Jangan Ambil Zeline Ku!

Jangan Ambil Zeline Ku!
Kemarahan


__ADS_3

Perasaan Aska terhadap Zeline entah mengapa seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Aska tidak mengerti apa yang terjadi.


Dia pun pergi ke ruangan nya untuk menyelesaikan beberapa hal.


Di sekolah, Amara di hentikan oleh Kimberly.


"Amara!" teriak Kimberly yang terlihat begitu kesal, semua murid yang ada di sana pun memandangi mereka termaksud Tanara.


"Kak, mengapa kak Kimmy berteriak seperti itu?"


Amara hanya menggeleng, ia sebenar nya tidak ingin ribut dengan Kimberly namun jika kimberly mencari masalah dia tidak akan tinggal diam.


Amara sudah cukup sabar menghadapi Kimberly, jika saja Kimberly tidak membodohi nya seperti ini Amara mungkin akan tetap menyayangi Kimberly sebagai sahabat nya. Namun, sahabat tidak akan mungkin tega mengkhianati dan menipu sahabat nya sendiri.


Kimberly berjalan mendekati Amara, ia ingin menampar Amara namun Amara menepis tangan Kimberly, ia menatap Kimberly dengan tajam. Penuh dengan kekecewaan.


"Pengkhianat! Aku sudah membantu mu tapi kau justru menipu ku!" teriak Kimberly menumpahkan segala rasa kesal nya.


Teman-teman mereka pun saling berbisik satu sama lain, bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak Kimmy, ada apa? Mengapa kakak berteriak sepagi ini?"


"Diam kau anak kecil! Jangan ikut campur!"


"Kau yang diam Kim!" teriak Amara kembali, diri nya akan bisa menerima jika itu Kimberly membentak diri nya. Namun, Amara tidak akan menerima jika adik tersayang nya di bentak seperti itu.


"Karena kau aku rugi besar! Dasar perempuan ******!"


"Kak, kenapa kakak mengatakan hal itu kepada kakak ku?" tanya Tanara yang tak terima jika kakak nya di katakan seperti itu.


Amara meyakinkan adik nya jika itu tidak perlu di besar-besar kan. Amara meminta kepada Tanara untuk memakai headphone milik nya di telinga adik nya itu. Lalu, Amara memasang lagu yang sangat deras.


Ia memerintahkan adik nya untuk tidak membuka headphone tersebut sampai Amara sendiri yang membuka nya. Tanara sebagai adik yang manis pun mengikuti ucapan kakak nya.


Ia tidak bisa mendengar pertengkaran antara Amara dan Kimberly.


"Sebelum kau mengatakan itu padaku, sebaik nya kau introspeksi pada diri mu!"


"Diam kau Amara!" Kimberly tidak menyangka jika Amara berani melawan nya, ia juga takut jika Amara akan membuka rahasia nya di depan banyak orang.


Apalagi, Amara memiliki riwayat pesan terakhir mereka. Itu bisa di jadikan bukti oleh Amara untuk menjatuhkan diri nya.


"Aku tidak ingin berdebat dengan mu sekarang kau Bayar hutang mu pada ku sebesar sepuluh juta." Kimberly sengaja semakin mengeraskan suara nya agar semua orang tahu jika Amara memiliki hutang yang banyak pada nya.


Kimberly juga yakin, jika Amara tidak memiliki uang untuk melunasi nya hari ini..Dengan itu, dia akan puas mempermalukan Amara.


"Wah banyak sekali hutang Amara."


"Iya, padahal kan Amara gaya nya sederhana. Mungkin, untuk kehidupan dia dan adik-adik nya apalagi dia kan memiliki kakak yang mempunyai anak di luar nikah. Pasti untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka."


Amara menggenggam tangan nya sendiri, Kimberly sudah jauh dari batas nya.


Amara tidak tahan lagi, dia pun segera mengambil uang di tas nya. Awal nya Amara tidak mau memperlihatkan itu di depan Tanara namun ia tidak ada pilihan lain.


Amara mengambil uang dua puluh juta dari tas nya lalu melempar kan nya ke wajah Kimberly.


"Itu, aku bayar dua kali lipat! Sorry aku semalam tidak membawa uang sehingga belanja menggunakan uang mu. Namun, sekarang aku sudah mengganti nya dua kali lipat!" ketus Amara, kini bukan nya Amara yang di permalukan namun sebalik nya.


Kimberly yang merasa di permalukan dan seakan tidak memiliki harga diri.


"Oh ternyata hanya salah paham. Lebay sih kimberly, meminta uang sampai segitu nya. Padahal Amara baru meminjam nya semalam karena tidak membawa uang. Tapi lihat lah sekarang, Amara mengganti nya dua kali lipat."

__ADS_1


"Iya, benar."


Kini Amara yang tersenyum puas melihat Kimberly merasa jatuh telak.


"Itu akibat karena kau sudah bermain-main dengan ku Kimberly!"


Amara segera pergi dari sana menggandeng tangan adik nya.


