Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Bagaikan Mimpi Buruk


__ADS_3

Rani yang sedang cemas menunggu kepulangan Stella namun Stella juga belum kunjung pulang. Zeline pun menanyakan di mana keberadaan ibu nya.


"Mami, mengapa mama belum kunjung kembali." Amara dan Tanara pun mendatangi Rani dan juga Zeline, Tanara melihat jam di dinding "Ini sudah sangat malam, kenapa kakak belum juga kembali, apakah di luar sangat macat?" tanya nya dengan khawatir.


Perasaan mereka menjadi tidak tenang, tidak biasanya Stella pergi selama ini.


"Apakah kakak membawa ponsel?" tanya Tanara, Rani pun menggeleng, ia menjelaskan kepada kakak beradik itu jika Stella sengaja meninggalkan ponsel genggam nya karena hujan yang sangat lebat.


"Tadi aku sudah memberi penawaran kepada kak Stella agar aku menemani nya namun kak Stella menolak. Ia mengatakan jika diri nya hanya sebentar." ujar Rani memberikan penjelasan.


Amara yang tidak mau membuat suasana semakin tegang, ia mencoba untuk membuat orang-orang yang ada di rumah tidak khawatir.


"Mungkin, kakak meneduh. Kalian duduk lah, biar aku masakan makan malam."

__ADS_1


Kebetulan jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Rani menatap Amara ia tidak menyangka jika Amara akan bersikap semanis. Mungkin, ia bisa bersikap manis kepada Tanara. Tapi tidak kepada dia dan juga Zeline.


"Mami, di mana mama?" tanya Zeline yang menatap mata Rani, Rani pun bingung harus menjawab apa.


"Kakak tahu jika makan malam selalu pukul delapan malam, namun kakak sudah telat sejam. Apakah ada hal buruk yang terjadi?"


Amara berjalan dengan langkah kaki yang anggun menuju dapur, ia melihat bahan-bahan baku yang sudah banyak habis.


"Apa yang harus aku masak?" gumam nya dengan bingung.


Di sisi lain, Stella menangis sejadi-jadi nya. Ia mengingat perlakuan kurang ajar Aska. Kini, Aska mengambil kembali kehormatan nya sebagai wanita.


Dahulu, mereka melakukan ini karena kecelakaan yang di lakukan oleh teman kuliah. Namun, sekarang. Aska kembali menodai tubuh nya dengan keadaan yang mabuk.

__ADS_1


Sekuat tenaga Stella menolak Aska, namun apa daya Stella kekuatan lelaki lebih besar dari kekuatan wanita. Stella menatap Aska yang masih tertidur. Ia mendudukkan tubuh nya dan menutupi nya dengan selimut yang ada di situ.


Stella buru-buru mengambil pakaian yang berserakan di lantai, ia melihat card untuk mengakses keluar dari apartemen itu tepat di samping Aska. Dengan perlahan ia mengambil card tersebut, lalu memakai pakaian nya. Setelah memakai pakaian nya dengan hati yang begitu terluka ia pun segera pergi dari tempat terkutuk itu.


Aku benci kau Aska, aku Benci!


Di sepanjang jalan Stella menangis, mengingat kejadian itu membuat nya semakin sakit. Ia berfikir jika diri nya bisa lepas dari masa lalu nya yang buruk, namun hari ini semua taubat yang ia lakukan seperti sia-sia.


Stella merasa seperti wanita yang paling hina di dunia ini.


Bagaimana bisa tubuh ku di nikmati dengan jijik tanpa adanya pernikahan bah-bahkan aku mem-memiliki anak di luar nikah ~teriak nya


Bukan Stella tidak menginginkan Zeline, bahkan ia menganggap Zeline adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada nya. Namun, ia membenci dan mengutuk diri nya sendiri karena begitu hina sehingga membiarkan lelaki yang belum menjadi suami nya menikmati tubuh nya selama dua kali.

__ADS_1


Stella semakin terisak di jalan, hujan di luar semakin deras dan begitu sepi. Ia berharap jika ini semua hanya mimpi buruk, namun beberapa kali ia memukuli diri nya ia tahu jika ini semua nyata.


__ADS_2