
Stella menyentuh Amara, Namun lagi-lagi. Amara menepis tangan Stella.
"Kakak tau, Kakak salah. Kakak minta maaf sama kamu, Tanara dan Mama, Papa." Amara menatap Stella dengan penuh kebencian.
"Aku males liat muka kamu! Mending pergi sana!" ujar Amara dengan ketus.
"Kakak ingin ketemu sama Papa dan Mama." ucap Stella dengan lembut, ia memahami kemarahan adik nya.
"Mama dan papa udah nggak ada! Mama dan papa udah meninggal, dan kau adalah penyebab dari semua nya!"
Deg!
Hati Stella terasa sesak, dunia nya seketika runtuh. Bahkan, dunia selebar ini terasa sempit dan sesak bagi Stella. Stella terdiam terpaku, menetes kan air mata.
"Belum puas juga? Apa mau nunggu aku dan Tanara yang mati?"
"Kak! Jangan bicara seperti itu, ini bukan salah kak Stella!" ujar Tanara menahan tubuh Stella yang lemas ingin jatuh.
"Kamu anak kecil, nggak usah ikut campur! Ini urusan aku dengan dia!"
"Kak! Dia adalah kakak kita. Jaga sikap mu, Kak! Mama dan Papa nggak pernah ajarin kita untuk kurang ajar dengan kakak Stella."
"Kurang ajar? Harus nya ngomong sama dia! Mama dan Papa begitu menyayangi nya. Tapi, anak ini sungguh tidak tau diri! Bahkan ia yang menyebab kan kita kehilangan Mama dan Papa! Kau ngerti nggak!" bentak Amara kepada sang adik. Wajah nya memerah. Seperti nama nya, Ia pun sangat mudah marah. Stella tidak mengucap kan satu kata pun. Pertahanan nya lemah, Stella tak sadar diri.
__ADS_1
******
Tanara memberikan minyak kayu putih di hidung Stella. Membuat Stella tersadar, ia melihat diri nya sudah terbaring di kamar nya. Stella teringat ucapan adik nya, Amara. Ia pun meminta Tanara untuk menceritakan segala nya.
Enam Tahun Lalu
Setelah, Papa nya mengusir Stella dari rumah. Mama Stella menjadi orang yang pendiam dan jatuh sakit. Tak pernah lagi ada senyuman di raut wajah mama mereka. Bahkan, mama nya juga tak mau makan apalagi minum obat. Mama Stella terus saja memanggil nama diri nya. Beberapa bulan sakit, mama nya pun menghembus kan nafas terakhir nya. Papa Stella yang tak kuasa menahan kesedihan karena kematian mama mereka pun terkena serangan jantung di saat itu juga dan meninggal dunia di saat mayat mama mereka masih ada di dalam rumah.
Pada saat itu, Amara menjadi anak yang sangat pemarah dan penuh dengan kebencian. Ia menyalah kan Stella dengan semua kejadian yang ada. Baginya, Stella yang bersalah. Jika saja Stella tidak pergi dan membuat masalah, mungkin sampai saat ini kedua orang tua mereka masih ada bersama mereka.
Amara dan Tanara hanya hidup berdua di rumah, untung saja kedua orang tua mereka memiliki tabungan yang sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka yang di temani dengan beberapa pembantu. Kedua orang tua Stella, juga memiliki asuransi untuk pendidikan adik-adik Stella.
Flashback end.
"Mama jangan menangis! Ini udah lencana Allah untuk kita! Mama halus kuat, mama ku adalah mama yang kuat!" Zeline memberikan semangat pada ibu nya. Stella memeluk Zeline dan semakin terisak. Ia tak tahu, jika selama ini kedua adik nya sangat menderita tanpa kehadiran orang tua. Stella juga memeluk Tanara dan Rani.
"Kakak janji, Kakak akan di sini bersama kalian. Kakak juga akan kerja untuk kalian ber-empat." saat ini tugas Stella semakin berat. Di umur yang masih sangat muda, ia harus melindungi dan membiayai empat anak sekaligus. Namun, Stella tak mengeluh. Ia berjanji pada diri nya sendiri untuk membahagiakan anak dan ketiga adik nya dengan sebaik mungkin. Ia juga tak akan membiar kan mereka merasa kekurangan sedikit pun.
"Ini janji kakak untuk kalian, Kakak nggak akan membiarkan kalian merasa kekurangan sedikit pun." Stella semakin mengerat kan pelukkan nya.
"Udah selesai drama nya?" tanya Amara dari depan pintu kamar dengan penuh kesombongan. Stella melepas kan pelukkan mereka. Menoleh ke arah Amara.
"Amara, Kakak minta maaf."
__ADS_1
"Mending kalian segera pergi deh! Aku muak!"
"Ini kan juga lumah mama ku! Tante aja yang pelgi!" ucap Zeline yang melotot kan mata nya kepada Amara, Ia tak suka jika ada orang yang bersikap tidak baik pada mama nya. Zeline sudah sangat kesal dengan Amara sejak di halaman rumah tadi.
"Diam kau anak kecil!" bentak Amara pada Zeline. Stella pun menegur Amara.
"Kakak memaklumi jika kau marah dengan kakak, kau bisa benci kakak sepuas mu. Kakak akan tetap sayang dan menjaga mu di sini. Tapi, jangan lihat kan anak kakak! Dia nggak tahu apa-apa, bagaimana pun dia adalah keponakan mu. Jangan kasar pada nya! Karena kakak nggak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh anak kakak."
Amara pun berlalu pergi dari situ dengan hentakan kaki yang kesal. Zeline meledek Amara yang pergi dengan wajah kesal.
"Sayang, kamu juga nggak boleh gitu ya? Itu Tante kamu juga." tegur Stella dengan lembut pada anak nya.
"Kakak istirahat lah, Aku akan mengajak Zeline dan kakak ini untuk ke kamar mereka."
"Kakak ingin ke makam Mama dan Papa." ujar nya. Namun, Tanara menyuruh Stella untuk istirahat terlebih dahulu
"Kakak telah melakukan perjalanan yang jauh, Itu cukup melelah kan. Lebih baik, kakak istirahat lah. Aku yakin, Zeline dan kakak ini juga sangat lelah. Apa kakak tidak kasihan pada mereka?" Stella pun merenung, lalu menyetujui ucapan adik nya.
Tanara membawa Zeline dan Rani keluar dari kamar Stella. Setelah kepergian anak dan adik-adik nya. Stella kembali menangis. Ia masih merasa sangat hancur kehilangan kedua orang tua nya. Dan yang paling ia sesali adalah, tak bersama mereka di saat-saat terakhir mereka. Stella terisak di dalam tangisan nya, ia mengutuk diri nya sendiri. Karena bagaimana pun, ini semua karena ulah dan dosa nya di masa lalu.
Ya Allah, Kenapa tidak aku saja yang engkau hukum? Kenapa harus kedua orang tua dan adik-adik ku yang harus membayar segala dosa ku? Ya Allah, kenapa harus mereka yang pergi?
Stella mengutuk dirinya berulang-ulang, Ia merasa sangat tidak berarti lagi. Anak mana yang dunia nya tidak runtuh jika kedua orang tua nya pergi meninggalkan mereka selama-lama nya. Bahkan, ia adalah alasan orang tua nya meninggal dunia. Membuat Stella semakin hancur dalam kesedihan nya.
__ADS_1