
Stella masih memikirkan kemana adik nya pergi, hati nya sangat gelisah. Ia meminta nomer Kimberly kepada Tanara dan mencoba menghubungi nya namun Kimberly tidak menjadi panggilan itu.
Tolong beritahu di mana kau membawa adikku? Aku kakak nya Amara.
Stella mengirimkan pesan kepada Kimberly namun juga tidak ada jawaban. Ia bingung harus mencari Amara kemana. Stella berkali-kali menghubungi Amara namun Amara pun tidak menjawab ponsel nya.
"Kemana kamu dik? Kakak sangat cemas dengan mu, kakak berharap di mana pun kamu berada selalu di dalam lindungan Allah. Dan langkah kehidupan mu tidak memilih jalan yang salah seperti kakak dulu."
Stella sangat takut jika Amara, Tanara, Rani dan Zeline tidak akan mengalami hal seperti nya bahkan sangat jauh dari kehidupan menyakitkan seperti itu.
Ponsel Stella berbunyi, ia mengira itu dari Kimberly atau amara namun dugaan nya salah.
Zidan yang mengubungi nya, Stella pun mengangkat panggilan dari Zidan.
Panggilan Terhubung
*Assalamualaikum, Zidan? ~ Stella
Walaikumsallam, Stella. Bagaimana kabar mu? ~Zidan
Sudah lebih membaik dari sebelum nya ~Stella.
Syukur lah, aku merasa lega dengan itu. Aku ingin mengatakan kepada mu kau tidak perlu datang beberapa hari ini. Istirahat saja di rumah sampai kondisi mu membaik ~Zidan
Aku sudah lebih baik Zidan, bahkan jika kau meminta ku untuk datang. Aku akan kembali ke cafe ~Stella
Tidak Stella! jangan lakukan itu, sebagai bos mu aku memerintah kan kau untuk beristirahat saja di rumah. Aku tidak mau jika kau pingsan seperti kemarin. Itu akan membuat yang lain nya terganggung pekerjaan nya mau pun orang yang sedang makan. ~Zidan*.
Stella pun merasa tidak enak hati kepada Zidan, ia pun meminta maaf karena sudah menyusahkan Zidan..
Zidan menepuk kening nya, Stella salah paham pada nya.
Stella tidak memahami maksud Zidan, ia mengatakan itu agar Stella bisa istirahat yang total di rumah tanpa memikirkan pekerjaan dulu.
Bukan begitu maksud ku! Kau harus istirahat yang total. Jika kau benar-benar fit, karyawan pasti akan semangat kerja nya. Namun, jika atasan mereka lesu mereka akan ikutan tidak bersemangat. ~Zidan.
Baik lah jika begitu mau mu, aku akan datang besok saja. ~Stelka.
Tidak besok! Kau akan datang beberapa hari ke depan. Jangan membantah Stella! ~ Zidan
Mendengar suara Zidan yang begitu serius, Stella tidak berani menolak nya. Ia pun hanya menuruti permintaan dari bos nya itu.
Baik lah, aku akan beristirahat dalam beberapa hari ke depan sampai kondisi ku benar-benar baik. ~ Stella
*Bagus lah, aku matikan dulu ya telepon nya? Assalamualaikum ~ Zidan
Walaikumsallam ~ Stella*.
Panggilan Terputus.
Stella meletakkan ponsel nya di atas meja, ia ingin mencari amara. Namun, Stella tidak tahu harus mencari kemana. Ia membuka ponsel nya kembali, tidak ada jawaban dari Kimberly.
Tidak lama, terdengar suara mobil, Stella melihat dari jendela.. Amara baru saja pulang, Stella dengan cepat berlari turun ke bawah. Ia bertanya kepada adik nya tadi pergi tanpa memberitahu orang di rumah.
"Dari mana saja kamu Amara?"
Amara pun terdiam, ia tak banyak bicara dan begitu malas berdebat dengan kakak nya.
Stella melihat pakaian baru lagi yang di pakai oleh adik nya, baju mahal namun ini sangat tertutup dan longgar jauh dari sebelum nya. Stella pun tersenyum, ia tidak mau memperpanjang masalah ini lagi. Tapi, diri nya juga harus tau dari mana adik nya mendapatkan uang untuk membeli pakaian semahal ini.
Dengan kesal amara menatap kakak nya.
"Kau ini banyak bicara sekali, apakah aku harus menjawab setiap pertanyaan mu itu? Atau memberitahu dari mana aku mendapatkan uang? Tolong jangan ganggu aku! Bisa tidak sehari saja, kau tidak perlu ada di hadapan ku apalagi berbicara dengan ku? Aku muak!" kesal Amara yang berlalu meninggalkan Stella.
