Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Tangisan Bahagia


__ADS_3

Setelah selesai memberikan gaji kepada semua karyawan. Laras dan Zidan pun langsung menuju rumah Stella untuk memberikan gaji nya.


Ke dua nya turun dari mobil, mengetuk pintu rumah Stella.


Tok! Tok! Tok!


Pintu rumah terbuka, Rani menyambut ke dua nya dengan begitu ramah dan juga hangat.


"Kak Zidan, kak Laras. Ayo silahkan masuk!"


Ke dua nya pun masuk, mengikuti Rani.


Rani meminta kepada Zidan dan Laras menunggu terlebih dahulu ia akan memanggil kan Stella.


Ke dua nya mengangguk dan setuju. Rani menaiki anak tangga, menuju kamar Stella.


Ia mengetuk dan memanggil Stella.


"Kak, di bawah ada kak Laras dan juga kak Zidan." ujar Rani.


Stella membuka pintu nya, ia pun menemui ke dua teman nya itu.


Keadaan Stella sudah lebih membaik dari sebelum nya, wajah nya juga sudah mulai ceria.


"Hey, sudah lama tidak bertemu."


Stella memeluk Laras, ia sangat rindu dengan suasana cafe.


Ia juga memeluk Zidan, Zidan pun membalas pelukan Stella.


"Bagaimana keadaan mu? Apakah sudah lebih baik?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik, besok aku juga sudah kembali bekerja."


"Jangan di paksakan, kesehatan mu jauh lebih penting." ujar Zidan, tak bisa di pungkiri Zidan begitu perhatian dan perduli dengan Stella.


"Aku sudah baik kok."


Rani membuat teh untuk teman kakak nya itu, ia pun mempersilahkan ke dua nya untuk menikmati teh nya terlebih dahulu.


"Kak minum lah dulu." ujar Rani yang memberikan teh itu kepada Zidan dan Laras secara bergantian.


Ke dua nya pun mengucapkan terimakasih banyak kepada Rani "Terimakasih Rani." ujar Laras dan Zidan bersamaan.

__ADS_1


Rani pun tersenyum ramah, lalu setelah memberikan teh tersebut Rani langsung naik ke atas menuju kamar nya bersama zeline.


"Kau beruntung sekali memiliki adik-adik yang begitu baik dan pengertian." puji Zidan.


"Iya, aku juga merasa begitu. Jika bukan karena mereka mungkin aku tidak akan sekuat ini."


Laras tersenyum kepada Stella, ia mengatakan jika Stella itu wanita yang begitu kuat dan berani.


"Aku tau kamu Stella, kamu wanita pemberani dan kuat. Mungkin, jika aku berada di posisi mu aku tidak akan sekuat itu. Apalagi membesarkan tiga adik perempuan dan satu anak perempuan tidak semudah itu."


"Dijalan kan saja dengan ikhlas, maka semua nya tidak terasa berat."


"Apakah mereka semua akur dan tidak pernah bertengkar?" tanya Zidan yang penasaran, karena ia tau jika kakak adik sering sekali bertengkar atau berbeda pendapat.


Apalagi ke dua adik Stella dan Rani yang sebenarnya bukan ada hubungan apa-apa. Apakah tidak ada rasa kecemburuan?


Stella mengatakan jika terkadang seringkali bertengkar apalagi berbeda argumen.


"Sering, tapi aku sebagai kakak harus bisa memposisikan sebagai kakak. Maksud nya ya memberikan pengertian kepada mereka dan bersikap adil tanpa berat sebelah. Aku tau bagaimana sifat ketiga adik ku dan juga sifat anakku. Jadi, aku harus bisa bersikap tegas tanpa menyakiti hati siapapun."


"Aku begitu bangga dengan mu, Stella." puji Zidan memang ia sendiri mengakui sejak waktu kuliah Stella anak yang begitu mandiri.


Zidan, Laras dan juga Stella berbincang dan tertawa.


Tanara dan Amara juga sudah pulang sekolah.


