Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Kecewa


__ADS_3

"Mami dan Papi udah mengikuti permintaan kamu! Kita udah pindah ke kota ini selama dua bulan untuk mencari keberadaan dia. Tapi, lihat lah! Dia pun nggak ada di sini!"


"Tapi, orang suruhan aku berkata jika Stella berada di kota ini, Mi!"


"Mana bukti nya? Tidak ada bukan? Jika memang orang-orang suruhan kamu itu tahu keberadaan nya, kenapa mereka tidak membawa saja Stella di hadapan kamu?" Aska pun terdiam mendengar ucapan mama nya.


"Ah sudah lah, Mi! Aska lelah! Aska ingin istirahat saja!"


"Lihat lah, Pi! Dia terlalu sibuk memikir-kan wanita itu sehingga melupakan kesehatan kita. Dia lupa, Jika hari ini adalah jadwal Papi memeriksa kesehatan."


Astaga, Aku melupakan itu ~ batin Aska.


"Baik lah, Mi. Aska akan mengantar Mami dan Papi untuk pergi periksa."


*******************


Stella memasak dengan sepenuh hati untuk Rani, ia begitu senang akhir nya tak tinggal sendirian lagi. Aroma masakan Stella membuat Rani menghampiri nya.


"Wangi sekali kak." seolah tak sabar untuk menyicipi masakan Stella.


"Kamu bisa saja." tiba-tiba perut Stella terasa begitu keram, ia menghenti kan kegiatan nya.


"Kak kenapa?"


"Aw, Sakit sekali." ucap Stella.


"Ayo kak! Aku akan mengantar kan kakak kerumah sakit." Stella menggigit bibir bawah nya menahan sakit, Dahi nya berkeringat. Stella mensetujui ajakan Rani. Rani memati kan api kompor, dan menuntun Stella ke luar rumah.


"Stella, Kamu kenapa?"


"Perut ku! Sakit sekali!"


Pria itu bernama Azriel. Pria bertubuh tinggi, kulit berwarna sawo matang. Beberapa bulan yang lalu. Azriel sering serapan di warung milik Stella. Ia pun menyukai Stella. Sejak itu, Azriel dan Stella menjadi seorang sahabat. Stella tak mengetahui jika Azriel memiliki perasaan dengan nya. Azriel pun membantu Rani menuntun Stella untuk ke rumah sakit.


"Aw, sakit sekali." ujar Stella yang menahan sakit.

__ADS_1


"Tenang lah, Stella! Sebentar lagi taxi nya akan datang. Bertahan lah!" Stella mencengkram bahu Azriel.


"Ak-aku udah nggak sanggup, Ziel! Aku, awwww." tubuh Stella gemetar, bibir nya begitu sangat pucat. Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit.


"Ku mohon, Bersabar lah!" Azriel juga begitu bingung harus bagaimana


"Lihat lah dia! Dia sudah mau melahir kan, apa jangan-jangan dia mengandung anak pria itu. Pria itu kan sering sekali ke rumah nya." ujar ibu-ibu rempong yang sedang berbelanja sayur keliling.


"Hey, Ibu! Apa kalian tidak tahu malu mencerita kan orang? urus saja urusan kalian! Jangan mencampuri urusan kakak aku! Masak saja untuk suami kalian, agar tidak berpaling dari ibu-ibu yang selalu mencampuri urusan orang lain!" kesal Rani yang membela Stella dari hinaan para tetangga.


"Lihat lah! Masih kecil sudah seperti itu, Bagaimana besar nanti?"


"Mungkin saja akan seperti kakak nya."


Hahahaha


Suara hinaan dari para tentangga membuat darah Rani mendidih. Rasanya dia ingin sekali menghajar ibu-ibu yang julit itu. Rani sudah terbiasa tinggal di jalanan. Hal itu tingkah nya berbeda dengan anak umur dua belas tahun pada umum nya.


"Iya, jika aku besar. Aku akan merebut perhatian suami kalian. Berdoa saja kalian tidak menjadi janda di usia tua!" ketus Rani. Ibu-ibu rempong itu pun menjadi marah karena ucapan Rani.


