Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Memberikan Pengertian


__ADS_3

Stella yang merasa bosan hanya berbaring saja di kamar pun memutuskan untuk pergi ke dapur, memasak untuk makan adik dan anak nya.


"Kak, kakak ngapain di sini. Kakak kan harus istirahat." tegur Rani kepada Stella. Ia tidak mau melihat kakak nya terlalu lelah.


"Tidak, kakak sudah banyak istirahat. Kakak begitu bosan di rumah, sebab itu kakak ingin memasak untuk kalian semua. Dan semenjak kakak bekerja, kakak begitu jarang masak untuk kalian. Ohiya Rani, kakak juga sudah mencari guru homeschooling yang terbaik untuk kamu."


"K-kak?" panggil Rani dengan pelan, Stella pun menoleh ke arah Rani.


"Iya?"


"Rani tidak ingin homeschooling kak, Rani ingin membuka usaha kecil-kecilan aja."


Stella memandangi wajah Rani yang menunduk ketakutan, Stella mendongak kan wajah adik nya untuk melihat ke mata nya.


"Kenapa? Bukan kah kemarin kamu mengatakan ingin belajar? Apa ada hal yang membuat mu berubah pikiran?"


Rani mengangguk, ia mengatakan jika diri nya ingin merintis membuka usaha agar menjadi anak yang mandiri.


"Sebenar nya kakak ingin sekali kamu belajar, namun kamu ingin merintis membuka usaha. Kakak akan mendukung apapun keputusan kamu. Namun, kakak selalu berharap agar kamu mau belajar suatu saat nanti."


"Kak, Rani bisa kok belajar di rumah. Zeline juga selalu membantu Rani membaca dan menulis. Serta menghitung, Rani ingin sukses kak. Apakah orang yang tidak terpelajar tidak bisa sukses? Dan hanya orang yang terpelajar saja yang bisa sukses?"


"Tidak adikku, bukan begitu! Setiap orang berhak untuk sukses, namun kakak ingin melihat kalian menjadi sarjana. Karena apa, kakak tidak ingin kalian di remeh kan oleh orang lain seperti yang kakak alami. Masa depan kalian sangat panjang, ya sudah. Jika Rani ingin membuka usaha, dan menjadi pengusaha yang sukses kakak akan selalu mendukung Rani. Kakak juga akan memberikan modal untuk mu, Rani sudah memikirkan ingin membuka usaha apa?"


"Rani ingin meracik sebuah produk kak, seperti lotion dan skincare untuk wanita-wanita di dunia ini menggunakan bahan alami jadi kulit mereka tidak akan rusak, bersih dan terawat."


"Wah, itu ide yang sangat cemerlang. Kakak sudah tidak sabar menunggu hasil racikan kamu. Kakak yakin, pasti hasil nya akan bagus dan adik kesayangan kakak ini akan menjadi orang yang sukses."


Rani tersenyum, ia memeluk kakak nya. Mungkin, akan banyak cobaan yang sedang menunggu nya di kehidupan yang akan datang. Namun, Rani yakin ia akan bisa melewati nya jika kakak nya Stella selalu mensuport diri nya.


"Rani sangat menyayangi kakak."


"Kakak juga sangat menyayangi kamu, Rani."


Stella membalas pelukan Rani. Stella selalu mengingat bagaimana Rani selalu mendukung dan melindungi nya.


Rani anak yang sangat baik, Stella berharap jika Rani bisa bertemu dengan keluarga nya kelak. Rani juga berhak bahagia dan merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh.


Stella berusaha untuk membuat Rani bahagia, ia pun memberikan kasih sayang, cinta dan perhatian yang begitu besar untuk Rani. Walau Rani bukan lah adik kandung nya, namun Stella tidak pernah membeda-bedakan Rani dengan adik adik nya yang lain.


"Kakak akan berusaha dengan kuat agar kamu, Amara, Tanara dan juga Zeline menjadi orang yang sukses. Apapun akan kakak lakukan untuk kalian. Jika perlu kakak akan memberikan nyawa kakak untuk kebahagiaan kalian."


"Kebahagiaan kami adalah melihat kakak terus sehat dan bahagia. Kami tidak mungkin akan bahagia jika kakak menderita, tetap lah bahagia kak agar kami pun tetap bahagia. Karena bahagia nya kakak adalah bahagia nya kami, duka nya kakak adalah duka nya kami."


