
"Jika kak Stella tidak bisa ikut campur, berarti Tanara juga tidak?" bentak Tanara kepada Amara, Amara memandangi adik nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tanara, kenapa kamu bicara seperti itu dik? Kamu tahu, kakak sangat menyayangi mu kan. Kenapa Tanara bicara seperti itu?" Amara pun tidak ingin menggunakan pakaian seperti ini, namun apa lagi yang harus ia lakukan.
Hutang yang telah mencekik diri nya membuat Amara tak mempunyai pilihan.
Suara klakson mobil pun berbunyi, itu pasti Kimberly yang sudah sampai. Amara pun ingin segera turun dan menemui Kimberly.
Namun, Stella menahan tangan adik nya. Amara yang kesal pun menepis tangan kakak nya.
"Jangan sentuh aku!"
"Kak."
"Cukup Tanara! Kakak lebih tua dari kamu, jadi tugas kamu untuk menghargai aku sebagai kakak mu."
"Lalu, kenapa kakak tidak bisa menghargai kak Stella?"
"Menghargai siapa? Orang yang menjadi alasan meninggal nya ke dua orang tua kita? Yang meninggal kan kita saat kita masih begitu sangat kecil? Iya?"
Tanara terdiam, Amara pun langsung pergi meninggalkan Stella dan juga Tanara.
Stella memeluk adik nya yang menangis, menenangkan Tanara.
"Jangan menangis, tadi kan kak Amara bilang kalau dia mau ke party teman nya. Sudah ya sayang?"
Tanara mengangguk, menuruti permintaan kakak nya itu.
Stella pun mengajak Tanara untuk ke depan, melihat Amara pergi dengan siapa.
Stella dan Tanara pun mendekati mobil Kimberly, Stella tidak mengenal teman adik nya itu.
"Kak Kimberly?" panggil Tanara, Kimberly pun tersenyum dengan sangat terpaksa kepada Tanara.
Ia begitu malas, jika keluarga Amara bertanya begitu banyak.
__ADS_1
"Kakak mau pergi ke mana dengan kak Amara?"
Kimberly terdiam, melihat Amara. Amara yang kesal pun kembali mengatakan kepada adik nya jika dia sudah menjawab pertanyaan mereka tadi di dalam.
"Kakak kan sudah bilang, jika kami akan datang ke acara ulang tahun teman, Tanara."
"Tanara bertanya dengan kak Kimmy, bukan kepada kakak!" ketus Tanara yang menatap Amara dengan kesal.
Amara pun segera naik ke dalam mobil, sebelum supir melajukan mobil nya Stella mengambil video wajah Kimberly dan memberikan nya peringatan.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada adik ku, aku akan menuntut mu dan keluarga mu! Aku memvideo kan ini, agar orang tua mu juga tahu kau menjemput adikku dengan beralasan ke acara ulang tahun teman. Aku berharap, jika kau tidak berbohong."
"Apaan sih!" ujar Amara kepada Stella yang ingin merampas ponsel kakak nya, namun Stella berhasil menghindar.
"Kalau sesuatu terjadi sama aku, itu urusan aku!"
"Dan aku juga akan memenjarakan mu!"
Amara terdiam dengan ancaman kakak nya, ia tahu jika Stella bukan lah orang yang hanya sekedar bicara.
Kimberly pun menoleh ke arah Amara, langsung menyuruh Amara untuk turun dari mobil nya.
Setelah Amara turun, Kimberly langsung meminta supir nya untuk pergi. Dia merasa sangat kesal, namun juga tidak berani melakukan apapun.
Bagaimana jika kakak nya Amara menuntut diri nya jika tahu, adik nya akan ia jual.
Apalagi, Stella telah merekam diri nya itu.
"Ah ****! Aku terjebak sekarang. Bagaimana jika Amara tidak datang? Aku bisa rugi berkali-kali lipat."
