
"Kak maafkan Tanara, namun Tanara mohon untuk kakak jangan sedih! Tanara sangat menyayangi kakak dan Tanara enggak bermaksud untuk mengungkit semua kenangan masa lalu itu. Tanara tahu kok, kakak juga enggak ada niatan untuk melakukan hal-hal buruk,"
Sungguh Stella tidak merasa marah atau tersinggung dengan adiknya namun ia merasa sedih mengapa dirinya dahulu mudah sekali terpengaruh karena pergaulan. Jika ia dirinya tidak terlalu mengikuti pergaulan, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Stella anak yang pintar dan berprestasi begitu juga dengan Aska, sebab itu banyak yang iri dan tidak senang dengan pencapaian yang keduanya lakukan.
"Kak, kakak kenapa melamun?" Tanya Tanara yang merasa tidak enak hati, mengapa ia tidak berfikir sebelum mengatakan sesuatu? Jika ia bisa berpikir dengan jernih, semua itu tidak akan terjadi
Stella pun menggelengkan kepalanya, ia tidak mau adiknya ikut sedih "Tidak Tanara, kakak enggak kenapa-kenapa kamu jangan khawatir ya?"
"Tapi kak? Kakak terlihat sangat sedih ketika Tanara mengatakan itu, Tanara memang adik yang sangat jahat ya untuk kakak, Tanara enggak bisa menjaga ucapan Tanara," ia pun menangis, Stella langsung menyeka air mata adiknya "Ini semua bukan kesalahan kamu! Dan kakak tahu, kamu seperti ini karena kamu khawatir dengan kak Amara dan kamu enggak mau jika sejarah akan terulang lagi,"
******
Darren dan Amara duduk di taman, sungguh ini pertama kalinya untuk Darren seperti ini "Masuk lah!" Darren meminta Amara untuk masuk, namun wanita itu menolak. Ia menggelengkan kepalanya dengan manja "Enggak mau!"
Darren menaikan satu alisnya ke atas "Kenapa? Kenapa tidak mau masuk ke dalam?"
"Iya enggak mau aja! Aku males, aku masih mau sama kamu,"
__ADS_1
Darren merasa salah tingkah mendengar ucapan Amara namun ia menahannya agar wanita itu tidak akan memperlakukannya dengan suka-suka
"Oh,"
"Oh aja?"
"Mau bilang apalagi?"
Amara terlihat kesal, ia memasang wajah yang cemberut membuat Darren merasa gemas. Darren langsung melihat jam yang ada ditangannya "Ini sudah pukul sebelas malam. Aku tidak ingin kakak mu mencari kita dan berpikir yang tidak-tidak. Lebih baik masuk sekarang, aku akan pulang. Atau perlu saya antar kembali ke ruangan?"
"Tidak usah! Aku bisa sendiri, enggak manja juga!"
"Jangan khawatir om! Aku bisa menjaga diri sendiri!" Amara membalikan badannya, menoleh ke arah Darren. Ia merasa tidak nyaman di ikuti seperti itu, namun Darren tidak menggubris ucapannya "Sabar Amara! Sabar! Jangan terpancing dengan ulahnya. Lebih baik sabar, dan biarkan ia melakukan apapun yang dia ingin!" Batin Amara. Ia kembali membalikan tubuhnya, berjalan menuju ruangan kakaknya.
Setelah memastikan Amara aman kembali kepada kakaknya baru lah Darren pergi dari rumah sakit itu. Namun ia menghubungi orang suruhannya untuk berjaga-jaga di rumah sakit, itu semua demi keamanan Amara dan keluarganya.
Darren tidak ingin ketenangan dan kedamaian keluarga Amara terganggu hanya karena orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Benar saja, belum sempat Darren pergi terlihat Xiu yang berjalan ke arah ruangan Stella. Saat wanita itu ingin masuk, Darren mencegahnya
__ADS_1
"Beraninya kau!" Xiu merasa kesal dan tidak terima dengan perbuatan Darren yang melarangnya masuk. Darren tidak menjawab, namun ia memberikan kode seakan meminta Xiu untuk pergi meninggalkan tempat tersebut
"Kau tidak berhak mengatur saya!"
"Dan anda tidak memiliki hak untuk masuk ke ruangan ini,"
Xiu mendidih mendengar ucapan pria yang ada dihadapannya "Beraninya kau! Siapa anda yang berani melarang saya masuk?"
"Dan siapa anda yang beraninya masuk ke ruangan ini?" Darren menatap tajam Xiu, jika tidak memikirkan kondisi kesehatan Stella dan juga ketenangan Amara. Pasti Darren sudah membunuh wanita yang ada dihadapannya, ia sadar bahwa ini adalah tempat umum. Dan dia tidak boleh melakukan sesuatu yang akan membuat reputasinya dan keluarga Stella hancur
"Apakah kau ini selingkuhan wanita tidak tahu diri itu? Iya!"
"Siapa saya itu bukan urusan anda nyonya," Darren tersenyum dengan tatapan serius kepada Xiu. Membuat siapapun merasa merinding "Jangan menguji kesabaran ku! Minggir dan biarkan aku masuk! Aku harus memberikan pelajaran kepada wanita murahan itu!"
"Jangan menguji kesabaran saja nyonya, lebih baik anda pergi atau anda ingin seperti menantu anda yang di rawat di rumah sakit ini?" Darren mengedipkan matanya satu kepada Xiu, entah itu hanya sebuah gurauan atau sebuah peringatan. Ia pun tidak tahu "Kau pastinya menyesal nanti karena sudah mengenal kelurga penuh drama seperti mereka!"
"Dan saya lebih akan menyesal jika membiarkan mereka di sakiti oleh wanita yang tidak tahu belas kasih seperti anda!"
Suara Darren mulai serius dengan penuh penekanan, Xiu tahu jika lelaki itu tidak main-main, ia pun memilih mengalah lalu pergi meninggalkan tempat itu. Namun ia berjanji akan kembali lagi setelah Darren pergi dari sana, ia akan memberikan pelajaran untuk Stella.
__ADS_1