Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Terjebak


__ADS_3

"Jika begitu, kau harus makan sekarang." Stella mendarat kan sendok yang berisi makanan itu ke mulut Rani, dengan senang hati Rani menerima suapan dari Stella.


Rani pun mengambil sendok yang ada di tangan kakak nya, ia mengambil makanan di sendok itu lalu bergantian menyuapi kakak nya.


Dengan rasa haru, Stella menerima suapan dari adik nya.


"Masakan mu sungguh lezat." Stella memuji masakan dari Rani.


Stella akui, masakan Rani memang sangat lezat, Rani yang malu pun mengatakan jika itu karena kakak nya yang dengan sabar mengajari nya "Masakan ku tak seenak masakan kakak."


"Siapa bilang, masakan mu sungguh lezat. Rasanya kakak ingin menghabiskan semua nya."


"Habis kan saja Kak, Rani akan memasak lagi jika memang kakak suka." Stella tertawa, ia memang menyukai masakan Rani namun perut nya tidak mungkin mampu menghabiskan semua ini.


"Kakak hanya bercanda, mana mungkin kakak bisa menghabiskan semua ini, makanan ini sangat banyak. Cukup untuk kita tiga kali makan bersama, perut ku tidak sebesar itu." Rani tertawa mendengar jawaban kakak nya, memang benar siapa yang akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu.


"Kak, kakak istirahat saja. Rani ingin ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang perlu Rani beli untuk racikan itu.


Stella pun mengangguk, ia mengatakan kepada Rani untuk tetap semangat dalam mencapai tujuan nya.


"Tetap lah berusaha yang keras ya? Kakak akan selalu mendukung mu, apapun yang terjadi kakak akan selalu ada di samping mu. Kakak ikut dengan mu ya?"


"Tidak kak! Kakak nggak boleh kemana-mana, kakak harus istirahat saja di rumah. Biar Rani pergi sendiri."


Stella menggelengkan kepala nya, ia tidak bisa membiarkan Rani sendirian. Stella meminta kepada supir keluarga mereka untuk mengantar Rani. "Tidak kak, Rani bisa sendirian! Rani tidak enak jika harus merepotkan keluarga kakak."


Stella menoyor kening Rani perlahan, ia tidak suka mendengar adik nya berbicara seperti itu.


"Kau juga bagian dari keluarga ini, apa kau tidak menganggap ku sebagai kakak mu?"


Rani menggeleng kepala nya, ia tidak bermaksud membuat Stella sedih, kakak nya salah paham pada nya.


"Bukan begitu kak, tapi mobil ini kan khusus untuk antar jemput mereka sekolah. Bagaimana jika Amara tahu, dia akan marah."


"Tidak! Amara tidak seperti itu, yang terpenting sekolah nya tidak terganggu. Sudah sana pergi!"


Rani mengangguk, sebelum pergi ia berpamitan kepada Stella, dan mencium punggung tangan Stella.


Kini, Stella sendirian di rumah. Ia pun membersihkan rumah dan alat bekas masak tadi.


********


Pagi ini, Aska memutuskan untuk bertemu dengan Stella. Ia ingin memastikan hati nya, walau Stella sudah mengatakan hal yang begitu sakit namun ia tetap berharap jika anak Stella adalah anak nya.


Hati kecil Aska terkadang tidak terima jika Stella telah mengkhianati nya.


Aska masuk ke dalam mobil, melakukan mobil nya dengan kecepatan yang tinggi.


Pikiran sudah tidak waras, walau terkadang ia membenci Stella namun di satu sisi dia juga mencintai Stella.


Stella mampu membuat hidup nya berantakan. Ponsel Aska berbunyi, ia melihat nama di layar ponsel genggam nya.


"Mami." ujar Aska, segera ia mengangkat telepon dari mami nya.


