
"Un-untuk apa kau ikut? Jika kau ikut, Amara akan semakin kesal melihat wajah mu." bohong Dio kepada Darren.
"Aku akan di dalam mobil saja melihat nya dari jauh. Aku tidak akan menampakan wajah mu pada nya dengan itu dia tidak akan kesal lagi padaku."
Dio menghela nafas nya dengan kasar, tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Darren.
Kini, Darren seperti anak kecil saja.
Tak heran dia bersikap seperti bocah karna kekasih nya juga bocah."
Darren mengerutkan dahi nya, ia heran mengapa Dio tertawa seperti itu "Mengapa kau tetawa?" tanya Darren penuh selidik. Dio hanya menggeleng ia tak berniat untuk menjawab. Jika ia menjawab, Darren pasti akan kesal dan marah pada nya.
Dio ingin drama hari ini segera berakhir. Diri nya sungguh lelah dan ingin merebahkan badan nya di kasur yang sangat empuk.
******
Tanara yang tidak bisa tidur siang karena membayangkan kejadian tadi di sekolah pun memutuskan untuk duduk bersantai di halaman rumah nya.
Ia ingin merelax kan pikiran nya itu, Tanara ingin sekali ke salon. Pasti rasanya sangat enak di pijit oleh karyawan salon itu.
Tanara senyum-senyum sendiri walau ia ingin, dirinya tidak mau meminta kepada kakak-kakak nya.
Tanara tahu, jika kakak-kakak ya sudah melakukan banyak pengorbanan untuk diri nya.
Rani yang melihat Tanara melamun seorang diri pun mendekati Tanara.
"Tanara, kenapa di luar?" Tanara menatap Rani. Dan meminta kepada Rani untuk duduk di sebelah nya.
Ia mengingat ucapan kakak nya, untuk memperlakukan dan menyayangi Rani seperti Tanara menyayangi Stella dan Amara tanpa membedakan nya.
Tanara langsung memeluk Rani ketika Rani duduk di samping nya.
"Kakak."
Rani merasa terharu, melihat Tanara memeluk nya dan memanggil nya kakak.
Rani meneteskan air mata nya. Ia pun membalas pelukan Tanara.
"Kakak terimakasih ya karena Kakak selalu melindungi dan menjaga kak Stella dan juga Zeline. Jika tidak ada kakak mungkin kakak ku akan mengalami hal-hal sulit nya sendiri. Kakak selalu mensuport kakak Stella dan juga Zeline."
Tanara memeluk Rani dengan tulus Rani pun merasakan ketulusan Tanara
Semenjak Rani datang ke rumah ini bersama Stella. Hubungan kedua nya tidak terlalu baik. Apalagi ucapan Rani yang selalu asal ceplos kepada kakak nya Amara.
Membuat Tanara tidak suka, ia bukan membenci namun Tanara hanya tidak suka jika ada orang yang berbicara buruk tentang kakak-kakak nya. Bukan nya ia lebih membela Amara ketimbang Stella.
Namun, menurut Tanara ke dua nya sedang salah paham saja dan Tanara yakin perlahan-lahan hubungan ke dua nya akan segera membaik seperti dulu.
"Kakak adalah adik dari kakak ku, berarti kakak juga kakakku." ujar Tanara. Rani yang merasa terharu meneteskan air mata nya.
Ia tak menyangka jika Tanara mau menerima nya bahkan menanggap nya sebagai kakak.
"Sekarang, Tanara mempunyai tiga kakak. Kakak Stella, kak Rani juga kakak Amara. Tanara senang sekali mempunyai kakak-kakak yang luar biasa seperti kalian."
"Kakak juga merasa beruntung di pertemukan oleh keluarga sebaik kalian yang dengan lapang dada menerima keberadaan kakak."
"Iya kak, kakak juga sangat berjasa pada kak Stella dan Zeline. Lagipula, ikatan tidak harus tentang sedarah atau sekandungan."
Rani mengangguk, rasanya ia tidak ingin mencari tahu keberadaan keluarga kandung nya. Karena ia sudah merasakan kasih sayang yang cukup dari keluarga Stella.
Rani dan Tanara saling melepaskan pelukan satu sama lain, mata mereka tertuju pada suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Rani bertanya-tanya siapakah yang datang berkunjung di rumah mereka.
