Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Merasa Wajar


__ADS_3

"Dokter berikan yang terbaik untuk menantu saya, saya akan membayar berapapun yang kalian butuh kan!"


Dokter meminta maaf kepada Xiu bukan uang yang bisa menyelamatkan keadaan Lee, namun doa dari mereka "Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien, namun kalian juga harus berdoa untuk kesembuhan pasien!"


"Sudah lah dokter! Daripada menceramahi keluarga kamu lebih baik anda segera melakukan tindakan untuk menantu ku!" Xiu membentak dokter tersebut "Bahkan, aku bisa membayar atau membeli rumah sakit ini!"


Di saat seperti ini, Xiu masih saja angkuh "Ma, tenang lah! Kenapa mama membuat keributan!"


Dokter itu hanya menggeleng, namun ia harus bersikap profesional dan segera menangani Lee


******


Stella memandangi anaknya yang tertidur, Rani pun sangat haus "Kak, Rani sangat haus,"

__ADS_1


Stella terdiam sejenak, ia tidak tega melihat adiknya kehausan. Stella memutuskan untuk turun mengambil seceret air minum agar mereka tidak perlu terlalu sering turun


"Baik lah, kamu di sini. Jaga Zeline, kakak akan ke bawah ambil minum buat persediaan kita!" Ujarnya, setelah mengatakan itu Stella langsung keluar kamar.


Suasana di rumah Aska begitu sunyi, sepertinya tidak ada siapapun di rumah "Tumben sepi sekali," Stella menuruni anak tangga perlahan untuk menuju dapur, ia segera mengambil air minum di wadah yang sedang untuk persediaan air minum mereka di kamar. Stella pun mengambil dua gelas untuk minum mereka nanti "Bagaimana pun, aku tidak bisa membiarkan Rani merasa kehausan. Aku harus bertanggungjawab untuk mereka,"


Stella mengingat Amara dan juga Tanara, ia segera kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, kedua adiknya itu tidak tahu jika ia dan Rani akan tinggal di rumah Aska beberapa waktu kedepan. Stella tidak ingin kedua adiknya merasa khawatir


Cekrek!


Rani mengangguk, tersenyum kepada kakaknya "Terimakasih banyak kak!"


"Sama-sama adik ku!" Setelah mengatakan itu, Stella mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. Ia menekan nomer Tanara dan menghubunginya

__ADS_1


Panggilan terhubung


"Assalamualaikum Tanara, kakak mau memberitahu. Jika kakak dan Rani beberapa hari akan tinggal di rumah Aska, ini semua permintaan Zeline. Apakah kalian tidak keberatan?"


"Jangan khawatir kak! Kami tidak apa-apa. Kakak lebih baik jaga Zeline di sana, jika bisa bawalah keponakan kami pulang bersama kakak nantinya ya?"


Stella tidak menjawab apapun lagi, ia tidak mau membuat Zeline merasa jika dirinya ini egois "Semuanya tergantung Zeline. Gimana nyamannya dia saja mau di mana. Kakak hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan dan kenyamanan Zeline!"


"Baik lah kak! Jaga diri kakak baik-baik!"


Keduanya memutuskan panggilan, Stella menyimpan ponselnya di dalam laci. Namun ia merasa bingung mengapa rumah ini terasa sangat sepi? Seperti tidak ada penghuni?


Stella menepiskan pikirannya, ia tidak mau terlalu mencampuri urusan keluarga Aska

__ADS_1


Stella tersenyum menatap anaknya yang masih nyenyak tertidur "Kak, kenapa kakak senyum-senyum sendiri?" Rani keheranan dengan kakaknya "Kakak melihat wajah Zeline yang begitu teduh saat ia tertidur. Kakak sangat merindukannya dan kakak sangat senang bisa menjaganya sekarang,"


Rani menghampiri kakaknya "Kak, Zeline kan anaknya kakak. Dan dia akan tetap kembali kepada kakak! Kakak jangan khawatir, menurut Rani kemarahannya kemarin itu sangat wajar karena dia merasa di bohongi,"


__ADS_2