
Stella yang telah sampai di sekolah anak nya pun tersenyum melihat Zeline yang sedang di temani oleh guru nya..
Benar memang, sekolah itu begitu menjaga kemananan murid-murid nya walau Stella telat menjemput anak nya namun Zeline tidak di biarkan sendiri.
Stella memberikan card penjemputan murid kepada guru nya Zeline
"Terimakasih ibu, mohon tunggu sebentar ya Bu. Biarkan kami memeriksa nya dulu."
Stella mengangguk, ia sudah mengetahui peraturan yang ada di sekolah anak nya sebelum memasukkan Zeline ke dalam sekolah itu.
Setelah selesai mengecek kartu card penjemputan wali murid. Stella di perbolehkan membawa Zeline untuk pergi.
Sebelum pergi, guru Zeline menghentikan Stella ia mengatakan jika Zeline anak yang pintar. Mendengar pujian dari guru anak nya membuat Stella merasa senang.
"Terimakasih banyak ibu, anak saya memang begitu suka belajar di rumah."
"Maaf Ibu, ada hal yang harus saya bicarakan dengan ibu. Apakah ibu bisa ikut saya sebentar?"
Stella mengangguk dan mengikuti guru Zeline. Ia bingung apa yang akan di sampaikan oleh guru anak nya itu seperti nya itu hal yang sangat penting.
Guru itu membawa Stella ke dalam ruangan dan meminta nya untuk duduk, Stella duduk memangku anak nya.
Guru memberikan selembar soal untuk Stella. Stella melihat soal matematika itu, ini pelajaran yang baru di ajari oleh dosen nya saat diri nya masih kuliah. Stella yang wanita yang smart langsung mengerti yang dosen nya ajarkan.
Ia pun mengerjakan soal itu dengan sempurna, namun yang Stella tidak mengerti mengapa guru Zeline memberikan selembar kertas itu pada nya.
"Maaf Bu, ini apa maksud nya?"
Guru itu tersenyum, ia meminta kepada Zeline untuk mengerjakan nya "Zeline, sayang. Tolong kamu kerjakan ini, sebisa kamu saja nak. Jangan di paksa kan."
Zeline menuruti ucapan guru nya, ia pun mengerjakan sepuluh soal itu dalam waktu kurang sepuluh menit.
Stella menatap anak nya dengan tidak percaya, ia mengira jika anak nya memberikan jawaban yang asal. Namun, dugaan nya salah.
Zeline menjawab soal-soal itu dengan jawaban yang sempurna. Stella heran, mengapa anak nya bisa mengerjakan soal itu.
Guru Zeline pun tersenyum, ia mengatakan kepada Stella jika Puteri nya Zeline anak yang jenius.
"Bu, anak ibu anak yang jenius. Bahkan, ia bisa mengerjakan soal itu dengan waktu yang sangat singkat. Padahal, umur nya masih lima tahun."
Stella tercengang dengan ucapan guru anak nya. Memang benar, Stella melihat dengan mata kepala nya sendiri. Zeline mengerjakan itu dengan santai, bahkan diri nya dulu tidak secepat Zeline menyelesaikan tugas itu.
"Bu, jika ibu mengizinkan kami akan membawa anak ibu ke labolatorium untuk di uji."
Stella kaget mendengar ucapan guru anak nya, ia segera bangkit dari duduk nya. Tak mau membuat masalah, Stella mengajak anak nya untuk pulang ke rumah "Zeline, sayang. Ayo kita pulang nak! Kita sudah terlalu lama di sini." Stella menggenggam jemari anak nya, membawa anak nya pergi dari sana. Zeline yang baik pun menuruti permintaan sang mama
"Iya mama." namun guru itu mencegah Stella. Ia ingin mendapatkan izin dari Stella. Stella tak ingin kehilangan kesabaran, ia pun memberikan peringatan yang lembut pada guru anak nya. "Bu, saya tidak ingin membuat masalah di sini, dan tolong jangan uji kesabaran saja. Anak saya bukan lah robot yang bisa kalian uji! Permisi."
