki yang menjaga kita kak,"


"Kalian jangan khawatir, aku yang akan menjaga kalian di rumah sakit!"


"Enggak usah! Aku bisa menjaga kakak dan adik ku, lebih baik kakak jagain aja istri kakak di rumah."


Aska baru mengingat Lee, istirnya saat ini juga berada di rumah sakit yang sama dengan Stella. Dan maminya juga tahu jika Stella menginap di rumah sakit yang sama. Ia melajukan mobilnya dengan kencang membuat Amara kaget "Kamu sengaja mau buat mati aku sama adik aku?"


Aska tidak menjawab, jika ia memberitahu alasannya itu akan membuat Amara dan juga Tanara merasa khawatir dengan Stella


"Gila ya ini orang, mau buat mati kita?" Amara menggerutu, ia memang tidak suka dengan Aska yang sudah menyakiti kakaknya dengan sengaja


"Kak, kenapa sih kamu harus hadir di kehidupan kakak aku? Kenapa? Karena kamu dia ninggalin kami. Bahkan dia juga enggak tahu kapan kedua orang tuanya meninggal huft!"


Amara menghela nafas panjang, menatap luar jendela. Tanara menenangkan kakaknya "Kak, jangan marah-marah saat seperti ini lebih baik kita memikirkan tentang kesehatan kakak saja "


"Kakak enggak marah Tanara! Kakak tenang sekarang, cuman kakak enggak habis pikir kenapa kak Aska dan keluarganya enggak bisa melihat kak Stella hidup tenang dan damai!"


Mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Amara, Tanara dan Aska turun dari mobil, Aska langsung memberitahu kamar Stella.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan, Aska meminta kepada Tanara dan Amara untuk mengganti pakaian Stella terlebih dahulu "Kalian ganti pakaian kakak kalian, dia tadi basah kuyup kakak enggak mau di masuk angin,"


"Enggak usah berpura-pura perduli sama kakak aku! Tanpa Anda minta, kami akan melakukannya,"


"Kak Aska, terimakasih ya sudah mengantarkan kami ke sini,"


Sikap Amara dan Tanara sangat jauh berbeda, Tanara seperti Stella yang bisa menghargai orang lain. Daripada mengingat kesalahan orang itu


"Sama-sama,"


"Aska, udah cukup drama mereka. Ayo kamu ikut mami!"


Tiba-tiba Xiu datang, membuat Amara naik pitam "Yang drama itu kalian, udah sana keluar. Jangan jadi pengacau!"


"Apa kata mu? Kau ini anak kecil sangat kurang ajar!"


"Iya! Aku akan kurang ajar jika sama nenek lampir seperti mu!"


"Kak, jangan mengatakan itu!" Tanara hanya tidak mau istirahat Stella jadi terganggu, ia pun memohon kepada Aska agar membawa Xiu pergi dari ruangan itu


"Kak Aska, Tanara mohon tolong bawa ibu kakak pergi dari sini. Biarin kak Stella istirahat, kak Stella akan terbangun jika mendengar semua kekacauan ini," air mata Tanara menetes "Tanara, untuk apa kamu memohon kepada mereka?"


Amara tidak habis pikir dengan adiknya "Sebelum kalian meminta saya pergi, saya juga akan pergi. Sombong sekali kalian anak kecil, memangnya siapa yang akan membayar rumah sakit ini jika bukan anak saya hah!"


"Oh halo Tante! Maaf ya, saya enggak butuh bantuan dari kalian. Saya juga sanggup membayar rumah sakit kakak saya!" Ketus Amara yang menatap Xiu dengan geram.

__ADS_1


"Oke, buktikan dan jangan hanya banyak bicara saja! Dan kamu Aska, kamu dengan kan bagaimana sombongnya kedua anak kecil ini? Lebih baik kita pergi dan mami melarang kamu untuk membayar biaya rumah sakit wanita ini!""


"Mami, kita akan pergi namun Aska akan tetap membayar biaya rumah sakit Stella,"


"Enggak perlu! Aku enggak mau kakak ku di hina lagi oleh nenek lampir seperti dia! Kami sanggup membayar biaya rumah sakit ini!" Amara masih angkuh, Tanara menoleh ke arah kakaknya karena ia tahu mereka tidak memiliki uang yang banyak untuk membayar biaya rumah sakit


Aska mengalah, ia pun pergi bersama maminya. Karena Aska enggak mau ketenangan Stella terganggu karena mendengar keributan yang diciptakan oleh sang mama


"Baik ma, kita akan pergi sekarang!"


