
Sesampainya di cafe. Laras masih melihat Rini yang berdiri di depan pintu selamat datang cafe.
Rini segera menghampiri Stella dan meminta maaf. Rini pun memanfatkan kelembutan dan kebaikan Stella.
"Bu, maaf kan saya. Saya dengan lancang menghina ibu tadi. Saya akan berjanji tidak akan mengulangi nya tapi saya mohon jangan pecat saya." Rini memasang tangisan palsu nya, Stella bingung dan kaget saat Rini berlutut di hadapan nya.
Spontan Stella langsung mundur, ia pun mencoba membantu Rini untuk bangkit.
"Sial! Jika aja kau bukan bos, aku tidak akan sudi di pegang oleh wanita ****** seperti mu!" batin Rini.
Benar memang, Rini manusia yang memiliki muka dua. Di depan dan di belakang sangat berbeda, ia sangat membenci Stella. Namun, bersikap baik dan memelas di depan Stella.
"Bu, tolong jangan pecat saya."
"Tidak! Saya tidak memecat mu, siapa yang memecat mu?" ujar Stella yang bingung, ia menoleh ke arah Laras meminta jawaban.
Dengan tegas Laras menjawab jika diri nya yang memecat Rini atas persetujuan dari Zidan. Stella semakin kaget, ia tak menyangka jika Laras akan berbuat hal sejauh ini untuk diri nya.
"Laras, kita harus bicara." pinta Stella kepada Laras, Laras pun menunduk mengangguk, ia begitu sangat menghormati Stella walau tadi mereka sudah begitu dekat. Dia pun tidak mau bersikap semau nya.
Laras mengikuti Stella dari belakang yang berjalan menuju ruangan.
Di dalam ruangan, Stella menutup pintu nya. Ia juga tidak mau mempermalukan Laras di hadapan karyawan yang lain.
"Kak, maksud nya apa? Kenapa kau memecat mereka?"
"Maaf Bu, saya harus melakukan itu demi keamanan cafe kita."
"Keamanan bagaimana? Kamu tahu itu bukan lah masalah yang besar, mengapa harus sampai memecat nya? Jika kamu memecat dia, bagaimana kehidupan nya? Mungkin saja, dia adalah tulang punggung keluarga nya."
__ADS_1
Yang di katakan oleh Stella memang ada benar nya, walau Rini memiliki sifat yang tidak baik, namun ia tulang punggung keluarga. Ibu nya meninggal sejak melahirkan Adik nya. Ayah nya sudah menikah lagi dengan orang lain, dan melupakan mereka setelah memiliki keluarga baru.
Laras terdiam, Stella mengambil nafas dengan perlahan. Ia pun tersenyum, memegang pundak Laras. Laras menatap mata indah milik Stella.
Sekali lagi, Stella memberikan penjelasan yang sangat lembut kepada Laras.
"Maaf kan lah dia, Laras. Dan berikan dia kesempatan sekali lagi, setiap orang memiliki kesempatan ke dua bukan? Aku janji, jika dia tidak bisa mengubah sifat nya. Aku tidak akan ikut campur dengan keputusan mu, kamu lebih lama mengenal diri nya bukan? Pasti kamu juga tahu bagaimana kehidupan nya. Jika bukan untuk nya, setidak nya untuk keluarga yang ia nafkahi."
Hati Laras pun meluluh, ia begitu bangga melihat sikap dari bosnya itu. Walau ia di lukai dengan kata-kata yang pedas. Namun, Stella tetap saja mau memaafkan bahkan memikirkan kehidupan orang lain.
Laras mengangguk, Stella yang begitu bahagia langsung memeluk Laras.
"Terimakasih, Laras. Aku senang memiliki teman kerja sebaik diri mu." ujar Stella dengan perasaan terharu.
Laras dan Stella pun berjalan ke luar ruangan, untuk menemui Rini. Laras juga meminta kepada seluruh karyawan untuk berkumpul.