Stella pun terharu mendengar ucapan Rani. Ia berjanji kepada Rani akan selalu bahagia agar mereka juga bahagia.


"Demi kalian kakak akan terus berjuang dan bahagia. Kakak menyayangi kalian semua. Kalian adalah hidup kakak, alasan kakak bisa bertahan sejauh ini."


"Jika tidak ada kakak, mungkin Rani entah jadi apa kak. Rani akan tetap di jalanan."


"Sudah, jangan mengingat luka itu lagi. Kakak ingin, Rani melupakan semua itu. Jangan di ingat lagi ya?"


Rani mengangguk, ia berjanji kepada kakak nya akan melupakan segala kenangan buruk itu.


Rani membantu Stella untuk memasak, Rani juga pintar memasak dari Stella. Stella mengajari nya untuk bisa memasak jadi Rani tidak akan kesulitan lagi jika seandainya Stella tiada atau Rani sudah berumah tangga.

__ADS_1


"Kak, nanti biar Rani saja yang menjemput Zeline."


"Kartu nya ada sama Tanara. Pihak sekolah tidak akan mengizinkan kamu membawa Zeline tanpa kartu itu, kakak juga ingin menjemput Zeline namun kartu nya tidak ada dengan kakak. Mungkin Tanara langsung menjemput Zeline."


"Benar juga ya kak, sekolah Zeline begitu ketat. Zeline juga sempat tidak betah di sana."


"Iya, kakak mengerti apalagi Zeline anak yang tidak suka di kekang pasti diri nya tidak akan nyaman namun bagaimana lagi. Entah mengapa kakak merasa tenang jika Zeline berada di sekolah itu. Karena peraturan nya yang sangat ketat jadi tidak perlu khawatir jika ada yang ingin berniat jahat pada nya. Apalagi kakak kan bekerja, kakak tidak bisa memantau nya seperti dulu."


"Iya kak, untung saja Tanara mau mengantar dan menjemput Zeline. Namun, jika Tanara tidak mau Rani yang akan mengantarkan dan menjemput Zeline."


"Kakak tahu kok jika adik kakak yang satu ini akan merawat Zeline dengan baik. Kakak tidak perlu khawatir tentang itu. Namun kota ini jauh berbeda dengan kota kita sayang. Kamu juga masih tidak tahu daerah sini, kakak juga pasti tidak akan merasa aman jika kamu yang mengantar jemput Zeline."


"Kak, Rani bisa kok mempelajari alamat sekolah Zeline ke sekolah."


"Kakak tahu itu, adik kakak kan memang pintar. Namun, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat kepada mu? Kamu tidak tahu daerah sini, mereka pasti akan mudah membohongi kamu. Kakak sungguh tidak tenang melepas kalian."


"Jika Amara dan Tanara saja bisa mandiri kenapa Rani tidak kak?"


"Iya deh, adik kakak yang satu ini memang mandiri."


"Kak, Rani berjanji kepada kakak. Rani akan membantu kakak menjaga Amara, Tanara dan juga Zeline. Ya walau, sifat Amara begitu menyebalkan. Namun, Rani akan menyayangi nya seperti menyayangi zeline."


Stella mengatakan jika Amara adik yang sangat baik, mungkin ia seperti itu karena mental nya tidak stabil karena kepergian ke dua orang tua mereka.


"Amara sama seperti Tanara. Dia adik yang sangat lucu dan baik, tapi memang Tanara cenderung lebih ke pendiam tidak seperti Amara. Itu semua bukan lah kesalahan Amara."


"Tapi, itu juga bukan kesalahan kakak. Tapi memang, takdir mempermainkan kita semua dengan begitu kejam. Kenapa dunia itu begitu tidak adil kak?"


"Rani. Rani nggak boleh bicara seperti itu ya? Semua itu ada hikmah nya apa yang sudah terjadi kepada kita. Seperti kakak, kakak kehilangan pria yang kakak cinta tapi Allah kasih kakak anak yang begitu luar biasa dan juga kakak di pertemukan oleh adik yang begitu luar biasa seperti mu."


"Kak, mungkin Allah menjauhkan aku dari keluarga ku agar aku bisa bertemu dengan wanita sehebat kakak ya?"


"Sejujur nya, Rani tidak ingin tahu kak. Itu akan membuat ku sakit hati, apalagi jika aku tahu alasan mengapa orang tua ku membuang ku. Kak, sudah sangat jelas. Mereka tidak menginginkan aku, jika mereka menginginkan aku, aku tidak akan di buang kak."


