
Dengan penuh perhatian Zeline menyuapi mamanya makan "Mama halus makan yang banyak, bial mama cepat sehat!"
Stella mengunyah makanan itu sambil menahan tangisnya, ia merindukan anak kesayangannya dan saat ia sakit masih di berikan kesempatan melihat anaknya.
"Sayang, mama sudah kenyang ya nak. Kamu udah makan?"
"Sudah mama! Oma dan papa selalu meminta Zeline untuk makan yang banyak bial Zeline cepat besal!"
Setidaknya Stella lega, karena Xiu menyayangi dan merawat anaknya dengan baik. Tidak adalagi yang Stella inginkan, setelah selesai makan. Zeline langsung memberikan mamanya obat, Stella pun tak ada alasan untuk menolak minum obat
"Sayang, kalau Zeline udah puas tinggal sama papa. Zeline kembali sama mama ya nak?"
Zeline mengangguk "Iya mama, Zeline akan pulang jika Zeline sudah puas tinggal dengan papa dan Oma. Mama jangan sedih! Zeline sayang dengan kalian semua, Zeline hanya ingin mama dan papa tetap bahagia! Tapi mama, Zeline enggak suka sama istli balunya papa! Zeline sangat culiga sekali dengannya,"
"Sayang kamu enggak boleh gitu ya nak? Kamu harus sayang dengan istrinya papa. Karena bagaimana pun ia juga sudah menjadi mamanya Zeline, mama enggak mau papa mengira jika mama enggak bisa mendidik anak mama ya nak? Zeline paham kan maksud mama?"
"Iya mama! Zeline paham! Tapi Zeline enggak suka sama mami Lee! Dia sangat menyebalkan!"
"Apakah mami Lee menyakiti Zeline?" Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan "Nah, mami Lee kan tidak pernah menyakiti Zeline, jadi enggak ada alasan Zeline untuk tidak suka kepadanya ya nak? Paham kan sayang? Zeline di sana juga enggak boleh nakal dan merepotkan mereka ya nak?"
"Iya mama!"
Setelah memastikan mamanya makan dan minum obat, Zeline pun berpamitan untuk segera pulang ia takut jika Omanya mencari keberadaannya karena Omanya tidak tahu Zeline pergi dan Zeline pun tidak meminta izin.
"Om ganteng, antel Zeline ke lumah papa ya?"
"Siap cantik, ayo!"
Darren pun berpamitan kepada Stella "Nona Stella, saya pulang dulu. Anda jangan khawatir kapan pun anda merindukan Zeline, anda beritahu saja saya dan saya akan menjemputnya!""
"Terimakasih banyak tuan Darren!"
Darren pergi membawa Zeline tanpa berpamitan dengan Amara. Amara yang merasa bersalah pun mengejar Darren
"Om tunggu!" Namun Darren tidak mau berhenti, ia dan Zeline segera masuk mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah Stella.
Amara menangis, ia merasa bersalah karena sudah marah-marah dengan lelaki yang sudah banyak membantu kakaknya.
"Maafkan aku, tanpa mengetahui kebenarannya aku justru mengatakan hal buruk kepada mu,"
Amara berulang-kali mengubungi Darren namun lelaki itu tidak mau mengangkatnya. Ia mengabaikan setiap panggilan dan pesan yang Amara berikan
"Dia pasti marah atau kecewa dengan ku. Seharusnya aku bisa menjaga ucapan ku!" Gumamnya cuman Amara tetap memberikan pesan permintaan maaf kepada Darren.
Di dalam mobil, Darren membawa mobil dengan tangan satu melihat ke arah ponselnya, ia pun tersenyum dan merasa gemas dengan Amara namun pria itu sengaja mengabaikan pesannya agar Amara semakin merasa bersalah!
"Om jangan main ponsel bahaya! Kalau mau main ponsel, om halus belhenti dulu!"
Darren pun menoleh ke arah Zeline dan meletakan ponselnya di dalam saku kemejanya "Maafkan om ya Zeline? Om salah dan om tidak akan main ponsel lagi saat berkemudi!"
"Iya om! Itu bahaya, nanti om bisa kecelakaan!"
__ADS_1
"Iya anak pintar!"
