
Stella mencoba berusaha tegar, ia tersenyum kepada Laras. Meyakinkan Laras jika diri nya baik-baik saja.
Rini yang memandangi Laras dan Stella pun tersenyum penuh kesenangan, apalagi yang ia harapkan selain dengan masalah ke dua orang itu yang sudah mengganggu diri nya.
"Aku akan mengadukan ini kepada bapak Zidan, biarkan saja mereka di pecat oleh pak Zidan dan aku yang akan menggantikan posisi mereka."
Dengan perasaan puas, Rini mengirim video yang dia ambil tadi ke pemilik cafe.
Zidan yang melihat ponsel nya berbunyi segera mengecek.
Ia terkejut melihat video barusan.
Zidan segera meng cancel semua pekerjaan nya dan kembali untuk melihat keadaan di sana.
Stella pun meminta kepada Laras untuk sendirian terlebih dahulu. Iya, juga meminta tolong kepada Laras untuk menghandle cafe sementara. Laras mengiyakan ucapan atasan nya itu lalu berlalu pergi meninggalkan Stella sendirian di ruangan.
Stella masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan, ia mengingat ucapan Zidan yang mengatakan jika kamar itu kedap suara.
Tangisan nya tidak akan terdengar oleh orang lain, ia pun masuk ke dalam kamar yang berada di ruangan kerja nya. Mengunci pintu.
__ADS_1
Dengan langkah yang begitu lemas dan hati yang begitu hancur, Stella naik ke atas ranjang ia pun menangis terisak dengan kejadian ini semua.
"Aaaaaaaaaa!" teriak nya menggenggam bantal yang ada di sekitar, dada nya terasa sesak menghadapi semua ini.
Setelah bertahun-tahun, Stella berjuang sendiri dan mengubur Masa lalu nya namun sekarang. Masa lalu nya kembali hadir lagi.
Mengingat kan nya akan duka yang ia lalui enam tahun yang lalu.
"Kenapa? Kenapa harus padaku? Kenapa kau datang lagi. Apa mau mu dan keluarga mu? Ak-aku hanya ingin hidup tenang bersama anak dan keluarga ku." ujar Stella yang terbata-bata.
Dia tak mengerti, mengapa cobaan selalu saja menghampiri diri nya.
Apa kesalahan diri nya? Ia tidak meminta hal yang lebih, hanya ketenangan saja.
Ia berfikir, menyendiri bisa menghapus segala dosa nya di masa lalu.
Dia sudah memperbaiki diri menjadi lebih baik, tapi lagi-lagi Tuhan menguji kesabaran nya.
Tidak mungkin untuk Stella pergi dari kota nya lagi, sekarang ia juga memiliki tanggungjawab untuk Tanara dan Amara.
__ADS_1
Saat ini, Stella hanya bisa sabar saja. Bagaimana pun, ia hanya memiliki tanggungjawab kepada keluarga nya.
Stella menghapus air mata nya dengan tangan yang bergemetar. Lalu, ia mengambil wudhu untuk sholat menenangkan hati.
*********
Xiu pulang ke rumah. Ia begitu sangat marah, ia pun membanting barang-barang yang ada di sekitar nya.
Suami nya pun bertanya, apa yang terjadi. Dengan kesal Xiu menjawab segala nya.
"Wanita itu! Dia sudah menghancurkan ketenangan hidup ku dan juga anak kita, Pi!"
"Wanita? Wanita siapa?" tanya papi nya Aska dengan bingung.
"Siapa lagi jika bukan perempuan ****** itu! Yang pernah datang ke rumah kita enam tahun lalu, dan mengaku hamil anak Aska."
"Kenapa dengan nya? Apakah mami bertemu dengan dia?"
"Iya, Papi! Bukan hanya itu, dia sudah membuat mami malu di depan orang-orang! Mau di mana muka mami di letak. Dia melakukan kesalahan dengan menghina ku seperti ini!"
__ADS_1