Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Mengapa Amara Menangis?


__ADS_3

Bibi ingin memukul Amara, namun di tepis oleh Stella.


Stella mendorong Bibi nya sampai terjatuh ke tanah, kesabaran nya sudah habis di buat oleh Paman dan Bibi nya.


"Sudah ku katakan jangan sakiti adik-adik ku!"


Bibi begitu kesal, ia mengatakan kepada Stella ia akan melepaskan keluarga Stella.


Asalkan Stella membatalkan pembekuan rekening itu.


"Jangan pernah berharap! Aku muak dengan kalian!"


Stella langsung mengubungi polisi, Paman pun sudah babak belur di tangan Darren.


Bibi ingin kabur namun di tahan oleh Stella.


"Aku sudah mengatakan kepada kalian untuk tidak menyakiti keluarga ku!"


Tidak butuh waktu lama, polisi sudah datang. Karena Stella sudah melapor polisi sebelum nya saat Paman dan Bibi mematikan saklar lampu.


Stella mengatakan jika Paman dan Bibi nya sudah mengganggu ketenangan mereka, bahkan mengancam keselamatan mereka.


Kini, paman dan Bibi pun di bawa oleh polisi.


Amara bernafas lega, ia memeluk kakak nya Stella.


Stella menatap wajah Darren. Ia pun mempersilahkan Darren untuk masuk.


Darren pun masuk tanpa menolak ajakan dari Stella. Amara ketakutan, seharusnya Darren menolak saja.


Mengapa Darren harus mengiyakan ajakan kakak nya yang menyuruh nya untuk masuk.


"Silahkan duduk!"" Stella menyambut Darren dengan hangat, ia juga membuatkan teh untuk Darren.


Stella mengucapkan terima kasih banyak kepada Darren karena sudah menolong dan membantu keluarga nya dari Paman dan Bibi mereka.


"Terimakasih telah membantu kami melawan Paman dan Bibi kami."


"Anda tidak perlu merasa khawatir, kakak ipar." jawab Darren dengan santai nya.


Stella melirik ke arah Amara, Amara menggeleng. Ia pun menepis ucapan Darren.


"Kak jangan dengarkan ucapan nya, dia hanya teman ku."


Stella tau jika usia Darren dan Amara begitu jauh, seperti nya Darren juga lebih tua dari Stella.


"Maaf, apakah anda ini pacar adik saya?" tanya Stella.


Darren mengangguk, sedangkan Amara menggeleng.


"Bukan kak, Amara belum punya pacar. Ini hanya teman Amara."


Stella pun meminta kepada Amara untuk mengganti pakaian nya terlebih dahulu. Amara menurut, ia naik ke atas menuju kamar nya.


"Maaf, Tuan. Saya tau jika anda orang yang baik, namun anda tau jika adik saja masih sangat kecil. Dia juga masih sekolah, mohon untuk tidak terlalu sering bersama nya. Saya tidak mau jika adik saya salah langkah. Dan saya tau, usia anda pasti lebih tua dari saya. Anda mungkin lebih cocok menjadi kakak kami."


Darren tidak merasa tersinggung dengan ucapan Stella, ia tau Stella wanita yang baik. Terlihat jelas dari wajah dan tatapan mata Stella yang menunjukkan dia wanita baik-baik.


"Namun saya serius dengan adik anda." ujar Darren dengan serius, ia memang sudah menyukai Amara.


Stella terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Stella tidak mau adik nya merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.


"Saya tau, namun anda juga tau jika adik saya masih sekolah. Saya harap anda pun mengerti, jika anda sering menemui atau mengajak adik saya keluar. Sekolah nya akan terganggu,"


"Saya ingin menikahi nya."


Ucapan Darren membuat Stella bungkam, ia harus membuat keputusan untuk adik nya.


"Maaf, namun saya tidak setuju. Anda tau jika adik saya masih sekolah. Masa depan nya masih panjang, jika dia menikah sekarang ia akan kehilangan masa depan yang ia impikan."

__ADS_1


"Saya akan membiarkan nya sekolah bahkan hingga ia sarjana."


Stella tersenyum kecil, ia menggelengkan kepala nya.


"Tuan, anda tau jika pernikahan pasti menginginkan seorang keturunan. Dan saya tidak bisa merusak masa depan adik saya. Tolong jangan salah sangka, jika anda memang benar serius kepada adik saya. Anda bisa menunggu nya beberapa tahun ke depan nanti. Sampai adik saya benar-benar siap menjadi seorang istri dan hingga waktu yang tiba. Tolong, jangan mengganggu nya ia bisa saja terganggu pelajaran nya."


Amara datang, ke dua nya memutuskan obrolan sebelum nya.


Darren menatap mata Amara, namun Amara memalingkan wajah nya.


Ia memang tidak suka dengan Darren, apalagi usia Darren sangat jauh dari nya.


Darren menghabiskan segelas teh yang di buatkan oleh Stella sebelum nya. Setelah menghabiskan teh tersebut, Darren pun permisi untuk pulang.


Stella pun mengangguk, mengantarkan Darren dengan ramah dan hangat.


Sekali lagi, Stella mengucapkan terimakasih banyak kepada Darren. Ia juga meminta maaf kepada Darren jika ucapan nya tadi membuat Darren mungkin tersinggung.


"Jangan khawatir, saya bukan anak-anak yang gampang tersinggung dengan ucapan orang lain. Saya pamit dulu, selamat malam."


Stella tersenyum kepada Darren yang di balas senyuman hangat oleh Darren.


Darren berjalan menuju mobil nya di luar, Stella langsung menutup pintu rumah nya.


