
Stella pun membawa anak nya untuk ke luar dari rumah. Namun, Tanara menghentikan nya.
"Kak, Zeline biar bersama kami saja. Kakak bisa pergi sendiri. Jika kakak mengantar Zeline. Kakak akan terlambat." Stella menoleh ke arah Amara yang tal bergeming sedikit pun, ia nggak mau membuat adik nya merasa tidak nyaman.
Namun, lagi-lagi. Tanpa rasa bosan, Tanara menjelaskan segala nya. Hal itu membuat Stella mengerti.
"Nanti, Tanara yang akan menjemput Zeline juga kak Rani. Biar, Tanara yang mengantar kak Rani juga Zeline ke tempat kerja kakak nanti." ujar Tanara yang penuh lembut dan perhatian, Amara masih diam.
Walau ia tidak menyukai Rani, namun Amara bukan lah orang yang jahat. Ia tak merasa keberatan dengan kebaikan yang di lakukan oleh adik nya.
Stella mengangguk, ketika melihat wajah Amara yang tak ada rasa keberatan sedikit pun.
"Atau kakak barang kita saja." ajak Tanara, Stella tahu. Jika bersama diri nya, Amara tidak akan menyukai hal itu.
Stella pun menolak dengan lembut, ia beralasan jika nanti diri nya akan di jemput oleh Zidan. Tanara yang polos pun mempercayai ucapan kakak nya.
Amara terlebih dulu masuk ke dalam mobil, selanjut nya di ikuti oleh Tanara juga Zeline. Tanara sangat menyayangi Zeline walau keponakan nya itu tidak terlalu dekat pada nya.
*******
Sesampai di sekolah, Zeline pun berjalan sendiri ke ruangan. Mata nya terlihat sangat tidak senang, ya benar saja. Ia melihat pria yang kemarin ia tabrak dengan tidak sengaja. Orang itu tidak lain adalah Aska.
"Om menyebalkan itu lagi." Zeline berjalan dengan begitu gagah nya. Ia pun melewati Aska yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Aska yang berbalik badan, melihat tubuh Zeline yang mungil berjalan mendekati nya. Aska menaikan satu alis nya. Ia mengingat pertemuan awal nya dengan anak itu.
"Tunggu!" panggil Aska tiba-tiba ketika Zeline melewati nya. Zeline pun menghentikan langkah kaki nya.
Ia menoleh ke arah Aska dengan tatapan yang tidak ramah.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya Aska kepada Zeline. Biasa nya, anak-anak lain selalu bersikap ramah dan hormat pada diri nya. Namun, jauh berbeda dengan Zeline. Bahkan, Zeline tidak menganggap Aska ada tepat di hadapan nya.
"Tidak!" dengan santai nya Zeline menjawab, lalu bergegas pergi meninggalkan Aska.
Aska yang melihat sikap Zeline pun merasa begitu penasaran. Aska mengikuti Zeline yang berjalan ke kelas.
Zeline yang merasa di ikuti pun menghentikan langkah kaki nya, ia menoleh ke belakang. Mendongak kan wajah nya ke atas sambil memegang tas ransel kecil yang ia kenakan.
"Kenapa paman mengikuti ku?" ujar nya yang merasa begitu risih.
__ADS_1
"Tuan, anda ke sini?" ujar guru Zeline yang tiba-tiba menyambut hormat Aska. Zeline merasa bingung, mengapa guru nya menyambut pria yang ada di hadapan nya begitu sangat sopan.
"Saya harus mengerjakan sesuatu." ujar Aska dengan dingin, Aska menatap Zeline yang begitu acuh pada diri nya. Tak mau berlama-lama berada di sekolah itu. Aska langsung pergi meninggalkan Zeline dan guru nya itu.
*******
Aska menemui seseorang yang ia hubungi tadi pagi.
Flashback.
Sewaktu, Aska berada di halaman rumah Stella. Ia menyadari jika orang kepercayaan mami nya sedang memantau ia.
Aska segera menghubungi orang kepercayaan nya. Sengaja Aska menyuruh orang tersebut untuk membawa pakaian dan stellan yang serupa dengan diri nya untuk menyamar sebagai diri nya. Agar ketika ia keluar dari sekolah. Orang suruhan sang mami tidak akan menyadari diri nya.
Flashback end!