Stella menatap kepergian adik nya, Stella tak mau membuat Amara kesal. Ia berfikir jika adik nya memiliki tabungan ,Tanara juga cerita jika dulu Amara bekerja paru waktu. Uang nya pasti Amara simpan sebagian untuk keperluan hidup nya. Dan Stella juga baru memberikan ATM untuk nya, mungkin ia juga membeli dari sebagian uang itu. Namun, Amara malu untuk jujur.
Stella pun tersenyum, ia bahagia karena adik nya tidak memakai pakaian yang begitu terbuka seperti tadi.
__ADS_1
Stella tidak perlu merasa khawatir. Zeline melihat mama nya dari atas. Ia begitu kesal melihat Tante nya yang selalu saja bersikap buruk dengan sang mama.
Ia tidak tahu, mengapa Tante nya selalu bersikap seperti itu kepada sang mama. Namun, jika dengan Tanara jauh berbeda.
Zeline pun memilih untuk masuk ke dalam kamar, ia melihat ada sisi baik dari Tante nya Amara. Karena saat mengantar diri nya sekolah. Amara tidak keberatan jika Zeline duduk di samping nya. Bahkan, ia tidak pernah kasar pada Zeline walau ia tidak berbicara kepada Zeline.
Namun, kenapa kepada mama nya, Stella. Amara sangat kasar bicara nya bahkan tidak memperlakukan sang mama dengan baik.
*********
Kimberly yang membaca pesan dari kakak nya Amara pun tidak memperdulikan hal itu, ia senang karena mendapatkan uang yang sangat banyak.
Ponsel Kimberly kembali berbunyi, ia mengira itu jika kakak nya Amara. Namun, dugaan nya salah. Itu bukan lah kakak nya Amara, melainkan orang suruhan Darren.
Dengan penuh semangat Kimberly mengangkat ponsel itu, ia begitu senang dan merasa jika klien nya sangat puas.
Setelah mendengar ucapan orang itu dari telepon, senyuman di wajah Kimberly berubah menjadi api kemarahan.
Ia pun mematikan ponsel nya, Kimberly sangat kesal.
"Amara!"
Teriak Kimberly dengan kesal, Kimberly membanting ponsel nya ke dinding hingga ponsel itu pecah.
"Bisa-bisa nya kau mempermainkan diri ku, Amara! Kau lihat saja apa yang aku lakukan pada mu besok!"
********
Darren yang sedari tadi mengingat tentang Amara, ia tidak tahu mengapa ia rela menghabiskan uang yang banyak hanya demi bocah ingusan yang begitu tengil.
Padahal, Darren bisa menghabiskan waktu dengan wanita cantik dan sexy kelas atas jika dia mau bahkan bersama model terkenal sekaligus.
"Permisi Tuan, saya sudah melakukan apa yang tuan inginkan,"
"Bagus."
"Apakah tuan menginginkan wanita untuk menemani tuan."
"Apa kau berfikir jika aku ini pria yang kesepian?"
"Tidak tuan, maafkan saya.".
Darren menyuruh orang suruhan nya untuk pergi meninggalkan ruangan nya.
Semenjak pertemuan nya dengan Amara, mampu membuat Darren kehilangan selera untuk bersama wanita lain.
"Seperti nya tuan sedang jatuh cinta." ujar orang suruhan Darren.
Biasa nya Darren akan menghabiskan waktu dengan orang yang berbeda dalam sehari.
**********
Keesokan pagi nya, Zeline bersekolah di antar oleh Tanara.
Zeline ingin masuk ke dalam ruangan nya, namun ia melihat Aska yang sedang termenung di taman.
Zeline memutuskan untuk mendekati Aska, ia pun duduk di samping Aska.
Wajah Aska terlihat sangat berantakan, Zeline menusuk badan Aska menggunakan jari kecil nya.
Aska yang merasakan ada yang menusuk tubuh nya pun menoleh ke arah anak kecil yang ia hibur kemarin.
"Kau? Siapa nama mu kemarin aku lupa."
"Zeline."
"Kenapa kau tidak masuk ke dalam kelas?" tanya Aska kepada Zeline.
__ADS_1
"Tadi nya mau masuk, namun melihat om di sini. Makanya aku menghampili, wajah om sangat jelek."
Aska melihat ke arah Zeline yang mengatakan diri nya jelek, ia melihat Zeline seperti melihat Stella. Hanya Stella yang berani mengatakan diri nya jelek, sekarang anak ini juga mengatakan diri nya jelek.