*Iya mi, ada apa? ~Aska


Sayang, kamu kemana saja semalaman? Kenapa tidak pulang? ~Xiu


Aska sedang ada pekerjaan yang penting mi, sebab itu Aska memutuskan untuk tidak pulang ~Aska


Kamu pulang sekarang ya, sayang. Ada hal yang mau mami konsultasi kan dengan kamu. Tolong segera pulang sekarang ~ Xiu


Aska akan pulang setelah urusan Aska telah selesai mi ~Aska


Aska, jangan membantah! Mami tau kemana tujuan kamu, jangan mengira mami tidak tahu kemana kamu kemarin pagi*.


Aska membelalak kan mata nya dengan kaget, bagaimana ibu nya bisa tahu, apakah Xiu mengirim kan mata-mata untuk Aska?


Aska melihat ke arah sekeliling nya dari dalam mobil, namun ia tidak melihat siapapun, Aska membuang nafas nya dengan kasar.


Ia tidak mau membuat mami nya kecewa.


*Baik lah, Mi. Aska akan pulang sekarang ~Aska


Mami tunggu ya sayang. See you! ~Xiu*

__ADS_1


Panggilan Terputus.


Aska mengurungkan niat nya untuk bertemu dengan Stella. Ia tidak mau, hanya karena Stella ibu yang paling ia cinta merasakan kecewa.


Aska pernah melakukan kesalahan dulu, ia pernah membantah mami nya demi wanita yang sudah mengkhianati diri nya.


Entah sampai kapan, Aska tidak mengetahui kebenaran yang ada


Aska segera melajukan mobil nya menuju rumah, sebelum pergi meninggalkan sekolah itu. Aska memandangi pintu ruangan Zeline berada.


Ia tersenyum, entah mengapa mengingat Zeline saja mampu membuat mood nya kembali bagus.


"Anak itu memang baik, ke dua orang tua nya pasti beruntung memiliki anak sepintar diri nya." ujar Aska sebelum akhir nya dia benar-benar meninggalkan sekolah itu.


Di dalam ruangan, guru sedang menjelaskan tentang pelajaran matematika, guru itu sempat salah meletakkan angka dan Zeline memberitahu guru itu bagaimana jawaban yang benar.


Guru itu merasa takjub dengan kepintaran Zeline, untuk meyakinkan diri nya. Guru itu kembali memberikan soal pada Zeline, kali ini bukan soal pelajaran anak paud. Namun, soal anak SMA. Dengan waktu sebentar, Zeline mengerjakan nya tanpa merasa kesulitan.


"Kau memang pintar, Sayang."


Guru itu semakin yakin jika Zeline anak yang jenius. Terlihat bagaimana cara Zeline menyelesaikan soal itu dengan baik. Dan dalam waktu sesingkat mungkin


"Bagus Zeline, bagaimana kau bisa menyelesaikan soal ini dengan baik?"


"Zeline sudah telbiasa dengan soal itu Bu gulu. Di lumah Zeline selalu belajal."


Guru itu berencana akan memberitahu kepala yayasan, untuk di membawa Zeline ke labolatorium sebagai penelitian.


"Zeline sayang, apakah mama mu yang mengajari mu?"


Zeline mengangguk, mama juga selalu mengajari Zeline belajar namun hanya pelajaran anak seusia Zeline saja.


Zeline yang merasa bosan dengan pelajaran anak TK pun memutuskan untuk mempelajari sendiri mata pelajaran anak SMA.


*******


Aska yang kesal pun kembali menuju rumah nya, tidak sengaja ia menabrak seseorang. Ia segera turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.


Ternyata itu adalah Rani, Rani seakan tidak asing dengan wajah Aska


"Apa kau baik-baik saja? Maaf aku sungguh tidak sengaja."


"Aku tidak apa-apa kak,"


"Apa kau mau aku antar?"


Rani menggeleng, ia mengatakan jika diri nya bersama supir.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagipula, aku di antar tadi dan tadi aku memang sengaja ke arah sini karena sedang mencari sesuatu."


"Baik lah kalau begitu, sekali lagi aku meminta maaf pada mu."