Ia memanggil Amara, bertanya apakah adik nya itu memiliki perasaan kepada Darren.


Amara mengatakan jika ia tidak memiliki perasaan kepada Darren.


"Kak, sudah Amara katakan. Amara tidak memiliki perasaan apapun kepada nya. Amara hanya menganggap nya sebagai seorang teman."


Stella bertanya, mengapa Amara bisa berkenalan dengan pria yang lebih dewasa dari nya.


Amara gugup, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada Stella.


"Kak tolong, itu privasi Amara. Kakak enggak bisa juga harus tau tentang hidup Amara."


Setelah mengatakan itu Amara langsung berlari menaiki anak tangga, menuju kamar nya.


Stella duduk di sofa ruang tamu mereka.


Apakah dia begitu ketat kepada adik-adik nya hingga membuat mereka tidak memiliki privasi?


Namun Stella melakukan itu, ia hanya tidak mau adik-adik nya melakukan kesalahan seperti yang ia lakukan di masa dulu.


Ia menangis, Stella berharap jika lelaki itu tidak mengganggu Amara lagi dan jika mereka terus berteman. Semoga Darren bisa menjaga dan melindungi Amara bukan merusak Adik nya.


Amara masuk ke kamar, ia menangis. Bukan Amara ingin menyakiti hati sang kakak, namun dia juga bingung harus menjawab apa.


Amara tidak mau membuat Stella banyak pikiran jika mengetahui masalah Amara.


*******


Di sisi lain, Aska mencoba menghubungi Stella namun Stella selalu saja mengabaikan nya.


"Mengapa dia selalu mengabaikan panggilan ku?"


Aska


Aska menoleh kebelakang, ia melihat mami dan juga mantan tunangan nya Lee yang menghampiri nya.


Wajah Aska datar, Xiu memeluk anak nya.


"Sayang, mami mencari mu dari tadi. Kamu kemana aja?"


Aska tidak menjawab apapun, Lee memegang tangan Aska.


Ia memaafkan segala perbuatan Aska beberapa waktu lalu.


Lee ingin pernikahan mereka di ulangi, namun Aska meminta maaf kepada Lee.

__ADS_1


"Maafkan aku Lee, aku tidak mencintai mu. Aku mencintai Stella dan kami akan menikah."


Lee mengerang geram, ia mengeram tangan nya.


Stella telah menghancurkan mimpi nya, dan apa yang di katakan oleh Aska tidak salah?


Mereka akan melangsungkan pernikahan..


"Nak, kamu ingat apa yang mami katakan? Mami tidak akan memberikan harta warisan kepada mu jika kamu menikah dengan wanita itu."


"Aska tidak perduli. Aska mencintai Stella, mami."


"Kamu harus ingat pengkhianatan yang di lakukan oleh nya. Ia juga sudah punya suami." ujar Xiu.


Aska mengatakan jika ia tidak perduli, yang terpenting Stella kembali bersama nya.


"Aska tidak perduli, dia sudah berjanji untuk menceraikan suami nya."


"Dan kamu percaya?"


Xiu tak percaya dengan kebodohan anak nya. Cinta membuat mata Aska buta


Xiu mengatakan jika Aska akan menyesali keputusan nya itu.


"Aska tidak perduli, Aska yakin dengan keputusan yang Aska buat."


Aska berlalu pergi meninggalkan Xiu dan Lee.


Lee merasa kesal dan harga diri nya telah hilang di buat oleh Aska.


Ia pun tak mau membuang waktu lagi, Lee meninggalkan Xiu seorang diri.


Xiu mengejar Lee namun Lee tidak mempedulikan Xiu.


Lagipula untuk apa Lee membuang banyak waktu nya, lebih baik ia pergi ke bar.


Lee pergi ke bar menaiki taxi yang lewat di jalan itu, ia tidak mau membuang waktu nya untuk memikirkan Aska yang sudah mencampakkan nya.


Waktu nya telah terbuang sia-sia selama lima tahun belakangan ini.


"Lebih baik aku happy-happy seperti dulu lagi." ujar Lee.


Taxi itu berhenti di sebuah gedung mewah, Lee membayar dengan beberapa uang lembar merah. Ia juga memberikan uang tip kepada supir taxi tersebut.


Lee turun dengan wajah anggun dan berkarakter nya.


Ia masuk ke club' tersebut. Alunan musik DJ yang begitu kuat di telinga siapa pun yang ada di ruangan itu.


Lee melihat ke arah pria tampan yang bertubuh tegap.


Begitu sangat tampan dan di lihat dari penampilan nya pasti orang berada.


Lee mendekati pria itu, memberikan segelas win untuk pria itu.


"Lee." teriak nya di telinga pria tampan itu, memberikan segelas win..


Pria itu menerima nya dengan senang hati, ke dua nya tak membutuhkan waktu lama untuk berkenalan. Dan pergi dari tempat tersebut, pria itu mengajak Lee ke sebuah apartemen mewah.


Lee sudah yakin jika pria itu pria yang kaya raya.


Dengan mudah nya Lee memberikan tubuh nya kepada pria yang baru ia Kenal.


Mereka pun menghabiskan malam berdua dengan begitu agresif.


******


Tanara menghampiri Amara, bertanya kepada Amara mengapa menangis.


Amara menggeleng, ia mengatakan jika diri nya hanya memikirkan tentang kejadian tadi di mana Paman dan Bibi melakukan hal yang nekat.

__ADS_1


"Kita tau kak, bagaimana paman dan bibi. Mereka selalu begitu kepada kita." pungkas Tanara, yang kesal membayangkan betapa buruk nya hidup mereka dulu.


__ADS_2