"Siapa yang datang?" tanya Rani kepada Tanara. Tanara pun menggelengkan kepala nya. Ia mengamati orang yang turun dari mobil.
Itu adalah paman dan bibi nya. Adik dari sang mama yang begitu serakah akan warisan.
Amara dan Tanara kekurangan uang karena paman dan bibi mereka sudah mengambil uang peninggalan orang tua mereka tak tersisa.
Hanya tinggal rumah ini yang tersisa. Tanara tahu jika orang tua nya sudah menabung dan menyiapkan masa depan untuk mereka. Namun, di rampas begitu saja oleh keluarga mereka yang serakah dan begitu rakus.
Tanara lari ke dalam rumah, Rani mengejar Tanara yang masuk ke dalam rumah dengan wajah ketakutan.
Kakak! kakak!
Tanara berteriak dengan begitu panik, mendengar teriakan dari adik nya Tanara.
Stella dan Amara segera ke luar dari kamar, dan berlari menuruni anak tangga.
"Ada apa, Tanara? Kenapa kau ketakutan seperti ini?" ucap Stella yang memegang pipi adik nya, ia langsung mendekat kan kepada Tanara dalam pelukan nya.
Dengan tenang, Stella menenangkan Tanara yang ketakutan.
Amara ingin melihat ke depan, ia melihat Paman dan Bibi yang serakah datang.
Stella melihat ke arah Amara, Sama seperti Tanara. Amara begitu ketakutan melihat wajah paman dan bibi mereka.
__ADS_1
Ternyata, Amara dan Tanara sering di aniaya sampai babak belur oleh adik dari mama mereka.
Mereka sempat tinggal dengan adik mama mereka. Mereka mengira jika paman dan bibinya akan menjadi pengganti orang tua untuk mereka. Namun, kenyataan nya. Mereka menjadikan Tanara Dan Amara seperti babu
Sering di kasih makan yang tidak layak dan hampir Basi. Bahkan mereka sering di pukuli menggunakan rotan yang besar sampai rotan itu patah-patah.
Ke dua nya bisa terbebas kan karena Amara meminta tolong kepada para tetangga untuk menolong diri ya.
Uang nya tetangga mereka sangat baik, jadi nya Tanara dan Amara bisa di selamat kan.
Paman dan Bibi nya tidak berani datang namun sekarang secara tiba-tiba mereka datang.
Stella perlahan mendekati Amara, ia langsung memeluk ke dua adik nya.
Walau Stella belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Stella yakin, jika paman dan bibi nya telah melakukan sesuatu kepada mereka. Hingga membuat Amara dan Tanara ketakutan seperti ini. Amara juga tidak ada penolakan saat Stella memeluk diri nya.
Terlihat jelas jika Tanara dan Amara sangat ketakutan, Stella menatap paman dan bibi nya.
"Oh kamu sudah kembali."
"Iya, Tante."
"Nggak perlu basa basi, kalian harus keluar dari rumah ini!"
"Loh memang nya kenapa? Kenapa kami harus meninggalkan rumah ke dua orang tua kami."
"Tidak perlu banyak tanya, lebih baik kalian pergi angkat kaki dari sini!"
"Tidak!"
"Jangan melawan atau."
"Atau apa? Kalian mau memukul ku? Atau membunuh ku?" Stella menunjukan layar ponsel nya. Saat ini Stella sedang bervideo call dengan teman nya yang polisi
Kebetulan, saat ini teman Stella sedang berdinas dan memakai seragam nya. Membuat Paman dan Bibi mereka terdiam tak berani berkutik.
"Kalian itu paman dan bibi kami, tapi kalian datang seperti seorang perampok saja." Tanara menangis di pelukan Stella.
Mengapa kedua adik nya begitu trauma melihat keluarga dari mama mereka.
"Ini rumah kakak ku, aku yang berhak atas warisan nya bukan kalian!"
Mendengar itu Stella tertawa geli, mengapa bisa dengan tidak malu nya bibi mereka mengatakan itu.
Sebenar nya Stella tidak ingin bersikap kurang ajar kepada adik dari mama mereka. Namun, melihat ketakutan dari kedua adik nya membuat Stella yakin jika adik-adik nya mendapat kan perilaku yang tidak baik.
"Untuk apa kau kembali? Kau memutuskan pergi dan sekarang kau datang membawa anak haram mu itu!"