"Tidak! Aku sangat tampan, mengapa kau mengatakan aku jelek?"
"Kalena cembelut, dan sedih. Makanya jelek. Coba saja Celia dan telsenyum pasti tampan."
Ucapan zeline begitu mirip dengan ucapan Stella, Aska mengingat kembali wanita yang ia cinta. Namun, Aska menepis bayangan Stella yang dengan tega menyakiti hati nya.
"Terserah kau saja."
"Om kenapa di sini? Kok melamun? Mikilin isteli dan anak om?"
Aska semakin sedih, mendengar pertanyaan dari Zeline.
Mungkin jika saja Stella tidak pergi dari nya, ia pasti sudah memiliki isteri dan anak.
Diri nya tidak akan merasa kesepian. Dan akan memiliki keluarga yang sangat bahagia, namun kenyataan tidak seindah yang di bayangkan.
"Om, kenapa diam?"
"Aku belum menikah, namun beberapa hari lagi aku akan menikah."
"Pasti om sangat mencintai nya, sepelti papa ku yang mencintai mama ku."
Aska tersenyum miris, bahkan dia tidak pernah mencintai Lee sedikit pun. Dia hanya menghargai Lee dan menyayangi nya layak nya seorang sahabat tidak lebih.
Aska juga tidak berniat menikah dengan Lee, namun keputusan yang di buat oleh mami nya tidak bisa di tolak atau di hindari oleh nya.
"Kau sebaik nya masuk ke dalam kelas, sebentar lagi akan memulai pelajaran bukan?"
ujar Aska kepada Zeline. Zeline pun menuruti ucapan Aska, ke dua nya memiliki sikap yang sangat dingin. Namun, ke dua nya seakan memiliki batin..Saling perduli satu sama lain, Zeline bukan lah anak yang begitu kepo dengan urusan orang lain.
Namun entah mengapa, melihat Aska bersedih. Seakan hati nya juga merasa sakit. Aska mengantarkan Zeline ke ruangan, siapa pun yang melihat mereka akan tahu jika mereka bapak dan anak.
Ke dua nya juga sangat mirip jika di sanding kan seperti itu, namun tidak ada yang berani mengatakan nya karena Aska adalah pemilik sekolah ini.
Guru-guru pun hanya bisa diam, tanpa mengatakan hal apapun yang membuat atasan mereka marah.
Belakangan hari ini, Aska juga lebih sering menghabiskan waktu di sekolah nya daripada di kantor.
Padahal, pekerjaan dan tanggungjawab nya di kantor lebih banyak dan besar. Dia juga CEO. Namun, Aska lebih memilih di sekolah nya mungkin dengan melihat anak-anak ia melupakan kesedihan nya.
Aska selalu membayangkan kehidupan nya dengan Stella bersama anak-anak mereka, namun harapan nya nya di hancur kan oleh orang yang ia anggap istimewa.
"Om, telimakasih ya? Kalena sudah mengantal kan aku."
"Sama-sama. Belajar lah dengan rajin, buat lah mama dan papa mu bangga."
"Iya, Apa om tahu. Aku sudah mempelajali semua pelajalan sebelum gulu mengajali ku."
Aska tidak terlalu mendengarkan ucapan zeline, ia pun meminta kepada zeline untuk masuk ke dalam ruangan. Zeline meminta kepada Aska untuk masuk ke dalam kelas nya juga.
"Aku tidak bisa, aku bukan lah guru "
"Tapi om pemilik sekolah ini, memang nya kenapa jika om ikut masuk? Tidak ada yang belani memalahi om bukan?"
"Iya, tidak ada namun bukan berarti om harus bersikap seenak nya, om yang membuat peraturan itu. Om tidak akan bisa mengingkari nya. Biarkan Guru-guru melakukan tugas mereka, dan kalian para murid belajar lah dengan baik jangan menyusahkan guru kalian. Apa kau mengerti ze?"
"Mengelti om."
"Bagus, kau memang anak yang sangat ze. Aku senang bisa bertemu dengan mu."
"Aku juga senang beltemu dengan om. Zeline mengila jika om sangat menyebalkan namun telnyata tidak. Om baik, bahkan membela ku. Tapi, kenapa om membuat pelatulan sepelti itu."
"Kau masih terlalu kecil, jangan membahas hal yang di luar nalar mu. Tugas mu hanya lah belajar dengan baik. Jika kau sudah dewasa, kau akan mengerti."
__ADS_1
"Baik lah, om."
Zeline pun masuk ke dalam kelas, setelah memastikan Zeline duduk di kursi nya Aska pun pergi meninggalkan Zeline.