
Amara mengambil piring yang di bawa oleh adik nya.
"Kak?"
"Hmm?"
"Boleh Tanara bicara? Tanara tau kakak kesal, tapi apa baik bersikap tidak sopan kepada kak Stella?" Ingin memasukkan sesuap makanan ke mulut nya namun terhenti karena ucapan sang adik. Amara meletakkan kembali sendok nya dengan raut malas.
"Kak, tolong jangan marah."
"Kakak ngantuk."
"Kak." panggil Tanara dengan suara memelas nya, Amara tak tega melihat raut wajah adiknya yang bersedih.
"Kak." panggil Tanara kembali, Amara berusaha untuk tetap lembut kepada sang adik. Tanara memegang bahu nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tanara juga sedih atas meninggalnya mama dan papa. Tapi, ini bukan sepenuh nya kesalahan kak Stella. Tanara akuin, kalau kak Stella udah keterlaluan meninggalkan kita kak, tapi kita juga nggak tau apa yang kak Stella Alami kan kak?"
"Sebaiknya kamu pergi, kakak ingin istirahat saja."
"Kak."
"Tanara!"
Dengan perasaan sedih, Tanara keluar dari kamar kakaknya. Air mata pun membasahi pipi nya. Tanara berlari ke kamar nya dengan hati yang hancur.
"Ma, Pa. Bagaimana cara Tanara untuk membuat hubungan kak Stella dan kak Amara membaik? Tanara nggak mau liat kedua kakak Tanara seperti orang asing hiks." ucap Tanara yang memegang sebuah album kedua orang tua nya.
*********
Stella yang melihat adiknya Tanara tak kunjung kembali pun memilih untuk mengecek adiknya di kamar. Terlihat Tanara yang menangis memeluk sebuah bingkai Poto. Stella mendekati adiknya.
__ADS_1
"Tanara?" panggil Stella lembut, Tanara segera menghapus air matanya. Menoleh ke arah Stella lalu tersenyum
"Kenapa kamu nggak ke ruangan makan? Kamu kan belum makan."
"Iya kak, tiba-tiba Tanara teringat dengan tugas. Jadi, Tanara memilih untuk mengerjakannya dulu." Stella melihat di sekeliling adiknya namun tak ada satu pun buku di dekat Tanara. Stella tahu, jika sang adik menyembunyikan sesuatu. Ekor matanya pun tertuju pada sebuah album kedua orang tua mereka.
"Kamu rindu papa dan mama?" tanya Stella, Tanara mengangguk. Segera Stella mendekati dan memeluk tubuh Tanara untuk menenangkan sang adik.
"Sudah ya, mama dan papa akan sedih jika melihat kamu sedih begini. Kamu yang bilang ke kakak, untuk ikhlasin kepergian Mama dan papa. Mereka udah tenang, tapi kenapa adik kakak yang satu ini menjadi lemah?"
"Tanara bahagia kakak udah kembali, Tolong jangan tinggalin kami lagi kak." Tanara membalas pelukkan kakak nya dengan erat, tak sadar dirinya semakin terisak. Enam tahun belakangan ini, Tanara hidup dalam kerinduan untuk sang kakak dan berharap Stella akan kembali. Sekarang, Tuhan mengabulkan doa nya.
"Ayo, kita makan!" ajak Stella, namun Tanara menolak. Dirinya tak bisa makan jika Amara belum makan, mendengar ucapan Tanara, Stella segera pergi meninggalkan Tanara sendirian di kamar.
Stella masuk ke dalam kamar Amara. Amara yang melihat Stella masuk ke kamar nya tanpa izin menjadi murka. Ia membanting sembarang barang yang ada di sekitar nya.
"Jangan sekali-sekali Lo berani ke kamar gue tanpa seizin gue bangsat!" teriak Amara kepada Stella, kegaduhan suara Amara membuat Rani dan Zeline datang.
"Jangan kaya gitu sama mama ku! Aku nggak suka ya!"
"Diam! Tau apa kau anak kecil!"
Zeline mengerutkan dahi nya dengan perasaan yang semakin kesal, begitu juga dengan Rani yang tak suka dengan sikap Amara.
