Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Menyambut Stella


__ADS_3

"Iya mami, Lee berharap mami bisa melakukan sesuatu."


Xiu pun berjanji kepada Lee akan mengembalikan Aska untuk Lee.


Ke dua nya mematikan ponsel nya.


Lee tertawa senang, ia menertawakan kebodohan Xiu ibu nya Aska.


Apalagi Xiu mengatakan jika diri nya akan tetap membiayai keperluan dan fasilitas Lee.


Lee mencampakkan ponsel nya ke atas tempat tidur, tertawa dan mengingat diri nya menghabiskan waktu satu malam bersama pria tampan itu.


Lee berharap jika ia bisa memikat hati pria itu, namun Lee juga harus memastikan apakah pria itu lebih kaya dari Aska atau tidak.


Lee tidak mau hidup susah lagi, ia ingin mencari pria yang kaya raya untuk kesejahteraan hidup nya.


******


Pagi ini, Stella menyiapkan zeline untuk bersiap sekolah. Zeline bertanya kepada mama nya apakah Azriel akan segera datang.


Stella mengangguk, zeline begitu senang.


Rani pun tersenyum senyum sendiri dengan malu, ia pun sudah tidak sabar dengan kehadiran Azriel.


Tanara dan Amara sudah bersiap, turun ke bawah untuk sarapan pagi.


Jika di lihat, ke dua nya begitu mirip bak anak kembar, Stella sudah mempersiapkan sarapan untuk anak dan adik-adik nya.


Hari ini guru privat Rani juga akan datang untuk mengajari Rani.


"Rani, kakak hari ini masuk kerja. Nanti akan ada guru privat kamu datang ke sini, jadi bersiap dan rajin belajar ya. Kakak tau kamu anak yang pintar."


"Terimakasih banyak kak, kakak begitu baik kepada ku."


Mendengar Rani akan homeschooling membuat Amara kesal, ia tidak bisa menerima perlakuan baik kakak nya kepada Rani yang bukan siapa-siapa.


Homeschooling juga membutuhkan biaya yang besar.


"Kak, homeschooling itu kan biaya nya tidak sedikit." keluh Amara, Rani terdiam.


Stella mengerti apa maksud adik nya


"Rani mendapatkan biaya pendidikan dari kak Zidan, bos nya kakak. Dan tabungan ke dua orang tua kita juga enggak akan terganggu kamu jangan khawatir." ujar Stella


Rani merasa tidak enak mendengar keributan yang terjadi.


"Kak sudah lah, benar apa kata Amara. Biaya homeschooling itu sangat mahal dan lebih baik Rani tidak usah homeschooling dan uang nya di tabung untuk Amara dan Tanara."


Jauh berbeda dari Amara, Tanara setuju dengan kakak nya Stella.


Menurut nya Rani juga pantas mendapatkan pendidikan yang layak.


"Kak Rani lebih baik homeschooling saja di rumah, kakak juga harus mendapatkan pengetahuan yang layak. Jangan pikirkan hal yang lain kak, tolong hargai lah perjuangan kakak kita kak Stella. Kak Stella menginginkan yang terbaik untuk kita sebagai adik-adik nya."

__ADS_1


Tanara menyemangati Rani dan mengatakan jika tidak boleh menyerah sebelum berjuang.


Rani juga anggota keluarga ini, ia berhak mendapatkan pendidikan dan fasilitas yang sama seperti yang Amara dan Tanara dapat kan.


Rani terharu mendengar ucapan Tanara begitu juga dengan Stella.


Tanara jauh lebih dewasa dalam berfikir ketimbang Amara.


Amara pun tak mau banyak komentar lagi, dia hanya mengatakan jika semua itu terserah.


Amara langsung bangkit dari meja makan, ia kehilangan selera untuk sarapan.


Tanara mengatakan kepada Rani untuk tidak memikirkan dan ambil pusing dengan ucapan kakak nya Amara


"Kak, jangan sedih dan ambil pusing dengan ucapan kak Amara, kakak Amara memang seperti itu namun hati nya baik kok."


Rani tersenyum kepada Tanara, Tanara pun berpamitan kepada ke dua kakak nya untuk berangkat ke sekolah.


Zeline akan di antar oleh Stella. Rani ingin menemani Zeline namun Stella menolak karena guru privat Rani akan datang sebentar lagi.


Sebelum mengantarkan anak nya sekolah, Stella mencuci piring bekas mereka makan..


"Kak biar aku saja." ujar Rani namun Stella menolak.


"Sudah biar kakak saja. Kamu bersiap lah mandi. Nanti guru mu datang masa masih bau haha." ledek Stella kepada kakak nya.


