Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Merasa Beruntung


__ADS_3

Stella ingin menghubungi Zidan dan meminta izin kepada Zidan. Namun, ia mengurungkan niat nya.


Stella tak enak hati, ia tidak mau para karyawan berfikir jika dirinya bersikap seenak nya karena posisi jabatan ini.


"Melamun aja!" Stella di kejut kan oleh suara Zidan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Stella menoleh ke arah Zidan dengan tatapan jengah.


"Zidan, kau ini! Hampir saja jantung ku mau putus, kau sungguh membuat ku kaget." ujar Stella. Zidan hanya tertawa, duduk di kursi tepat di hadapan Stella.


Zidan bertanya, hal apa yang membuat Stella sampai melamun seperti ini. Stella pun memberitahu Zidan jika adik nya tadi menghubungi nya dan mengatakan anak nya begitu rewel.


"Ini pertama kali nya, Zeline tidak bersama ku. Mungkin, ia tidak terbiasa dengan suasana baru di kota ini dan juga sekolah baru."


Zidan pun mengerti dengan kegelisahan yang di alami oleh Stella. Zidan meminta teman nya itu untuk membawa Zeline ke cafe saja. Stella tercengang dan menolak.


"Tidak, aku tidak ingin anak ku mengganggu pekerjaan karyawan di sini." ujar Stella. Zidan pun mengatakan jika itu tidak masalah.


"Tidak masalah, Stella. Lagipula, pekerjaan mu hanya memantau saja di ruangan ini. Hanya sesekali saja, kau keluar dari ruangan. Di ruangan ini, juga ada satu ruangan kamar untuk istirahat. Fasilitas nya juga lengkap, jika anakmu ingin istirahat bisa di situ."


Stella semakin kaget, ia juga tidak menyadari jika di ruangan ini terdapat kamar pribadi.


Stella tak enak hati jika terus merepotkan Zidan. Namun, Zidan menyangkal semua itu. Justru, ia mengucapkan terimakasih banyak kepada Stella. Karena Stella mau membantu diri nya, bahkan pengeluaran uang juga tidak begitu banyak. Karena Stella mau turun langsung berbelanja di pasar.


"Segera hubungi adik mu, minta lah mereka membawa Zeline ke sini. Buruan!" ujar Zidan, Stella pun tak punya pilihan lain, selain mengiyakan ucapan Zidan.


Ia mengambil ponsel nya, menghubungi Tanara. Ia meminta tolong kepada Tanara untuk menjemput Rani terlebih dahulu, lalu meminta supir membawa Rani dan Zeline ke tempat diri nya bekerja. Tanara pun mengiyakan ucapan kakak nya lalu Stella dengan segera memutuskan panggilan mereka.

__ADS_1


"Kau bisa membawa mereka, jika tidak ingin terganggu. Kau bisa menyuruh mereka di kamar saja. Jangan Bebani pikiran mu dengan hal yang tidak penting, enjoy aja kerja nya toh juga posisi mu tidak membuat mu kesulitan." ujar Zidan, Stella pun setuju dengan ucapan teman nya itu. Namun, diri nya masih tak enak hati.


"Permisi, Tuan. Nona, ada yang datang mencari nona Stella." ujar Laras yang masuk ke dalam ruangan dengan kepala tertunduk ke bawah, Stella meminta tolong kepada Laras untuk membawa anak dan adik nya masuk ke dalam ruangan.


Laras mengangguk, ia segera ke luar dari ruangan dan memanggil adik serta anak nya Stella. Laras pun baru mengetahui, jika Stella sudah memiliki anak.


Dia pun tersenyum lega, kini tidak ada lagi yang ia takuti. Tidak mungkin, Zidan berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki anak.


Sebelum anak dan adik nya masuk, Stella juga memberitahu kepada Zidan jika diri nya baru saja bertemu dengan Aska.