Rani mengangguk, Aska pun langsung masuk ke dalam mobil nya. Rani menatap kepergian Aska, wajah Aska begitu mirip dengan Zeline.


"Apakah dia orang yang waktu itu kami temui di rumah sakit? Saat kak Stella baru saja melahirkan Zeline?"


Rani mencoba mengingat nya, ia di kejutkan oleh suara klakson mobil.


"Mau mati ya? Berdiri di tengah jalan." teriak salah satu pengemudi mobil itu.


Rani pun berdecak kesal! Ia juga tidak mau mati sekarang.


Rani pun segera menghindari jalanan besar itu.


"Sungguh, orang-orang di sini sangat menyebalkan."


*********


Amara yang sudah pulang sekolah pun, melihat kerumunan banyak orang di halaman sekolah. Ia bersama Tanara adik nya saling pandang satu sama lain.


"Kak, kenapa banyak sekali orang-orang berkumpul? Mereka juga histeris seperti itu."


Amara menaikkan bahu nya sedikit, menandakan jika diri nya juga tidak tahu.


"Hey, ada apa di sana?" tanya Amara kepada salah satu teman nya yang lewat.

__ADS_1


"CEO terkenal tampan dan kaya itu berada di sekolah kita. Ayo kita ke sana!" ajak teman Amara, namun Amara menolak nya dengan lembut "Tidak! Terimakasih, sebaik nya aku dan adikku langsung pulang saja."


"Kenapa? Jika kau melihat wajah nya, kau pasti tidak akan mau berpaling dari nya."


Amara pun tak menghiraukan ucapan teman nya, ia mengajak Tanara untuk pulang ke rumah


"Ayo kita pulang saja dik, itu tidak terlalu penting."


"Kak, kakak dengar apa kata teman kakak tadi, itu adalah CEO. Siapa tahu, setelah kakak tamat kakak bisa bekerja di perusahaan nya. Apa salah nya jika kita melihat nya sebentar kak?"


"Adikku, Sayang. Tidak mungkin dia mengambil orang seperti kakak, apalagi masih SMA. Kamu tahu sendiri jika bekerja di kantoran seperti itu. Harus memiliki gelar sarjana, sudah lupakan saja itu. Tidak penting kakak mau bekerja di mana, yang terpenting kakak bisa mendapatkan uang dengan cara yang halal untuk membiayai kehidupan kita."


Tanara tersenyum mendengar ucapan kakak nya itu, Amara mengajak sang adik untuk mejauh dari tempat itu.


Kenapa kau menghindar Amara?


Amara kaget mendengar suara itu, seperti nya pira itu berbicara menggunakan microfon. Sehingga, seluruh sekolah pun bisa mendengar nya.


Amara membalikkan badan nya, melihat pria yang berbicara dengan nya itu. Mata Amara terbelalak kaget, pria itu adalah Darren.


Mau apa dia ke sini?


Ingin rasanya Amara menghilang saja, ia tidak mau jika pria yang tidak waras itu membuat nya malu. Sudah cukup Drama yang di buat oleh Kimberly. Jangan ada lagi drama di sekolah. Amara tidak bisa menahan malu jika harus menghadapi nya.


Amara ke sini lah!


Amara menelan ludah nya dengan kasar, ia mengira jika pria itu memang sudah gila. Apakah ia akan menagih hutang di depan semua orang?


.Mampus aku, memang aku yang salah sudah mengabaikan panggilan dan pesan dari nya. Aku sudah salah berurusan dengan orang seperti nya. Uang nya juga sudah aku pakai untuk membayar Kimberly. Bagaimana ini?


Tanara bertanya kepada kakak nya siapa pria itu. Mengapa dia bisa mengenal Amara.


"Kak siapa dia? Mengapa dia mengenal kakak?"


Amara bingung harus menjawab apa kepada adik nya.


"Kakak juga tidak kenal dia siapa." Amara terpaksa harus berbohong kepada adik nya lagipula, ia kan memang tidak mengenal Darren sebelum nya.


