Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Meminta


__ADS_3

Stella mengatakan kepada Darren untuk tidak khawatir, namun Darren tahu jika Amara masih tersinggung.


"Baik lah kalau begitu saya pamit dulu,"


Darren pergi meninggalkan mereka semua, Stella membelai kepala adiknya "Amara, kamu jangan sedih lagi ya?" Amara mengangguk, namun ucapan Namira masih saja teriang-iang di telinganya


******


Darren dan Namira pun berjalan menuju mobil "Lain kali jangan suka berbicara yang buruk tentang orang lain!" Darren menasehati kembarannya, Namira memeluk Darren "Aku enggak menghina, tapi apa yang aku katakan memang benar. Dan kau juga, mengapa membiarkan calon kakak ipar mu di rumah sakit kumuh seperti itu? Kasian banget,!"


"Bukan aku yang minta, aku juga enggak tahu!"


"Iya tapi jangan biarin dong! Kasian, sangat tidak nyaman. Dan belikan juga pakaian yang layak untuk siapa itu namanya,"


"Amara,"


"Ha iya Amara, pakaiannya sangat murahan!"


Darren menggelengkan kepalanya "Tapi, itu layak di gunakan dan tidak kumuh. Warnanya juga masih terang,"


"Tapi murahan, enggak modern dan juga pastinya enggak branded,"


Darren terdiam, bukannya ia tidak mau membelikan pakaian yang branded untuk Amara, namun pria itu tahu bagaimana sifat Amara. Ia pasti akan menolak


"Lihat, pakaian yang aku gunakan! Sangat simpel namun limited edition, harganya juga enggak terlalu mahal tapi kualitasnya bagus"


"Jangan membandingkan kehidupan kamu dengan orang lain Namira! Karena tidak semua orang seberuntung kamu,"

__ADS_1


"Aku pernah kok merasakan hidup susah, dan kemewahan ini juga karena mu. Tapi aku ingin kau juga membahagiakan wanita mu sekarang!"


Darren tersenyum dan mengatakan jika Amara wanita yang sangat luar biasa, dan berbeda dengan wanita lain "Dia berbeda, dan sangat luar biasa!"


***************


Zeline tertidur di kamar papanya Aska. Aska memandangi wajah sang anak dengan penuh cinta "Nak, papa sayang banget sama kamu!"


Suara ponsel Aska terus saja berbunyi, membuatnya merasa kesal. Ia melihat nama Lee yang ada dilayar ponselnya. Aska mengangkat panggilan Lee


Panggilan terhubung


Sayang, kamu di mana? Kenapa enggak kembali? Aku enggak mau kamu tinggal sendiri, lebih baik kamu ke rumah sakit sekarang! ~Lee


Aska menjauhkan ponselnya dari telinga, suara Lee begitu menyelengkit di telinganya hingga sakit "Kenapa harus berteriak sih?" Batinnya dengan kesal


Tidak! Aku tidak mau! Aku maunya kamu! ~Lee


Aska mengambil nafas dengan kasar, ia tidak memahami dengan sikap Lee yang semakin hari semakin tidak mengerti dengan keadaan


Lee kamu tahu sekarang Stella tidak ada di rumah, Zeline sendirian di sini. Dia menangis dan sekarang Zeline tidur sama aku! Aku minta kamu memahami segalanya! Aku mau kamu paham dengan semua! ~ Aska


Tit! Tit! Tit


Panggilan terputus


Mungkin Lee yang langsung mematikan panggilannya, Aska mengangkat bahunya dengan jengah.

__ADS_1


Dia tidak mau memikirkan apapun, Aska kembali fokus menatap wajah anaknya.


Tidak lama, terdengar suara mobil yang masuk ke dalam gerbang. Aska pelan-pelan beranjak dari tempat tidurnya


Melihat siapa yang datang, Aska mengintip dari luar jendela itu kedua orang tuanya.


Aska malas keluar, karena tahu jika maminya akan meminta ia untuk ke rumah sakit


"Lebih baik aku tidur saja!"


Aska berbaring di samping anaknya dan memejamkan mata


******


Xiu yang sudah sampai di rumah mencari anaknya Aska, dia langsung ke kamar anaknya membuka pintu


Cekrek!


Terlihat Aska yang sudah terlelap bersama cucunya Zeline. Xiu tidak tega membangunkan anaknya.


Ting!


Satu notif dari ponsel Xiu. Wanita itu segera mengambil ponselnya dan melihat notif WhatsApp


Mami, tolong minta lah Aska untuk kembali ke rumah sakit. Lee merasa sangat kesepian! ~Lee


Xiu hanya menghela nafas, sebenarnya ia tidak tega jika harus membangunkan anaknya. Namun itu pilihan terbaik, kasihan Lee jika harus di rumah sakit sendirian

__ADS_1


__ADS_2