
Stella sangat bahagia mempunyai adik seperti Tanara. Ia berharap, jika Amara bisa berfikir seperti Tanara.
Walau Tanara lebih muda dari mereka namun sifat Tanara begitu bijaksana dan tegas. Seperti almarhum papa mereka.
Stella merindukan ke dua orang tua nya, ia berjanji akan menjadi ibu, ayah dan kakak sekaligus untuk Amara, Tanara, Rani dan juga Zeline.
Stella memikul tanggungjawab yang begitu besar untuk mereka.
"Kamu tau Tanara, terkadang kakak juga lelah dengan kehidupan. Namun, kakak mengingat kalian. Kalian adalah kekuatan untuk kakak, kakak nggak mau jika kalian seperti kakak. Dulu, kakak begitu bahagia. Mama dan papa kita selalu menuruti apa yang kakak mau, namun kakak mengecewakan mereka dengan prilaku kakak."
"Sudah lah, kak. Jangan terus merasa bersalah, semua sudah terjadi. Dan itu sudah jalan nya. Kakak harus fokus kepada Zeline, saat ini kakak bukan hanya lah seorang anak, dan juga kakak. Namun kakak seorang ibu sekaligus ayah untuk anak kakak. Jangan memikirkan hal yang selalu membuat kakak merasa sedih, lupakan segala kesedihan itu. Mau sampai kapan kakak berada di zona yang merasa bersalah?"
Stella memeluk Tanara, ia pun meneteskan air mata nya.
"Kakak sangat menyayangi kalian, kalian hidup kakak saat ini. Alasan kakak untuk kuat bertahan hidup menerima segala kepahitan ini." gumam Stella kepada Tanara. Tanara menangis, ia juga mengatakan jika Amara dan Stella adalah alasan nya untuk tetap kuat dan bertahan mengalami segala kepahitan di dunia.
*******
Di cafe, Laras memikul segala tanggungjawab yang di berikan oleh Zidan.
Diam-diam Zidan memandangi Laras yang sibuk mempelajari tugas-tugas nya.
Tanpa sengaja, Zidan mengembangkan senyuman nya. Seakan ada sesuatu di dalam diri Laras.
Laras yang merasa ada yang memperhatikan diri nya pun menoleh. Namun, dengan cepat Zidan membuang muka.
Laras tidak mau salah duga, mungkin itu hanya perasaan nya saja atau ia terlalu gugup karena begitu dekat jarak nya dengan pria yang dia suka.
Laras pun bertanya, bagaimana ia bisa melakukan pekerjaan sebesar ini. Laras takut, melakukan kesalahan dan membuat bos nya kecewa.
"Lakukan saja apa yang mau di lakukan, saya percaya dengan kamu. Saya yakin, jika cafe ini berada di tangan kamu dan Stella. Cafe ini akan mengembang dengan besar. Lihat saja, belum ada sebulan kalian berada di jabatan ini. Cafe mengalami perkembangan yang sangat bagus."
"Pak maaf jika saya lancang, namun jika saya boleh tau. Mengapa saya pak? Kenapa bapak tidak memberikan kepercayaan ini kepada Bu Stella?"
Zidan terdiam, menatap mata Laras. Laras yang salah tingkah langsung menundukkan pandangan nya.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu alasan nya?"
Laras mengangguk, dengan wajah polos nya membuat Zidan pun salah tingkah. Zidan tak mengerti, apa yang ia rasakan namun melihat wajah Laras mampu membuat nya tersenyum tanpa alasan.
Apakah Zidan mulai menyukai karyawan nya dan melupakan perasaan nya dengan Stella? Entah lah, saat ini yang Zidan tahu ia hanya mencintai sahabat nya itu, Stella.
Zidan terus memandangi wajah Laras, Laras yang tak kuasa pun hanya bisa menundukkan pandangan nya. Ia meremas tangan nya yang begitu dingin dan gemetar.
"Kendalikan diri mu, Laras." gumam nya dalam hati. Laras memberanikan diri untuk bertanya lagi kepada Laras, agar bos nya itu tidak memandangi nya seperti itu.