"Tuan, Ini pakaian yang Anda minta."
"Terimakasih, pasti kan jika dia tidak tahu saya keluar dari sini. Dan, saat mami menghubungi mu katakan jika saya ada meeting dengan client penting membahas tentang sekolah ini."
"Baik Tuan, saya mengerti."
Segera Aska ke ruangan ganti, Zeline pun menatap punggung Aska dari belakang yang semakin menjauh dari pandangan nya.
Seakan Zeline merasa sesuatu di dekat pria itu, namun ia pun tak tahu apa yang ia rasakan.
"Sayang, ayo masuk!" Zeline di kejutkan oleh suara guru yang mengajak nya masuk ke dalam kelas. Zeline mengangguk, dan berjalan di samping guru itu.
Setelah masuk ke dalam kelas, guru meminta Zeline untuk duduk di kursi yang biasa Zeline tempati.
Zeline tak banyak bicara, ia melakukan apa yang di perintahkan oleh guru nya saja.
Hari ini, pelajaran menghitung. Sungguh, hal itu membuat nya merasa bosan. Karena Zeline sudah menguasai pelajaran menghitung, perkalian, pengurangan juga pembagian.
Namun, apalagi yang harus ia lakukan. Ia sudah meminta kepada mama nya untuk bersekolah di sekolah dasar saja. Namun, umur nya belum mencukupi.
"Anak-anak. Apakah kalian tau satu di satu sama dengan berapa?"
Teman-teman yang lain nya masih berhitung, bahkan ada yang menangis karena ketakutan tidak tahu jawaban nya. Zeline yang merasa pelajaran itu gampang, langsung menjawab nya.
__ADS_1
"Dua!" ujar nya dengan santai, guru itu tersenyum kepada Zeline dan memuji nya.
"Bagus, Sayang. Zeline pintar sekali. Jadi, satu di tambah satu sama dengan dua ya anak-anak."
Iya Bu!
Suara sorakan dari teman-teman Zeline pun begitu terdengar, di kuping nya.
Bagi Zeline, itu bukan lah soal yang sulit. Namun, kenapa guru-guru dan teman nya begitu memuji nya.
"Sekarang, ibu ingin mengajarkan kalian untuk membaca ya anak-anak. Siapa di sini yang sudah bisa membaca angkat tangan."
Begitu banyak tangan terangkat ke atas.
"Saya Bu."
"Saya, Ibu."
"Saya belum, Bu."
Begitu banyak jawaban antusias dari teman-teman nya Zeline, Zeline tak menjawab pertanyaan guru nya. Ia hanya diam saja, tak begitu tertarik dengan pelajaran yang begitu membosankan bagi nya.
Zeline mengambil buku dan pensil nya. Ia menulis perkalian di buku nya dengan perasaan senang. Bahkan, Zeline membuat soal dan menyelesaikan bilangan kuadrat.
Guru yang melihat Zeline begitu serius dengan buku nya pun berjalan mendekati Zeline. Ia melihat Zeline yang sedang menulis sesuatu.
"Zeline?" Zeline mendongakkan kepala nya ketika guru memanggil diri nya.
"Iya, Bu?" tanya Zeline dengan sopan.
"Kamu sedang melakukan apa?"
Zeline menggeleng, ia menunjukkan buku yang ia kerjakan. Guru Zeline pun mengambil dan memeriksa coretan yang di kerjakan oleh Zeline. Begitu terkejut nya guru itu, melihat Zeline yang sekecil ini mampu mengerjakan tugas yang belum di pelajari oleh anak kelas satu SD sekali pun.
"Sayang, dari mana Zeline mempelajari ini?"
Apalagi, jawaban Zeline begitu tepat tidak ada kesalahan sedikit pun. Zeline mengatakan jika ia sering belajar di rumah ketika merasa bosan. Zeline hanya sering membaca buku.
"Zeline tidak belajal dari siapa-siapa. Zeline hanya melihat Dali buku saja Bu gulu. Kenapa?" tanya Zeline yang masih bingung, belum mengetahui mengapa guru nya bertanya.
__ADS_1
"Sayang, ini kan masih pelajaran yang lain. Kita belum sampai di sini, sebaik nya Zeline mengikuti apa yang ibu ajarkan saja, nak." ujar guru itu dengan lembut.