Keduanya pun keluar dari ruangan, setelah mereka pergi Tanara bertanya kepada kakaknya "Kak, di mana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu? Kakak tahu sendiri jika kita enggak akan sanggup membayar rumah sakit ini kak. Kenapa kakak menolak bantuan dari kak Aska?"


Tanara menatap seisi ruangan yang ia yakini ini adalah kamar VVIP


"Kak, ini ruangan VVIP. Pasti biayanya lima kali lipat lebih mahal dari kamar biasa,"


Mata Tanara berkaca-kaca, bagaimana jika mereka tidak sanggup membayar rumah sakit?


"Kamu tenang aja! Kakak akan berusaha untuk membayar rumah sakit kak Stella! Sudah jangan menangis, jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu khawatir kan!"


"Kak, tapi kakak mau membayarnya dari mana?"


Amara terdiam sejenak, lalu ia mengatakan kepada Tanara untuk jangan memikirkannya lagi


"Tanara, biar itu menjadi urusan kakak! Lebih baik sekarang kamu gantikan baju kak Stella. Udah itu aja!"


Tanara mengangguk, ia pun melakukan tugas yang diberikan kakaknya. Amara memijit kepalanya yang terasa pusing


"Ini ruangan VVIP pasti sangat mahal, namun jika aku membiarkan mereka yang membayar. Wanita tua itu pasti akan terus menghina kakak ku, aku tidak ingin jika kakak ku terus di rendahkan seperti itu!" Gumamnya dengan pelan, namun masih di dengar oleh Tanara


********


"Kak, kamu selalu saja memikirkan gengsi daripada kenyataan," batin Tanara sambil menggantikan pakaian Stella. Ia tahu apa yang dikatakan kakaknya Amara memang benar, namun bukannya terlalu sombong dan angkuh juga tidak baik?


Amara tidak punya pilihan, ia mengambil ponselnya untuk meminta bantuan kepada Darren. Awalnya ia ragu, namun dirinya tidak punya pilihan lain


Amara merasa frustasi namun ia tidak memiliki pilihan lain. Hanya Darren yang bisa menolongnya saat ini


Ia pun mengirimkan pesan WhatsApp kepada Darren


Maaf jika aku banyak merepotkan mu tuan Darren, namun saat ini aku membutuhkan bantuan mu. Kakak ku masuk rumah sakit, dan kami tidak memiliki uang untuk membayarnya, jika boleh. Bisa kah aku meminjam uang anda? Aku janji kalau udah bekerja akan segera mengembalikannya dengan bunga yang kamu tentukan ~ Amara


Ia pun mengirimkan pesan itu kepada Darren, walau ia merasa ragu namun ia harus melakukannya. Ini semua demi kakaknya, Amara melihat WhatsApp-nya.


"Dia enggak membalas pesan mu, mungkin saja ia tidak mau membantu. Sudah lah, aku harus mencari cara lain," Amara melirik ke arah adiknya yang menatap ia. Ia pun mencoba tersenyum "Enggak usah khawatir sayang! Kan udah kakak katakan semuanya kakak yang urus. Dan masalah selesai,"


Tanara tersenyum lebar, menghampiri kakaknya "Benar kak? Semuanya udah beres?"


Amara pun mengangguk, ia memeluk adiknya. Terpaksa Amara berbohong, agar adiknya tidak merasa khawatir! "Sudah kakak katakan, kamu jangan khawatir! Kakak akan melakukan apapun demi keluarga kita,"


Tanara semakin erat memeluk kakaknya "Kak, siapa yang membantu kita membayar biaya rumah sakit?"


Amara terdiam, ia pun tidak tahu siapa yang akan membantunya


Cekrek!


"Saya yang membantunya," Tanara dan Amara melepaskan pelukan satu sama lain, Amara kaget namun terlihat senyuman di wajahnya


Darren selalu ada saat Amara dan keluarganya butuh, bahkan tanpa mengatakan basa basi sedikit pun.


Darren membawa bungkusan berisi makanan, ia berjalan dengan santai mendekat ke arah Tanara juga Amara "Ini makanan untuk kalian berdua, kalian pasti belum makan!"


Tanara mengucapkan terimakasih banyak kepada Darren "Terimakasih banyak tuan Darren, anda selalu menyelamatkan keluarga kami dalam kesulitan,"


Darren hanya mengangguk, menatap mata Amara. Membuat wanita itu menundukkan kepalanya

__ADS_1


*******


"Mami enggak habis pikir dengan kamu Aska!"


"Mami sudah lah, jangan membahas ini didepan papi juga Lee. Aska enggak mau Lee merasa terganggu dengan Stella,"


Xiu pun diam, ia tidak mau masalah ini akan kembali berimbas kepada cucu yang ada di dalam kandungan Lee


"Kamu jagain Lee di sini, mami akan pulang. Zeline pasti akan kesepian,"


Aska mengangguk, ia juga setuju dengan maminya jika maminya ada di ruang sakit ia takut maminya akan membuat keributan dengan Stella.


