
"Ra, kau sendiri yang mengatakan pada ku jika hubungan mu dengan kakak mu itu tidak baik. Apa kau tidak malu meminta uang nya padahal kau memusuhi orang nya?"
Amara semakin terpengaruh dengan ucapan teman nya itu.
Dia berfikir keras, lalu menoleh ke arah Kimberly.
"Ta-tapi, bagaimana dengan dosa?"
"Haha, kau ingin lucu sekali Amara. Dosa, semua orang mempunyai dosa. Bertengkar dengan kakak mu juga termaksud dosa.. Sudah lah, urusan itu belakangan. Yang terpenting, saat ini adalah kau bisa menyelesaikan biaya untuk ujian."
Kimberly menatap mata Amara, ia terus meyakinkan Amara dengan segala rayuan nya.
Amara yang labib begitu dilema. Akhir nya, Amara pun mengangguk setuju. Kimberly begitu senang, langsung memeluk Amara.
"Pulang sekolah nanti, kita akan berbelanja pakaian mu. Aku akan makeover diri mu, masalah biaya tenang saja. Kau bisa memakai uang ku dulu."
"Apakah ak-aku tidak bisa memakai uang mu untuk ujian? Agar aku tidak melakukan itu."
Kimberly terdiam sejenak, ia ingin marah. Namun, menahan diri. Diri nya tahu, jika Amara orang yang tidak bisa di kerasin. Kimberly pun tersenyum
"Boleh dong tentu nya, kau kan teman ku. Tapi, bagaimana kau bisa membayarnya? Meminta kepada kakakmu? Kan kau belum bekerja, tapi jika kau bekerja seperti ku. Kau akan mudah mendapatkan uang, tidak perlu meminjam. Dan biaya yang nanti kau pinjam dari ku untuk membeli baju, kau bisa dengan cepat mengganti nya."
"Benar juga apa kata mu ya. Baik lah, kau urus saja semua nya. Aku mempercayakan nya kepada mu."
"Oke sayangku. Aku akan melakukan apa yang kau mau. Nanti malam, aku akan menjemput mu di rumah."
"Okay." ujar Amara dengan pasrah nya, Amara begitu sangat polos. Bahkan, ia terjebak dengan bujuk rayu dari teman nya itu
"Asyik deh, lumayan kan aku dapat seratus juta dari keluguan Amara. Tinggal aku kasih aja dia lima juta, haha. Kau sangat polos sayangku, Amara." batin Kimberly yang tersenyum licik.
Kimberly sudah tidak sabar menerima uang sebanyak itu nanti malam
"Semakin banyak aku menemui orang seperti Amara, aku akan bisa kaya dari hasil ku sendiri. Tidak perlu, melayani om-om lagi hihi."
Kimberly begitu senang, ia pun bersemangat mencari Amara lain nya yang polos seperti teman nya ini.
__ADS_1
Setelah pulang sekolah, Kimberly mengajak Amara ke mall.
Sebelum nya, Amara sudah mengatakan kepada Tanara untuk tidak menjemput nya bersama supir dengan beralasan kerja kelompok.
Kimberly membelikan tiga gaun yang cantik dan pas di tubuh Amara, bahkan sengaja ia membeli yang terbuka dan ketat agar setiap lengkukan tubuh Amara berbentuk dengan sempurna.
"A-aku tidak bisa memakai ini. Ini terlalu terbuka," ujar Amara yang sangat bingung. Kimberly pun tertawa mendengar ucapan Amara.
"Kau ini emang benar-benar polos ya? Nanti juga di kamar, kau tidak memakai apapun. Sama saja kan?"
Amara terdiam, hati kecil nya masih menolak. Namun, ia juga tidak mau bergantung kepada Stella. Orang yang sudah membuat ke dua orang tua nya meninggal.
Amara juga ingin membiayai kehidupan Tanara. Agar mereka berdua tidak bergantung dengan Stella lagi dan hidup bahagia berdua. Amara sangat menyayangi Tanara adik nya, ia ingin Tanara menempuh pendidikan yang tinggi dan memenuhi segala kebutuhan Tanara, seperti memberikan fasilitas yang terbaik.