"Tapi, Bu. Tolong dengarkan kami, kami melakukan ini demi kebaikan anak ibu." langkah Stella terhenti, ia merasa geram dengan ucapan guru itu. Ia membalikkan tubuh nya menatap guru zeline "Jangan korban kan anakku demi kepentingan kalian! Dan sampai kapan Pun aku tidak akan mengizinkan kalian melakukan hal yang tidak baik kepada anakku. Anakku bukan lah sebuah alat percobaan!" ujar Stella dengan tegas
Stella bukan lah orang yang mudah marah, namun jika itu menyangkut tentang anak nya dan kenyamanan anak nya, Stella tidak akan tinggal diam. Dia akan membela anak nya sampai di titik darah penghabisan.
"Cih! Kenapa dengan rendah nya seorang guru mengatakan hal seperti itu." Desis Stella. Ia senang melihat kepintaran anak nya, namun Stella tidak akan sudi jika anak nya di jadikan contoh bahan percobaan seperti itu.
"Mama jangan malah-malah. Zeline takut." mata Zeline berkaca-kaca. Ia tidak pernah melihat kemarahan mama nya seperti ini, Stella pun mencoba untuk istighfar mengendalikan kemarahan nya.
__ADS_1
Stella tersenyum kepada anak nya dan mengatakan untuk tidak perlu takut "Sayang, Zeline jangan takut ya nak? Mama tidak marah kok. Ayo kita pulang."
Zeline mengangguk, berjalan bersama mama nya.
Di dalam perjalanan Stella masih tidak menyangka dengan sekolah itu. Ia memutuskan untuk memindahkan sekolah anak nya saja. Stella nggak mau anak nya menjadi terganggu dengan orang-orang seperti itu. Lagipula, Zeline belum waktu nya untuk mengerjakan soal seperti itu.
"Zeline sayang. Lain kali jika ada yang meminta Zeline mengerjakan tugas seperti itu..Jangan di kerjakan ya nak? Berpura-pura lah seolah Zeline tidak mengerti soal itu walau Zeline sudah tahu. Dan, jangan pernah menunjukkan kepintaran Zeline walau itu di depan guru Zeline sendiri. Kamu mengerti sayang?"
Stella menatap mata anak nya, Zeline mengangguk dan berjanji kepada sang mama akan melakukan apapun yang mama nya minta.
Zeline tidak ingin membuat Mama nya marah atau sedih seperti tadi, Zeline ingin mama nya seperti biasa yang penuh dengan lemah lembut dan sabar.
"Iya mama, tapi mama juga halus beljanji tidak akan malah malah sepelti tadi. Mama ku bukan lah Olang sepelti itu. Mama Zeline adalah mama yang paling sabar."
Stella pun mengiyakan ucapan anak nya. Dia juga merasa bersalah karena sudah marah marah di hadapan anak nya tadi. "Maafkan mama sayang, mama sudah membuat Zeline marasa takut. Mama hanya sedikit kesal dengan guru Zeline."
Zeline tidak mengerti mengapa mama nya kesal, Stella pun mengatakan kepada anak nya untuk tidak perlu pusing memikirkan hal itu.
"Saat ini hati mama sangat tidak baik, aku tidak mau membuat Mama semakin kesal." batin Zeline yang menatap mama nya.
Stella menunggu taxi online yang ia pesan namun belum datang juga. Stella semakin kesal, ucapan guru Zeline tadi membuat mood Stella berubah drastis.
Mungkin, Stella sudah banyak pikiran beberapa hari ini di tambah dengan ucapan guru itu.
Stella tidak bisa membayangkan tersiksa nya anak nya itu jika harus di jadikan bahan percobaan oleh mereka.
"Mama." panggil Zeline dengan lembut. Stella melirik anak nya "Iya, sayang?"
