
Laras mengangguk, ia juga tidak ingin kesehatan ibu mertuanya menjadi terganggu karena masalah ini
"Udah dong sayang, jangan sedih lagi!" Zidan membelai istrinya dengan lembut "Aku sangat cinta sama kamu. Kamu jangan khawatir ya? Mama juga sayang banget kok sama kamu, mama seperti itu karena merasa khawatir dengan kamu sebab itu mama jadi marah-marah."
"Iya mas, aku mengerti dengan perasaan mama. Mama hanya tidak ingin aku kenapa-kenapa bukan? Tapi aku lebih khawatir jika suami dan ibu mertua ku memasak makanan dari orang lain, apa gunanya aku menjadi istri kamu mas?"
"Sudah lah sayang! Jangan di perbesarkan lagi masalah ini!"
Laras diam, suaminya sangat menyayangi ibu mertuanya. Walau Zidan tidak mengatakan apapun, namun Laras tahu jika sebenernya Zidan ingin dirinya mengikuti semua permintaan dari mama mertuanya ini
"Maafkan aku mas, bukannya aku ingin menjadi istri yang durhaka. Namun aku ingin melayani suami ku, apakah salah jika istri melayani suami dan ibu mertuanya sendiri?" Batin Laras dengan mata yang berkaca-kaca.
*******
Masakan juga telah masak, Laras segera menghidangkannya untuk suaminya "Mas, makan lah dahulu setelah itu kamu bersihkan diri dan istirahat,""
Zidan tidak mau menambah kesedihan kepada istirnya, ia pun langsung melahap semua masakan Laras "Masakan kamu sangat enak sayang! Terimakasih ya kamu selalu memberikan yang terbaik untuk mas, dan juga mama,"
Laras tersenyum, di puji oleh suaminya seperti itu membuatnya menjadi senang. Setelah selesai makan, Laras membersihkan alat dapur terlebih dahulu.
"Mas masuk lah ke kama terlebih dahulu, biar aku di sini membereskan dapur sangat berantakan."
"Baik lah sayang!"
Zidan langsung bergegas meninggalkan dapur, bukannya ia ingin menjadikan suaminya pembantu. Namun Zidan tahu jika di larang pun istrinya tidak akan suka lebih baik Zidan membiarkan istrinya untuk melakukan apa yang ia inginkan!
Sebelum masuk ke dalam kamar, Zidan menemui mamanya terlebih dahulu.
Cekrek!
"Ma, boleh anak mama ini masuk?" Zidan bertanya kepada mamanya terlebih dahulu. Memang kebiasaannya seperti itu sejak kecil, walau itu kamar orang tuanya namun ia akan selalu meminta izin sebelum masuk kamar
"Masuk lah!"
Setelah di izinkan barulah Zidan masuk ke kamar mamanya.
"Mama, boleh kah Zidan berbicara dengan mama?"
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa nak? Mau membela istri mu dan menyalahkan mama?"
Zidan menggelengkan kepalanya dengan cepat "Mama jangan salah paham! Zidan enggak berniat menyalahkan mama! Ini bukan kesalahan mama, tapi ini juga bukan kesalahan Laras juga ma! Dahulu, saat mama baru-baru menjadi istri papa pasti mama juga ingin memberikan pelayanan yang terbaik bukan untuk papa? Mama ingin memastikan makanan yang sehat untuk papa dan juga Zidan. Begitu juga yang Laras rasakan saat ini ma!"
"Sayang, namun ia dua hal yang berbeda. Kamu tahu jika kalian sedang melakukan program hamil namun kenapa istri kamu tidak mengerti?"
Kini Zidan di hadapkan antara ibu atau istrinya, ia tahu jika maksud keduanya itu sama-sama baik dan tidak ada yang salah. Namun Zidan juga tidak bisa menyudutkan salah satu pihak saja, ia tidak mau ibu atau pun istrinya merasa diabaikan
"Mama benar, namun kalau kita memaksakan kehendak. Bisa-bisa Laras akan stres ma dan percuma saja. Program itu juga tidak akan berjalan dengan lancar jika Laras merasa stres. Lebih baik kita biarkan dia tenang dulu ma. Zidan yakin kok kalau Laras mengerjakannya dengan perasaan yang tenang dan tanpa tekanan, pasti semuanya akan baik-baik saja,"
Mamanya Zidan menghela nafas dengan kasar "Baik! Mama percayakan semuanya kepada kalian! Namun kalian harus ingat ucapan mama ini ya? Jika dalam waktu dua bulan kedepan Laras tidak juga hamil, kalian harus periksa kembali ke dokter. Dan jika Laras mandul, kamu harus menikah lagi Zidan! Untuk apa kamu menikah dengan wanita yang tidak memberikan keturunan untuk keluarga ini! Mama setuju kamu menikah dengan wanita miskin sepertinya agar kamu mendapatkan keturunan!"
Zidan pun terlihat marah, ia mencintai istrinya "Mama jangan seperti itu dong ma! Bagaimana pun, Laras itu istrinya Zidan! Laras menikah dengannya karena Zidan cinta sama dia ma! Bukan karena apapun!"
Zidan langsung keluar dari kamar mamanya ,ia tidak mau terbawa emosi yang akan membuatnya menjadi durhaka kepada sang mama.
Ia memahami obsesi mamanya yang ingin punya anak, namun Zidan tidak menyangka jika mamanya memiliki pemikiran yang sangat buruk seperti itu
"Mas, kamu habis dari kamar mama?" Suara Laras mengangetkan Zidan "Iy-iya sayang! Mas tadi habis dari kamar mama, kamu udah selesai?"
"Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu? Ayo lebih baik kita ke kamar saja. Kamu harus bersiap-siap untuk tidur. Ini sudah malam,"
Zidan tidak memberitahu istrinya, hal itu semakin membuat Laras bertanya-tanya namun karena suaminya mengatakan tidak ada yang terjadi Laras pun mencoba mempercayai suaminya
Keduanya masuk ke dalam kamar, Laras mendekati cermin menatap dirinya di layar kaca, membelai perutnya yang rata "Mas, kamu ingin sekali ya memiliki anak?"
Zidan mendekati Laras "Sayang, semua orang ingin memiliki anak. Namun aku tidak akan memaksa kamu, kamu tahu kenapa? Karena aku percaya dengan rencana Allah, mungkin sekarang kita belum di karuniai anak lagipula pernikahan kita belum ada satu bulan. Jadi tidak usah memikirkan apapun ya? Kita santai dan berdoa sama Allah. Aku percaya kok sama ketentuan yang sudah Allah berikan kepada keluarga kita,"
Laras terharu mendengar ucapan suaminya, andai saja ibu mertuanya seperti itu pasti membuat Laras semakin bahagia. Namun nyatanya, ibu mertuanya tidak pernah-pernahnya berpikir seperti itu, membuatnya merasa sedih "Kamu jangan memikirkan apapun, sudah berulangkali aku katakan. Kamu bebas melakukan apapun yang membuat kamu merasa bahagia, jangan memikirkan ucapan orang lain,"
"Tapi mas, yang berbicara itu adalah mama kamu sendiri. Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?"
"Sayang, mama itu semakin tua. Jadi kita maklumi saja apa yang mama katakan, tidak usah di masukan ke dalam hati. Percaya dengan aku, jika mama itu sangat baik, namun karena tuntutan dari teman-teman dan keluarga. Mama jadi seperti itu, kamu tahu bagaimana omongan orang bukan? Setiap mengadakan pertemuan. Orang-orang selalu bertanya kapan mama akan menggendong cucu, bagaikan ajang perlombaan untuk mereka semua,"
"Iya sayang, dan ucapan orang lain itulah sangat pedas dan melukai hati kita,"
"Sudah la sayang! Kamu jangan memikirkan itu semua! Aku mau membersihkan tubuh ku terlebih dahulu, kamu jangan memikirkan apapun ya? Lebih baik sekarang kamu istirahat!"
__ADS_1
Zidan mengiringi istrinya untuk membaringkan tubuh di atas tempat tidur.
Memastikan Laras langsung memejamkan matanya, setelah memastikan dengan jelas sang istri tidur baru lah Zidan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Laras membuka matanya saat sang suami sudah masuk ke dalam kamar mandi, ia meneteskan air matanya "Maafkan aku mas, karena aku mama memarahi kamu,"
Sebenarnya Laras mendengarkan semua keributan yang terjadi, ia mendengarkan segalanya. Bahkan semua ucapan mama mertuanya.
"Aku memang orang miskin mas, namun aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, aku juga sangat menyayangi mama seperti mama kandung ku sendiri,"
**********
Keesokan harinya, Tanara dan Amara akan berangkat sekolah dari rumah sakit. Tanara meminta kepada Amara agar mereka memberitahu Rani "Kak sebaiknya Kakak memberitahu kakak Rani, agar ada yang menjaga kak Stella. Zeline kan sekolah, kita menjemput Zeline saja. Inikan masih jam enam, masih sempat untuk kita menjemput Zeline,"
Amara pun setuju dengan ucapan adiknya, karena mereka tidak akan tenang membiarkan Stella sendirian di rumah sakit. Amara tahu jika di luar sudah disediakan beberapa bodyguard tapi itu tetap saja tidak membuatnya merasa tenang. Jika Rani ada di rumah sakit menjaga Stella, Amara dan Tanara jauh lebih tenang dan fokus dengan pelajaran.
"Kak kami pergi dulu ya? Jika sesuatu terjadi atau nenek lampir itu membuat keributan dengan kakak, kakak langsung hubungi Amara atau Tanara ya kak?"
"Iya, kalian jangan khawatir! Kakak bisa menjaga diri kakak sendiri,"
"Tidak kak! Wanita itu sangat jahat! Dia akan mencelakakan kakak seperti kemarin!"
"Amara, Tanara. Kalian tenang saja ya? Yang penting adalah kalian fokus dengan pelajaran sekolah oke?"
Tanara dan Amara mengangguk, mereka berjanji akan fokus dalam pelajaran
Setelah mencium tangan dan berpamitan kepada Stella, Amara dan Tanara pun keluar dari ruangan. Stella memikirkan anaknya Zeline, pasti Zeline mencari keberadaannya. Apalagi ia tidak mengatakan apapun sebelum pergi
"Rani, aku harus menghubunginya!"
Namun saat Stella mencari ponselnya, ia tidak menemukan ponselnya itu. Stella baru ingat jika kemarin malam ia menyimpan ponselnya di laci
"Aku tidak membawa ponsel, bagaimana bisa aku menghubungi mereka sedangkan aku tidak mengingat nomer ponsel mereka?"
Stella hanya bisa pasrah dengan semuanya, ia berharap agar Rani bisa mengatasi Zeline sendiri "Kakak tahu dan percaya, kamu bisa menjaga Zeline. Dan menenangkannya di saat dia merasa kesal atau marah,"
Stella hanya bisa mempercayakan segalanya kepada Rani. ia tidak harus takut, karena sejak bayi Zeline. Rani lah yang menjaga Zeline, lalu untuk apa Stella merasa takut?
__ADS_1