
"Pak Zidan tadi sudah berusaha menghubungi ibu. Namun, ibu tidak menjawab nya." ujar Laras memberikan penjelasan.
Stella terdiam sebentar, ia mencari ponsel nya namun tidak ada. Stella mengira jika ponsel nya ketinggalan di rumah.
"Mungkin, ponsel ku ketinggalan di rumah."
"Pantas saja Bu. Tadi pak Zidan memberikan pesan pada ibu, untuk ibu mengecek bahan baku yang sudah tidak bisa di gunakan lagi."
"Ah iya, hari ini kita juga sudah harus belanja ke pasar." ujar Stella. Laras bertanya, apakah tidak lelah berbelanja dua hari sekali. Stella pun menjawab, demi kenyamanan para pelanggan. Ia akan merasa sangat senang.
Stella juga menceritakan bahwa demi memenuhi kehidupan nya dahulu bersama sang anak. Dia pun pernah berjualan sarapan pagi, Laras yang mendengar nya begitu sangat takjub.
"Lalu, di mana suami ibu?" tanya Laras dengan penuh semangat, ia juga tidak tahu kisah yang di alami oleh Stella. Mendengar pertanyaan dari Laras, senyuman di wajah Stella memudar.
Itu tidak lah kesalahan Laras, ia juga tidak tahu apa-apa tentang diri nya. Stella tersenyum kecut.
"Su-suami ku, aku hanya tinggal bertiga dengan anak dan adikku waktu di sana. Sekarang, setelah kembali ke kota ku. Aku tinggal bersama anak dan ke tiga adik ku."
Laras merasa tak enak hati, ia pun meminta maaf kepada Stella karena sudah lancang bertanya hal yang begitu menyakiti hati Stella.
"Ma-aaf kan saya, Bu. Saya begitu lancang menanyakan hal ini kepada ibu."
"Tidak apa! Ini semua bukan lah kesalahan mu."
Tidak terasa, waktu cepat berlalu. Sudah saat nya mereka melakukan briefing oleh semua karyawan.
Setelah memberikan informasi dan arahan kepada para karyawan, Stella dan Laras pun menutup pembicaraan arahan pagi ini.
Stella langsung mengajak laras untuk pergi ke pasar berbelanja.
Betapa terkejut nya Stella melihat keberadaan Aska yang sedang berdiri di luar cafe. Ingin rasanya Stella menghindar, namun apa daya. Aska langsung mendekati diri nya.
__ADS_1
"Aku harus bicara!" ujar Aska dengan nada serius, para karyawan berbisik satu sama lain, bertanya ada hubungan apa Stella dengan CEO muda terkenal di kota ini.
Stella terlihat sangat gugup, ia menoleh ke arah Laras. Laras seakan mengerti, ia langsung permisi untuk ke dalam.
Laras meminta para karyawan untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Di luar cafe, Stella masih diam tak bergeming. Ia tak berani menatap Aska, Aska langsung menarik tangan Stella ke luar dari daerah cafe.
Tatapan nya kepada Stella begitu sangat tajam.
"Ada yang harus aku tanyakan kepada mu, dan aku membutuhkan jawaban dari mu."
Ucapan Aska tentu saja membuat Stella menjadi-jadi. Ia takut, jika Aska bertanya tentang anak nya Zeline. Stella tidak berbicara sepatah kata pun. Tentu saja, hal itu membuat Aska merasa sangat kesal.
"Tolong katakan padaku, anak siapa yang enam tahun lalu kau kandung?" suara Aska masih melembut, ia menahan setiap amarah nya. Walau Aska sudah berjanji untuk menghancurkan kehidupan Stella, namun bagaimana pun Stella adalah wanita yang ia cintai.
Aska tidak akan sanggup memukul atau berkata kasar pada nya, Stella bingung harus menjawab apa. Tangan nya ber-gemetar
"Katakan padaku, Stella!" hentak Aska. Membuat Stella kaget, ia pun mencoba berani untuk bicara.