"Taxi sudah datang, sebaik nya kita segera membawa Stella ke rumah sakit. Jangan hirau kan ucapan mereka." pinta Azriel, Rani menuruti ucapan Azriel dan membantu Stella untuk masuk ke dalam taxi.


Rani mencoba menenang kan Stella. Tetapi, rasa sakit yang alami Stella tak mampu ia tahan lagi. Stella menangis, ia mengingat Aska dan kenangan mereka di masa lalu.


Andai kamu nggak khianati kepercayaan aku, Saat ini aku pasti bersama mu. Kita akan melalui ini bersama-sama ~ Air mata Stella menetes.


"Mama, sakit." Stella menyebut mama nya. Sedari dulu, saat ini sakit mama nya selalu ada dan begitu sabar merawat nya.


*********


Di rumah sakit, Azriel mengambil kursi roda untuk Stella. Stella pun duduk, Azriel membantu untuk mendorong kursi roda.


"Stella."


Deg.....

__ADS_1


Suara itu tak asing bagi diri nya, Stella mengenali suara itu.


"Azka." gumam nya pelan.


Dan benar saja, orang itu adalah Aska. Kekasih yang sangat Stella cinta. Aska mendekati Stella.


"Kamu dari mana saja? Aku mencari mu kemana pun, aku sangat merindu kan mu, Sayang." Aska berlutut dan langsung memeluk Stella.


"Aku merindukan mu." Stella dengan cepat melepas kan peluk kan itu.


"Maaf, kita bukan muhrim!"


"Stella apa yang terjadi pada mu?" pandangan mata Aska tertuju pada perut buncit Stella. Ia tersenyum dan mengelus perut itu


"Anakku." tapi lagi-lagi, Stella menepis tangan Aska.


"Ada apa?" tanya Aska bingung, Tetapi ia tidak memperduli kan sikap Stella. Saat ini, dia sangat bahagia. Setelah berbulan bulan berpisah, akhir nya mereka bertemu lagi.


"Ayo! Pulang lah bersama ku." ajak Aska.


"Tidak!"


"Ti-tidak? Tapi, Kenapa?"


"Karena aku sudah menikah! dan dia adalah suami ku." ucap Stella berbohong, ia menunjuk ke arah Azriel, Azriel yang mendengar nya pun terkejut.


"Bagaimana bisa? Aku papa dari anak ini, bukan dia! Kenapa kau menikah dengan dia?"


"Benar dugaan Mami! Itu bukan anak kamu! Kamu di bohongi oleh nya, karena takut ketahuan. Makanya dia kabur dari rumah kita. Dasar perempuan jalang!" Aska menetes kan air mata, ia tak menyangka wanita yang sangat dia cinta tega mengkhianati nya.


"Aku menunggu dan mencari mu selama ber bulan-bulan, bahkan saya menghancur kan diri saya demi kamu. Karena kehilangan kamu, tapi ini balasan kamu, Stella?" Aska merasa sangat kecewa. Stella tak berbicara apapun, ia meminta Azriel untuk membawa nya pergi menjauh dari Aska dan ke-dua orang tua nya.


Aska memandangi Stella yang menjauh dari nya, hati nya begitu terasa sakit dan penuh dengan amarah dan kebencian. Aska mengerat kan genggaman tangan nya, Rahang nya mengeras.


"Lihat lah, dia! Kamu selama ini selalu memikir kan nya setiap hari, menit, dan detik. Tapi, lihat lah balasan nya! Dia mengkhianati dan menipu mu. Mami sangat membenci nya, Mami nggak suka sama dia! Dasar manusia tak tahu diri! Cih!"

__ADS_1


"Sudah lah, sebaik nya kita pulang saja! Mami tidak usah menambah beban pikiran untuk Aska. Saat ini, Aska butuh waktu untuk berfikir jernih."


"Sejak dahulu Mami selalu berkata pada kalian! Tetapi, kalian tidak pernah mau mendengar kan mami! Lihat lah, Sekarang! hanya pengkhianatan dan penipuan yang kita dapat kan. Tapi, untung saja anak kita nggak jadi menikah sama wanita seperti dia. Bisa hancur keturunan kita! Mami setidak nya begitu bahagia."


__ADS_2