Kimberly mengingat ucapan nya kepada orang yang ia telepon sebelum nya jika terjadi hal yang membuat teman nya itu kecewa. Ia akan mengganti uang itu berkali-kali lipat.
Kimberly pun berteriak di dalam mobil.
"Hancur aku sekarang!"
__ADS_1
******
Amara yang masih diam tak bergeming, ia juga tidak sepenuh nya marah karena tidak jadi pergi. Artinya, ia, kesucian nya telah di selamat kan namun bagaimana dengan hutang nya kepada Kimberly.
Amara pun langsung masuk ke dalam rumah, yang di ikuti oleh Stella dan juga Tanara.
Stella yakin, jika teman adik nya itu memiliki rencana jahat. Jika tidak, mana mungkin teman nya itu takut dan tidak jadi membawa Amara pergi.
Stella ingin bertanya kepada sang adik, namun ia mengurungkan niat nya. Stella tahu, jika dia kembali bersuara. Maka, Amara akan kesal.
Akan ada pertengkaran lagi di rumah, Stella tidak mau ada pertengkaran lagi.
Stella pun mengeluarkan kartu ATM nya. Memberikan nya kepada Amara.
"Ambil lah ini, ini ada uang walau tidak banyak untuk keperluan mu dan biaya-biaya sekolah selama sebulan. Mungkin, tidak banyak. Tapi setidak nya itu cukup. Kakak akan berusaha lagi dan bekerja keras untuk kalian. Tolong lah, Amara. Jangan memakai pakaian yang seperti ini lagi, jika ibu dan ayah melihat ini. Mereka akan sedih, kamu tidak hargai kakak tidak masalah, setidaknya hargai ibu dan ayah."
Amara pun terdiam, dengan ragu ia menerima ATM yang di berikan oleh kakak nya.
"Itu pin tanggal lahir kamu."
Lalu, setelah itu. Stella juga memberikan satu kartu ATM lagi kepada Tanara, sengaja ia membuat kan ATM untuk ke dua adik nya.
Agar, jika mereka membutuhkan sesuatu. Mereka tidak harus bertanya dan meminta dulu kepada nya. Bisa langsung mereka gunakan tanpa meminta dahulu.
Tanara mengucapkan terimakasih kepada kakak nya.
Stella tersenyum, dan kembali ke kamar. Amara memandangi kartu ATM itu.
Walau sifat nya sangat buruk, namun Stella tetap memikirkan tentang diri nya..
Andai saja, Amara tadi tidak langsung menerima ajakan dari Kimberly untuk berbelanja. Pasti, ia tidak akan berhutang sebanyak itu.
Tanara memegang bahu kakak nya. Bertanya apa yang sedang di pikirkan oleh sang kakak.
Amara menggeleng, ia berbohong jika diri nya hanya merindukan ke dua orang tua nya saja.
__ADS_1
"Tidak, Andai saja mama dan papa masih ada. Pasti, kita tidak akan seperti ini."
"Sudah lah kak, kita hanya perlu berdoa saja untuk ketenangan mama dan papa di syurga. Dan jika Tanara bisa mengatakan sesuatu, sebaik nya kakak belajar memulai memaafkan kak Stella. Kakak lihat lah, kak Stella tidak pernah berubah kepada kita. Bahkan, saat kakak memperlakukan kak Stella dengan tidak baik dia tetap memikirkan tentang kakak. Kak, apa yang telah terjadi tidak lah sepenuh nya kesalahan kak Stella. Kakak lihat lah! Kak Stella menanggung segala nya sendirian. Jauh dari kita, melahirkan seorang diri di saat usia nya sangat muda. Kakak, tolong sedikit saja. Buka hati kakak untuk memaafkan kak Stella. Jangan seperti ini, kakak begitu menyayangi kita. Kakak juga tidak tahu jika mama dan papa telah tiada. Jika kakak tahu, Tanara yakin jika kakak tidak akan pernah meninggalkan kita di sini."