Rani pun malu, apalagi zeline juga mengejek nya bau.


Rani langsung bergegas ke atas bersiap diri. Di rumah ini hanya Stella yang menghargai Rani.


Dan mencuci piring bekas makan Amara dan Tanara.


Amara masuk ke dalam mobil dan terlihat begitu kesal, Tanara mengatakan kepada kakak nya untuk tidak perlu kesal.


"Kenapa kakak kesal?"


"Dik kamu tau kan? Rani itu hanya adik angkat saja. Kenapa ia harus di perlakukan dengan istimewa. Biaya homeschooling itu sangat besar!"


"Sudah lah kak, kan tidak apa-apa. Kak Rani itu juga sudah menjadi kakak kita, kakak lupa? Saat kak Stella sakit kak Rani mengurus keperluan kita dengan baik. Ia memberikan makan yang sehat untuk kita, bahkan piring bekas kita juga ia cuci. kak Rani tidak ada keberatan untuk itu semua."


"Itu kan tanggungjawab dia, masa dia mau tinggal di rumah kita enak-enak saja?"


"Kak, kak Rani itu di bawa pulang untuk menjadi adik kak Stella, bukan pembantu. Adik nya kakak kita berarti itu juga kakak nya kita." ucap Tanara.


Stella masuk ke dalam mobil bersama zeline.


Amara terdiam, ia malam berdebat lagi. Amara tau pasti kakak nya akan membela Rani.


Dia pasti akan di anggap manusia jahat dan mempunyai sifat iri dan dengki.


Stella menatap Amara ia pun menghela nafas panjang.


"Amara, mungkin kamu mengira kakak terlalu berlebihan kepada Rani. Amara, kakak menganggap Rani seperti adik kandung kakak sendiri dan kakak mau memberikan yang terbaik untuk adik-adik kakak."

__ADS_1


Amara hanya terdiam, Stella memberikan penjelasan kepada adik nya.


Zeline yang kesal pun memarahi Amara. Zeline tidak terima jika Rani di perlakukan seperti itu.


Stella menasehati anak nya perlahan. Ia tidak mau jika anak nya menjadi anak durhaka atau kurang ajar kepada orang yang lebih tua.


Zeline pun diam namun ia tidak mau menatap Tante nya Amara.


Setelah mengantarkan Amara dan Tanara. Stella pun mengantar zeline ke sekolah. Ia menitipkan pesan kepada anak nya untuk tidak nakal di sekolah.


Stella takut jika anak nya nakal dan menyusahkan diri.


"Sayang, mama mau pergi kerja dulu. Kamu di sini belajar yang benar ya sayang jangan nakal."


Stella mencium anak nya dengan penuh kasih dan sayang.


Setelah mengantarkan zeline. Stella pun meminta supir mengantar diri nya bekerja


Ia pun sampai di restauran tempat nya bekerja


Laras dan karyawan lain menyambut kedatangan Stella dengan penuh hangat dan meriah.


Mereka senang karena Stella sudah bergabung lagi ke cafe dan bekerja kembali.


"Selamat datang kembali ibu Stella." ujar Laras yang memberikan bunga kepada Stella.


Stella mengatakan jika mereka tidak perlu repot melakukan ini untuk nya..


"Tidak ada yang repot Bu, kami melakukan ini dengan senang hati." ujar salah satu karyawan


.


Stella menangis terharu melihat keperdulian para rekan kerja nya kepada ia.


Padahal Stella baru saja bekerja di cafe Zidan.


"Kamu udah baikan Stella? Kalau belum jangan di paksa." ujar Zidan dengan khawatir.


Zidan memang masih memperdulikan tentang Stella ia sudah menganggap Stella seperti adik nya sendiri.


"Sudah lebih baik makanya aku bekerja. Aku juga tidak enak karena sudah berlibur terlalu lama."


"Jangan terlalu memikirkan itu, Bu Stella." ujar Laras, walau ia sudah memanggil Stella dengan nama namun jika di jam bekerja ia tetap profesional terhadap Stella dan juga Zidan.


Setelah selesai menyambut Stella. Karyawan lain nya menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh Zidan dan Laras.


Mereka sengaja belum membuka toko karena ingin menikmati waktu sejenak.


Zidan juga tidak mau memaksa para karyawan nya untuk bekerja terlalu lelah


Para karyawan sangat bersyukur karena memiliki bos sebaik Zidan.


Bahkan Stella dan Laras yang memiliki jabatan yang tinggi di cafe ini pun tidak pernah bersikap seenak nya kepada mereka.

__ADS_1


Selalu melindungi mereka dari para customer yang bersikap seenak nya


__ADS_2