"Kenapa pak? Ke-kenapa bapak diam?"
Zidan pun tersadar, menolehkan kepala nya sembarang arah.
"Karena kamu mampu mengambil keputusan yang tegas. Kamu dan Stella sama-sama baik dan bagus dalam bekerja. Namun, Stella tidak bisa bersikap dengan tegas. Saya tidak mau kejadian tadi terulang dan pemimpin di sini hanya bisa diam dan meminta maaf saja. Jika memang kita dan karyawan tidak bersalah, kita tidak perlu takut dengan costumer walau apapun jabatan nya..Dan saya tahu, hanya kamu yang bisa melakukan itu."
"Ta-tapi, dari mana bapak tahu tentang semua ini pak?"
"Rini yang memberitahu saya,"
Laras terkejut, ia tidak menduga jika Rini melakukan ini semua. Apa maksud dari ini semua, apa tujuan Rini? Laras berfikir jika Rini menyadari kesalahan nya dan akan berubah namun nyata nya. Rini malah berbuat lebih nekat, bahkan berani mengadu kan ini semua kepada pemilik cafe.
"Kamu jangan memarahi nya, saya bahkan berterimakasih kepada nya. Jika tidak ada dia, mungkin saya tidak akan tahu apa yang terjadi."
"Maaf kan saya pak, bukan saya ingin menyembunyikan masalah ini dari bapak pemilik cafe ini. Namun, bapak mengatakan jika bapak sedang dalam perjalanan ke luar kota, saya tidak mau menganggu pikiran bapak dan membuat bapak tidak fokus dalam perjalanan."
__ADS_1
"Terimakasih, kamu begitu perhatian dengan saya. Tapi, jika ini masalah cafe apa alasan nya kamu harus memberitahu saya. Untung saja, ada kamu di sini yang berani tegas dengan costumer arogan seperti itu. Bagaimana jika tidak ada orang seperti kamu? Kasihan Stella yang akan di permalukan di depan orang banyak."
"Iya, Pak. Saya meminta maaf atas kesalahan saja. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Zidan pun mempercayai omongan Laras, ia yakin jika Laras orang yang tepat untuk menggantikan posisi nya di cafe ini. Selain memiliki hati yang baik, lembut, Laras juga berani mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu.
Laras orang yang sangat berkompeten.
"Baik lah, saya harus pergi. Karena ada urusan di luar, saya harap kamu bisa menangani pekerjaan ini dengan baik. Dan ingat, jika ada apa-apa kamu jangan sungkan untuk menghubungi saya."
"Baik, pak." Zidan bangkit, dan berlalu pergi meninggalkan Laras di dalam ruangan.
Laras memegang dada nya yang berdetak kencang, setelah kepergian Zidan. Ia membuang nafas nya dengan terengah-engah. Rasanya seperti di kejar-kejar oleh hantu.
Detak jantung nya berdetak dengan hebat, ia tidak pernah berbicara sebanyak ini dan juga terlalu dekat jarak nya oleh Zidan.
Laras kerja bersama Zidan sudah hampir dua tahun, ia menyukai Zidan saat pandangan pertama. Sejak saat itu, Laras tidak pernah dekat dengan pria lain.
Walau ia tahu, jika perasaan nya itu tidak mungkin terbalas kan, dia pun sadar dengan posisi nya. Namun hari ini, ia melihat senyuman manis dari wajah bos nya bahkan saling menatap mata dengan jarak yang begitu dekat.
Ingin rasanya Laras mengatakan untuk bos nya lebih lama lagi bersama nya. Namun, Laras tidak akan berani mengatakan
Bisa-bisa ia kehilangan pekerjaan nya.
************
Rani yang mencari keberadaan kakak nya di kamar pun tidak ada.
"Kakak ada di mana?" batin nya. Ia mencari ke bawah, di ruang makan, di dapur, di halaman depan dan belakang namun tidak ada.
Kemana kakak nya berada. Ia menoleh ke belakang saat kakak nya Stella memanggil nama nya.
"Rani?"
"Kakak dari mana saja? Aku mencari kakak."