"Iya, aku tahu dia anakmu. Tapi, siapa ayah nya?"
Stella memejamkan mata nya, menggigit bibir bawah nya dengan pelan. Tangan nya di genggam begitu kuat, terlihat Stella begitu keringat dingin dan gugup.
"Katakan padaku!"
"Itu bukan urusan mu, dan kau sudah mengetahui siapa ayah nya. Untuk apa kau bertanya lagi?"
"Aku harus mengetahui segala nya. Seminggu lagi, pernikahan ku dengan Lee. Aku nggak mau menyesal mengambil keputusan."
Duar!
__ADS_1
Rasanya bagaikan di samber petir di pagi hari untuk Stella, dada nya terasa sangat sesak. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang. Stella tidak menatap Aska sama sekali.
Ia hanya menunduk ke bawah, sambil mengontrol diri.
Kendali kan diri mu, Stella. Tenang lah!
Stella meyakinkan diri nya. Diri nya tak ingin kehilangan kendali, jika diri nya jujur. Bisa saja, Aska dan calon isteri nya itu merebut Zeline dari pelukan nya. Hal itu tentu saja tidak bisa Stella terima.
"Sudah aku katakan padamu, itu bukan urusan mu. Masalah siapa ayah dari anakku, tentu saja kau sudah tau siapa dia. Jadi, apa yang harus aku jelaskan padamu? Dan, memang nya apa urusan kami jika kau akan menikah Minggu depan? Atau besok dan hari ini sekali pun. Aku dan anakku tidak memiliki urusan dengan mu atau dengan keluarga mu!"
"Iya, kau benar. Dan aku ingin, kau mengucap kan nya sekali lagi dengan menatap diri ku!" perintah Aska kepada Stella.
Stella merasa begitu berat jika harus menatap Aska, pria yang ia cinta. Karena diri nya tahu, jika ia menatap mata Aska. Stella akan kehilangan kendali.
"Tolong jangan ganggu aku! Aku harus bekerja, tolong pergilah dari sini!" usir Stella dengan lembut.
Namun, Aska mengatakan jika diri nya tidak akan pergi sebelum Stella mengatakan yang sebenar nya sambil menatap diri nya.
"Sudah aku katakan tadi, itulah kebenaran nya. Tolong kau pergi dan jangan ganggu aku!" dengan suara lantang, Stella berbicara kepada Aska sambil menatap mata nya sebentar, lalu Stella memalingkan pandangan nya dari Aska. Ia melihat ke sembarang arah.
Mendengar ucapan Stella yang begitu menyakitkan, Aska pun pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.
Stella tak kuasa menahan rasa sakit nya, ia pun meneteskan air mata yang sedari tadi diri nya tahan tanpa sepengetahuan Aska.
Stella menatap punggung belakang Aska yang semakin menjauh dari pandangan nya. Aska pergi, menaiki mobil nya tanpa menoleh ke belakang lagi.
Aska merasa sangat kecewa dan marah di dalam mobil
"Aku sudah mengetahui jawaban ini, tapi mengapa aku masih saja menginginkan jawaban yang lain." Aska memukul setir mobil nya dengan kuat.
"Bodoh kau Aska, kau memang bodoh! Mengapa kau mendengarkan ucapan papi dan mengabaikan ucapan mami mu. Bahkan, demi wanita yang tidak punya hati itu, kau tega membohongi ibu mu sendiri." teriak Aska di dalam mobil, pikiran nya sangat kacau. Ia menjadi sangat kesal, diri nya juga begitu sangat menyesal karena sudah datang ke tempat ini.
__ADS_1
Aska melajukan pegal gas nya dengan kencang. Stella pun menatap kepergian pria yang begitu sangat ia cintai.
Bukan Stella ingin menyembunyikan segala nya dari Aska, dan menutupi identitas Zeline. Namun, ia takut jika Aska tahu Zeline adalah anak nya. Ia akan merebut Zeline dari pelukan Stella.