
Stella melirik ke arah Aska yang masih tertidur pulas, ia begitu hancur. Bagaimana orang yang dulu selalu menjaga diri nya justru menodai nya untuk ke dua kali nya dalam sehari.
Stella ingin mengakhiri hidup nya, ia merasa menjadi wanita yang tak berguna. Namun, ia memikirkan bagaimana nasib Zeline, Amara, Tanara dan juga Rani jika tak ada diri nya..
Aska membuka mata nya, ia ingin memeluk Stella namun Stella menghindar.
"Kau tahu, apa yang paling aku sesali dalam hidupku?"
"Apa?" tanya Aska tanpa merasa bersalah.
"Adalah mengenal dan pernah mencintai orang brengsek seperti mu!" ujar Stella dengan nada yang begitu berat, rasanya ia tidak ingin melihat Aska kembali. Stella sangat bersyukur jika Zeline tidak tahu siapa ayah nya.
__ADS_1
Stella mengusir Aska untuk pergi, Aska segera bangkit dan mengambil dan memakai pakaian nya di hadapan Stella. Stella membuang pandangan nya, Stella merasa sangat jijik kepada Aska mau pun diri nya sendiri.
"Pergi!" ketusnya kembali, Aska pun berlalu pergi. Di luar ada Amara yang menunggu Aska. "Mengapa lama sekali?" tanya Amara penuh curiga.
"Apakah kau melakukan hal yang buruk kepada kakak ku?" tanya Amara lagi, namun Aska memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Amara. Ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil nya menjauh dari kediaman rumah Stella.
"Dasar tidak tahu malu, datang dengan baik-baik. Tapi, pergi tanpa mengatakan apapun." kesal Amara, ia ingin melihat keadaan Stella namun diri nya gengsi. Amara pun mengurungkan niat nya, dan berlalu pergi masuk ke dalam kamar nya.
"Kak, tadi siapa yang datang?" tanya Tanara, Amara pun mengatakan jika yang datang tadi adalah Aska. Tanara sangat terkejut, ia juga memarahi Amara mengapa menyuruh Aska ke kamar Stella. Bagaimana jika Zeline bertemu kepada Aska?
Tanara pun meminta maaf kepada kakak nya, bukan ia bermaksud untuk bersikap tidak baik namun Tanara sangat khawatir jika Zeline tahu siapa papa nya.
__ADS_1
"Maafin Tanara kak, Tanara enggak bermaksud seperti itu! Tapi, Tanara hanya khawatir jika Zeline tahu jika kak Aska adalah papa nya. Beberapa waktu yang lalu Zeline bertanya kepada mama nya siapa papa nya,"
"Zeline juga perlu tahu siapa papa kandung nya, lagian mau sampai kapan Zeline hidup tanpa seorang ayah? Itu sangat tidak baik untuk perkembangan nya." sambung Amara, ia ingin jika keponakan nya mendapatkan status yang jelas. Apalagi, Aska berasal dari keluarga yang sangat kaya raya. Jika Aska tahu jika Zeline adalah anak nya. Zeline akan menjadi pewaris tunggal.
Amara memikirkan masa depan Zeline yang cerah dan terjamin. Tidak hidup serba kekurangan seperti ini.
"Kak, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur dengan masalah kak Stella. Jika kak Stella saja tak mau jika kak Aska tahu siapa Zeline mengapa kita harus ikut campur? Yang menjalani kehidupan itu kak Stella. dia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk nya dan juga Zeline. Kita hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk kak Stella dan juga Zeline," ujar Tanara yang memberikan penjelasan kepada Amara, Tanara takut jika Amara memberitahu semua nya kepada Aska
"Cepat atau lambat, semua nya akan terungkap. Kita nggak bisa terus-terusan menutupi nya." ujar Amara kembali, Tanara pun menggelengkan kepala, mengapa kakak nya masih saja keras kepala.
"Jika suatu saat hal sebesar ini sampai terbongkar biar lah kak asal itu tidak dari mulut kita." Tanara kembali menekan nya itu kepada kakak nya.
__ADS_1
"Terserah kalian saja, tapi kakak berharap Zeline segera tahu siapa dia sebenar nya."
"Zeline pasti akan tahu, tapi tidak dari mulut Tanara atau pun dari mulut kakak!" Tanara mulai kesal, ia yang tak mau terus berdebat dengan kakak nya memilih untuk berbaring kan tubuh nya dan memejamkan mata nya.