"Benar kah? Memang Aska dan tunangan nya itu sering datang ke sini, aku lupa memberitahu mu kemarin. Maafkan aku ya?" ujar Zidan yang merasa bersalah, Stella pun tersenyum kepada Zidan, mengatakan jika diri nya tidak perlu merasa bersalah.


"Ini semua bukan kesalahan mu, sudah lah jangan merasa seperti itu."


Belum sempat Zidan menjawab ucapan Stella. Tanara, Rani dan Zeline masuk ke dalam ruangan yang di pandu oleh laras, Zeline berlari langsung memeluk Stella.


Zidan yang tak ingin menganggu, anak dan ibu itu pun mengajak Laras untuk segera keluar dari ruangan. Laras mengikuti atasan nya untuk ke luar.


Tanara menjelaskan kepada Stella, jika Zeline menangis semenjak ia jemput.


"Sayang, Zeline kan anak yang pintar. Mengapa menangis?"


Tanara menjelaskan jika sekolah itu begitu ketat, bahkan walau Zeline mengenal Tanara sebagai Tante nya. Pihak sekolah, tidak memberikan Zeline kepada Tanara sebelum Tanara memberikan card pengenal.


Stella mengerti, karena ia tahu anak nya Zeline lebih suka petualangan, ia tidak suka di kekang seperti itu. Namun, Stella memberikan pengertian kepada anak nya.

__ADS_1


"Sayang, bukan nya bagus jika sekolah berbuat seperti itu? Jadi mama lebih tenang meninggalkan Zeline di sekolah. Sayang, mama tidak bisa menunggu Zeline di sekolah karena mama harus bekerja nak. Jika, mama tidak bekerja, bagaimana mama bisa membayar biaya sekolah?"


Zeline anak yang sangat baik dan pengertian, dia pun memahami ucapan mama nya walau hanya sekali di beritahu saja.


Zeline mengangguk, membuat Stella bahagia lalu memeluk sang anak.


"Mama tahu, anak mama ini begitu baik dan pengertian. Zeline juga harus bisa memahami keadaan kita ya nak? Mama melakukan ini semua demi kebaikan Zeline, mama mau melakukan yang terbaik untuk kamu. Mama bisa saja memindahkan Zeline ke sekolah lain yang tidak seperti itu. Tapi, mama tidak akan tenang dalam bekerja, Sayang."


"Iya, Mama."


Tanara pun berpamitan kepada kakak nya untuk pulang ke rumah, kasihan supir jika harus menunggu terlalu lama. Dan sebentar lagi, Amara akan pulang sekolah. Amarah akan marah jika menunggu terlalu lama, Stella pun mengiyakan ucapan adik nya. Ia meminta kepada Tanara, untuk Tanara menjaga diri nya dengan baik.


Tanara mengiyakan pesan kakak nya, lalu berlalu pergi dari ruangan Stella.


Rani tersenyum, ia meminta Zeline untuk tidak merepotkan mama nya bekerja.


"Iya, Mami. Zeline tidak akan menganggu mama bekelja."


"Kalian udah makan?" Zeline dan Rani menggeleng, Stella mengajak anak dan adik nya ke luar ruangan untuk makan di cafe.


Namun, Rani tidak ingin. Karena ia malu, akhir nya Stella yang ke luar ruangan untuk memesan makan dan minuman untuk adik dan anak nya.


Stella menemui Zidan, Zidan pun mempersilahkan Stella untuk memesan apa saja.


"Jangan sungkan, sudah lah. Pesan saja apa yang adik dan anakmu ingin, anggap saja ini cafe milik mu! Jangan merasa segan lagi ya?" ujar Zidan, Stella mengucapkan banyak terimakasih kepada Zidan. Karena Zidan selalu membantu diri nya.

__ADS_1


Walau mengetahui segala nya tentang Stella, Zidan bahkan tidak merasa jijik dengan dosa yang di buat Stella di masa lalu.


Stella pun merasa beruntung, memiliki teman yang baik dan pengertian seperti Zidan


__ADS_2