"Zeline enggak pintal om! Tapi Zeline enggak mau kalena ponsel kita akan menghadapi bahaya yang kita buat sendili!"
Darren pun mengalah, ia sungguh gemas dengan Zeline
"Sayang, kamu sangat menggemaskan sama seperti Tante mu!" Batin Darren.
Mereka pun sudah sampai di kediaman rumah Aska
Darren menghentikan mobilnya terlihat Xiu dan Aska sudah menyambut kedatangan mereka. Saat Zeline turun dari mobil, Xiu langsung berlari memeluk cucunya "Sayang, kenapa lama sekali kamu pulang? Oma sangat khawatir! Kamu pergi tanpa memberitahu Oma!" Xiu mencium kening dan kedua pipi cucunya secara bergantian.
Darren mendekat ke arah Aska "Sudah saya katakan, saya akan mengembalikan anak kalian. Lelaki sejati tidak akan pernah melanggar ucapannya!" Ujarnya dengan dingin, ia malas melihat kearah Xiu.
Xiu seakan tidak asing dengan pria itu, namun ia menepis itu semua dan membawa cucunya masuk ke dalam rumah mewah mereka. "Terimakasih tuan Darren! Kamu sudah menepati janji kamu!"
Darren mengangguk, dan langsung pulang tanpa berbasa-basi. Dia datang hanya untuk membawa Zeline kepada Stella.
"Tunggu tuan Darren!" Langkah lelaki itu terhenti, Aska mendekatinya "B-bagaimana keadaan Stella? Apakah dia baik-baik aja?"
Darren mengerutkan dahinya, mengapa Aska masih perduli dengan Stella sedangkan dirinya sudah menikah dengan orang lain?
Darren memasang senyum sinis "Sebaiknya anda tidak perlu memikirkan wanita lain, fokus saja dengan istri anda saat ini!"
Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan rumah Aska.
"Bisa-bisanya ia bertanya dengan keadaan wanita lain sedangkan istrinya sedang mengandung!" Darren pun tak habis pikir dengan jalan pikiran Aska
*******
Xiu hanya tersenyum tidak ikhlas, ia tidak pernah tertarik jika berbicara tentang Stella namun demi cucunya bahagia ia pun harus mendengarkannya.
"Iya sayang! Tidak apa-apa!"
Mendengar ucapan Zeline membuat Aska tidak enak hati, mungkin Stella sakit karena tidak pernah dipisahkan oleh anaknya selama ini dan sekarang Zeline tinggal dengan dirinya. Aska ingin menjenguk Stella namun Lee mencegah kepergian suaminya
"Mau kemana? Mau menjenguk dia?"
Entah bagaimana Lee bisa mengetahuinya, namun yang pasti apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar. Aska pun tidak membantah "Iya, bagaimana pun dia adalah ibu dari anak ku, aku tidak tega melihatnya sakit!"
"Enggak Aska! Aku sebagai istri kamu tidak mengizinkan kamu bertemu dengannya!"
"Kenapa? Kenapa kamu jadi mengatur-atur aku?"
Zeline dan Xiu mendengar perdebatan Aska dengan Lee.
"Ada apa ini? Mengapa kalian bertengkar? Ada Zeline di sini apakah kalian enggak punya rasa malu? Kalian sudah dewasa dan sebagai suami istri jika ingin berdebat di kamar loh! Mami enggak mau ya karena kalian cucu mami merasa enggak nyaman!""
Xiu memang selalu menjaga cucunya Zeline, ia sangat menyayangi dan mencintai Zeline apalagi paras Zeline yang begitu mirip dengan anaknya Aska.
"Mami, mami tahu enggak kalau,"
__ADS_1
"Lee, sudah mami katakan kalian selesaikan ini berdua! Dan mami enggak mau mendengarkan keributan kalian! Kalian ini membuat kepala mami pusing tau enggak! Mami sudah khawatir dengan cucu mami yang pergi tadi tanpa berpamitan kepada mami, saat dia pulang. Kalian justru bertengkar, jika Zeline tidak nyaman di sini karena mendengar keributan kalian Maka mami tidak akan memaafkan kalian berdua!"
Xiu pun membawa cucunya untuk pergi menjauh dari Lee juga aska.
