
Stella terdiam sejenak, ia menoleh ke arah Zidan.
"A-aku, a-aku ingin kau merahasiakan keberadaan ku dan Zeline kepada Aska. Dan, aku mohon jangan katakan pada Aska jika Zeline adalah anak nya."
Zidan tiba-tiba mengeremkan mobil nya, ia tak mengerti kenapa Stella merahasiakan nya kepada Aska. Aska adalah ayah kandung dari Zeline.
"Kenapa? Dia juga harus tahu tentang anak nya Stella. Mau sampai kapan kau merahasiakan itu?"
"Aku mohon, tolong rahasiakan ini jika kalian nanti bertemu. Aku nggak mau, jika Aska tahu dia dan keluarga nya mengambil anakku. Sungguh, aku nggak sanggup jika harus berpisah dari nya, aku udah kehilangan kedua orang tua ku. Aku mohon, hiks." Stella menangis, bagi nya keberadaan Zidan membuat diri nya merasa lebih tenang. Ia pun bisa menumpahkan segala yang ada di hati nya kepada Zidan. Selama ini, Stella hanya bisa memendam segala nya. Dulu, ada Azriel yang bersama nya, namun Stella pun tak bisa menceritakan segala nya pada Azriel. Ia tak mau Azriel mencari kepikiran. Mengingat Azriel, diri nya jadi merindukan sahabat nya itu.
Zidan kembali melajukan mobil nya, ia pun berjanji kepada Stella tidak akan memberitahu Aska tentang kebenaran yang ada. Zidan berharap, jika Stella akan memberitahu Aska yang terjadi. Bagaimana pun, Aska memiliki hak atas Zeline.
Stella setidak nya merasa lebih tenang. Tak terasa, mereka sampai di cafe. Para karyawan menyambut kedatangan Zidan dan juga Stella. Beberapa karyawan berbisik, menanyakan tentang hubungan Zidan dan Stella. Bagaimana pun, Zidan orang yang susah bergaul dan tidak banyak bicara. Namun, bersama Stella ia menjadi orang yang berbeda.
Sebelum cafe di buka, mereka biasa mengadakan briefing terlebih dahulu, agar tidak akan ada kesalahan yang di buat terhadap pelanggan.
Zidan juga meminta kepada karyawan nya untuk mengajarkan dan memberitahu Stella tentang bahan-bahan pengeluaran atau pemasukan. Catatan keuangan bulan sebelum nya.
Laras karyawan Zidan memiliki wajah yang cantik, selain cantik. Laras juga anak yang memiliki hati yang lemah lembut, diri nya menyukai bos nya sedari dulu. Ia sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Stella apalagi melihat Stella dan Zidan begitu dekat. Terkadang, rasa cinta dan cemburu mampu membutakan segala nya.
__ADS_1
"Laras, ini ibu Stella. Kamu akan membantu nya dalam meng-handle semua ini. Satu lagi, kemarin saya mengumumkan jika Stella adalah supervisor di cafe ini. Saya akan meralat nya. Laras yang akan menjadi supervisor. Karena menurut saya, Laras yang pantas dengan jabatan ini." Laras pun tersenyum mendengar ucapan Zidan. Stella yang menghargai keputusan teman nya itu pun tidak merasa keberatan, ia bersyukur karena Zidan sudah memberikan nya pekerjaan walau hanya menjadi waiters sekali pun.
"Dan Stella, mulai sekarang dia lah manager di cafe ini." Semua orang terkejut termaksud Stella sendiri, ia menatap teman nya itu. Zidan hanya memberikan kode kepada Stella untuk tidak mengatakan apapun. Senyuman manis di wajah Laras memudar. Ada rasa kecewa di hati Laras, namun ia pun tak bisa mengatakan apapun, ia sadar dengan posisi nya saat ini.
"Kalian bisa mulai bekerja, dan Laras. Kamu ikut saya dan Stella ke ruangan."
"Baik pak."
Seluruh karyawan pun kembali ke tempat mereka masing-masing.
Stella yang berjalan di samping Zidan pun masuk ke ruangan Zidan. Laras mengikuti mereka dari belakang, ia pun masuk ke ruangan bos nya itu.
"Stella. Ini ruangan kerja mu, kau bisa memantau mereka dari sini." Stella kaget, ia pun bertanya pada Zidan jika diri nya di sini. Zidan akan berada di ruangan mana?
"Aku harus pergi sekarang, kau di sini lah bersama karyawan ku Laras. Jika kau bingung, bisa tanya dengan nya. Dan kamu Laras, jika membutuhkan uang dan sesuatu untuk keperluan Cafe kamu bicarakan kepada ibu Stella dan minta tanda tangan untuk persetujuan nya. Kamu mengerti?"
Laras pun mengangguk, Zidan berpamitan pergi kepada Stella. Setelah kepergian Zidan, Stella memperkenalkan diri nya kepada Laras. Namun, Laras tampak nya tak tertarik dengan ucapan Stella. Ia langsung memberitahu apa saja yang akan Stella kerja kan di dalam ruangan.
Setelah selesai memberitahu segala nya, Laras meminta izin untuk keluar mengecek para karyawan yang lain. Stella pun mengizinkan laras.
__ADS_1
"Aku hanya bekerja di ruangan ini saja? Tanpa mengerjakan sesuatu, dan memantau mereka dari cctv? Astaga, pekerjaan apa ini Zidan?" gumam Stella pelan, ia tidak pernah membayangkan bisa bekerja santai seperti ini.
Apalagi dengan tamatan yang hanya memiliki ijazah SMA. Stella pun mencoba untuk mengerti tentang keuangan yang ada di cafe. Kapan uang itu di pergunakan untuk pengeluaran dan data keuangan pemasukan. Buku keuangan begitu berantakan sekali di buat oleh Zidan, tidak ada perincian yang jelas. Stella menggelengkan kepala nya.
"Sudah memiliki tiga cafe begini, kau tidak memperhatikan buku keuangan mu. Bagaimana kau bisa tahu keuntungan dan kerugiannya."
Stella pun mencatat ulang dengan begitu rapih, bukan hanya di buku Saja. Ia pun membuat keuangan laporan dari komputer, jadi jika suatu saat buku itu hilang. Masih ada data laporan keuangan.
Stella mengerjakan nya dengan sangat teliti agar tidak terjadi kesalahan. Ia pun memanggil Laras, menanyakan berapa biasa nya pengeluaran untuk belanja. Laras memberikan bon belanjaan kepada Stella. Betapa terkejut nya dia ketika bon itu berasal dari supermarket.
"Kenapa belanja nya di supermarket?"
"Maaf Bu, saya juga kurang tahu. Karena pak Zidan yang biasa nya membawa karyawan untuk berbelanja." Stella menggeleng kan kepala.
"Baik lah, mulai sekarang jika ingin belanja kita akan belanja di pasar saja. Jangan di supermarket, karena bahan baku di sana lebih mahal. Padahal, kwalitas nya sama."
"Baik Bu,"
"Belanja di pasar, kita akan membantu mereka yang sedang berjuang jualan demi keluarga nya. Membeli dagangan mereka, sama saja dengan membantu dan meringankan beban mereka. Kita lebih baik memborong yang ada di pasar, daripada di supermarket."
__ADS_1
"Baik Bu. Seperti nya kita akan pergi berbelanja sore ini. Karena beberapa bahan baku sudah tidak segar lagi dan sebagian habis."
"Sebaiknya kita pergi sekarang, saya akan mengambil uang nya dahulu." ujar Stella. Laras pun mengangguk.