Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Mengambil Keputusan


__ADS_3

"Aku sungguh benci memiliki kakak seperti nya."


Kimberly pun tak mau ambil pusing, saat ini dia begitu senang karena nanti akan mendapatkan uang dari Amara.


Kimberly pun melepaskan pelukan nya dari sang ibu, ia meminta izin kepada mama nya untuk pergi dengan berasalan ke pesta ulang tahun teman


"Boleh kan mom?"


"Boleh dong, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu, tapi."


"Mama ngga perlu khawatir tentang biaya, Kimberly ada uang kok kemarin Kimberly memang lomba fashion. Jadi, ada uang buat keperluan Kimberly."


"Oh, sayang ku. Kamu memang benar-benar anak mama yang begitu mandiri. Mama bangga padamu."


Ibu Kimberly tidak tahu saja, jika anak nya mendapatkan uang dari hasil yang tidak benar. Kebebasan yang di berikan keluarga nya membuat Kimberly menjadi tidak terarah.


Mama nya pun segera ke luar dari kamar Kimberly, ia pun segera mengambil ponsel nya untuk menghubungi seseorang


Panggilan Terhubung..


Segera siap kan segala nya, kita memiliki mangsa baru. Aku yakin kau pasti akan sangat puas kali ini. Dan iya, transfer ke aku sekarang. Sudah kau tidak perlu khawatir, jika kau kecewa. Aku akan menggantikan nya dua kali lipat. Oke, kita bertemu lagi nanti sore! ~Kimberly


Panggilan Terputus...


Kimberly merasa sangat senang, ia membuang ponsel milik nya ke atas tempat tidur.


"Sebaiknya aku bersiap sekarang." Kimberly pun segera membersihkan diri nya.


***********


Amara yang masih bingung di dalam kamar hanya bisa menangis, Tanara masuk ke dalam kamar Amara untuk mengajak nya makan siang.


Amara mengatakan jika diri nya sudah kenyang.


"Kak, kakak menangis? Ada apa?"


"Ti-tidak, kakak tidak menangis."


"Jangan berbohong kak! Katakan ada apa?"


Tanara menatap mata kakak nya, Amara yang merasa bersalah tidak berani menatap mata sang adik.


"Kakak hanya merindukan mama dan papa saja."


Tanara langsung memeluk Amara, menenangkan kakak nya itu.


"Jangan bersedih kak, jika kakak rindu. Kita sholat dan doakan mama dan papa agar tenang di sana. Jika kakak menangis, mama dan papa akan sedih di sana."

__ADS_1


Amara pun menangis di pelukan adik nya, ia tak kuasa menahan air mata nya lagi. Andai dia bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Tanara.


Kini, Amara benar-benar terjebak, dia tidak memiliki pilihan lain.


*******


Stella yang mencoba melupakan kesedihan mu pun berusaha bangkit, Zeline dan Rani sudah datang menunggu diri nya. Stella tidak mau terlihat lemah di hadapan Rani juga Zeline.


"Mama, kenapa mama di sini? Dan mata mama kenapa sembab?" tanya Zeline dengan penuh selidik.


"I-iya, sayang. Mama hanya merasa sedikit pusing saja. Tapi, bukan masalah besar. Kamu udah makan?"


"Udah mama, tadi Tante itu yang membelikan kami makanan dan minuman yang lezat. Kata Tante baik itu, mama sedang tidul sebental kalena tidak enak badan. Jika mama sakit, kita pulang aja ma?"


"Tidak bisa, nak. Mama kan di sini bekerja, Alhamdulillah bos mama sangat baik memperbolehkan mama bekerja membawa kamu dan kak Rani. Jika tidak, mama juga tidak bisa mengajak kalian ke sini."


"Iya, ma. Om itu memang baik. Mama, apakah papa kandung Zeline nama nya sama sepelti belakang nama Zeline?"


Stella terdiam, ia sangat terkejut mendengar pertanyaan dari anak nya. Mengapa tiba-tiba Zeline menanyakan hal itu.


"Sayang, mengapa Zeline mengatakan itu?"


"Iya mama, soalnya."


Kepala Stella terasa sangat berat, pandangan nya juga mulai kabur. Stella yang tak tahan pun langsung jatuh tidak sadar kan diri.


Zidan langsung menggendong Stella dan membawa nya ke dalam kamar yang ada di ruangan tersebut.


"Mama, mama bangun. Mama kenapa hiks." Zeline yang panik menggoyangkan tubuh mama nya, begitu juga dengan Rani.


Mereka sangat khawatir dengan keadaan Stella. Zidan meminta kepada Laras untuk segera menghubungi dokter.


Dengan sikap, Laras menghubungi dokter tersebut. Sambil menunggu ke datangan dokter, Laras memberikan minyak kayu putih di hidung, dan bagian tubuh tertentu Stella.


"Mama bangun hiks."


"Zeline, sayang. Jangan menangis ya nak. Sebaik nya kita di luar dulu." ujar Laras yang menenangkan Zeline. Namun, Zeline tidak ingin. Ia hanya ingin di samping mama nya saja.