Lee sangat terkejut dengan ibu mertuanya, biasanya Xiu selalu membela ia namun sekarang Xiu bahkan tidak perduli dengannya hanya karena anak itu! Hal itu membuat Lee semakin marah, wajahnya memerah
"Kamu lihat! Anak kamu udah bikin aku di marahi oleh mami!"
"Hey, kenapa kamu menyalahkan anak aku? Anak aku tidak salah apapun! Jangan pernah menyalahkan dia! Sudah lah Lee, aku ingin pergi dan jangan melarang aku!"
"Tidak Aska! Sampai mati pun aku tak akan mengizinkannya. Dan aku memiliki hak itu karena aku adalah istri kamu yang sah! Untuk apa kamu ke sana sedangkan anak mu sudah bersama kamu!"
Aska pun tak mau memperpanjang masalah, ia memilih mengalah dan mengurungkan niatnya bertemu dengan Stella daripada Lee terus berteriak. Ia takut Zeline tidak nyaman dengan
pertengkaran itu seperti yang maminya katakan.
Aska pun memutuskan naik ke atas bersama mami juga anaknya. Lee yang kesal membanting barang yang ada di sekitarnya
"Anak itu! Ibu dan anak sama saja! Keduanya selalu membuat posisi aku tersingkirkan! Mengapa mereka tidak bisa membuat aku merasa tenang dan nyaman?"
Jika begini terus maka nasib Lee di rumah ini akan terancam, ia harus mencari cara agar Zeline tidak nyaman tinggal di rumahnya dengan begitu Zeline akan memutuskan kembali dengan ibunya.
*******
Stella kini sudah bisa tertidur nyenyak, ia pun mengingat bagaimana anaknya mengurus ia dengan baik dan tulus
"Zeline mama memang pintar!"
"Iya kak, Zeline memang anak yang sangat pintar. Jadi kakak jangan khawatir, dan memikirkannya ya? Rani enggak mau kakak sakit, kakak juga harus ingat dengan apa yang di sampaikan oleh Zeline. Kakak harus sembuh! Kakak enggak boleh lemah! Kakak harus kuat, agar Zeline pun merasa tenang dan bahagia!"
"Iya Rani, kakak akan sembuh. Dan kakak akan menanti kepulangan anak kakak hingga dia ingin kembali ke sini, entah berapa lama atau tepatnya tapi kakak yakin dia pasti akan kembali dengan kakak!"
"Tentu saja kak! Zeline anak yang sangat baik dan aku tahu jika ia begitu mencintai kakak. Mungkin, Zeline sedang ingin mendapatkan jawaban di sana sebab itu ia memilih untuk tetap di sana!"
"Jawaban apa?" Tanya Stella dengan bingung dan Rani pun tidak tahu tapi yang Rani tahu pasti, jika keponakannya akan memecahkan misi terlebih dahulu baru ia akan kembali.
Saat ini Stella hanya perlu bersabar
"Iya ,kakak akan bersabar. Kakak juga tidak akan memaksanya untuk pulang, kakak tahu jika ia ingin pulang maka ia akan pulang!"
Rani pun tersenyum, ia memeluk kakaknya dengan erat. "Kakak gitu dong senyum, kan cantik! Kalau tadi kakak jelek banget,"
"Kamu ini bisa aja!"
Azriel memandangi Rani yang memeluk Stella, namun Rani tak menatap dirinya. Rani sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menghapus dan melupakan perasaannya kepada Azriel.
"Kak Azriel, mau minum?" Tanara menawari teman kakaknya untuk minum. Rani menoleh sejenak, ada rasa sakit namun ia harus terbiasa untuk melihat itu semua. Azriel pun menerima minum yang diberikan oleh Tanara
"Terimakasih Tanara!"
"Sama-sama kak!"
__ADS_1
Dada Rani terasa sesak, apakah ia cemburu? Namun Rani harus tahu diri dan menepis rasa cemburunya.
Aku ini siapa? Kenapa harus cemburu? Ayo lah Rani! Santai saja! Kak Azriel tidak pantas mendapatkan wanita jalanan seperti mu. Kau harus tahu diri dan tahu latar belakang mu apa! ~batinnya