Amara pun melepaskan headphone dari telinga Tanara, Tanara bertanya uang apa sebanyak itu. Walau ia tidak bisa mendengar akibat suara musik yang terlalu deras namun Tanara bisa melihat nya dengan jelas.


"Kak itu uang apa? Dari mana kakak mendapatkan uang sebanyak itu?"


"Itu yang nya Kimberly, ia menitipkan nya kepada ku semalam. Mungkin, dia takut jika kakak memakai uang nya. Jadi dia seperti itu, apalagi semalam dia sudah di permalukan di rumah kita."


Tanara pun mempercayai ucapan kakak nya, karena memang kakak nya Stella sudah mengucapkan hal yang sedikit kasar. Hal itu tentu nya membuat Kimberly akan marah atau mungkin berencana membalas dendam.


"Sudah, tidak perlu pikirkan itu. Lebih baik kamu sekarang masuk ke dalam kelas. Kakak juga mau masuk ke dalam kelas."


"Iya kak." Tanara berjalan memasuki kelas nya, Amara ingin masuk ke dalam kelas namun Kimberly menarik tangan nya dengan kuat. Amara melihat Tanara yang sudah pergi dari tempat itu


Ia pun membalas tatapan kebencian dari Kimberly.


"Kenapa kau tega melakukan ini kepada ku Amara? Apa kesalahan ku?" Kimberly pun memasang sandiwara air mata buaya nya namun Amara sudah tidak terjebak lagi dengan ucapan manis Kimberly atau pun air mata nya.


"Aku tidak ada waktu untuk menyaksikan drama ini. Aku harus masuk."


"Tunggu Amara! kenapa kau berubah sekali pada ku? Dalam waktu semalam kau berubah kepada ku? Apa kesalahan ku? Dan kau begitu tega mempermalukan ku di hadapan teman-teman? Mereka menertawakan ku."


"Aku? Aku yang tega? Bukan nya tadi kau yang berteriak kepada ku? Di depan semua orang dan adikku kau menagih hutang itu. Siapa yang mempermalukan siapa? Aku hanya membayar hutang ku saja tidak lebih, lalu salah nya di mana?"


"Kau tidak perlu membayar nya di depan mereka, kau bisa membayar nya setelah di kelas."


Amara pun tertawa geli, ia tidak menyangka jika ada orang seperti Kimberly.


"Amara kau harus nya tau diri, aku yang memberikan mu pekerjaan yang mudah. Dalam waktu semalam, kau mendapatkan uang yang banyak tapi setelah itu kau melupakan ku?"


Amara seakan kehabisan kesabaran pada Kimberly, ia pun menampar Kimberly dengan keras.


"Cukup Kim! Aku diam bukan karena aku takut pada mu, aku tidak ingin berdebat dengan mu. Apa kau pikir aku tidak tahu dengan kelicikan mu memanfaat kan aku? Tapi, dengan tidak malu nya kau bersikap seolah kau lah yang tersakiti. Kau yang ku khianati, tapi pada dasar nya kau yang mengkhianati aku!"


Teriak Amara, Kimberly melihat Kanan dan kiri, begitu banyak orang berkerumun melihat mereka.


"Amara, tenang lah! Kau lihat, semua melihat Kita." ujar Kimberly dengan nada yang berbisik namun Amara sudah tidak perduli lagi.


Seperti nama nya. Amara, jika sudah marah akan seperti api yang membakar seluruh yang ada di ruangan.


"Apa kau pikir aku gadis yang bodoh? Hanya karena aku menghargai persahabatan kita kau seenak nya padaku? Tanpa sepengetahuan aku kau menjual ku dengan harga yang saat mahal. Dan kau sudah menerima uang itu, tapi karena Tuhan ku. Aku selamat dari perangkap mu, aku berhasil keluar dari tempat yang mengerikan itu..Sebab itu kau marah kepada ku bukan? Kau juga memperlakukan aku di depan semua orang seolah aku yang telah menyakiti mu. Padahal kenyataan nya, kau yang mengkhianati dan menyakiti pertemanan kita."


Amara berteriak, semua orang semakin membenci Kimberly.


"Jika sama teman dekat nya saja ia bisa seperti itu, apalagi dengan kita. Lebih baik, kita menjauh dari dia dan untung saja Amara bisa selamat dari hal berbahaya itu."


Kimberly semakin terkejut melihat reaksi Amara yang semakin jauh seperti ini.


Ia berfikir jika hari ini ia akan puas melampiaskan kemarahan nya, namun hal itu jauh berbanding dia justru terdiam dan tak berkutik sama sekali.


Sial! Amara membuat ku malu seperti ini. Teman-teman juga pasti akan membenci ku. Semua nya sangat sial! Aku harus mengganti empat ratus juta dan sekarang aku di permalukan seperti ini. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Amara! Aku bersumpah!


Bel pun berbunyi menandakan guru akan segera masuk ke dalam ke kelas. Murid-murid pun pada bubar namun sebelum pergi. Mereka bersorak kepada Kimberly.


Amara yang tidak perduli lagi kepada Kimberly pun masuk mendahului Kimberly. Untung saja, guru tidak mengetahui keributan yang ada. Jika tidak,mungkin ke dua nya akan di pecat dari sekolah itu.