"Saya berikan kesempatan untuk mu. Tapi, ingat itu semua karena ibu Stella. Orang yang sudah kamu hina! Sekali lagi kamu atau kalian melakukan kesalahan ini walau kepada sesama teman kalian. Saya tidak akan memberikan kalian kesempatan lagi. Kalian mengerti?!" ujar Laras dengan tegas kepada para karyawan yang ada.
Laras juga meminta kepada karyawan yang sudah mencemooh bos mereka tadi untuk meminta maaf secara langsung di hadapan teman kerja yang lain nya.
Sri, Rini dan yang lain nya pun mengikuti permintaan Laras. Mereka meminta maaf kepada Stella secara bergantian.
"Tidak apa, Saya memaaf kan kalian. Jangan kalian berfikir ini karena saya. Namun, ini semua karena kebaikan hati dari Laras. Saya akan memberikan tanggung jawab ini kepada Laras. Ketika hal seperti ini terulang lagi, saya tidak akan mencegah nya. Kalian paham?" ujar Stella dengan lembut.
Para karyawan pun menyahut dan berkata paham dengan ucapan bos mereka.
"Kalian bisa kembali bekerja seperti biasa." ujar Laras kepada para karyawan. Mereka pun mengangguk.
"Sial, sombong sekali diri nya!"
__ADS_1
"Sudah lah, setidak nya kau tidak jadi di pecat. Jangan mencari masalah lagi dengan nya. Bagaimana pun sekarang dia adalah atasan kita. Dan kau dengar apa yang di katakan oleh pak Zidan dari telepon tadi? Dia memberikan segala tanggungjawab kepada Bu Stella juga Laras. Bu Stella juga mengatakan jika dia mempercayai segala nya kepada Laras. Jadi, Laras yang berkusa di sini. Mungkin, itu sebab nya dia mencari muka kepada Bu Stella." bisik Sri kepada Rini.
"Sudah lah, mengapa kalian tidak kapok juga? Lebih baik, kalian fokus kepada pekerjaan kalian dek ku dari pada nanti kalian kenak pecat lagi." ujar Kelvin.
"Benar, tugas kita di sini hanya bekerja, libur dan mendapatkan gaji saja. Yang lain nya, biarkan para atasan yang berfikir. Tak usah repot-repot mengurus kehidupan Mereka. Toh juga, gaji kita tetap sama saja jadi apa guna nya kita mengurusi kehidupan mereka." sahut Bagas.
Sri dan Rini pun terdiam, mereka tak ingin memiliki masalah lagi kepada siapapun.
Mereka pun kembali bekerja. Stella mengajak Laras untuk masuk ke dalam ruangan nya. Karena ada hal yang harus ia tanya kepada Laras.
***********
Aska yang pulang ke rumah dengan perasaan marah. Xiu yang melihat anak nya kembali dengan cepat pun merasa bingung, lima menit yang lalu orang suruhan nya mengatakan jika Aska masih ada di sekolah.
"Kenapa secepat itu apa?" batin nya.
Xiu mendekati Aska, namun Aska mengabaikan nya dan berlalu pergi menuju kamar.
Begitu bingung nya Xiu, ia menaiki tangga mengikuti sang anak.
Di dalam kamar, Aska terduduk di tepi tempat tidur. Wajah nya memerah, rahang nya juga mengeras.
"Sayang, ada apa? Mengapa kamu tidak ke kantor?"
Aska menatap ibu nya dengan tatapan sendu, ingin sekali ia memeluk ibu nya Xiu dan meminta maaf karena sudah membohongi diri nya tadi demi bertemu dengan wanita yang sudah menghancurkan kehidupan nya.
"Tidak mi. Rasanya kepala ku sangat sakit, jadi aku memutus kan untuk pulang dan istirahat di rumah saja. Boleh kan mi?"
"Bisa dong, Sayang. Tentu saja, itu perusahaan milik mu jadi, mengapa harus bertanya kepada mami? Kau pewaris keluarga ini."
__ADS_1