
"kejutan!" Teriak Darren dan Zeline bersama-sama membuat Stella yang merasa lemas langsung tersenyum bahagia
"Anak ku!" Stella langsung memeluk anaknya, Zeline memegang suhu tubuh mamanya yang begitu panas "Mama demam?"
Stella menggeleng "Tidak sayang, saat bertemu dengan kamu mama sudah sehat! Kamu adalah obat mama," ujarnya dengan mata yang sendu, bahkan tak membutuhkan waktu lama untuk Stella meneteskan air matanya. Zeline dengan sigap menghapus air mata mamanya
"Mama jangan menangis, maafin Zeline ya ma kalau Zeline udah membuat mama menangis. Tapi Zeline hanya mama tahu kalau Zeline sayang mama dan papa. Zeline enggak bisa memilih di antala kalian, dan di saat mama enggak membolehkan Zeline ketemu dengan papa. Zeline melasa sangat sedih,"
Stella mengecup kedua tangan anaknya berulang-ulang "Sayang, mama minta maaf. Mama egois selama ini, tapi satu hal yang harus Zeline tahu kalau mama sangat menyayangi Zeline. Mama mencintai Zeline melebihi hidup mama sendiri sayang! Mama enggak sanggup berpisah lama-lama sama kamu! Kamu tahu bagaimana cinta dan sayangnya mama dengan kamu kan nak? Mama bisa gila tanpa kamu!" Ia mengatakan itu dengan terisak, suara yang terbata-bata namun tetap mencium kedua tangan anaknya berulang-ulang. Ia melepaskan semua kerinduannya selama berhari-hari tidak bertemu dengan Zeline.
"Mama jangan menangis lagi," Zeline melepaskan tangannya dari Stella, ia pun menghapus air mata anaknya dengan perlahan "Zeline sayang banget sama mama!"
"Mama juga sayang banget sama kamu!"
Stella melihat ke arah Darren "Tuan Darren, terimakasih sudah membawa anak saya ke sini,"
"Kak, tuan ini juga yang telah meminta Zeline untuk meminta kepada pengadilan agar memberikan hak asuh kepada kakak,"
"Apa?" Amara bangkit dari duduknya, ia tidak percaya dengan semua itu "Zeline sayang, apa yang mami Rani katakan itu benar?" Zeline mengangguk "Iya Tante,"
"Tapi bagaimana bisa?" Amara masih tak percaya, beberapa waktu lalu ia sudah memaki dan mengatakan jika wanita itu telah berbohong
Rani pun menceritakan segalanya "Saat aku mengajak Zeline berjalan-jalan. Tuan Darren menghampiri kami, dia memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Amara."
Amara sedikit geli mendengar itu semua "Calon suami apanya? Enggak mau aku nikah sama om-om!" Ketusnya namun Tanara menegur kakaknya "Kak jantan di potong dulu! Biarkan kak Rani menjelaskan semuanya!"
Flashback
Sebelum pengadilan di mulai, Darren menghampiri Zeline juga Rani "Hai anak cantik perkenalkan nama saya Darren, saya adalah calon suami tante Amara kamu!"
__ADS_1
Zeline tersenyum kepada Darren "Hai om,"
"Zeline boleh kita bicara sebentar?"
"Boleh kok om!" Darren pun mengajak Rani dan Zeline berbicara di sekitar pengadilan "Zeline tahu enggak tujuan Zeline ke sini?"
"Tahu om! Kalena hali ini om hakim akan beltanya Zeline mau tinggal sama siapa. Zeline mau tinggal sama papa om!"
Zeline menghela nafas kasar "Bukannya Zeline enggak sayang tante, tapi Zeline masih ingin dengan papa! Mama selalu saja tidak mengizinkan Zeline tinggal dengan papa. Kalau Zeline katakan ingin tinggal dengan papa, nanti mama enggak izini Zeline untuk tinggal sama papa!"
"Zeline tahu enggak, hak asuh anak itu apa?"
Zeline menggeleng "Enggak!"