"Kakak habis dari kamar Amara bersama Tanara, apakah kamu melihat nya?" Rani menggeleng, ia mengatakan jika diri nya tidak melihat Amara.
"Mungkin dia ada di halaman belakang."
"Tidak kak! Tadi Rani habis dari sana mencari kakak, bahkan Rani mencari kakak di seluruh rumah ini. Kecuali kamar Tanara dan Amara. Rani tidak melihat Amara di mana pun, mungkin dia ada di kamar nya."
"Kakak dan Tanara kan habis dari sana, namun tidak ada. Kakak mengira jika dia ada di bawah."
"Tidak ada kak, lebih baik kita tanya sama supir saja. Siapa tahu, supir tahu di mana keberadaan Amara."
Stella pun mengangguk, ia, Rani dan Tanara ke luar menuju halaman rumah. Terlihat mobil baru masuk ke dalam halaman rumah, mereka pun saling memandang satu sama lain..
Stella mendekati mobil pribadi keluarga mereka, dan bertanya kepada supir keluarga nya apakah melihat Amara.
Supir itu terdiam, ia mengingat tentang ancaman Amara.
Supir itu terpaksa berbohong mengatakan jika diri nya tidak melihat Amara, Stella pun bertanya supir itu dari mana.
Supir nya pun menjawab jika dia habis dari bengkel mengganti oli, Stella pun percaya. Ia tidak memiliki kecurigaan sedikit pun kepada orang lain.
Setelah mengucapkan kata terimakasih kepada supir mereka, Stella mengajak ke dua adik nya untuk masuk ke dalam rumah.
Stella duduk di sofa ruang keluarga, ia bingung adik nya berada di mana. Stella berniat untuk meminta maaf kepada adik nya tadi karena sudah mengucapkan kata yang kasar.
Tanara mengatakan jika mungkin kakak nya keluar sebentar, Stella mengingat teman yang akan menjemput Amara tadi.
__ADS_1
"Apakah Amara keluar dalam diam-diam?" tanya Stella kepada Tanara
"Tapi, kak Amara nggak pernah keluar tanpa pamit dengan ku kak."
Tanara pun mencoba menghubungi Amara, namun tidak ada panggilan.
Stella pun nggak mau membuat adik nya merasa cemas, dia menyuruh Tanara untuk kembali belajar dan tidak usah mencemaskan Amara.
"Kak Amara pasti akan pulang, sebaiknya Tanara kembali belajar dengan baik kan Minggu depan kembali ujian."
"Iya, kak." Tanara menuruti perintah kakak nya Stella, Stella berencana untuk mencari di mana Amara.
Namun, Rani mencegah kakak nya. Rani meminta kepada Stella untuk istirahat saja.
"Sebaiknya kakak bekerja saja, kakak jangan terlalu lelah. Kakak tahu kan bagaimana sifat Amara. Jika dia melihat kakak, dia pasti akan kesal dan marah. Kakak nggak mau kan jika hubungan kakak dengan Amara semakin renggang?"
Stella pun membenarkan ucapan Rani.
"Tapi, di mana Amara? Kakak sangat mencemaskan nya."
"Mungkin Amara sedang mencari udara segar, karena tadi suasana di rumah kan sedikit tegang. Rani yakin, Amara bisa menjaga diri nya sendiri kak. Kakak tidak perlu khawatir, kakak ingat apa yang dokter katakan? Kakak harus istirahat total agar bisa kembali bekerja, jika kakak tidak bekerja. Kakak tidak bisa membiayai sekolah mereka."
"Kamu benar, lebih baik kakak ke kamar saja. Kakak juga tidak ingin jika Amara melihat kakak dia akan marah. Amara sudah membenci kakak, tapi ini semua memang lah kesalahan kakak."
Stella menatap dengan dengan tatapan kosong, mata nya juga berkaca-kaca. Ia mengingat saat dulu, Amara dan ia begitu dekat. Amara juga sangat menyayangi Stella, menurut apa yang Stella katakan..
