
"Saya memahami kegelisahan kalian, dan sekarang kalian jangan khawatir. Biar ini menjadi urusan saya, dan jangan bertindak apapun!"
Stella kaget mendengar ucapan Darren "Tuan, apa anda yakin bisa mendapat kan anak saya? Tolong tuan, saya tidak sanggup berpisah dari anak saya! Saya sangat menyayangi anak saya. Saya bisa gila jika tidak ada Zeline!"
"Kendalikan diri anda nona, jika anda merasa khawatir maka mereka akan merasa seperti itu juga! Tenang saja, Amara sudah menjelaskan semuanya kepada saya."
"Apa yang akan anda lakukan?"
Darren menghela nafas panjang "Saya lelaki sejati, dan lelaki sejati tidak bisa berjanji. Namun akan berusaha membuktikannya!"
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan semua orang
"Cih, sombong sekali dia! Dia tidak tahu apa sedang berurusan dengan siapa! Dasar om-om tidak waras?"
Amara menggerutu kesal, bagaimana bisa Darren sangat yakin padahal ia sendiri tidak tahu siapa lawannya sekarang.
Amara semakin kesal saat Darren mengabaikannya. Bahkan tidak berpamitan "Sangat tidak sopan sekali?"
__ADS_1
Lagi dan lagi, Amara menggerutu kesal namun ia juga senang karena Darren bisa stay untuk keluarganya. Padahal Amara tidak mengatakan apapun, namun dengan sikap lelaki itu langsung kerumah mereka
******
"Wah besal sekali, ini Kamal Zeline?"
"Iya sayang, ini kamar kamu!" Zeline tercengang, ia berpikir jika rumah mamanya sudah sangat besar. Namun rumah papanya sepuluh kali lipat lebih besar dan kamarnya juga tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya dan ia pun tidur berdua dengan maminya
"Cantik sekali Oma!"
"Iya nak, ini Oma rancang khusus untuk kamu," dinding yang dipenuhi oleh gambar Princess dan juga di lengkapi dengan fasilitas yang lengkap
"Zeline senang?" Anak kecil itu mengangguk, ia masih tercengang menikmati pemandangan kamarnya yang begitu indah.
"Oma, apakah mama boleh mama ke sini? Mendengar pertanyaan cucunya membuat senyuman Xiu memudar. Namun ia tidak boleh terlihat marah, ia pun memberikan senyuman palsu "Tentu saja boleh dong sayang! Kenapa tidak? Tapi masalahnya, mama kalian yang tidak mau hiks"
"Oma, kenapa menangis?"
__ADS_1
"Oma sangat menyayangi mama kamu, namun mama kamu pergi meninggalkan papa kamu tanpa kesalahan yang jelas. Bahkan mama kamu memisahkan kamu dari kami,"
Xiu memasang sandiwara agar cucunya membenci wanita yang ia tidak suka itu. Ia ingin hak asuh Zeline jatuh kepada anaknya Aska.
"Tapi, kenapa mama pelgi."
"Oma tidak tahu sayang, kami selalu mencari keberadaan kamu. Tapi mama kamu selalu saja menutupi kamu, dan mengatakan kamu telah tiada,"
"Apa? Mama Mengatakan jika Zeline sudah meninggal?"
Xiu mengangguk dengan isakan tangis, Zeline merasa kecewa dengan tindakan mamanya mengaoa mamanya sampai berbohong seperti itu.
"Kamu lihat, bahkan mama mu sellau bersikap kasar kepada papa dan Oma. Oma pun tidak mengerti, Oma sangat sedih sekali, namun Oma senang. Karena kamu ternyata masih hidup, kamu bisa berkumpul dengan kami di sini,.dan oma bisa merawat kamu!"
"Oma, tapi Zeline tahu mama zeline. Mama Zeline itu baik, dan enggak mungkin mama zeline seperti itu,"
"Tapi itu kenyataannya nak! Jika tidak, mungkin mama dan papa kamu sudah menikah kalian hidup bersama. Jika kamu tidak percaya, sebentar Oma akan menunjukkan sesuatu kepada kamu."
__ADS_1
Xiu keluar dari kamar cucunya untuk memberikan sesuatu