
"Kamu kenapa?" tanya Zidan kepada Laras. Laras pun hanya menggelengkan kepala nya.
"Ti-tidak, pak. Saya seperti nya kelilipan."
"Oh." Zidan pun kembali ke tempat nya, ia segera melajukan mobil nya menuju rumah Stella.
Di tengah jalan, Zidan menghentikan mobil nya, ingin membelikan beberapa buah tangan untuk di bawa ke rumah Stella, Sahabat nya itu.
"Kamu enggak niat untuk menemani saya membeli buah tangan untuk Stella?"
Laras yang kaget dengan ucapan bos nya langsung mengangguk cepat, ia segera turun dari mobil. Zidan begitu kekeh melihat wajah Laras yang salah tingkah.
Ia memperhatikan wajah Laras yang begitu teduh, namun Zidan kembali memalingkan wajah nya. Tak mau Laras mengetahui nya.
Mereka pun masuk ke dalam tokoh dan membelikan beberapa buah tangan untuk Stella. Setelah itu langsung bergegas menuju rumah Stella.
Sesampai di rumah Stella, ada Rani yang membukakan pintu untuk ke dua nya. Rani pun mempersilahkan Zidan dan Laras untuk masuk ke dalam kamar Stella.
__ADS_1
Zidan dan Laras langsung masuk ke dalam kamar Stella. Terlihat wajah Stella yang pucat dan berbaring tak berdaya.
"Stella." panggil Zidan kepada sahabat nya, Stella langsung menoleh ke arah pintu.
Melihat kehadiran Zidan dan Laras pun membuat Stella perlahan bangkit untuk duduk.
"Kalian, sini lah mendekat."
"Ada apa? Mengapa kau seperti ini?" Zidan langsung duduk di samping Stella. Memegang tangan Stella.
Laras yang melihat itu langsung memalingkan wajah nya, hati nya sedikit sakit melihat pemandangan yang ada di depan nya.
"Laras. Kemari lah!" Stella memanggil Laras, menyuruh nya untuk duduk di samping nya. Laras pun mengikuti ucapan Stella dan duduk di samping Zidan.
Perasaan nya menjadi gelisah tak menentu, jantung nya berdebar sangat kencang.
"Bagaimana kabar mu Stella?" tanya Laras, Stella pun langsung memeluk Laras.
__ADS_1
"Enggak baik, sangat hancur." ujar nya yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Zidan yang melihat Stella menangis pun menjadi panik, ia menghapus air mata Stella.
"Apakah ada yang menyakiti mu?" tanya Zidan. Stella mengangguk, ia tak tahu lagi harus menceritakan ini kepada siapa. Akhirnya Stella menceritakan semua nya kepada Zidan dan juga Laras.
Ia tahu jika ini sebuah aib bagi nya namun jika ia terus memendam ini sendiri. Stella bisa menggila. Hati nya semakin terluka dan hancur.
Zidan menggenggam tangan nya dengan geram. Ingin sekali ia memberikan pelajaran kepada Aska.
"D-dia sud-ah menodai ku. Bah-bahkan melaku-kan nya seperti binatang." tangisan Stella memecah, Laras yang mendengar nya pun merasa hancur. Laras langsung memeluk Stella. Ia merasakan kehancuran yang di rasakan oleh Stella.
"Bangkit Stella! Jangan lemah seperti ini, kamu bisa melawan nya. Jangan biarkan ia dan keluarga nya memperlakukan mu dengan tidak manusiawi."
Zidan juga setuju dengan ucapan Laras. Sudah cukup Stella menderita karena Aska, pria brengsek itu.
"Aku akan memerintahkan anak buah ku untuk memberikan nya pelajaran." ujar Zidan, namun Stella melarang. Ia mengatakan jika membalas Aska tidak perlu menggunakan kekerasan.
__ADS_1
"Memakai kekerasan juga tidak akan merubah keadaan, aku juga sudah kotor. Dan tak akan bisa suci kembali." gumam Stella dengan nada yang berat.