"Waktu mama dan papa masih ada, kami selalu akur. Jarang sekali bertengkar, sehingga teman-teman mama cemburu melihat kedekatan kami. Mereka bilang, jika anak mereka di rumah selalu saja bertengkar walau hanya karena masalah sepele. Tapi, kakak, Amara, dan Tanara tidak pernah bertengkar, kami selalu kompak dan tidak merepotkan orang tua kami."
"Sudah lah kak, Amara tidak membenci kakak. Dia hanya membutuhkan waktu saja, karena Rani tahu. Tidak mudah menjadi Amara, Rani juga pernah berada di posisi itu beda nya Amara lebih memiliki tanggungjawab yang besar, di saat usia nya masih sangat kecil ia harus merawat Tanara. Kalau Rani kan hanya sendirian, kemana pun Rani bisa menghidupi kehidupan ku sendiri namun Amara ia juga harus memikirkan tentang Tanara."
Rani berharap jika Stella bisa lebih memahami kondisi yang ada. Dan perselisihan di antara Stella dan Amara segera terselesai kan.
"Kak, dulu Rani juga begitu marah. Marah kepada keadaan bahkan kepada Tuhan, mengapa Tuhan tidak adil kepada ku. Aku hanya lah sebatang kara waktu itu, tidak ada yang menemani. Namun, aku salah. Tuhan begitu baik, kakak adalah bukti baik nya Tuhan pada ku. Dia mengirimkan malaikat seperti kakak, jika tidak ada kakak mungkin entah bakalan seperti apa aku, aku sendiri tidak bisa membayangkan nya."
"Kakak juga bersyukur di pertemukan oleh adik sebaik kamu. Kamu menjaga kakak di saat kakak membutuhkan pertolongan, kamu juga membantu kakak merawat dan membesarkan Zeline. Bahkan, jasa mu lebih besar untuk kakak dan Zeline. Kakak berhutang Budi dengan mu."
"Ini semua juga karena bantuan kak Azriel."
Mengingat Azriel, Rani jadi merindukan pria yang ia suka. Rani tidak tahu, jika Azriel sebenar nya mencintai Stella.
Pria mana yang tidak menyukai wanita sebaik dan selembut Stella. Siapapun yang melihat Stella pasti akan jatuh cinta pada nya.
"Kak, bagaimana kabar kak Azriel? Aku sangat merindukan nya, apakah dia merindukan ku?"
Rani langsung tersadar dengan ucapan nya, ia pun membela diri.
"Maksud nya, apakah kak Azriel merindukan kita? Bagaimana pun kita sudah sangat dekat dengan nya. Kakak juga sudah lama berteman dengan kak Azriel. Apakah kalian tidak pernah berkomunikasi kak?"
Stella menggeleng, Rani tidak menyangka jika Stella begitu sangat tidak perduli dengan Azriel.
"Kakak serius? Kakak tidak pernah menghubungi kak Azriel?"
Stella kembali menggelengkan kepala nya, ia mengatakan jika Azriel tidak pernah menghubungi duluan. Mungkin, Azriel sedang sibuk dengan pekerjaan nya dan Stella tidak ingin menganggu waktu Azriel.
Rani pun hanya menggeleng, membuang nafas dengan kasar.
"Kak Azriel tidak menghubungi kakak mungkin karena dia tidak mau mengganggu kakak. Jadi nya kalian saling menunggu kabar, sini biar Rani yang menghubungi kak Azriel. Rani akan mengatakan jika kita di sini baik-baik saja dan kak Azriel tidak perlu khawatir."
"Tapi Rani, bagaimana jika Azriel sedang sibuk bekerja? Kita bisa menganggu waktu nya."
"Tidak kakak! Percaya padaku, kak Azriel tidak akan berfikir seperti itu. Kakak saja yang selalu tidak enakan..Mungkin saja kak Azriel menunggu kita duluan yang memberikan kabar. Karena kak Azriel tidak enak dengan kakak, kakak kan begitu cuek dan tidak perduli pada nya."
__ADS_1
"Kakak bukan tidak perduli, namun kakak menjaga batas pertemanan kami. Bagaimana pun kami ini lawan jenis, kakak tidak mau menimbulkan terjadi nya fitnah."