"Mami Azka antar pulang ya?" Xiu setuju, karena wanita itu tidak ada di rumah jadi tidak ada yang harus ia khawatirkan. Lagipula, Lee juga tertidur. Di tinggal sejenak juga tidak akan masalah


Namun Xiu mengurungkan niatnya "Lebih baik kamu saja yang pulang. Biar mami yang menjaga Lee di sini,"


"Kenapa mi? Bukannya mami melarang Aska pulang dari tadi."


"Karena wanita itu tidak ada di rumah, dan dia ada di rumah sakit. Jika kamu yang menjaga Lee di sini kamu pasti akan mencari kesempatan untuk menjenguk dia!"


Aska menggelengkan kepalanya, begitu takutnya maminya dengan Aska


"Mami jangan khawatir! Aska tidak akan melakukan itu,"


"Kamu pikir mami percaya sama kamu? Di suruh membeli makanan saja kamu malah bersama wanita itu! Kamu enggak mikirin mami dan papi menunggu kamu kelaparan. Karena kamu hanya mementingkan wanita itu daripada kedua orang tua kamu!"


Aska tidak menjawab, baginya percuma menjelaskan kepada maminya yang tidak mau mengerti "Terserah mami saja! Aska akan pulang sekarang,"


Xiu mengangguk. Aska pun memutuskan untuk pulang ke rumah, ia ingin melihat anaknya Zeline


Lee membuka matanya, ia melihat Aska yang mau pergi "Aska, kamu udah kembali?"


Aska menoleh ke arah Lee "Iya aku sudah kembali," Lee meminta Aska mendekat kepadanya, lelaki itu pun menuruti permintaan istrinya "Aku rindu banget sama kamu, baru sebentar kamu tinggal aku merasa gelisah!"


Xiu mendekat kepada menantu dan anaknya "Sayang, biarin suami kamu pulang dulu ke rumah ya mami yang akan menjaga kamu di sini bersama papi,"


Lee menatap mertuanya "Enggak mami! Aku enggak mau!"


"Lee, tolong jangan keras kepala," pinta Aska. Lee melepaskan pelukan mereka "Keras kepala kamu bilang? Kamu mau aku biarin kamu pulang ke rumah sedangkan ada wanita itu di rumah. Aku enggak bisa!"


"Sayang, kamu enggak percaya sama mami? Enggak mungkin mami membiarkan Aska pulang jika wanita itu di rumah!"


Lee mengerti maksud ibu mertuanya, namun ia salah sangka. Ia mengira jika Stella sudah keluar dari rumah. Lee sangat tahu jika Xiu sangat membenci Stella dan tidak mungkin mertuanya membiarkan Aska pulang dan bertemu dengan wanita itu


"Baik lah! Kamu boleh pulang. Tapi besok pagi cepat ya ke sini?" Aska mengangguk, tanpa mengatakan apapun. Ia langsung ke luar.


Bahkan sebelum pulang kerumah, Aska memutuskan untuk melihat keadaan Stella. Ia pergi ke ruangan Stella, membuka pintu ruangan.


Cekrek!


Terlihat ada Darren di dalam, kedua adiknya Stella juga sedang makan.


"Mau apa kamu ke sini lagi kak? Nanti ibu mu datang dan marah-marah!" Ketus Amara dengan mulut yang penuh makanan


Darren merasa gemas dengan tingkah Amara, namun wanita itu tidak menyadarinya


Aska pun masuk ke dalam ruangan Stella "Maaf, aku hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan Stella,"


"Kak Stella masih belum sadar kak,"


Aska pun mengangguk "Maaf jika kedatangan ku mengganggu kedamaian dan ketenangan kalian, aku akan pergi sekarang;"


"Iya pergi lah secepatnya! Aku tidak mau keluarga kamu membuat keributan lagi di sini kak!" Amara walau marah, ia masih sopan dengan Aska.


Aska segera pergi, dan menutup pintu ruangan. Darren tersenyum menatap Amara, wajahnya terlihat sangat menggemaskan saat marah. Mata keduanya tidak sengaja bertemu, membuat Amara salah tingkah "Mengapa aku deg-degan seperti ini? Ada apa ini!"

__ADS_1


Amara merasakan getaran yang berbeda saat Darren berada di dekatnya. Namun ia tahu, Jika hanya kepada Darren dirinya merasa aman dan nyaman. Darren juga pria yang sangat baik


__ADS_2