
"Jangan mengatakan hal seperti itu, kau tidak bersalah. Yang bersalah pria brengsek itu!"
"Iya Stella. Jangan mengatakan hal seperti itu, kamu berharga."
Hati Laras dan Zidan hancur melihat ketidakberdayaan Stella. Tak ada lagi kegembiraan di wajah Stella, ia kini menjadi wanita yang pasrah.
"Jangan melemah Stella, ingat lah anakmu! Jangan terus-terusan melemah karena pria itu. Kau harus bangkit, dan harus tetap bertahan. Jangan begini."
Laras memeluk Stella dengan erat.
"Aku akan membalas Aska dengan cara ku, tapi aku mohon jangan lakukan kekerasan, itu juga tak akan merubah keadaan." pinta Stella kembali, Zidan pun hanya bisa mengiyakan permintaan Stella.
__ADS_1
"Aku tak akan melakukan kekerasan, tapi kau juga harus berjanji untuk tetap kuat dan jangan melemah seperti ini. Anakmu, adik mu, dan kita semua membutuh kan mu."
Stella menganggukkan kepala nya, ia berjanji kepada Zidan dan Laras tidak akan melemah. Namun, ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran nya.
Trauma yang di buat oleh Aska begitu membekas di ingatan Stella.
"Ia menghancurkan kehidupan ku, membuat luka ini sangat membekas begitu dalam. Hati ku hancur, bahkan trauma ku seakan tak bisa sembuh lagi. Aku hanya membutuhkan waktu, tapi enggak tahu sampai kapan. Aku cuman mau tenang dulu saat ini,"
"Istirahat lah yang total Stella, tak usah memikirkan kerjaan mu, tetap lah fokus kepada kesehatan mu. Kau bisa masuk kapan pun saat kau sudah siap, dan membaik.".
"Terimakasih Zidan. Kau sangat mengerti aku, aku sangat berhutang Budi kepada mu."
__ADS_1
"Ah jangan mengatakan itu, kau adalah teman ku. Sesama teman sudah sepantas nya saling membantu, kau juga sudah membantu ku selama ini. Membantu keuangan ku dengan sangat baik, bahkan karena mu aku bisa mendapatkan untuk yang berlipat tidak seperti biasa nya. Kau membantu ku bagaimana menghandle cafe dengan baik. Tanpa mu mungkin aku tetap pada kegiatan lama ku yang buruk."
Stella mencoba tersenyum, Laras melihat kedekatan kedua nya. Hati nya merasa cemburu namun ia melawan rasa cemburu itu ia tahu jika Zidan melakukan ini karena memang Stella adalah teman baik dari bos nya.
Stella memandangi wajah Laras, ia merasa jika laras merasa sedih. Dia pun tak mau laras terus merasa cemburu. Memang begitu lah Stella walau hati dan keadaan nya sedang hancur dan rapuh. Ia masih memikirkan perasaan orang lain.
"Baik lah Stella. Aku harus segera kembali, karena aku harus mengurus bisnis ku yang lain. Jika kau membutuhkan bantuan, jangan sungkan. Aku selalu ada, hubungi aku kapan pun kau mau."
"Iya, Zidan. Sekali lagi aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada mu. Aku sungguh berhutang Budi."
"Tidak, jangan mengatakan itu. Sudah aku katakan aku tak pernah menganggap itu sebagai hutang Budi untuk mu. Aku menolong mu dengan ikhlas, dan itu tanggungjawab ku sebagai bos sekaligus teman baik mu."
__ADS_1
Zidan dan Laras pun berpamitan pulang kepada Stella, sebelum pulang Laras memeluk Stella dan kembali menyemangati Stella, memberikan kekuatan untuk atasan sekaligus teman baru nya itu.