"Apakah mama masih kesal?" Stella menggeleng kan kepala nya dan tersenyum kepada anak nya, ia tidak ingin anak nya merasa sedih.
Taxi yang di pesan oleh Stella pun telah datang, Stella mengajak anak nya untuk naik.
Di dalam taxi, Stella mencoba untuk biasa saja. Melupakan segala kekesalan nya.
Sesampai di rumah, Stella membayarkan beberapa lembar uang kepada supir taxi tersebut. Ia pun mengatakan kepada supir taxi nya untuk mengambil kembalian nya saja.
"Terimakasih, nona." Stella tersenyum dan mengajak anak nya untuk turun.
Zeline mengikuti mama nya masuk ke dalam rumah. Rani menunggu Stella dan juga Zeline di depan pintu rumah.
Awal nya Rani ingin memarahi kakak nya, mengapa pergi sendirian di saat kakak nya masih sakit. Namun, Zeline memberikan kode kepada Rani untuk sebaik nya diam dan tidak mencari masalah.
Ia juga menatap raut wajah Stella yang terlihat sangat kesal, Rani mengurungkan niat nya.
Ia mengajak Zeline untuk naik ke atas mengganti pakaian dan segera makan. Zeline menuruti ucapan Rani, dan menaiki anak tangga menuju kamar.
Di dalam kamar, Rani bertanya kepada Zeline apa yang terjadi.
Zeline pun menceritakan segala nya kepada Rani. Rani tidak mengerti, mengapa kakak nya marah? Seharusnya kakak nya merasa senang karena kepintaran Zeline.
Rani menggantikan pakaian Zeline lalu mengajak Zeline untuk makan terlebih dahulu, setelah ia menidurkan Zeline. Rani akan bertanya sendiri kepada kakak nya, karena Stella selalu berbagi apapun masalah nya dengan Rani.
*******
Aska sudah menyiapkan segala persiapan untuk besok, jika memang anak Stella itu adalah anak nya. Dia akan menuntut hak asuh anak.
__ADS_1
Aska menyewa pengacara untuk memenangkan kasus ini. "Maaf tuan, tapi status kalian belum menikah. Secara hukum anak itu adalah hak ibu nya, saya pikir kasus ini akan sulit kita menangkan." ujar pengacara itu kepada Aska.
Aska tidak peduli, apapun yang harus ia tempuh dan berapa pun biaya nya Aska harus memenangkan hak asuh itu. Aska belum tahu, jika Zeline adalah anak nya dengan Stella.
"Saat ini posisi kita lemah, Karena tuan juga tidak menikah dengan nyonya Stella. Secara hukum, anak itu adalah anak ibu dan ibu nya lah yang berhak atas anak nya."
"Tolong lakukan apapun itu, pak. Kami sudah mau menikah, namun dia lah yang meninggalkan saya." ujar Aska. Xiu pun membenarkan ucapan anak nya. "Itu semua benar, kami sudah ingin menikah nya mereka. Namun, Stella pergi dan mengatakan jika itu bukan lah anak Aska."
"Namun, bagaimana jika itu memang bukan anak anda, tuan?"
"Kita tidak perlu membawa kasus ini ke pengadilan. Aku juga ingin tahu kebenaran nya dan mengapa Stella menjauhkan aku dari anak ku.
"Sebaik nya kalian tes DNA saja terlebih dahulu. Belum pasti juga jika anak itu adalah anak anda."
Aska terdiam, bagaimana jika memang benar itu bukan anak nya. Pasti akan membuat luka lama Aska kembali terbuka.
Xiu memegang bahu anak nya, menguatkan anak nya itu "Besok Kita akan mengetahui kebenaran nya." ujar Xiu. Aska pun mengangguk, Aska begitu mendengarkan ucapan ibu nya. Bagi nya, ibu nya adalah wanita yang begitu baik.