"Rani, kita tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi, bisa saja ada orang yang memisahkan mu dari keluarga mu. Bukan mereka, namun orang lain. Tidak akan ada seorang ibu yang tega membuang anak nya sendiri, dik."


"Sudah lah kak, aku tidak ingin membahas itu lagi. Lagipula, jika mereka merasa kehilangan. Mereka pasti akan mencari ku. Kita di sini juga baru beberapa bulan, dan aku hidup di kota itu selama bertahun-tahun tapi tidak pernah ada yang mencari keberadaan ku. Banyak cara kan kak untuk mencari orang yang hilang?"


Masakan yang telah di buat pun sudah masak, dan tinggal di hidangkan. Stella meminta Rani untuk membantu nya menempati sayur dan ikan yang mereka masak di piring wadah.


Setelah selesai menempati sayur itu di wadah. Rani dan Stella menyusun nya di meja makan, jadi mereka pulang akan tinggal makan saja di meja makan. Tidak perlu membawa makanan lagi dari dapur.


"Kakak terlalu cepat memasak, nanti masakan ini akan dingin."


"Mereka memang suka yang dingin, tidak suka yang panas. Sama seperti mama, jadi nya jika makanan itu panas. Kami akan menunggu nya hingga benar-benar dingin."


"Bagaimana jika memakan bakso kak atau makanan yang berkuah?"


"Seperti itu, akan menunggu hingga benar-benar dingin. Makanya, akan sangat lama jika harus memakan bakso atau makanan berkuah Jika itu panas."


"Pantas saja, jika mereka pulang sekolah dan aku baru masak mereka tidak langsung turun dan makan. Ternyata itu alasan nya aku fikir jika mereka tidak mau makan karena aku yang memasak nya."


"Tidak, Amara dan Tanara bukan lah orang yang seperti itu. Mereka akan menghargai masakan orang lain, walau suka atau tidak mereka akan memakan nya kecuali hati mereka lagi tidak baik."


"Tapi kenapa kakak tidak seperti mereka. Kakak bisa memakan makanan yang dingin atau panas sekali pun tidak ada masalah bagi kakak."

__ADS_1


"Karena kakak Sama seperti papa. Papa juga begitu, jika ada makanan yang terlalu panas ia bersemangat, terlalu dingin juga bersemangat tidak ada batasan."


"Kakak sedekat apa dengan almarhum papa kakak?"


Stella pun terdiam, ia mengingat kebersamaan nya dahulu bersama sang papa.


"Kami sangat dekat dan begitu dekat. Bahkan kakak lebih dekat dengan papa ketimbang dengan mama. Tapi, mama juga menyayangi dan memanjakan kakak."


."Pasti sangat enak ya kak bisa merasakan kasih sayang dari keluarga yang sangat utuh."


Stella menoleh ke arah adik nya, setelah selesai menyusun makanan di atas meja. Stella meminta kepada Rani untuk duduk, dan mencoba menghibur nya.


"Kakak dulu sangat ingin memiliki kakak dan merasakan kasih sayang dari seorang kakak. Namun, kakak tidak bisa. Karena apa? Karena kakak anak pertama, kakak tidak bisa merasakan kasih sayang dan indah nya di lindungi oleh seorang kakak. Namun kakak di kirimkan adik&adik seperti kalian, kakak begitu senang. Terkadang, tidak semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Namun, kita harus tetap mensyukuri nya."


"Iya kak, Rani berusaha untuk bersyukur. Namun, terkadang Rani tidak bisa membohongi diri Rani sendiid Kak. Rani ingin sekali merasakan kasih sayang seorang ibu. Kakak memang baik dan menyayangi ku dengan sangat tulus. Tapi kak."


Stella meminta kepada Rani untuk tidak melanjutkan lagi ucapan nya, ia tidak mau membuat Rani semakin bersedih. Stella mencari topik pembicaraan yang lain agar Rani melupakan kesedihan nya.


"Oh iya Rani, sekarang Azriel sedang apa ya? Kita kan Belum puas mengobrol dengan nya kemarin."


Mendengar nama Azriel membuat Rani bersemangat, ia pun meminta kepada Stella untuk menghubungi hasril kembali, demi membuat Rani untuk tetap bahagia dan melupakan kesedihannya itu akibat mengingat keluarganya Stella pun memutuskan untuk menghubungi Azriel, namun sayangnya Azriel tidak menjawab panggilan mereka.