"Sudah, jangan banyak berfikir. Ayo, ambil ini dan kita akan bayar di kasir."
Amara pun mengangguk, ia mengikuti langkah Kimberly.
Selera pakaian, dan berpenampilan Kimberly sangat bagus, jadi tidak susah mencari kebutuhan Amara.
Sudah jelas, Amara akan terlihat cantik. Kimberly juga membawa Amara ke salon SPA dan kecantikan.
Amara hanya terdiam, setelah selesai berbelanja. Kimberly mengantar Amara untuk pulang ke rumah dulu.
Amara turun dari mobil, Kimberly mengatakan jika ia akan menjemput Amara pukul enam sore.
Jadi, Amara sudah harus bersiap. Amara mengangguk mengerti.
Amara yang masuk ke dalam rumah pun di cegah oleh Tanara.
"Kakak, kakak berbelanja? Kata nya tadi kerja kelompok?"
"Hmm, iya. Tadi nya kakak kerja kelompok, tapi teman kakak meminta kakak menemani nya berbelanja."
"Lalu, kakak juga ikut berbelanja? Kakak uang dari mana? Bukan kah uang tabungan kakak habis menggantikan uang kak Stella?"
__ADS_1
"Ini teman kakak yang membelikan nya."
"Teman kakak baik sekali ya membelikan kakak belanjaan sebanyak ini?" Tanara merasa sangat curiga, apalagi Amara begitu gugup menjawab pertanyaan dari nya.
"Iya-iya, dia baru menang arisan. Jadi nya men-traktir kakak."
Tanara pun merasa tidak yakin, namun ia berusaha mempercayai ucapan kakak nya. Lagipula, kakak nya tidak pernah berbohong kepada diri nya.
"Maaf kan kakak, bukan nya kakak bermaksud membohongi kamu. Tapi, Kakak nggak mau lihat kamu sedih jika harus mengetahui segala nya."
"Kak, kenapa kakak melamun?"
"Ti-tidak! Kakak nggak melamun kok. Kakak sedikit lelah, kakak masuk kamar dulu ya?"
Tanara pun mengangguk, ia menatap kepergian kakak nya. Perasaan nya sangat tidak enak.
"Ada apa ini ya Allah? Kenapa Tanara merasa gelisah seperti ini? Tolong lindungi keluarga kami Ya Allah. Tanara nggak mau melihat kakak-kakak Tanara menderita ya Allah. Lindungi mereka." ujar Tanara yang menatap kepergian kakak nya.
Amara menaiki tangga, menuju kamar. Ia merasa bingung dan gelisah. Apakah yang ia lakukan ini benar? Apakah langkah yang dia ambil itu yang terbaik? Hati kecil Amara menolak ini semua.
Masih ada waktu untuk mengubah pikiran, Amara pun mengambil ponsel genggam milik nya. Ingin menghubungi Kimberly, dan membatalkan rencana nya.
Amara memberikan pesan saja kepada Kimberly.
Kimberly yang membaca pun merasa kesal.
"****!" Kimberly membanting ponsel nya ke tempat tidur, ia berteriak di dalam kamar nya.
Kimberly memikirkan segala cara agar Amara mau berubah pikiran lagi. Iya pun memiliki ide dan tersenyum. Kimberly mengetikkan sesuatu dan mengirimkan nya ke Amara.
Ponsel Amara berdering, ia pun membuka pesan dari Kimberly.
Tidak apa Amara, Jangan khawatir! Tapi, kamu harus ingat, belanjaan tadi mencapai sepuluh juta. Bon belanjaan nya juga ada, aku harap kau bisa segera membayar nya oke?
Amara merasa bingung, bagaimana ia bisa membayar uang sebanyak itu bahkan biaya ujian nya saja ia tidak bisa membayar senilai lima ratus ribu.
__ADS_1
Amara menangis, ia sudah terjebak dengan Pilihan nya sendiri, sekarang dia tidak memiliki pilihan selain mengikuti segala perintah dari Kimberly.
Ia pun mengirimkan pesan kepada Kimberly Telah merubah keputusan nya seperti kesepakatan mereka tadi.