Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Ketakutan


__ADS_3

Setelah kegaduhan yang terjadi di rumah, Stella memutuskan untuk meminta izin tidak masuk karena ia ingin menenangkan adik-adik nya terlebih dahulu.


Bos Stella yang sangat baik pun memperbolehkan nya. Stella masuk ke dalam kamar Tanara. Ia melihat ke dua adik nya yang tertidur dengan lelap. Ia tahu, kejadian tadi membuat adik-adik nya trauma.


Stella tidak menyangka jika Bibi Dan Paman nya bisa begitu serakah, di luar hujan begitu deras. Stella harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan baku untuk makan malam nanti.


Stella meminta kepada Rani untuk menjaga anak dan adik-adik nya.


"Kak, Rani ingin ikut dan menjaga kakak. Di luar sangat lah deras hujan nya. Bagaimana jika ada yang menganggu kakak."


"Tidak Rani! Sebaiknya kamu di rumah saja menjaga Zeline, Tanara dan juga Amara. Kakak lebih mencemaskan jika Bibi dan Paman kembali. Kamu lihat bagaimana trauma nya Tanara juga Amara kepada mereka. Kakak percaya jika kamu bisa melindungi mereka."


"Baik lah kak, Rani akan menjaga mereka."


"Rani, saat kakak pergi. Sebaiknya kunci saja gerbang dan rumah. Kamu juga harus menjaga diri mu, kakak tidak ingin sesuatu terjadi kepada kalian." ujar Stella yang cemas meninggalkan anak dan adik-adik nya di rumah.


Rani memegang pundak Stella, ia mengatakan jika tidak perlu khawatir dengan mereka. Bahkan, sebenarnya yang harus di khawatirkan adalah Stella. Hujan di luar sangat lebat.


"Kak bagaimana jika nanti saja kakak belanja nya. Setidaknya menunggu hujan berhenti."

__ADS_1


Stella menggeleng, jika menunggu hujan reda ia tak tahu kapan hujan akan berhenti. Dan hari sudah sudah mulai gelap


"Jika kakak menunggu hujan berhenti, hari akan semakin gelap. Itu akan membuat kakak lebih berbahaya di luar rumah." Stella meyakinkan Rani jika ia bisa menjaga diri nya sendiri dengan baik


Dengan berat hati, Rani pun mengiyakan ucapan kakak nya. Rani pun mengikuti ucapan Stella yang mengunci pintu rumah.


*******


Stella yang sudah sampai di pasar pun membeli bahan-bahan pokok yang di perlukan secukupnya,hari ini ia memutuskan untuk naik angkutan umum saja. Tidak mungkin untuk nya membeli banyak belanjaan, jadi ia membeli seperlunya saja. Setelah selesai berbelanja Stella menunggu angkutan umum.


Namun, ia melihat mobil mewah yang berhenti tepat di hadapan nya. Stella kaget bukan main, ia ingin berlari meninggalkan tempat yang sepi itu namun tangan nya di genggam dengan kuat. Stella di paksa untuk masuk ke dalam mobil.


"Lepasin! Apa-apan ini!" Stella ingin keluar dari mobil, namun mobil sudah di kunci sehingga ia tidak bisa keluar.


Sebenarnya, Stella menggunakan payung namun pria tersebut memaksa Stella ikut dengan nya dan membuat payung itu terbang.


"Apa mau mu? Lepaskan aku!" teriak Stella. Namun, pria itu tak menggubris ucapan Stella. Stella ketakutan bukan main, ia juga tidak membawa ponsel karena hujan yang begitu lebat.


Ya Allah lindungi aku

__ADS_1


Stella hanya bisa berdoa, ia melihat pria yang di samping nya dengan wajah yang marah dan seperti nya sedang mabuk. Pria itu adalah Aska.


Aska memberhentikan mobil nya di parkiran apartemen yang tertutup, tak ada orang satu pun di situ.


"Me-mengapa kau membawa ku ke sini?" ujar Stella yang menatap mata Aska.


"Ikut aku!" ujar Aska dengan nada yang begitu tinggi. Stella menggeleng, ia tak mau turun dari mobil, Stella tahu jika ini adalah apartemen pribadi Aska.


Aska yang semakin kesal pun turun dari mobil, ia mutar untuk membuka pintu mobil Stella.


Stella membuka pintu untuk Stella tanpa aba-aba ia langsung menggendong tubuh Stella yang kecil itu.


"Lepaskan aku Aska!" Stella berusaha berontak, hati nya tidak tenang.


Aska yang menggendong Stella pun berjalan ke lantai atas, masuk ke dalam kamar yang begitu mewah. Stella menangis ketakutan, ia takut jika Aska melakukan hal yang sangat buruk pada nya.


"To-tolong lepaskan aku!" ucapnya dengan nada gemetar. Aska meletakkan tubuh Stella ke atas kasur dengan begitu kasar. Ia pun mengunci pintu kamar itu.


Stella teriak ketakutan "Aska sadarlah! Kau sedang mabuk."

__ADS_1


Namun, Aska tidak memperdulikan ucapan Stella, ia memandangi wajah dan baju Stella yang basah kuyup "Kau sangat cantik Stella," Aska membelai kepala Stella.


"Le-lepaskan aku, anak ku sudah menunggu ku di rumah." mendengar Stella menyebut anak, emosi Aska memuncak.


__ADS_2