Zidan pun meminta kepada Laras untuk membiarkan Zeline berada di dekat Stella.


Tidak lama, dokter pun datang. Yang di antar oleh salah satu karyawan untuk masuk ke dalam ruangan, dokter memeriksa keadaan Stella dan mengatakan jika Stella mengalami depresi ringan. Karena terlalu banyak pikiran.


"Jangan biarkan pasien banyak memikirkan beban. Atau, itu akan sangat berbahaya untuk psikis nya." ujar dokter itu, ia juga meminta kepada Stella untuk beristirahat yang cukup.


Setelah selesai memeriksa Stella. Zidan dan Laras mengantar kan dokter itu untuk ke luar.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Zidan kepada Laras setelah dokter itu telah pergi meninggalkan cafe.

__ADS_1


Laras pun menceritakan kejadian tadi pagi, dan bagaimana para karyawan menghina Stella. Zidan meminta kepada Laras untuk mengumpulkan semua pekerja termaksud supir.


Laras pun menuruti permintaan pemilik cafe tempat ia bekerja, ia sudah mengumpul kan semua karyawan yang ada. Rini, senang dengan ini semua.


Ia begitu yakin, jika Laras dan Stella akan di pecat dari cafe ini.


"Setelah saya mendengar apa yang sudah terjadi di cafe ini. Saya memutuskan untuk Laras mulai sekarang posisi kamu akan di gantikan oleh Rini!"


Laras pun terdiam, ia hanya menghargai keputusan dari atasan nya dan dia yakin apa yang di berikan oleh bos nya untuk kebaikan perusahaan.


Rini tersenyum puas. Ia begitu senang melihat posisi Laras di gantikan oleh nya.


"Dan kamu Laras, yang akan menggantikan posisi saya."


Semua orang terkejut, termaksud Laras dan juga Rini.


"Maaf pak, maksud bapak bagaimana ya?" tanya Rini yang seakan tidak terima. Ia mengira, jika Laras akan menjadi bawahan nya tapi ternyata posisi Laras akan semakin kuat.


"Iya, Laras akan menggantikan posisi saya di sini. Jadi, dia yang lebih berhak mengambil keputusan seperti saya. Saya yakin, Laras bisa mengambil tanggungjawab yang sebesar ini. Karena saya tidak bisa seterus nya ada di sini. Kamu bisa kan Laras? Saya yakin kamu bisa, dan saya tidak menerima penolakan lagi."


Laras pun mengangguk, ia tidak berani menolak karena sudah di berikan peringatan seperti itu.


"Bagus, Dan kamu Laras. Saya mempercayakan semua nya kepada kamu, saya yakin kamu bisa bersikap tegas dan adil untuk para karyawan. Jika ada masalah seperti kemarin, saya berharap kamu bisa tegas menghadapi nya. Jangan biarkan siapapun mendapatkan ketidakadilan. Dan untuk kamu Rini, saya mempercayakan tugas Laras kepada mu.. Dan saya tidak mau kamu melakukan kesalahan atau bersikap semena-mena kepada bawahan mu. Jika itu terjadi, saya tidak akan segan-segan menurunkan jabatan mu lagi. Kamu mengerti?!"


"Me-mengerti, pak!"


"Bagus, dan untuk para waiters, koki, cleaning service dan supir karena cafe kita pemasukan nya meningkat. Gaji kalian akan bertambah sejuta untuk setiap orang nya."


Semua orang pun merasa sangat senang sekali. Zidan pun menyadari semenjak Stella menangani cafe. Semua nya naik secara drastis, keuangan begitu meningkat dan juga tamu semakin banyak.


Zidan sengaja meminta Laras untuk menggantikan posisi nya karena ia yakin dan percaya, jika Laras orang yang berani dan tegas mengambil keputusan.


Bukan nya ia tidak mempercayai Stella, namun Stella orang yang begitu lemah lembut, dan lebih memilih untuk tidak terlibat dalam perkelahian.


Setelah selesai memberikan keputusan, Zidan meminta semua karyawan untuk kembali bekerja.


"Pak, maaf. Ke-kenapa bapak memberikan tanggungjawab sebesar itu kepada saya? Mak-maksud saya, bagaimana dengan Bu Stella?"


"Dia akan tetap menjadi manager."


"Mak-maksud bapak, saya atasan Bu Stella?"


"Iya, apa ada yang mau kamu tanyakan lagi? Dan mengapa saya memilih kamu. Sebelum mengambil keputusan saya sudah memikirkan nya dengan matang. Jadi, saya harap kamu sudah jelas dengan ini semua."


Laras pun mengangguk, dan menunduk kan wajah nya. Ia tidak sanggup jika harus menatap mata atasan nya.


Laras begitu menyukai dan mencintai bos nya itu. Namun, ia pun tahu diri dan tidak mengharapkan yang lebih.

__ADS_1


Zidan mengajak Laras untuk melihat kondisi Stella di dalam. Laras pun mengiyakan dan berjalan di belakang bos nya.


__ADS_2