Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Bersikap dewasa


__ADS_3

Tanara yang sangat kesal dengan sikap Rani pun merasa jika kakak nya Stella mengambil keputusan yang salah dengan menyuruh orang asing tinggal bersama mereka. Di dalam mobil, Tanara merasa sangat kesal. Amara yang melihat adik nya itu pun bertanya apa yang terjadi. Tanara hanya menggelengkan kepala saja, walau dia tidak menyukai sikap Rani. Tanara nggak mau memberitahu sang kakak. Agar tidak ada lagi keributan yang terjadi di dalam rumah mereka.


"Kak, nanti kita jalan-jalan dulu yuk?"


"Oke, lagian kakak juga malas pulang ke rumah. Apalagi, ada anak kampungan itu."


Tanara mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas tentang orang rumah.


"Dek, kamu tau nggak. Semenjak kedatangan mereka, rasanya tidak ada ketenangan sedikit pun di rumah. Kakak lebih suka kita tinggal berdua aja, tanpa ada mereka."


"Kak, kak Stella itu kakak kita. Dia juga berhak atas rumah itu, kita nggak bisa ngelarang kak Stella. Lagipula, hanya kak Stella dan anak nya yang kita punya saat ini. Tanara tahu, dan yakin. Kakak bisa menjaga Tanara dan rumah dengan baik. Tapi, kakak masih sekolah. Kakak juga harus fokus untuk diri dan masa depan kakak sendiri. Setidaknya, dengan ada kak Stella, kita akan lebih tenang. Ada yang memerhatikan kita."


"Bagaimana hal yang membuat kamu bahagia, kakak ada mendukung. Tapi, kakak nggak mau kalau kamu maksa, maksa kakak harus bersikap baik atau baikan dengan mereka. Jangan paksa kakak, bisa kan?" Tanara pun mengangguk mengerti, dia juga tak mau memaksa kan kehendak terhadap kakak nya tersebut.


*******

__ADS_1


Di rumah, Stella sedang bersiap-siap. Ia ingin mencari pekerjaan agar secepat nya bisa mendaftar kan sekolah Zeline.


"Kakak mau kemana?" tanya Rani yang masuk ke dalam kamar Stella.


"Kakak mau mencari pekerjaan, nggak mungkin kakak terus-terusan di rumah. Zeline juga harus sekolah, dan biaya kebutuhan kita yang lainnya. Kamu tolong jaga Zeline ya? Jangan kemana-mana. Kalian bisa ke perpustakaan keluarga untuk membaca buku."


"Baik kak."


"Mama."


"Iya, Zeline?"


"Mama mau mencari kerja, Sayang. Kamu bersama kak Rani ya di rumah?"


"Iya, Ma. Zeline akan belsama mami."

__ADS_1


Zeline masih saja berkeras untuk memanggil Rani dengan sebutan mami.


"Baik lah, Jangan menyusahkan mami mu ya nak? Kalian membaca buku aja di perpustakaan."


"Iya, Ma. Zeline juga suka membaca buku. Selu sekali, dan membuat hati Zeline menjadi gembila. Mami juga sekalang suka membaca buku."


"Benar kah?" Stella merasa begitu semangat mendengar Rani yang mulai mau membawa buku.


"Iya, Mama."


"Ya sudah, mama pergi dulu ya nak? Doa kan Mama segera mendapat kan pekerjaan. Setelah itu, mama akan mendaftar kan sekolah untuk Zeline."


"Benel ma?"


"Iya, Sayang."

__ADS_1


"Telimakasih mama, Zeline sayang mama."


Zeline memeluk Stella dengan erat, Zeline begitu bahagia memiliki ibu seperti Stella. Begitu juga Stella yang sangat bahagia memiliki anak sebaik Zeline. Walau ia tidak mempunyai seorang ayah, tapi Zeline tidak pernah mempertanyakan di mana keberadaan dan siapa ayah nya. Walau begitu banyak cibiran dari orang-orang tak membuat Zeline merasa sedih atau marah pada ibu nya. Bahkan ia selalu menjaga dan membela sang ibu jika ada orang yang membuat Mama nya menangis dan menyakiti mama nya. Umur Zeline memang masih lima tahun. Namun, Zeline anak yang sangat pintar dan selalu bersikap dewasa


__ADS_2