
Zeline mencari keberadaan ibu nya, Rani mengatakan jika Stella mungkin sedang ada pekerjaan.
"Mami, kemana mama pergi?"
"Mungkin, mama sedang ada pekerjaan sayang."
Zeline merengek, ia kesal karena ibu nya tidak ada. Apalagi ini hari libur. Seharusnya mereka meluangkan waktu bersama.
Amara dan Tanara menuruni anak tangga, mendengar tangisan Zeline di dapur.
Amara menegur Rani, ia menuduh Rani sudah membuat keponakan nya menangis. Namun, Zeline menepis tuduhan Amara kepada mami nya.
"Tidak! Zeline menangis bukan kalena mami!"
"Lalu karena siapa, Sayang Hem?" Tanara membungkuk, menyeimbangi tubuh nya dengan sang keponakan.
"Zeline kesal sama mama, Mama pelgi inikan hali libul." protes Zeline kepada Tante nya. Ia semakin kesal saat Amara malah menuduh Rani
"Tante kalau enggak tahu apa-apa, jangan nuduh sembalangan!"
__ADS_1
"Sayang, maafin Tante Amara ya? Tante Amara begitu karena panik mendengar tangisan kamu." ucap Tanara memberikan penjelasan kepada keponakan nya.
Zeline mengangguk mengerti, ia pun memaafkan Amara asal Amara mau meminta maaf kepada Rani.
Amara mengalah, ia juga tau jika diri nya bersalah. Tidak seharusnya ia menuduh Rani tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Rani, maafin aku ya. Aku salah, enggak seharusnya aku menuduh kakak begitu."
Rani pun tidak mempermasalahkan perilaku Amara, apalagi Amara memang sangat sinis kepada nya. Rani lebih memilih mengalah daripada harus membuat keributan lagi.
"Enggak apa-apa." ujar nya dengan wajah acuh tak acuh.
"Kak Stella sudah memasak sebelum pergi tadi, sebaiknya kita sarapan dulu." ujar Rani kepada yang lain nya. Amara dan Tanara mengangguk menurut, mereka duduk di kursi masing-masing.
Rani mempersiapkan dan menghidangkan makanan yang sudah di masak Stella di atas meja.
Mereka berempat sarapan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, walau kini Amara dan juga Tanara sudah sedikit baik sikap nya dengan Rani namun mereka masih menganggap Rani orang luar. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Di saat selesai makan, Amara pergi meninggalkan ruang makan yang di ikuti oleh Tanara.
Rani pun membersihkan piring bekas makan mereka saat ia sudah selesai makan. Zeline membantu nya, semenjak kehadiran Stella. Mereka pun sudah tidak menggunakan pelayan lagi.
__ADS_1
Rani hanya bisa sabar melihat sikap ke dua adik dari kakak nya itu, ia juga harus sadar diri karena sudah di berikan tumpangan di rumah ini.
Seringkali Rani merasa seperti seorang pelayan di mata adik-adik nya Stella. Untung ada Zeline yang selalu menghibur nya.
"Mami, Zeline yang cuci ya?"
"Jangan dong, nanti pecah bagaimana piring nya?"
"Enggak pecah, Zeline lebih hati-hati."
"Sudah, Zeline temani mami saja di sini..Jangan melakukan apapun. Nanti piring-piring ini pecah mami lagi yang di salahkan."
"Kalau enggak mau pecah, cuci sendili aja meleka."
"Hust! Gak boleh bicara seperti itu ya, Sayang! Mami dan mama enggak pernah mengajari kamu seperti itu."
"Zeline kesal melihat tante-tante itu. Meleka sepelti tidak menghalgai kita."
"Sudah, kamu ini masih kecil sudah pintar menggosip ya haha."
__ADS_1
Rani sengaja mengalihkan pembicaraan nya. Ia juga tidak ingin jika Zeline ada kebencian kepada Amara dan juga Tanara.