"Sopan dong sama kakakmu!"
"Jangan ikut campur bangsat! Kau hanya orang asing, anak jalanan!" teriak Amara kembali kepada Rani.
"Sudah cukup! Amara, kenapa sikap mu semakin kasar dek?"
"Bukan urusan mu!"
__ADS_1
"Tante!" teriak Zeline kembali, yang tak terima mama nya di tunjuk oleh Amara. Amara menoleh kepada Zeline dengan tatapan yang tak ramah. Lalu memalingkan wajahnya dari Zeline. Bagaimana pun Zeline adalah keponakannya, ia juga tahu jika Zeline tidak bersalah dalam hal ini. Dia pun tak mau melayani ucapan Zeline.
"Aku nggak suka jika ada orang yang sembarangan masuk ke kamarku, apalagi orang asing! Sebaiknya pergi dari sini! Pergi!" usir Tanara kepada Stella, Rani dan Zeline.
"Kakak mi-n."
"Elo bukan kakak gue! Ngerti nggak!"
"Maa-aaf, bukan maksud ku masuk ke kamarmu sembarangan, aku hanya ingin bilang. Jika, kau tak menyukai ku tak masalah. Ini memang kesalahanku, tapi apa kesalahan Tanara? Dia nggak mau makan karena kamu nggak makan. Aku mohon, jangan libatkan Tanara dan makan lah agar dia pun mau makan. Tanara tidak bisa telat makan, aku nggak mau lambung nya sakit."
"Tanpa Lo kasih tau, gue juga tau! Jangan ajarin gue! Karena selama ini Tanara aku yang urus. Kalian pergi!" teriak Amara. Stella pun memilih untuk mengalah dan mengajak Rani serta anaknya untuk pergi meninggalkan Amara.
Amara menutup pintu kamarnya dan berjalan ke kamar Tanara, ia khawatir dan tak ingin adik kesayangannya sakit. Amara masuk dan mendekati adiknya.
"Tanara, kenapa kamu nggak makan sayang? Maafin kakak kalau tadi kakak udah usir kamu. Kamu makan ya? Kakak suapin." Tanara menggeleng, Amara bingung apa yang adiknya mau.
"Kamu harus makan, Sayang."
"Tanara mau makan, kalau kakak juga mau makan."
"Iya deh, kakak makan ya?"
"Tapi makan nya di ruang makan bersama kak Stella dan yang lainnya." Tanara menatap mata Amara dengan berkaca-kaca. Amara menolak, namun Tanara meyakinkan kakaknya.
"Jika kakak nggak mau bicara, nggak apa-apa. Tapi kita makan bersama di ruang makan kak. Kita udah lama nggak ngumpul bareng kak Stella kan kak? Apalagi ada keponakan kita sekarang, kakak mau kan?" Tanara tak ada pilihan lain selain mensetujui kemauan adik nya. Tanara begitu sangat menyayangi kakak-kakaknya. Begitu juga dengan Stella dan Amara yang begitu sangat menyayangi Tanara.
Amara pun berjalan bersama Tanara untuk ke ruangan makan, Zeline yang melihat kehadiran Tanara melototi sang Tante. Tanara menegur Zeline dengan lembut.
"Zeline sayang, Tante Amara ini juga Tante kamu. Zeline anak yang pintar kan, sayang? Bersikap lah yang baik kepada Tante Amara ya? Seperti Zeline bersikap baik dan sopan kepada mami?"
"Tapi, Zeline nggak suka kalau Tante ini bicala nggak sopan sama mama."
__ADS_1
"Sayang, ini urusan mama dengan Tante Amara. Zeline kan masih kecil, jadi Zeline nggak boleh ikut campur dalam masalah orang dewasa ya nak? Lagipula wajar jika kakak beradik itu bertengkar sayang." ujar Tanara. Stella pun membenarkan ucapan Tanara untuk membuat Zeline anaknya mengerti. Zeline hanya mengangguk menuruti ucapan Tanara dan juga mama nya. Sesekali Zeline menatap ke arah Amara, lalu melotot kan kedua matanya yang bulat kepada Amara