Stella mengatakan kepada Rani jika mungkin Azriel sedang sibuk dan tidak dapat berbicara sekarang, mereka akan mencoba menghubungi Azriel beberapa jam kemudian, dengan wajah yang murung Rani pun mengiyakan ucapan kakak nya.


"Baiklah Kak, kita akan segera menghubungi Kakak Azriel beberapa saat lagi semoga saja nanti dia tidak akan sibuk ya dan bisa berbincang dengan kita."


Stella takut jika perasaan adiknya kepada Azriel tidak terbalaskan, itu pasti akan semakin menyakitkan hati adiknya Rani dan membuat Rani bersedih. Namun Stella pun tak bisa memaksa kan kehendak, Azriel berhak memilih pasangan yang akan menemani hidup nya.


Stella berharap, agar Rani melupakan perasaan nya kepada Azriel dan fokus kepada tujuan dan masa depan nya.


Stella tahu, untuk memenuhi impian adik nya Rani ia harus menyiapkan uang yang sangat besar untuk modal usaha itu, namun Stella akan mengusahakan nya agar Rani fokus dengan impian nya. Dengan itu, mungkin ia bisa melupakan perasaan nya dengan Azriel.


Aku berharap jika kalian bisa berjodoh, namun jika kau tidak berjodoh dengan Azriel Kakak selalu berharap agar Tuhan memberikanmu jodoh yang baik benar-benar pantas untuk wanita sebaik dirimu Rani, Jangan pernah merasa kecewa dengan apapun yang akan terjadi kedepannya Kakak berharap kamu bisa menjadi wanita yang mandiri dan kuat karena menjadi di mandiri saja tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan dan juga keikhlasan.


Itu lah doa Stella kepada adik nya Rani, Rani mengatakan jika diri nya sudah memulai membuat racikan lotion. Setelah berhasil, Rani akan mendaftar kan racikan nya BPOM terlebih dahulu agar izin usaha nya di setujui oleh pemerintah dan di kenal banyak oleh penduduk indonesia dan juga bisa sampai internasional.


Itu lah harapan Rani, menjadi pengusaha sukses dengan umur yang masih muda. Ia juga akan menunjukkan kepada orang orang jika sukses tidak hanya untuk orang yang memiliki pendidikan tinggi..


Namun, sukses bisa di dapatkan oleh orang yang bekerja keras dan selalu belajar dari kegagalan.


"Rani, namun kamu juga harus siap mental ya dik. Ketika kamu ingin sukses pasti akan banyak orang yang mengihina dan meledekmu namun jadi kan itu sebagai kekuatan dan motivasi kamu, jangan menyerah dan putus asa hanya karena ucapan pedas orang lain. Rani juga harus bisa menahan emosi, kakak tahu jika Rani sangat mudah terpancing emosi."


"Kak Rani sungguh tidak bisa bersikap sabar terutama kepada orang-orang rese yang selalu mencari masalah."


"Rani, biarkan saja orang berkata apa. Tangan kita hanya dua, tidak akan mungkin bisa menutupi mulut mereka. Namun, kita bisa menggunakan ke dua tangan kita untuk menutup telinga. Kamu paham kan dik?" dengan lembut Stella memberikan pengertian kepada Rani.


"Kakak sungguh manusia yang luar biasa. Kakak mampu menahan sabar padahal orang dengan tega menyakiti hati kakak."


"Tidak ada waktu untuk membalas mereka dik, mereka memiliki hak untuk berkomentar dan kita juga memiliki hak untuk tidak memperdulikan nya. Lagipula, jika kita selalu bersedih dan terpengaruh dengan omongan orang yang tidak penting. Kita bisa hancur bahkan gila."


"Kakak benar."


Mereka berbincang, Stella mengambil kan Rani makan. Lalu menyuapi nya.


"Kakak kenapa repot seperti ini? Rani bisa sendiri kak, kakak kan harus istirahat yang total agar segera pulih."

__ADS_1


"Iya kakak akan istirahat kembali nanti, tapi kamu harus makan dulu sekarang selagi makanan ini panas. Memang nya Rani nggak mau menerima suapan dari kakak?"


"Kakak ini bicara apa? Tentu saja aku mau. Bahkan, aku senang jika kakak memanjakan ku seperti ini."


__ADS_2