Ke dua nya mendekati Zidan dan Laras. Menyalami ketiga nya, Laras dan Zidan salut dengan ke dua adik Stella yang memiliki sikap sopan santun.


Tanara dan Amara pun langsung permisi ke kamar.


"Aku salut dengan adik-adik mu mereka begitu sopan dan menyambut kami dengan ramah."


"Memang begitu lah mereka, ke dua orang tua ku juga mengajari kami sopan santun sejak kecil sebab itu mereka tetap terbiasa dengan ajaran ke dua orang tua kami."


"Stella, maksud kami datang ke sini ingin memberikan gaji kepada mu."


Zidan memberikan amplop berwarna cokelat yang begitu tebal untuk Stella. Namun Stella menolak nya dengan lembut.


"Tidak! A-aku tidak bisa menerima ini, lagipula aku sudah lama sekali tidak masuk kerja. Bagaimana bisa aku di gaji sedangkan aku tidak bekerja. Lebih baik ini untuk Laras dan Karyawan lain, mereka yang sudah mengganti kan pekerjaan ku."


"Tenanglah Stella, aku sudah mengurangi gaji yang kau tidak masuk kerja. Ini gaji mu selama kau masuk bekerja."


Zidan terpaksa berbohong, agar Stella menerima gaji nya.

__ADS_1


"Tapi ini terlalu banyak."


"Tidak banyak kok,Stella. Bahkan ini gaji mu paling kecil karena di potong tidak masuk bekerja." bohong Laras kembali.


Ke dua nya tau jika Stella tidak akan menerima gaji ini, di mobil mereka sudah membahas nya dan merencanakan ini semua.


"Baik lah kalau begitu, aku terima."


Stella menerima amplop cokelat dari tangan Zidan, ia pun mengucapkan terimakasih banyak dan meminta maaf karena sudah merepotkan Zidan dan juga Laras.


"Seharusnya kalian enggak perlu repot-repot mengantarkan gaji ku, aku juga besok masuk kerja. Kalian bisa memberikan nya saat aku masuk kerja saja."


"Sudah lah Stella, tidak apa. Lagipula, keperluan mu pasti banyak untuk ke tiga adik dan juga anak mu, Zeline."


Stella bersyukur memiliki teman yang begitu menyayangi dan begitu pengertian dengan nya.


Zidan juga memberitahu Stella tentang rencana pernikahan nya dengan Laras. Hal itu tentu membuat Stella merasa sangat bahagia.


Zidan pantas mendapat kan pasangan yang baik seperti Laras. Ke dua nya seperti cerminan diri untuk satu sama lain.


"Aku berdoa agar rencana pernikahan kalian lancar sampai hari nya. Dan Allah terus menyatukan kalian hingga akhir hayat kalian."


Laras dan Zidan mengaminkan ucapan Stella.


Zidan pun meminta kepada stella untuk serta dalam persiapan pernikahan nya dengan Laras.


Tentu saja Stella tidak keberatan, ia akan membantu pernikahan ke dua sahabat nya sampai selesai.


"Aku sangat senang dengan kabar ini." Stella pun meneteskan air mata nya, ia sangat terharu dengan kabar itu.


"Jangan menangis Stella." ujar Laras yang memeluk Stella, Stella menjelaskan jika air mata ini adalah air mata kebahagiaan.


"Ini bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kebahagiaan, aku begitu bahagia dengan kabar kalian segera menikah. Sangat terharu tau enggak."


Stella membalas pelukan Laras, ia juga tau jika Laras menyukai Zidan sejak lama.


Dan kini, perasaan Laras terbalas kan dengan baik. Bahkan orang yang ia suka sejak dulu akan menikahi nya.


Laras pun masih tidak percaya dan menganggap semua ini masih mimpi bagi nya.


Entah mimpi atau sebuah keajaiban namun Stella percaya. Jika Laras dan Zidan memang pantas bersama.


Mereka jodoh yang begitu baik dan serasi dan ia berharap Allah pun meridhoi hubungan Laras dan Zidan sampai ke pelaminan, bahkan ia maut memisahkan ke dua nya.

__ADS_1


__ADS_2