Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Memberikan Contoh


__ADS_3

Laras yang masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal pun di tenangi oleh Stella.


"Kamu seharusnya tidak perlu begitu, kasihan mereka jika kamu marahi." tegur Stella dengan nada yang lembut, Laras tak habis pikir padahal yang di cemooh adalah Stella. Dan ia membela Stella, namun Stella seakan merasa biasa saja.


Tidak marah sama sekali, Laras memikirkan hati bos nya terbuat dari apa.


"Bu, tapi mereka sudah berkata hal buruk tentang ibu, kenapa ibu tidak marah dan sesantai ini?"


"Ini di luar kantor, panggil saja aku Stella. Lagipula, kamu lebih tua dari ku."


Laras membuang nafas nya dengan kasar, ia tak ada pilihan selain mengikuti ucapan atasan nya yang begitu keras kepala itu.


"Baik lah, Stella. Mereka sudah mengatakan hal buruk kepada mu, kenapa kau tidak marah sama sekali?"


"Sudah lah, biar kan saja! Aku sudah terbiasa dengan cemoohan seperti itu. Lagipula, mereka hanya menilai dari luar nya saja. Dan apa yang mereka katakan juga tidak sepenuh nya salah, aku tidak sebaik yang terlihat."


Laras tak mengerti apa yang Stella katakan, tapi yang ia tahu. Atasan nya itu orang yang sangat baik, terutama kepada para karyawan. Jadi, mereka tidak berhak menghina atasan mereka hanya karena satu kesalahan yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana kebenaran nya.


Stella hanya tersenyum saja, memang. Ucapan orang-orang begitu sangat menyakitkan bagi nya, namun jauh lebih menyakitkan ucapan Aska tadi pagi.


Aska bukan hanya menyakiti hati nya, namun juga sudah membuat ia merasa begitu rendah di hadapan banyak orang.


Enam tahun belakangan ini, Stella selalu belajar ikhlas dan sabar. Ia tidak mau kebawa emosi yang akan membuat diri nya akan hancur. Tujuan nya hanya pada anak dan ketiga adik-adik nya tidak ada yang lain.


Laras mengatakan kepada Stella, untuk bisa lebih tegas menghadapi orang-orang yang sudah menghina diri nya.


"Maaf jika saya lancang, namun. Jika bukan kamu yang membela kehormatan mu, siapa lagi? Mereka akan terus saja seperti itu bahkan semena-mena. Aku akui, kamu memang adik an ku dan kamu yang ter-muda dari kita semua. Tapi, di cafe. Kamu adalah atasan kami, kamu yang berkuasa. Jangan biarkan para bawahan menindas diri mu."

__ADS_1


Stella begitu senang, karena Laras begitu sangat perhatian pada nya. Selama ini, hanya anak dan adik-adik nya saja yang mendukung diri nya. Juga Azriel, melihat Laras. Ia mengigat teman lama nya Azriel.


Azriel juga orang yang selalu ada untuk diri nya, bahkan di saat masa-masa ia terpuruk sekali pun.


"Apa kau tahu kak? Dulu, aku juga memiliki sahabat yang sangat baik dan pengertian seperti mu. Namanya Azriel, dan aku juga memiliki adik angkat yang begitu manis. Walau usia nya begitu sangat muda, namun ia sama seperti mu. Tidak akan tinggal diam jika ada orang lain yang menghina diri ku."


"Ohiya?"


Stella mengangguk, kini percakapan Stella dan Laras tidak canggung, sudah seperti teman biasa.


"Di mana mereka sekarang?"


"Rani ada di rumah ku, sampai sekarang dia selalu menjaga dan membantu ku. Nah, Rani itu gadis yang kemarin datang bersama anakku Zeline."


"Dia adik angkat mu? Bahkan dia tidak terlihat seperti adik angkat mu. Aku berfikir, jika dia adalah adik kandung mu. Karena, terlihat anak mu begitu dengan dengan nya ketimbang dengan yang satu lagi mengantar mereka."


Laras pun sedikit demi sedikit, mengetahui tentang kehidupan Stella.


"Lalu? Kau membawa Rani bersamamu? Sungguh kau orang yang sangat mulia, sebab itu Rani pasti akan menjaga kalian. Dia akan membalas Budi perbuatan mu."


"Tidak, dia begitu bukan karena kebaikan ku. Tapi, karena dia menyayangi ku dan anakku dengan tulus. Aku tidak sebaik itu, terkadang aku juga sering memarahi nya."


Bahkan di saat begitu, Stella tidak ingin di puji karena kebaikan nya.


"Dan kau, apakah memiliki adik?" tanya Stella kembali kepada Laras, Laras terdiam. Ia pun merasa sedih, Stella yang tak enak hati langsung meminta maaf kepada Laras.


"Ma-maaf kan aku, jika pertanyaan ku membuat mu sedih kak."

__ADS_1


Laras menatap Stella lalu tersenyum, ia pun mengatakan jika itu bukan lah kesalahan Stella.


Tak terasa, mobil sudah terhenti di parkiran pasar. Ke dua nya tertawa, karena keasyikan mengobrol sampai tidak sadar jika sudah berada di daerah pasar.


Supir juga tidak berani menegur, karena takut jika Stella atau Laras marah hingga memecat diri nya.


"Pak, jangan takut. Kita nggak makan orang kok, apalagi bu Stella. Dia begitu sangat lembut, jangan kan memarahi bapak. Menegur saja tidak akan berani." ledek Laras kepada Stella. Kini, Laras tak merasa canggung lagi untuk bercanda kepada atasan nya..


Stella juga merasa sangat senang, karena Laras memperlakukan kan nya layak nya teman. Bukan seperti bos, karena hal itu membuat Stella merasa tidak nyaman.


Jika bukan karena Zidan pemilik cafe tersebut, mungkin saat ini Stella hanya lah seorang waiters atau mungkin hanya karyawan bagian bersih-bersih saja. Apalagi, diri nya hanya memiliki ijazah tamatan SMA. Sangat sulit, jika menjadi manager di jaman sekarang.


Ke dua nya segera turun dari mobil, menuju dalam pasar. Kini, Stella sudah memiliki langganan jadi mereka tidak perlu memutari pasar lagi seperti awal berbelanja.


Hanya tinggal datang, dan memberikan uang lalu mengambil barang belanjaan. Karena Stella sudah menghubungi penjual nya terlebih dahulu. Jadi, mereka tidak harus membuang banyak waktu di dalam pasar.


"Terimakasih banyak, Bu." ujar Stella yang tersenyum ramah kepada penjual, ia pun memberikan beberapa lembar uang merah kepada sang penjual.


"Sama-sama neng cantik." Stella dan Laras pun berpamitan, walau hanya sebagai penjual dan pembeli. Kedua nya memiliki tata Krama yang begitu bagus, mereka menghormati orang yang lebih tua.


Stella pun mengajak Laras untuk kembali ke dalam mobil, seperti biasa. Mereka selalu mandiri membawa barang belanjaan tidak membebani supir lagi.


Laras berharap, jika sampai di cafe ia tidak perlu melihat wajah Rini lagi. Diri nya tak ingin, Stella melihat keributan yang terjadi. Bukan nya Laras lupa diri kepada teman nya, namun ia harus bersikap tegas. Agar tidak ada lagi karyawan lain yang memiliki sifat seperti Rini.


Ini juga ia berikan contoh kepada para karyawan nya, untuk tidak ikut campur dalam masalah pribadi orang lain jika itu tidak terlalu penting atau orang yang bersangkutan tidak meminta nya.


*******

__ADS_1


__ADS_2