"Hak asuh itu adalah orang tua yang akan mengurus Zeline. Kalau Zeline mengatakan kepada bapak hakim Zeline ingin tinggal sama papa. Otomatis hak asuh Zeline akan jatuh di tangan papa Zeline. Dan Zeline enggak akan bisa tinggal atau bertemu dengan mama,"
"Kenapa begitu? Zeline saat ini tinggal dengan papa hanya sementala. Nanti Zeline akan tinggal dengan mama! Tapi Zeline enggak mau kalau mama enggak izini Zeline ketemu papa. Tapi kalau hak asuh jatuh ke tangan papa, sama saja Zeline enggak bisa ketemu mama? Lalu Zeline halus apa om?"
"Zeline mau kan bebas ketemu dan tinggal dengan siapa saja?"
Darren bertanya dengan Zeline. Anak itu pun mengangguk dengan serius "Iya mau om!"
__ADS_1
"Kalau begitu, jangan biarin hak asuh Zeline jatuh ke tangan papa Zeline. Zeline harus bilang ke bapak hakim agar hak asuh itu jatuh kepada mama yang selama ini mengurus Zeline. Namun Zeline ingin tinggal sama papa, dan mama enggak boleh melarang Zeline bertemu dengan papa. Bagaimana?"
Zeline pun berpikir sejenak, dan kepintarannya dapat langsung memahami apa yang Darren katakan "Baik om!"
Flashback end!
****
"Itu lah sebabnya mengapa Zeline masuk dan mengatakan ingin tinggal bersama papanya namun hak asuh anak jatuh ke tangan kakak! Jika bukan karena tuan Darren. Mungkin saat ini kita tidak memiliki hak apapun atas Zeline kak!"
Kini Amara menjadi malu, betapa buruknya dia tanpa mengetahui kebenarannya ia justru memarahi Darren
Stella berdiri. Ia pun berterima kasih banyak kepada Darren "Tuan Darren, saya mengucapkan terimakasih banyak karena anda. Hak asuh Zeline tetap kepada saya. Dan anda sudah membawa Zeline ke sini,"
Darren mengangguk "Saya sudah mengatakan kepada kalian. Jika saya akan melakukan apapun demi membantu kalian, dan jika saya tidak hadir di pengadilan. Karena saya sudah mengetahui tentang pernikahan tuan Aska dan istri barunya. Untuk pengacara saya membela anak pun tidak ada gunanya. Karena pekerjaan anda juga membuat alasan anda tidak bisa memegang hak asuh Zeline, karena anda tidak bisa memberikan jaminan secara materi. Dan penolong terakhir adalah Zeline. Saat anak sendiri yang memintanya maka hakim pun akan mengabulkan permintaan anak itu, karena hakim akan mengutamakan kenyamanan anak. Dan saat Zeline mengatakan ingin tinggal dengan ayahnya, hakim juga tahu bahwa kebutuhan Zeline akan terpenuhi."
Stella terharu melihat Darren yang membantu mereka tanpa meminta apapun. "Tapi maafkan saya Nona Stella. Saya harus membawa Zeline kembali ke rumah papanya, karena saya sudah berjanji kepada tuan Aska. Dan lelaki sejati, tidak bisa melanggar ucapannya!"
"T-tapi tuan, apakah tidak bisa Zeline di sini selama beberapa hari?"
Dengan berat hati Darren menggelengkan kepalanya dan meminta maaf "Maafkan saya Nona, saya sudah berjanji kepada mereka. Dan saat anda merindukan Zeline, saya akan membawanya ke sini. Kecuali Zeline benar-benar sudah puas tinggal di rumah papanya dan ingin kembali kepada anda. Saya baru berani!"
"Sayang, kamu di sini ya sama mama?"
"Maafin Zeline mama, tapi Zeline masih ingin dengan papa. Mama tolong jangan memaksa Zeline, tapi Zeline akan seling kunjungi mama di sini. Mama jaga kesehatan ya? Zeline sayang sama mama;"
Zeline memeluk mamanya, Stella pun menangis di dalam pelukan anaknya. Lalu keduanya saling melepaskan pelukan satu sama lain "Sebelum Zeline pulang, mama Zeline suapin makan ya? Telus mama minum obat dan istilahat!"
Stella mengangguk, ia tidak ingin membuat anaknya marah
__ADS_1