"Kapan aku datang atau pergi, itu bukan urusan kalian! Dan kalian harus ingat, anakku bukan anak haram! Kalian mengerti!"
Hahahaha!
Suara tawa yang menggema di ruangan itu, paman dan bibi nya menertawakan Stella.
"Sudah jelas kau hamil dan melahirkan di luar nikah, apa nama nya jika bukan anak haram?"
Byur!
Tubuh paman dan bibi nya Stella basah karena di siram oleh Rani. Rani tidak terima jika Zeline di hina seperti itu, untung saja Zeline tidak Ada dan sedang tidur di kamar.
Haha rasakan itu!
Ledek Rani kepada paman dan bibi nya Stella. Paman dan Bibi nya setelah begitu kesal dan bertanya siapa Rani.
"Siapa kau? Berani sekali menyiram kami. Aku dan suami mu adalah pemilik rumah ini."
Rani melepaskan sendal nya, dan melempari ke arah paman dan bibi nya Stella "Aku tidak perduli siapa kau, tapi aku perduli saat kau menghina Zeline ku. Aku akan membalas mu!"
Rani kembali menyirami paman dan bibi mereka dengan Air, Amara, Tanara dan juga Stella tertawa melihat pemandangan itu.
bukan nya mereka kurang ajar dan tidak tahu sopan santun, namun paman dan bibi mereka memang Pantas mendapatkan itu semua. Mereka bukan lah orang yang baik.
"Lebih baik kalian pergi dari sini! Jangan datang lagi, kami sangat tidak menginginkan kedatangan kalian."
"Kurang ajar! Berani nya kau orang asing?"
"Yang di katakan oleh Rani memang benar. Lebih baik kalian pergi saja, kalian tidak dibutuhkan oleh kami, dan Rani bukan lah orang asing. Namun, kalian yang seperti perampok datang ke sini!" ujar Stella dengan tegas, entah keberanian dari mana Stella bisa melawan orang-orang yang sudah menghina keluarga nya.
Stella mengatakan kepada adik-adik nya untuk tidak perlu takut dengan orang seperti mereka.
"Jangan takut, kakak ada di sini untuk kalian."
Amara melepaskan pelukan nya dari sang kakak, setelah bertahun-tahun ini pertama kl pelukan hangat dari kakak nya.
Amara yang malu segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar nya.
__ADS_1
Tanara pun mengajak kakak nya untuk duduk, Tanara juga menjelaskan segala nya. Sambil menangis Tanara menyaksikan hal yang menyakitkan seperti itu.
Sebenar nya Amara mau pun Tanara ingin mengubur kenangan pahit mereka dalam-dalam. Namun, kehadiran paman dan bibi nya membuat mereka mengingat kenangan buruk itu.
Stella menenangkan Tanara. Mengatakan jika semua akan baik-baik saja "Kakak sudah bersama kalian, tidak akan ada apapun yang terjadi pada kalian. Percaya kepada kakak! Kakak sangat menyayangi kalian. Kakak akan menjaga kalian mulai sekarang dan tidak akan kakak barkan kesulitan menghampiri kalian."
Tanara mengangguk, Stella menghapus air mata adik nya. Ia meminta Tanara untuk kuat, dan tidak boleh lemah.
Di antara mereka, hanya Tanara yang memiliki sifat begitu tenang bagaikan air.
Sebenarnya Stella juga bagaikan Air yang sangat tenang, namun jika ada yang menggangu keluarga nya. Ia akan menjadi badai yang akan menghancurkan segala nya.
Jangan meremehkan orang pendiam dan sabar. Jika mereka marah, bahkan mereka bisa menghancurkan sebagian isi semesta ini.
Amara yang kembali ke kamar nya masih merasakan pelukan hangat yang di berikan oleh kakak nya tadi. Hati Amara mulai tersentuh, namun mengingat kembali kisah hidup nya yang menyedihkan bersama Tanara membuat nya kehilangan akal.
"Kenapa!" teriak nya.
Amara membanting barang-barang yang ada di kamar nya, termaksud ponsel nya tersebut.
Ponsel Amara pecah, Amara tidak memperdulikan itu. Andai nya sebesar Tanara sang adik..Mungkin ia akan memaafkan kakak nya.
********
Setelah mengantar Lee pulang, Aska kini menyendiri di kamar nya. Ia melihat langit-langit kamar nya dan termenung.