Mereka baru pertama kali berjumpa waktu itu, Darren kembali memanggil nama Amara dan menyuruh nya untuk mendekat. "Amara, ke mari lah."


Anak-anak yang berkerumun pun menoleh ke arah Amara, semua nya saling bertanya satu sama lain. Apa hubungan nya Amara dengan CEO terkenal itu


"Apa mungkin Amara yang seperti Kimberly katakan?"


Amara mendengar salah satu teman nya berbicara seperti itu, hatinya sakit. Ia pun berlalu pergi meninggalkan semua orang termaksud adik nya sendiri.


Amara duduk di kelas seorang diri, ia menangis senggugukan "Mengapa mereka jahat kepada ku? Mereka mempermalukan aku di depan banyak orang. Apa kesalahan ku pada mereka, mengapa mereka menghancurkan kehidupan ku hiks." gumam nya.


Tanara yang mengejar kakak nya pun mendekati sang kakak perlahan, dengan mata sembab nya Amara meminta kepada Tanara untuk pergi meninggalkan nya sendiri.


"Tolong pergi lah Tanara, atau kamu juga mau mempertanyakan tentang kakak?" Tanara menggeleng, ia mendekati dan memeluk kakak nya.


"Jangan menangis kak, Tanara sangat mempercayai kakak, Tanara yakin jika kakak tidak seperti yang mereka katakan. Kakak jangan bersedih lagi ya? Tanara menyayangi kakak, mungkin saja CEO itu memanggil orang lain namun nama nya saja yang sama."


Walau Tanara tahu jika di sekolah ini tidak ada yang mempunya nama Amara seperti kakak nya. Namun, Tanara tidak mau membuat kakak nya sedih lagi.


"Tanara janji kak, Tanara nggak akan bertanya hal yang membuat kakak sakit dan menangis seperti ini." batin Tanara. Ia sungguh sangat menyayangi kakak nya itu.


Amara membalas pelukan Tanara dan menangis di pelukan adik nya itu, Andai saja Tanara mengetahui hal yang sebenarnya mungkin Tanara tidak akan memaafkan Amara.


Ya walau, Amara dan Darren tidak melakukan apa-apa dan Darren tidak menyentuh nya. Namun, Darren sudah melihat tubuh nya walau Amara memakai pakaian.


Lingerie itu menonjolkan lengkukan tubuh Amara yang putih mulus, Darren pasti memandangi tubuh nya saat mereka berbincang kemarin. Bahkan, Amara saat ini menjadi simpanan Darren.


Amara yakin, walau tidak sekarang. Darren pasti akan menagih hutang itu dan menikmati tubuh nya. Amara tidak sanggup jika harus kehilangan mahkota nya apalagi bukan dengan suami nya nanti.


Amara membayangkan bagaimana jika suami nya kelak tahu jika kehormatan nya telah di renggut oleh Darren. Apa yang akan suami nya lakukan kepada Amara.


Amara yang membayangkan nya pun merasa ngeri.


"Jika kakak tidak ingin pulang, kita lebih baik di kelas aja dulu sampai pria itu pergi."


Amara, aku tidak akan pergi sebelum kau menemui ku! Lebih baik kau datang kepada ku sekarang, aku tahu kau sedang bersembunyi untuk menghindari ku.


Amara menangis, memejamkan mata nya. Mengapa ia bisa terjerat oleh pria seperti Darren.

__ADS_1


Dan juga bisa terjerat oleh Kimberly, andai saja dia tidak bodoh mau percaya dengan ucapan Kimberly mungkin hidup nya sudah damai sekarang tanpa masalah. Lagipula, kakak nya Stella sudah memberikan nya kartu ATM untuk membayar dan menenuhi kebutuhan nya walau tidak banyak namun cukup.


Aku memang bodoh, sekarang aku terjebak dalam kebodohan ku sendiri. Kau sungguh payah Amara. Lihat nya manusia-manusia yang memanfaatkan kebodohan mu.


__ADS_2