
"Jawab Stella! Mengapa kau diam?" teriak Aska, Stella tersentak kaget. Menangis, ia bingung harus apa.
Semua sudah ketauan, Aska mendekati Stella memegang bahu Stella.
"Kau tau aku sangat mencintai mu, Stella. Mengapa kau melakukan ini?" Stella menatap Aska dengan penuh kebencian.
Ia melepaskan tangan Aska dari bahunya
"Lepaskan tangan mu, jangan sentuh aku bajingan!"
Kini Stella jauh lebih berani dan kuat, ia tidak mau lagi jika diri nya di perlakukan sesuka hati orang lain.
Aska kaget dengan sikap Stella yang berubah seperti ini.
"Kemarin kau katakan jika kau mencintaiku, Kau aman menceraikan suamimu dan menikah dengan ku. Namun kau sendiri tidak punya suami. Mengapa kau membohongi ku?"
"Diam!" teriak Stella menatap Aska dengan tatapan kebencian.
"Sudah aku katakan, diam! Kau tidak berhak bertanya kepadaku!"
"Aku berhak! Aku berhak karena Zeline adalah anakku. Kenapa kau memisahkan kami?"
"Kau tidak perlu tau itu semua, dan aku peringatkan jangan mendekati anakku! Kau mengerti itu, bajingan!"
__ADS_1
Stella berteriak, ia memperlihatkan kebenciannya kepada Aska.
Aska ingin mendekati Stella namun Zidan memasang badan untuk membelanya.
"Sudah cukup atas semua yang udah kamu lakukan kepadanya!"
"Jangan campuri masalah ku!" ketus Aska kepada Zidan.
Stella pun membela Zidan, mengatakan jika Zidan memiliki hak itu.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat mu, dan jangan berharap semua jawaban apapun dari ku. Karena manusia seperti mu dan ibumu tidak pantas mendapatkan jawaban dari ku!" bentak Stella.
Aska mengatakan jika ia akan mengambil hak asuh Zeline.
"Aku ayah nya!"
"Kau bukan ayahnya!" Stella menunjukkan jarinya dengan tegas kepada Aska.
Aska tersenyum licik, ia pun menunjukkan kertas hasil tes DNA.
"Ini buktinya, dan akan aku pastikan jika kau tidak akan bisa menjauhkan aku dari anakku lagi."
Aska berbicara dengan nada serius, Stella pun kembali menantang Aska.
__ADS_1
"Apa kau mengira aku akan tinggal diam? Tidak! Aku akan memperjuangkan anakku! Dan kau camkan ini. Aku tidak akan membiarkan kau dan keluarga mu merebut anakku!"
"Kita lihat saja nanti di pengadilan! Dan pengadilan yang akan memutuskan segalanya, bukan kau!"
Awalnya Aska ingin berbicara dengan baik kepada Stella wanita yang ia cinta. Namun melihat Stella yang begitu keras membuat Aska menjadi geram.
Ia pun meninggalkan tempat itu, saat Aska pergi.
Stella gemetar, ia ingin terjatuh namun Zidan dan Laras memegang tubuhnya.
Stella menangis, Laras memeluk Stella. Memberikan kekuatan
"Aku enggak mau mereka mengambil anakku, me-mereka tidak berhak atas anakku hiks."
Laras mengelus dan memeluk Stella, memberikan kekuatan kepada Stella.
"Jangan menangis Stella, jangan lemah. Kau harus kuat untuk melawan mereka." Zidan memberikan kekuatan kepada Stella namun Stella mengatakan jika pengaruh keluarga Aska sangat kuat.
Mereka bisa melakukan apapun melalui orang-orangnya.
"Kau tidak perlu khawatir, paman ku pengacara terbaik di sini. Bahkan jika perlu aku akan memanggil saudara ku, pengacara terbaik di luar negeri untuk membantu mu. Jangan khawatir, aku ada untukmu."
Stella tau jika Zidan akan membantunya, namun Stella masih merasa khawatir dengan itu semua. Ia takut jika Xiu merebut anaknya seperti ucapan Xiu enam tahun yang lalu.
__ADS_1
Laras dan Zidan kembali menyemangati Stella, mereka mengatakan jika Stella tidak sendirian.