Aska tidak sabar dengan hari esok, ia akan segera mengetahui kebenaran yang ada. Jika Stella sudah menikah, seharusnya suami Stella juga bersama mereka.
Aska akan bertemu dengan suami Stella kembali, ia akan bertanya kepada suami Stella terlebih dahulu sebelum melakukan tes DNA.
Mungkin saja, suami nya Stella juga tidak mengetahui kebenaran yang ada atau memang menutupi nya.
Aska mengingat enam tahun yang lalu, saat Aska bertemu dengan Stella di luar kota.
Suami nya tidak terkejut sama sekali, bahkan dia hanya diam saja. Tidak ada pembelaan sebagai seorang suami kepada isteri nya.
Mereka juga terlihat sangat kaku, dan tegang. Bagaikan orang asing, dan suami Stella tidak marah saat Aska mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Stella.
Tidak ada suaami yang diam saja melihat isteri nya di hina oleh orang lain.
Di sisi lain, ada Lee yang terlihat sangat kesal. Ia tidak bisa membayangkan jika benar anak itu adalah anak nya Aska.
Dia akan merawat anak itu, tidak! Lee tidak menyukai anak-anak bahkan dia sendiri tidak ingin memiliki anak bagaimana bisa dia mengurus anak orang lain.
Lee mencari cara, agar itu semua tidak terjadi. Lee tersenyum licik. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencegah terjadinya tes DNA.
Dia akan membantu Stella untuk menghindari Aska dan Xiu. Jika Stella membawa anak nya pergi yang jauh dari kota ini. Aska dan Xiu tidak pernah tau siapa ayah dari anak nya Stella.
Lee tidak mau jika Stella menggeser posisi nya menjadi nyonya Aska.
Lee sudah bosan hidup yang serba pas-pasan. Saat ini, Aska memang memenuhi segala kebutuhan nya. Namun, bagaimana jika dia kembali kepada Stella.
Lee akan kehilangan kemewahan itu, Lee tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Ia pun akan melakukan segala cara walau harus sampai membunuh Stella dan juga anak nya.
Kau melakukan hal yang salah telah kembali ke sini. Aku akan membawa mu menemui ke dua orang tua mu di syurga. Lihat saja! Kau tidak akan bisa menggantikan posisi ku wanita kampung!
Lee melihat penampilan Stella yang begitu tidak modis. Sangat kampungan, tapi Lee mengingat kata pepatah untuk tidak meremehkan lawan.
Dulu, Aska juga mencintai Stella. Aska tidak pernah melihat fisik atau pun penampilan Stella.
Stella jauh lebih cantik dari Lee, mau fisik maupun hati..Namun, Stella hanya kalah di bagisn fashion saja.
Lee lebih pintar merias wajah nya dan memilih pakaian-pakaiaan yang kelihatan mahal tidak seperti Stella yang hanya memakai badak dan lipstik saja saat bekerja.
Namun, itulah hal yang membuat Aska jatuh cinta pada nya.
Stella tidak pernah bergaya yang terlalu berlebihan, ia pun lebih menyukai hal yang sederhana dan natural.
Lagipula, Stella tidak memiliki waktu untuk bermake-up. Dia harus mengurus anak dan adik-adik nya sebelum berangkat bekerja.
"Apa yang telah kau lakukan Stella hingga berhasil membuat Aska selalu mengejar mu padahal kau sendiri yang memutuskan pergi dari nya." kesal Lee
Ingin sekali Lee menghabisi nyawa Stella agar dia tidak merusak segala rencana nya. Namun, Lee tahu jika ia msmbutuh Stella sekarang dan Stella mati.
Aska semakin tidak akan menikahi nya Karena akan merasa kehilangan Stella.
Rencananya akan semakin gagal. Lee sudah cukup lama bersabar dan menunggu, namun sekarang tidak lagi!
Lee akan melakukan segala cara agar Aska tetap menikahi nya apapun yang akan terjadi.
Lee sudah berencana akan membuat jebakan untuk keluarga Aska agar mereka tetap menikahkan Aska dengan diri nya..
Lee begitu terobsesi untuk menikah dengan Aska. Padahal ia sendiri tidak begitu mencintai Aska.
Lee hanya ingin uang dan kekayaaan aska saja, dia mencintai Aska namun lebih mencintai harta Aska.
__ADS_1