Xiu memang sangat menyayangi anak nya Aska. Dia juga sudah merestui hubungan Aska waktu itu bersama Stella. Namun hati nya belum bisa menerima Stella. Apalagi, budaya dan kepercayaan mereka yang berbeda.
Namun, demi kebahagiaan anak nya Xiu merelakan anak nya dengan Stella. Namun, apa yang Stella lakukan. Ia justru pergi meninggalkan Aska dan membuat Aska menderita selama bertahun-tahun.
Bahkan, Xiu kehilangan semangat anak nya. Semangat dan kebahagiaan anak nya juga hilang pergi bersama Stella. Di saat itu, Xiu sangat membenci Stella. Ia ingin Stella hancur dan merasakan apa yang anak nya rasakan.
Dengan memisahkan Stella dari anak nya, itu pasti akan membuat Stella menderita. Dengan itu, Xiu akan puas membalas rasa sakit hati anak nya.
Xiu mengajak anak nya untuk pulang ke rumah, Aska pun bangkit dari tempat duduk nya untuk kembali pulang ke rumah.
"Saya percaya kasus kami kepada anda. Berapa pun harga nya, Kami akan membayar nya namun anda harus memenangkan kasus ini bagaimana pun cara nya saya tidak perduli! Bahkan jika harus menggunakan cara yang kotor!" bisik Xiu kepada kuasa hukum keluarga mereka.
Xiu tidak ingin anak nya mendengar itu, jika memang anak Stella bukan anak Aska. Xiu tetap ingin merebut hak asuh itu. Agar Stella merasa kan kesedihan dan penderitaan yang ia beri kan kepada putranya Aska.
Kuasa hukum itu mengangguk mengerti, Xiu pun berlalu pergi meninggalkan ruangan bersama Aska menuju ke dalam mobil.
Aska menatap mami nya dengan wajah yang sedih "Mi jahat nggak kalau seandainya aku memisahkan Stella dari anak kami jika memang benar itu anakku?"
"Jahat? Tidak dong! Dia yang jahat telah menjauhkan mu dengan anak mu selama bertahun-tahun. Bahkan memanipulasi dan mengatakan jika itu bukan anak mu. Itu suatu kebohongan, kenapa kita harus perduli dengan nya jika dia saja sampai hati memisahkan kita dari pewaris keluarga Kita."
Apa yang dikatakan oleh Mami nya itu memang benar, kini Aska tidak akan merasa kasihan lagi kepada Stella.
Jika hasil DNA itu menunjukkan bahwa anak itu adalah anak nya, Aska akan merebut hak asuh anak mereka. Agar Stella merasakan bagaimana sakit nya di pisahkan oleh anak selama bertahun-tahun.
Lee cemberut mendengar itu semua, ia merasa malas jika harus mengurus anak Aska. Dia menikah dengan Aska ingin bahagia bukan menjadi baby sister yang merawat anak.
Namun, Lee tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia tidak ingin Aska membatalkan pernikahan mereka jika Lee memberontak sekarang.
Saat ini, yang terpenting adalah pernikahan mereka dahulu dan setelah itu. Lee akan menolak anak nya Aska, dan menyuruh Aska untuk memberikan Zeline kepada ibu nya saja..
Siapa yang ingin merawat anak dari wanita lain suami nya? Tentu saja Lee tidak Sudi, ia ingin menyingkirkan mertua nya saat sudah menikah dengan Aska. Namun, sekarang ada masalah baru lagi.
Xiu berjalan mendekati Lee, merangkul tubuh calon menantu nya. "Lee sayang, kamu nggak keberatan kan untuk merawat anak Aska nanti nya?"
dengan senyuman terpaksa Lee mengatakan ia tidak merasa keberatan. "Tidak mami! Lee bahkan senang bisa mengurus anak Aska. Karena anak Aska adalah anakku Lee juga bukan?" Xiu merasa senang mendengar ucapan Lee
Ia tidak tahu, jika Lee hanya lah berpura-pura baik. Lee wanita yang bermuka dua.
__ADS_1