__ADS_1


"Amara kita harus membahas ini!" ucap Kimberly. Namun Amara tidak ingin mendengarkan Kimberly.


"Tidak ada yang perlu di bahas, lebih baik kau pergi dari sini dan diam saja. Aku tidak ingin bicara padamu, jika kau terus saja membuat kesabaran ku habis. Aku tidak yakin, bisa menahan diri lagi."


Kimberly pun tak berani mengatakan apapun, ia membiarkan Amara masuk ke dalam kelas lebih dulu.


Ia ingin bicara kepada Amara untuk membujuk klien mereka dengan itu, Kimberly tidak perlu harus mengganti rugi lagi.


Bahkan, ia akan mendapatkan banyak uang dari klien nya tersebut, namun seperti nya itu semua tidak akan mungkin melihat kemarahan dari wajah Amara yang begitu serius.


Amara memilih kursi belakang, ia tidak ingin duduk di samping Kimberly lagi.


"Aku sungguh kasihan pada mu, mengapa teman dekat mu begitu tega berbuat hal seperti itu." ujar teman yang saat ini sebangku dengan Amara yakni bernama Qia


Amara menoleh ke arah Qia dan tersenyum.


"Terimakasih Qia, kau sangat baik sudah mengizinkan ku untuk duduk di samping mu."


"Tidak masalah, Amara. Kau anak yang pintar, mungkin aku akan bisa belajar banyak dari mu."


"Kau sungguh membuat ku malu Qia, kau lah juara satu di kelas ini, namun kau bersikap seperti itu."


"Tidak Amara, peringkat bukan lah yang utama. Namun, kerja keras kita." Amara pun mengangguk, ia mencoba melupakan kemarahan nya.


Amara melihat Kimberly yang masuk ke dalam kelas, teman teman pun berteriak kepada Kimberly.


"Lihat lah pengkhianat ini! Pantas saja dia selalu berpenampilan bagus, ternyata ia mendapatkan uang dari hasil menjual teman nya sendiri."


Sebenarnya, Amara tidak mau mempermalukan Kimberly seperti itu. Namun, Kimberly sendiri lah yang membuat masalah ini sampai di ketahui oleh semua orang.


Jika saja kimberly tidak membuat masalah pagi ini, mungkin Amara tidak akan membongkar masalah mereka.


Namun, Kimberly lah yang memulai nya deluan.


Terlihat wajah murung dan malu dari Kimberly, seluruh murid di sekolah menjadi tidak suka pada nya, memandang dan mencaci Kimberly sesuka hati.


Kimberly yang tidak tahan pun berteriak kepada Amara. Ia menyalahkan Amara atas semua yang telah terjadi.


"Puas kau Amara? Kau sudah membuat ku malu di depan satu sekolah, aku membenci mu Amara. Kau akan membalas setiap rasa malu ku! Kau harus membayar nya! Aku sudah mencoba untuk baik padamu, menolong mu tapi kau justru."


Kau menolong apa? Jika kau teman nya yang baik, kau tidak akan mencoba menjual teman mu sendiri. Kalian juga sangat dekat, tapi kau sanggup menjual nya hanya demi kepentingan mu sendiri. Dan bukan Amara yang mempermalukan mu, tapi kau sendiri yang mempermalukan diri mu. Kau mengira, Jika kau akan berhasil menjatuhkan Amara di depan kami semua. Tapi nyata nya, kau lah yang di permalukan karena aib mu sendiri!


Kimberly terdiam mendengar ucapan salah satu teman nya itu


Benar! Jika saja, Amara diam dan tidak bersuara. Mungkin, Amara lah yang kita olok dan kita salahkan . Lalu manusia kejam ini akan menertawakan ke hancuran Amara dan merasa puas telah membuat malu Amara. Namun, Tuhan itu adil! Tuhan membuka mata kita semua dan melihat siapa yang bersalah.


Kimberly pun segera pergi dari kelas, entah kemana dia. Amara menatap kepergian Kimberly.


Mengapa Kimberly mempermalukan diri nya sendiri seperti ini.


"Kau tenang aja Amara, kami semua bersama mu. Dia dan papa nya yang kaya itu tidak akan bisa melakukan apa-apa kepada mu. Jika perlu kami akan meminta kepada orang tua kami untuk mendukung mu. Kau tidak bersalah, jangan takut dengan ancaman nya."


Amara merasa terharu karena teman-teman nya mendukung diri nya seperti ini.


"Terimakasih, kalian sudah mendukung ku."


"Kau tidak salah Amara, kami pasti akan mendukung mu."


"Iya benar, Amara."


"Benar Amara, kau tidak sendirian. Kami semua bersama mu."

__ADS_1


Qia merangkul Amara, ia mengatakan jika Amara tidak perlu merasa cemas lagi, semua nya akan baik-baik saja. Amara pun menangis haru, ia mengiyakan ucapan teman-teman nya.


Teman sekelas Amara pun memeluk nya


__ADS_2